
Alesse mendapati dirinya sedang terbaring, ia hanya bisa menatap langit-langit yang serba putih.
"Kenapa ini? Kenapa tubuhku tidak mau bergerak? Bahkan mataku juga! Sial, seluruh tubuhku kesemutan!" Alesse terus berusaha menggerakan tubuhnya, namun tidak bisa.
"Mungkin karena tubuh itu seharian tidur dan tidak bergerak, membuatnya lemas. Kupikir akan kembali pulih dalam beberapamenit," ujar Geni.
Selagi menunggu tubuhnya yang perlahan pulih, akhirnya Alesse bisa menggerakkan bola matanya dan mulai melihat sekitar.
"Sepertinya ini rumah sakit," ujar Geni. "Tidak seharusnya aku berada di sini!" ujar Alesse, lagi-lagi ia berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat tangannya, namun darahnya bocor hingga mengalir ke selang infus.
"Celaka kau, Alesse! Tunggulah lebih sabar lagi! Darahmu bisa terus keluar jika kau terus memaksakan diri!" ujar Geni.
Tak lama kemudian Alex dan kedua orang tuanya pun masuk ke dalam kamar. "Alesse! Kau..... kau sudah bangun?" Andin tampak terkejut bukan main karena melihat tangan Alesse yang terangkat dengan mata terbuka pula.
Akhirnya rasa kesemutan pada seluruh tubuh Alesse menghilang. Ia segera bangun dan melepaskan selang infus yang ada di tangannya.
"Kenapa aku di sini? Ayah? Ibu? Sebaiknya kita segera pulang!" ujar Alesse tergesa-gesa. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh lainnya yang terjebak di rubanah.
"Tenanglah, Alesse! Dokter bahkan belum tahu apa yang sedang terjadi padamu saat ini. Berbaringlah dengan tenang. Lihatlah, tanganmu terus mengeluarkan darah karena kau melepaskan selang infus itu dengan paksa," ujar Andin.
Akhirnya Alesse pun menurutinya, dan kembali berbaring. "Benar sekali, wajahmu tampak sangat pucat, Alesse!" ujar Hendra.
"Kupikir memang wajahnya seperti itu dari dulu, hanya akhir-akhir ini saja ia banyak berekspresi," ujar Alex. Andin pun menyikutnya karena merasa tidak nyaman.
"Yang jelas.... kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang sakit? Gimana dengan kepalamu? Apakah kau merasa tertimpa sesuatu atau seseorang memukulmu?" tanya Andin. Alesse hanya menggelengkan kepala, ia masih kebingungan dengan kenyataan bahwa dirinya bisa menghadapi kondisi ini dengan tenang, padahal biasanya emosinya akan meluap-luap hingga arus listrik menyelimuti kepalanya.
Tak lama kemudian perawat beserta dokter datang untuk membersihkan berkas darah yang mengalir di tangan Alesse kemudian memeriksa keadaannya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah baik-baik saja? Ada yang sakit?" tanya dokter. Alesse pun menggeleng. "Baik, tangan kirimu mana?" tanya dokter. Secara spontan Alesse mengangkat tangan kanan, membuat semua orang keheranan.
"Tunggu, Alesse! Itu...." Alex hendak mengingatkan, namun dokter itu mencegah. "Baik, Alesse! Apakah kau bisa merasakan detak jantungmu?" tanya dokter itu. Alesse pun langsung menyentuh dadanya, sedikit condong ke kanan. Ia tampak tidak bingung saat hendak memeriksa detak jantungnya.
__ADS_1
"Oke, bagus! Kau bisa merasakannya?" tanya dokter. Alesse mengangguk natural. "Baiklah, biar bapak beritahu sekarang....... yang kau tunjuk semua itu adalah sebelah kanan, padahal bapak memintamu menunjukkan tangan kirimu. Lalu kau memeriksa detak jantungmu di bagian kanan dadamu. Apakah kau menyadari itu?" tanya dokter.
Alesse tertegun sejenak, ia juga bingung untuk membedakan antara kanan dan kiri. Akan tetapi akhirnya ia tahu setelah melihat saku di bajunya, itu berada di sebelah kiri.
"Aneh sekali! Kenapa perasaanku jadi terbalik begini? Aku sangat yakin kalau ini adalah tangan kananku!" ujar Alesse sambil mengangkat tangan kirinya.
"Kau sudah tahu kalau posisi jantungmu berada di sebelah kanan?" tanya Alex. "Omong kosong apa yang kalian bicarakan? Kenapa jantungku berada di sebelah kanan?" tanya Alesse. "Itulah yang ditunjukkan dari hasil scan," ujar Alex sambil menunjukkan berkas catatan medis Alesse.
Alesse merasa tidak nyaman karena terlalu banyak orang yang menyaksikan keanehan pada dirinya.
"Ayah, Ibu! Sebaiknya kita pulang saja," ujar Alesse. "Tunggu dulu! Kau harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi," ujar Hendra. Aku baik-baik saja, ayah! Aku ingin pulang," ujar Alesse, ia tampak sangat gelisah dari nada bicaranya meskipun ekspresinya tetap datar.
"Ba.... baiklah, kalau itu maumu. Tapi kalau ada perasaan aneh atau sakit, segera beritahu kami," ujar Hendra. Alesse pun mengangguk. Akhirnya mereka berempat pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Alesse segera berlari menuju kamar untuk menghindari rasa penasaran keluarganya. Sayangnya Hendra langsung mencegatnya agar tidak masuk ke dalam.
"Bukankah ada hal yang harus kau katakan?" tanya Hendra. "Itu bukan apa-apa. Dokter itu berbohong!" ujar Alesse. "Tidak menurutku apa yang dokter katakan itu benar. Semua organ dalammu terbalik, Alesse! Aku juga bisa melihatnya," ujar Alex.
Ia segera membuka pintu ke rubanah dan mendapati tubuh keduanya tergeletak di lantai dengan wajah yang pucat pasi.
"Tentu saja, ia belum makan seharian dan terjebak di dalam sini. Tapi apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa membiarkannya mati di sini," ujar Alesse sambil menggigit jari.
"Hmm, keadaanmu benar-benar menyusahkan ya!" ujar Geni. "Aku tidak mengerti kenapa hal ini terjadi padaku! Benar-benar merepotkan!" ujar Alesse, ia berniat menunjukkan rasa kesalnya, namun tidak bisa.
"Ada apa, Alesse? Kau berusaha berubah menjadi Baraq?" tanya Geni. "Bukan apa-apa, setelah sekian lama aku selalu berekspresi, ketika kembali normal rasanya seperti ada sesuatu yang menahanku agar tetap tenang," jawab Alesse.
"Sebaiknya kau pindahkan tubuh itu, peredaran darahnya tidak merata, itu bisa membuatnya rusak," ujar Geni.
"Benar-benar merepotkan! Aku bahkan tidak tahu caranya memberi makan benda ini," ujar Alesse sambil menyeret tubuhnya ke atas dan membaringkannya ke kasur dengan kepayahan. Karena merasa lelah, akhirnya ia ikut tertidur di kasur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu, membuat Alesse tersentak dan segera bangun dari tidurnya. Ia mendapati tubuh lainnya sedang berdiri di depan jendela.
"Siapa kau? Sedang apa kau di situ?" tanya Alesse. Sayangnya anak itu tetap bergeming sambil terus menatap jendela, raut wajahnya tampak kecewa saat sinar matahari memyirami kamar.
"Aqua?" Alesse mencoba memastikan, hanya ia yang ia pikirkan saat melihat anak yang terus menatap jendela tanpa henti. Tiba-tiba terdengar bunyi keroncongan dari perut anak itu.
"Tubuh itu belum makan seharian ini, sebaiknya kau pergi ke dapur untuk makan," ujar Alesse. Sayangnya anak itu mengacuhkannya.
"Tunggu dulu! Kenapa aku tidak bisa mendengar suara Geni? Biasanya ia sangat berisik di pagi hari," ujar Alesse sambil memeriksa sekitar, ia tidak mendengar apapun lagi di dalam pikirannya dan itu membuatnya sangat tenang.
"Alesse! Bangunlah! Waktunya makan! Alesse, kau baik-baik saja kan?" tanya Andin sambil terus mengetuk pintu, ia khawatir karena Alesse belum keluar kamar pagi ini.
"Baik bu!" ujar Alesse, ia pun melirik ke arah Aqua. "Tunggu apalagi? Pergilah makan!" ujar Alesse.
"Sebaiknya kau saja yang makan. Menatap jendela seperti ini sudah cukup bagiku," ujar Aqua.
"Aku tahu kau benci sesuatu yang cerah, ini tidak seperti di alam bawah sadar! Yang ada di luar jendela itu bukanlah laut! Cepatlah ke dapur!" Alesse menarik lengan Aqua dan mendorongnya keluar dari kamar.
Karena mencium aroma yang menggugah selera, akhirnya Aqua berjalan ke dapur dan mendapati Alex sedang menyantap makanan di sana.
Alex menatapnya keheranan, bahkan berkali-kali mengucek mata. "Apakah aku tidak salah lihat? Organ dalammu tidak terbalik seperti sebelumnya! Sebenarnya ada apa ini?" ujarnya kebingungan. Aqua tidak menjawab, ia langsung asal duduk untuk menyantap makanan.
"Kenapa kau duduk di situ? Itu kursi ayah," ujar Hendra sambil memijat bahu Aqua. Melihat reaksi anak itu yang tampak pasrah apa adanya, Hendra mulai berani bertingkah.
"Selamat pagi anakku! Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil merangkul bahunya dari belakang dan mengacak-acak rambutnya.
Aqua tampak kebingungan karena rambutnya terasa berbeda, tubuh itu memiliki rambut kepala yang lebih pendek daripada dirinya.
"Ada apa nak? Apakah ada yang sakit di sekitar sini?" tanya Hendra sambil mengusap-usap kepala anak itu. Aqua menggelengkan kepala dengan ekspresi datarnya.
"Baiklah, tidak apa-apa duduk di situ, biar ayah yang duduk di kursimu ya," ujar Hendra sambil tersenyum ramah, ia merasa senang karena Aqua merespon tingkahnya dengan tenang.
__ADS_1