
Alex tampak terus bergerak dalam tidurnya, hal itu membuat Alesse merasa sangat tidak nyaman, apalagi tubuh Alex membuat satu ruangan itu menjadi semakin panas. Ia merasakan firasat buruk dari adiknya itu kemudian beranjak dari kasur. Akhirnya Alesse keluar rumah lalu masuk ke dalam Levy dan tidur di sana.
Keesokan harinya, saat pagi hari masih tampak redup, Alex masih dalam keadaan nyenyak. Alesse yang bangun lebih awal pun langsung keluar dari Levy untuk kembali ke kamar agar tidak tampak mencurigakan.
Sayangnya saat ia hendak memegang gagang pintu, ia mendengar ******* yang semakin keras. "Apa-apaan anak itu? Berisik sekali!" ujarnya sambil mengucek mata.
Saat itulah firasat buruknya semakin menjadi-jadi. "Tidak! Itu tidak boleh terjadi!" ujarnya kemudian membuka pintu kamar.
Yang ia dapati adalah Alex yang sedang terkejut, wajahnya juga tampak memerah sambil menutupi setengah bagian tubuhnya.
Alesse masih enggan masuk ke dalam kamar karena terasa panas. "A... Alesse?" Alex tampak sangat malu. Ia tidak tahu harus berkata apa sedangkan cairan putih tiba-tiba jatuh membasahi wajahnya.
Mata Alesse pun semakin membelalak, ia langsung menatap langit-langit ruangan dan mendapati noda basah di plafon kamar.
Seketika warna rambutnya berubah jingga, pakaiannya pun ikut berubah. Alesse terus berusaha menahan amarahnya.
"Alesse? Ada apa ini? Kenapa kamarmu mengeluarkan asap? Alex baru bangun tidur kah?" tanya Andin, ia hendak mwmeriksa Alex yang berada di dalam kamar, namun Alesse segera masuk dan menutup pintunya.
"Te... terima kasih, Alesse. A.... aku benar-benar minta maaf! Aku.... Aku akan membersihkan ini," ujar Alex.
Alesse tampak tidak peduli, ia langsung duduk di sudut ruangan sambil mengambil buku lalu membacanya sengan santai.
"A.... Alesse? Kau marah padaku?" tanya Alex. "Sayang sekali, paman. Aku bukan Alesse," ujar anak itu.
"Jadi? Maksudmu sekarang kau adalah Aqua?" tanya Alex. Tiba-tiba anak itu menutup buku dengan keras, ia menatap Alex dengan penuh kesal hingga rambutnya tiba-tiba mengembang.
Melihat hal itu, Alex jadi teringat dengan Tesla. Setiap gadis itu kesal, ia rambutnya juga mengembang ke atas karena aliran listrik yang berlebihan.
"Hei, paman! Jangan samakan aku dengan anak membosankan yang kerjaannya cuma menatap jendela kamar! Aku bukan orang yang seperti itu! Namaku Baraq! Bukan Aqua!" ujar anak itu.
__ADS_1
"Apalagi ini? Ada orang lainnya di dalam diri Alesse?" Alex tampak terkejut. "Kau tidak tahu? Masih ada beberapa orang lagi di dalam. Salah satunya berwajah mirip denganmu," ujar Baraq.
"Tunggu dulu! Kenapa kau dari tadi memanggilku paman? Aku tidak setua itu!" ujar Alex. "Benarkah? Kukira kau adalah ayah dari anak ini. Bukankah yang kukatakan itu benar?" tanya Baraq.
"Bukan! Alesse adalah kakakku!" ujar Alex. "Heh? Benarkah? Berarti kau lebih muda darinya? Luar biasa sekali! Kau terlihat penuh gairah hingga langit-langit ruangan ini ternodai oleh cairanmu," sindir Baraq, Alex pun menjadi malu.
"Kau, sangat menyebalkan yah!" ujar Alex. "Asal kau tahu, menyindir, mengkritik, dan memerintah adalah keahlianku," ujar Baraq.
"Kau tampak seperti seseorang, sayangnya perbedaan kalian adalah dia seorang gadis, juga pengendali listrik," ujar Alex.
"Heh? Benarkah? Berarti kami berdua hampir sama? Aku juga pengendali listrik loh! Coba lihat ini!" ujar Baraq, ia mengulurkan tangan kanannya, namun tidak terjadi apapun.
"Kau sedang apa?" tanya Alex. "Eh? Aneh sekali! Seharusnya itu dapat keluar dengan mudah!" ujar Baraq sambil berusaha berkonsentrasi.
"Kalian semua aneh sekali! Yang satunya bilang kalau dirinya adalah pengendali air, dan satunya lagi pengendali listrik? Alesse bukanlah seorang elementalist! Ia tidak bisa mengendalikan apa-apa," ujar Alex.
"Hei! Ini tidak ada hubungannya dengan dia! Aku bukanlah Alesse! Seharusnya aku bisa mengendalikan aliran listrik!" ujar Baraq.
Karena merasa terganggu, akhirnya Alex menepuk titik tertentu dari bahu Baraq, membuatnya tak sadarkan diri.
Setelah ia terbaring, Alex meninju plafon kamar, membuatnya terjatuh berantakan. Seketika seisi rumah menjadi panik, kecuali Baraq, ia masih tak sadarkan diri.
"Ada apa, Alex? Kenapa ada bunyi keras sekali? Kalian baik-baiksaja?" tanya Andin panik. "Se.... sepertinya bocor, plafonnya jatuh karena basah," ujarnya.
"Wah! Harus diganti dengan yang baru tuh," ujar Tesla. Hendra tampak menunjukkan wajah, malas, ia enggan pergi untuk memesan plafon, apalagi untuk memesannya.
"Bi... biar aku saja yang beli, aku sendiri bisa memasangnya kok," ujar Alex. "Loh? Kenapa Alesse masih tidur?" tanya Andin keheranan. "Bu.. bukan apa-apa kok. Dia mungkin sedang lelah," ujar Alex, ia pun menutup pintu kamar lalu menguncinya.
Setelah pergi dari rumah, beberapa menit kemudian ia datang dengan beberapa lembar plafon di tangannya. "Gila? Bukankah itu sangat berat? Ayah bahkan hanya bisa mengangkat dua lembar saja," ujar Hendra.
__ADS_1
"I... ini bukan apa-apa kok," ujar Alex, ia segera membuka pintu kamar, namun sudah tidak ada siapa-siapa di dalam. "Aneh sekali! Seharusnya ia belum terbangun," ujarnya.
"Ada apa, Alex?" tanya Andin. "Kalian lihat Alesse?" Alex balik bertanya. "Loh? Bukannya tadi di dalam?" tanya Andin. Alex hanya menunjukkan kamar yang tampak kosong itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alesse terbangun dari tidurnya, ia tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi. Seingatnya ia baru saja membuka pintu kamar dan melihat Alex dengan wajah memerah, setelah itu ia tidak tahu apa yang terjadi hingga berakhir di sebuah dipan yang lusuh.
"Akhirnya kau bangun juga! Selamat datang di tempat kelahiranmu," ujar salah seorang pria berjubah hijau.
"Ngibul apa kau ini? Kenapa tempat ini bisa jadi tempat kelahiranku?" tanya Alesse keheranan, ia sedikit kesal karena merasa tubuhnya dipindahkan secara paksa ke tempat itu, apalagi ia mendapati bekas memar di bahunya.
"Ini memang bukan benar-benar tempat kelahiranmu. Hanya simbolis saja," ujar pria itu. "Heh? Emangnya aku ini apa? Pejabat? Bangsawan? Pakai acara simbolis segala. Memangnya kita berada di cerita tokoh pahlawan?" tanya Alesse.
"Tentu saja, kau adalah pahlawan kami semua! Kalian adalah pahlawan kami semua," ujar pria itu sambil menunjukkan ribuan patung berjajar di belakang Alesse.
"Mereka semua tampak berbeda. Siapa yang menciptakan berhala ini?" tanya Alesse. "Mereka semua adalah pendahulumu dan kau akan meneruskan perjuangan mereka," ujar pria itu.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan! Sepertinya kau salah orang! Sebaiknya kau kembalikan aku ke tempat asalku," ujar Alesse.
"Kami tidak bisa melakukan itu sebelum memberikan beberapa kelas untukmu," ujar pria itu.
"Kenapa sangat rumit sekali? Kenapa tidak kau awali dulu dengan perkenalan? Lagian siapa kau? Kenapa harus aku yang dibawa ke sini?" tanya Alesse.
"Terima kasih karena telah diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri, ini adalah suatu kehormatan bagiku. Namaku Saxon, pendeta yang menjaga kuil suci ini," jawab pria itu.
"Begini pak pendeta! Maaf saja kalau aku tampak begitu menyulitkan. Aku bukanlah orang bodoh yang mudah mengikuti alur rencana orang asing. Aku tidak mudah memercayai orang lain. Jadi, jika aku ingin menyebarkan atau mengajak seseorang untuk menganut agamamu, sebaiknya cari orang lain saja!" ujar Alesse, ia pun segera beranjak dari dipan kemudian menatap sekelilingnya dengan penuh keheranan.
"Ada-ada saja! Dipan di tengah berhala seperti ini? Kau pikir aku ini sesajen untuk persembahan?" tanya Alesse, ia langsung melangkah keluar dari gapura.
__ADS_1
"Tunggu! Sampai kapan kau akan mengelak, Warden? Kau tidak mengenal siapa dirimu sendiri? Haruskah kuberitahu bahwa kau adalah Warden?" tanya Saxon. Alesse pun berhenti melangkahkan kakinya, ia terdiam seribu bahasa.