
Setelah usai makan, Andin langsung menumpuk semua peralatan makan yang kotor menjadi satu. "Jangan seperti itu, nanti jatuh!" Hendra mengingatkan, sayangnya Andin mengabaikannya dan mulai mengangkat semua peralatan dapur itu ke wastafel.
Hal yang tidak diinginkan pun terjadi, lantai di dekat wastafel tampak licin hingga membuat Andin terpeleset. Semua peralatan makan yang dipegangnya pun terlempar ke atas.
Di saat orang lain terkejut dan panik dengan akhir yang akan terjadi. Aqua dengan tenang menenggak air minumnya. Ia mengendalikan sisa air minum yang ada di meja untuk menahan semua barang yang terlempar agar tidak terjatuh mengenai Andin.
Ia pun menghampiri wastafel dan membuka keran air untuk mengendalikan lebih banyak air. Dalam sekejap semua peralatan makan itu menjadi bersih dan ia langsung meletakkan semuanya pada tempatnya.
Semua orang tercengang melihat aksinya. "A.... Alesse, kau.... pengendali Air?" tanya Alex terkejut. Aqua tidak menjawab, ia langsung kembali ke kamar karena tidak ada urusan lagi setelah makan.
"Bukankah ia pengendali air yang hebat? Aku bahkan tidak bisa melakukan yang seperti itu," ujar Andin.
"Aku sempat mengira kalau dia adalah Elementalist pengendali Listrik, saat ia marah rambutnya terus mengembang, membuatku teringat pada seseorang," ujar Alex.
Di sisi lain, Alesse menunggu di dalam kamar dengan berkacak pinggang. "Sebenarnya keributan apa yang sudah kau perbuat? Kenapa mereka tampak sangat heboh?" tanyanya.
Aqua tetap diam tidak menjawab, ia kembali berdiri di depan jendela. "Bisakah kau menjadi manusia normal? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apakah kau tuli?" tanya Alesse.
Sambil menunggu jawaban, Alesse merasakan hawa dingin tiba-tiba menyelimutinya. "Padahal sinar matahari sudah terang, kenapa terasa sangat dingin?" ujarnya keheranan. Ia pun menengok ke arah jendela dan mendapati Aqua sedang memejamkan mata. Saat itulah tubuhnya perlahan diselimuti oleh es.
"Hei, Aqua! Apa yang kau lakukan?" tanya Alesse keheranan, ia mencoba menyentuh bahu Aqua, namun terperanjat karena jemarinya merekat pada bahunya. Pada akhirnya sebagian kulit jemarinya terkelupas.
"Ini.... terlalu dingin! Aku tidak bisa menyentuhnya! Hei, Aqua! Sadarlah! Kau tidak boleh membeku di sini!" ujar Alesse sambil mengguncang tubuh Aqua dengan bantal, sayangnya tubuhnya sudah kaku dan amat keras, bahkan bantal yang Alesse gunakan untuk mengguncangnya pun terus merekat tidak bisa dilepaskan.
"Argh! Kenapa..... aku harus melalui hal merepotkan ini?" Alesse tampak semakin kesal sambil berusaha melepaskan bantal itu dari tubuh Aqua.
Pada akhirnya tubuh Aqua tumbang dan jatuh ke lantai. Itu menciptakan suara keras dan pecah seperti bongkahan kaca.
__ADS_1
Kini tubuh Aqua tercerai-berai dalam bentuk bongkahan es. Hal itu membuat pikiran Alesse menjadi rumit, ia hendak memungut bongkahan es itu. namun semuanya menghilang sekejap mata.
"Hilang? Apakah itu benar-benar menghilang seutuhnya?" Alesse tampak puas karena ia tidak perlu repot-repot memungut potongan tubuh manusia.
"Apanya yang menghilang, Alesse?" tanya Rasya. "Akhirnya! Akhirnya kalian kembali juga, meskipun aku tidak mengharapkan demikian," ujar Alesse.
"Benar sekali! Tiba-tiba kami hilang kontak darimu dan dunia luar. Hanya ada ruangan gelap gulita," ujar Geni.
"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi, Alesse? Di mana tubuhmu yang satunya?" tanya Gord. "Itu sudah hancur berkeping-keping dan menghilang begitu saja," jawab Alesse.
"Bagaimana bisa menghilang? Sebenarnya apa yang terjadi selama ini?" tanya Geni. "Entahlah, tiba-tiba Aqua merasuki tubuh itu dan membuatku kerepotan, lalu ia membekukan diri di depan jendela dan aku pun mendorongnya. Jadilah pecahan es yang berserakan di lantai lalu menghilang tanpa bekas," jawab Alesse.
"Sepertinya tiap kali seseorang di alam bawah sadarmu mengendalikan tubuhmu, kami tidak bisa berkontak denganmu. Ini sangat berbeda saat kami bertiga yang mengambil alih, semuanya akan terlihat sama saja jika kami yang merasukimu," ujar Geni.
"Mungkin karena mereka yang ada di alam bawah sadar sangat bertolak belakang dengan kita. Seperti yang kita tahu, Api dan Air tidak bisa bersatu," ujar Rasya.
"Omong kosong apa ini? Kenapa kau menyimpulkan begitu? Kau berharap aku tidak bisa bertemu dengan Aqua, si pengendali air itu? Aku sangat penasaran dan ingin segera berbicara dengannya secara langsung!" ujar Geni tidak sabar.
"Benarkah? Kukira kau sangat merindukannya. Kami semua sudah tahu kalau kau menganggapnya seperti seorang anak," ujar Geni.
"A... apa? Aku tidak pernah menganggapnya seperti itu! Aku tidak setua itu hingga berpikir untuk menganggapnya sebagai anakku!" ujar Gord tidak terima.
"Hmm, aku tidak terlalu mengerti apa yang kalian bicarakan.... tapi pada dasarnya mayoritas berharap bertemu dengan mereka kan? Aku juga sangat tidak sabar untuk bertemu sosok seputih salju itu," ujar Rasya.
"Oh, si Albino jadi-jadian itu? Siapa namanya? Aku lupa," ujar Geni. "Yuta? Atau mungkin Yura? Eh, sepertinya Yusha!" jawab Rasya.
"Kau sendiri pun tidak yakin dengan jawabanmu. Tidak ada nama pria yang selembut itu! Seingatku ia bernama Brawl," ujar Gord. "Makanan khas mana lagi itu? Kenapa bisa sampai Brawl? Jelas-jelas namanya berawalan huruf Y!" ujar Geni.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki kesan apapun terhadapnya, itulah mengapa aku lupa siapa namanya, mungkin itu juga berlaku bagi kalian," ujar Gord.
"Tidak mungkin! Rambut seputih perak itu tidak mungkin tidak meninggalkan kesan! Ia adalah sosok yang luar biasa! Andai saja jika ia memiliki sayap," ujar Rasya sambil berangan-angan.
"Menurutku apa yang dikatakan Gord benar adanya. Keadaannya sangat setengah-setengah, ia hanyalah albino jadi-jadian. Meskipun rambut dan matanya tidak memiliki pigmen warna, kulit tubuhnya tidak sepucat orang albino pada umumnya," ujar Geni.
Selagi mereka asyik berbincang-bincang, Alesse kembali melanjutkan aktivitas hariannya. Rencananya sudah banyak tertunda karena munculnya tubuh lain yang misterius itu.
Ia pun bisa berbaring dengan nyaman di kasur tanpa perlu mengkhawatirkan banyak hal. Itulah yang ia harapkan, namun kenyataannya tidak semudah itu.
Keesokan harinya ia mendapati tubuh besar berada di kasurnya. "Hei, Alex! Bukankah kau punya tempat tidur sendiri? Kenapa kau selalu tidur di sini? Kupikir aku sudah mengunci pintu kamar rapat-rapat!" keluh Alesse.
Tiba-tiba tangan kekar itu meninpa wajahnya, membuatnya kesulitan untuk beranjak dari kasur. "Alex! Alex! Lenganmu terlalu berat! Bangunlah!" ujar Alesse kesal, ia berusaha mendorong tubuh besar itu agar menyingkir dari kasurnya. Akhirnya tubuh besar itu pun terjatuh ke lantai.
"Alesse? Bangunlah! Sudah waktunya makan! Sampai kapan kau akan mengunci pintu kamarmu?" Suara Alex terdengar dari balik pintu kamar.
"Tu... tunggu dulu, kalau Alex berada di sana, lalu siapa kau?" Alesse mencoba memeriksa tubuh besar yang terbaring di lantai itu.
"Selamat pagi, Alesse.....? Kenapa aku tertidur di lantai?" tanya Rasya, rupanya ia yang barusan tidur di samping Alesse.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kupikir perkara tubuh ini sudah selesai, kenapa kau tiba-tiba muncul dengan tubuh besarmu itu? Ini tidak seperti Aqua yang sama persis sepertiku, tubuh besar itu sangat merepotkan!" ujar Alesse sambil menepuk dahi.
"Benar sekali, sepertinya kau mendapatkan masalah, Alesse! Tubuh ini sangatlah lapar, seingatku aku butuh makan dua kali porsi orang dewasa," ujar Rasya.
"Huh! Kapan kalian semua berhenti menggangguku? Sepertinya tidak ada satupun hariku yang damai karena keberadaan kalian," keluh Alesse.
"Aku juga tidak berharap terjebak di dalam sini, kau pikir itu adalah salah kami karena mengganggumu?" tanya Geni.
__ADS_1
"Sebaiknya kau diam saja, Geni! Jangan buat dia semakin menggila karena hal ini. Kupikir ini juga bukan salahnya hingga kita terjebak di dalam pikirannya," ujar Gord mengingatkan.
"Masalahnya, dia terlalu banyak mengeluh dan aku kesal mendengarnya. Kalau aku bisa keluar pun, aku akan pergi dari sini," ujar Geni.