Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Alesse lenyap


__ADS_3

Gord terbangun dari tidurnya, ia mendapati Alex masih berada di sampingnya dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Ia merasa bersalah karena tubuhnya yang besar membuat posisi tidur Alex terbatas. Akhirnya ia beranjak dari kasur dan memilih tidur di sofa ruang tamu.


Setelah beberapa jam terlelap, Gord membuka matanya, ia mendapati sekelilingnya gelap gulita, ia mendapati Rasya sedang duduk santai di sampingnya.


"Ini di mana?" tanya Gord. "Entahlah, sudah seperti ini sejak kemarin. Biasanya kita bisa melihat apa saja yang ada di sekitar Alesse, kini hanya ada ruang gelap aneh ini," jawab Rasya


"Ini sama seperti saat ia tak sadarkan diri. Saat ia tidak mendengar atau melihat sesuatu, kita juga tidak bisa melihat dan mendengar sesuatu yang terjadi di sekitarnya," ujar Gord.


"Heh? Jadi maksudmu sekarang ia sedang pingsan?" tanya Rasya. "Tidak juga, selain saat tidak sadarkan diri, hal ini juga terjadi saat salah satu dari kita mengambil alih tubuhnya. Apakah kau melihat Geni?" tanya Gord sambil memeriksa sekitar.


"Tadi dia ada di sini, namun tiba-tiba menghilang dan kau tiba-tiba muncul," jawab Rasya. "Sepertinya saat ini ia sedang mengambil alih tubuh Alesse," ujar Gord.


"Benarkah?" tanya Rasya. "Yeah, mungkin saja. Tapi aku merasakan firasat buruk! Hal ini tidak pernah terjadi berturut-turut dan membuatku bingung! Biasanya setelah salah satu dari kami selesai mengambil alih tubuhnya. Alesse akan kembali menggunakan tubuhnya dan kami bisa melihat lingkungan di sekitarnya lagi," ujar Gord.


"Lalu? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rasya. "Entahlah, untuk saat ini kita tunggu dulu, apakah Alesse akan kembali mengambil alih tubuhnya atau tidak," ujar Gord.


Di sisi lain, Geni mendapati dirinya sedang terbaring di sofa, sayangnya ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman.


"Kenapa meskipun aku terbaring, sepatu sneaker ini masih terpasang di kakiku?" ujarnya keheranan. Ia pun akhirnya melepaskan sepatu itu, namun tak lama kemudian sudah kembali terpakai di kakinya. Ia pun mencoba mengingat apa yang Alesse lakukan untuk merubah bentuk sepatu itu.


Akhirnya dalam sekejap sepatu itu berubah menjadi kaus kaki. "Akhirnya! Kalau sudah begini aku bisa berkeliling dengan nyaman," ujar Geni, ia mencoba melakukan pemanasan pagi sambil berjemur di sinar matahari.


Tak lama kemudian Alex terbangun dari tidurnya. Ia langsung keluar untuk mencari keberadaan Gord. Saat ia membuka pintu rumah, ia mendapati anak serba merah sedang melakukan peregangan.


"Alesse?" Alex mencoba memastikan. "Bukan loh," ujar Geni, ia pun melanjutkan peregangannya. "Siapa lagi ini?" tanya Alex. "Yo! Namaku Geni. Salam kenal!" ujar Geni.


"Badanmu sangat atletis sekali. Aku tidak menyangka Alesse memiliki tubuh seperti itu," ujar Alex.

__ADS_1


"Tentu saja, ini adalah tubuh yang kujaga baik-baik selama ini. Aku juga mahir dalam banyak olahraga loh!" ujar Geni.


"Kau tampak periang sekali ya. Suasana hatimu tampak sama cerahnya dengan matahari pagi ini," ujar Alex.


"Tentu saja. Salah satu cara menghindari berbagai penyakit adalah semangat dan bersenang-senang," ujar Geni.


"Melegakan sekali bisa melihat wajah Alesse tampak penuh semangat seperti ini, bolehkah kuambil sebuah foto?" tanya Alex.


Geni pun tertawa. "Kenapa kau tampak kaku begitu? Santai saja! Lagian kenapa tiba-tiba ambil foto hari ini?" tanya Geni. "Hari ini aku akan kembali ke Amerika," ujar Alex murung.


"Oh? Maksudmu mau pergi ke luar negeri? Kalau begitu semangatlah. Aku tetap mendukungmu," ujar Geni.


Alex lagi-lagi merasakan hal aneh saat berhadapan dengan kepribadian lain dari Alesse. Kemarin ia sempat merasa memiliki seorang kakak yang baik dan tulus, sekarang ia merasa seperti memiliki seorang adik yang ceria.


"Mendukungku? Ada-ada saja. Aku tidak pergi untuk berlomba atau sejenisnya," ujar Alex sambil mengacak-acak rambut Geni.


"Hmm? Kalau memang tidak ada, bukankah kau bisa buat kompetisi sendiri? Kupikir itu akan membuatmu lebih bersemangat! Percayalah!" ujar Geni.


"Makanan sudah matang loh!" teriak Andin dari dapur. Geni pun akhirnya menyelesaikan peregangannya dan masuk ke dalam rumah.


Lagi-lagi Tesla dibuat bingung dengan penampilan mencolok mata dari Geni. Kemarin pria serba coklat, dan kali ini anak serba merah.


"Whoa, penampilanmu sangat mencolok sekali! Kapan kau sempat mewarnai rambutmu itu?" tanya Tesla.


"Itu rahasia negara!" ujar Geni sambil menaruh jari telunjuk di bibir kemudian tertawa. Sebenarnya tidak ada yang di rasa lucu dari gurauannya itu, namun Tesla hanya mencoba tersenyum untuk menghargainya.


"Besok bersihkan kembali rambutmu, Alesse! Kau akan mulai bersekolah lagi," ujar Andin mencoba membuat pembicaraan yang tampak normal. Ia tidak ingin Tesla merasa curiga dengan keanehan dari anak itu. "Iya," jawab Geni. Hendra dan Andin hanya bisa saling tatap karena sikap Geni tampak sangat tidak wajar di mata mereka.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah persiapan selesai, akhirnya Alex dan Tesla berpamitan untuk pergi ke bandara. "Alex, maafkan ibu karena tidak bisa mengantarmu ke bandara. Kalau ibu ikut, nanti tidak ada yang membuat makanan untuk ayah dan kakakmu ini," ujar Andin.


"Tidak apa-apa bu! Aku baik-baik saja kok!" ujar Alex. "Walah, anak ibu ternyata sudah dewasa yah. Padahal sebelumnya kau selalu merasa sedih dan terpaksa saat hendak kembali ke Amerika, " ujar Andin.


"Duh, ibu bikin aku malu," ujar Alex sambil menggaruk-garuk kepala. Akhirnya ia dan Tesla pun pergi, membuat suasana rumah menjadi tampak lenggang. Andin pun hanya bisa menghela nafas.


"Ternyata rumah ini sangatlah sunyi," ujar Hendra, ia tampak murung setelah kepergian Alex.


Geni tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak menyangka bahwa akan mengambil alih tubuh Alesse selama ini.


Ia pun masuk ke dalam kamar dan diliputi rasa gelisah. "Ini sudah hampir petang, tapi kenapa aku masih ada di tubuh ini?" Geni keheranan, ia berkali-kali memerhatikan jam namun Alesse tak kunjung mengambil alih tubuhnya.


Kegelisahannya membuatnya lelah dan tertidur secara tidak sengaja. Saat itulah ia menyadari kalau dirinya sudah berada di ruangan yang sangat gelap.


"Akhirnya kau kembali juga, Geni," ujar Gord. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku berada di tubuh anak itu seharian?" tanya Geni keheranan.


"Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Meskipun kita bertiga sudah berada di sini, namun kita masih tetap berada di ruangan gelap ini!" jawab Gord.


"Sepertinya salah seorang sedang mengambil alih tubuh Alesse! Tapi kemana perginya Alesse? Kenapa tidak ada jeda setelah salah satu dari kita mengambil alih tubuhnya?" tanya Geni khawatir.


"Meskipun kau bertanya begitu. kami tidak tahu apa-apa. Apalagi aku. Sepertinya kita sedang menaiki perahu yang terombang-ambing di tengah badai laut," ujar Rasya.


"Argh! Andai saja kita bisa berkomunikasi dengan Aqua dan Baraq!" ujar Geni. "Aqua? Baraq? Siapa lagi itu?" tanya Rasya. "Mereka berdua sama seperti kita, namun berada di tempat yang berbeda," ujar Geni.


"Kau pernah bertemu dengan mereka?" tanya Rasya. "Aku sering melihat tubuh Aqua, namun hanya sekali bertemu dengannya, itu pun sebelum Alesse bertemu dengan Gord," ujar Geni.

__ADS_1


"Heh? Jadi masih ada dua orang lagi yang belum kita ketahui? Menarik sekali!" ujar Rasya.


"Ini bukan saatnya terkesan! Kita tidak tahu keberadaan Alesse di mana!" ujar Geni mengingatkan.


__ADS_2