Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Changed world


__ADS_3

Alesse langsung menarik nafas dalam-dalam saat buku Baraq dan Gord hendak menembus masuk ke dalam tubuhnya. Meskipun tidak merasakan apapun, ia tetap merinding melihat benda menembus tubuhnya secara paksa.


Seketika setelah buku itu lenyap di dalam tubuhnya, istana itu mulai bergetar. Puing-puing dinding tiba-tiba bermunculan dari segala arah lalu bersatu kembali membentuk sekat ruangan di istana itu.


Pintu istana pun tiba-tiba terbuka sedangkan angin kuat langsung melempar Alesse keluar darinya.


Alesse sempat memejamkan mata karena takut ada benda yang akan memasuki matanya.


Setelah merasa tenang, ia kembali membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dalam Levy, namun kali ini warna ruangan itu lebih redup, berwarna biru keunguan.


"Apa yang terjadi? Harusnya dinding Levy berwarna putih," ujar Alesse sambil meraba-raba dinding Levy.


"Hmm! Jadi ini yang kau maksud terjebak di alam bawah sadarmu?" ujar Baraq yang tampak duduk santai di kursi kemudi sambil menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya di dada.


"Kau bicara dengan siapa?" tanya Aqua keheranan. "Tentu saja denganmu!" ujar Baraq. "Tapi aku sendiri juga tidak mengerti apa yang kau maksud. Aku baru pertama kali melihatmu sekarang ini," ujar Aqua.


"Yang seharusnya kau ajak bicara tuh aku, bukan dia," ujar Alesse. "Loh? Benarkah? Padahal yang kulihat saat bertemu denganmu adalah kau mengenakan jubah biru atau pakaian yang serba merah itu," ujar Baraq.


"Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang terjadi, sepertinya ada dua ruangan yang memisahkan kalian berempat. Jika Gord tidak ada di sini, maka ia sedang bersama Geni sekarang.


"Geni? Maksudmu anak berbaju merah yang tampak seperti landak itu?" tanya Aqua. "Yeah, sejak kapan kau mengenalnya? Kau pernah berjumpa dengannya?" tanya Alesse.


"Pernah, saat mengambil alih tubuhmu. Tampaknya orang lain tidak bisa melihatnya selain dirimu," ujar Aqua. "Begitulah rumitnya keadaanku ini," ujar Alesse.


"Sepi sekali di dalam sini, suasananya benar-benar redup dan dingin, sangat nyaman, andai kalau lebih luas lagi, mungkin akan lebih bebas," ujar Baraq.


Tak lama setelah berbincang-bincang dengan mereka berdua, Alesse merasakan seseorang baru saja mengguncang-guncang tubuhnya.

__ADS_1


Akhirnya Alesse pun langsung sadarkan diri, ia sedang berdiri di hadapan teman-temannya.


Alesse langsung melihat sekelilingnya, ia hanya mendapati sebuah reruntuhan istana kerajaan.


"Loh? Kenapa jadi begini?" Alesse kebingungan. "Apanya yang jadi begini, Alesse?" tanya Sanay keheranan. Alesse masih tidak percaya istana megah yang ia lihat sudah menjadi reruntuhan terbengkalai.


"Kenapa kerajaan ini tampak seperti kota hantu yang terbengkalai?" tanya Alesse keheranan.


"Heh? Kenapa kau tanya itu lagi? Bukankah pengembara tadi sudah menceritakannya pada kita?" tanya Sandy keheranan.


"Tu... tunggu dulu! Pengembara? Kalian ini bicara apa?" Alesse masih kebingungan. "Harusnya kami yang menanyakan hal itu! Kau ini kenapa, Alesse?" tanya Sanay.


"Tu... tunggu dulu! Sepertinya ada yang bermasalah dengan ingatanku. Bisakah kalian ceritakan lagi tentang kerajaan ini?" pinta Alesse.


"Aneh! Padahal baru tadi kau mendengarnya," ujar Kaa. "Langsung ceritakan saja!" ujar Alesse.


"Eh? Bukankah cerita itu terbalik? Seharusnya aku yang kalah melawan Baraq, si Anak Pembawa Sial itu," ujar Gord, ia sudah berada di samping Geni.


"Oh, di situ ku rupanya, sayangnya aku malas menjelaskan apa yang terjadi padamu, Untuk lebih jelasnya kau bisa tanyakan pada Geni saja," ujar Alesse setelah melihat Gord.


"Alesse, untuk Aliansi Gordon dan Mehy.... sebaiknya kita semua berpencar untuk mengamati markas mereka," ujar Kaa.


"Eh? Aliansi......" Alesse masih kebingungan. "Jangan bilang, kau lupa dengan apa yang kita bahas tadi?" tanya Sanay. "Yeah, begitulah.... Maaf," ujar Alesse sambil menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya itu membuat mereka keheranan.


"Kau... benarkah kau Alesse? Baru kali ini aku melihatmu bertingkah seperti orang bodoh," ujar Salsha. "Mau orang bodoh ataupun orang gila, Alesse tetaplah Alesse!" ujar Sanay, ia tampak menatap Salsha dengan tatapan sinis.


"Ada apa dengan kalian berdua sih? Sepertinya dari kemarin kalian terus bermusuhan!" ujar Sandy.

__ADS_1


"Heh? Sanay? Bermusuhan dengan Salsha?" Alesse tidak menyangka hal itu terjadi disaat ia tidak mengetahui apapun.


Dunia yang ia tempati sekarang ini telah berubah karena keberadaan Gord dan Baraq telah menghilang dari dunia itu, tidak ada seorang pun yang menyadarinya.


"Hei, Sanay! Kau masih ingat Gord?" tanya Alesse. "Gord? Siapa itu?" tanya Sanay keheranan. "Kau dapat teman dari mana lagi itu, Alesse?" tanya Sandy.


"Heh? Yang benar saja! Gadis pengendali petir itu tidak mengenalku?" Gord tampak kecewa.


"Bukankah sudah kubilang tadi? Dunia ini sudah berubah sejak keberadaanmu lenyap. Sekarang tokoh yang dijuluki sebagai Benteng Hidup Dewa Perang sudah digantikan oleh orang lain. Pasti ceritanya akan sesuai dengan yang ada di buku kusam, mereka tidak akan menyalahi takdir mereka karena mereka tidak memiliki buku kusam itu," ujar Alesse.


"Berarti, Si Benteng Hidup Dewa Perang itu tidak akan berjumpa dengan Anak Pembawa Sial?" tanya Gord.


"Menurutku mereka tetap bertemu, namun kemenangan kali ini diraih oleh Benteng Hidup Dewa Perang, lihatlah kerajaan ini, sudah hancur lebur," ujar Alesse.


"Hmm! Memang benar sih! Seharusnya istana itu adalah tempat tinggal tuan Baraq, sayang sekali sampai hancur lebur seperti itu," ujar Gord.


"Hei, Alesse! Kenapa kau bengong saja?" tanya Salsha keheranan. Akhirnya Alesse pun tersadar, ia mengalihkan perhatiannya dari Geni dan Gord. Sekali ia berbicara dengan mereka, maka teman-temannya hanya melihat dirinya sedang tertegun, padahal ia sedang berbicara dengan Gord dan Geni dengan telepatinya.


"Oh, bukan apa-apa kok, tapi kenapa kita harus berpencar saat mengamati markas mereka? Bukankah kita bisa menggunakan Levy untuk mengamati markas mereka satu persatu?" tanya Alesse.


Teman-temannya semakin heran karena ia menanyakan hal itu. "Ba... baiklah! Baiklah! Aku tidak akan tanya lagi! Jadi aku harus ke mana?" tanya Alesse.


"Sebaiknya kau ke arah utara, kami membagi tiga kelompok. Aku dengan Sanay, Salsha dengan Sandy, dan kau sendirian," ujar Kaa.


"Hei! Kenapa Alesse sendirian? Aku mau sama Alesse saja! Kau yang sebaiknya sendirian! Bukankah kau yang lebih paham tentang dunia ini?" tanya Sanay tidak terima.


"Bukan begitu, Sanay! Kita bagi sesuai peluang masing-masing untuk melarikan diri saat ketahuan, kalau Alesse bisa kabur dengan Levy, ia bisa bergerak sendirian, namun kita hanya bisa terus berlari dan saling mengandalkan. Kalau aku pergi sendirian dan ketahuan, mungkin mereka akan langsung membidikku atau menangkapku dengan jaring, harus ada yang membantuku melepaskan jaring itu," ujar Kaa.

__ADS_1


Akhirnya mau tidak mau Sanay pun menurutinya, mereka pun mulai berpencar ke tempat tujuan masing-masing.


__ADS_2