Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
ekspedisi


__ADS_3

Akhirnya mereka semua pun sampai di depan rumah Atlas, pria itu tampak terlihat sangat pucat. "Apa yang membuatmu begitu gelisah, Atlas?" tanya Kaa.


"Jumlah orang yang terbantai semakin banyak! Sayangnya bukan hanya manusia ras iblis, bahkan manusia biasa juga dibantai! Sepertinya sosok yang kita lawan ini bukan main-main! Apakah ini adalah ulah Warden selanjutnya?" Atlas tampak ketakutan sambil menggigit jari.


"Manusia biasa juga dibantai? Apakah kau memiliki petunjuk lain? Sekecil apapun itu! Kupikir akan berguna," ujar Kaa.


"Menurut laporan yang kudapat, manusia biasa yang mereka bantai itu adalah para elementalist! Ini sudah pasti ulah Warden! Hanya dia yang dapat menghadapi para elementalist sendirian, apalagi hanya memberikan sayatan pada korbannya," ujar Atlas.


"Kita kesampingkan pelakunya dahulu, kita masih belum yakin kalau dia adalah Warden, hanya dugaan saja!" ujar Kaa.


"Justru yang paling memungkinkan hanya dia! Jika kita ingin mengalahkannya, kita harus memiliki sesuatu yang memiliki kekuatan besar, seperti...... Dark Warden," ujar Atlas.


"Maksudmu Ray? Aku tidak setuju," ujar Kaa. "Kenapa lagi? Kenapa kau sangat membenci tuan Ray?" tanya Atlas. Kaa sekilas melirik Alesse, namun segera memalingkan wajah sebelum anak itu menyadarinya.


"Pokoknya kita tidak perlu berurusan dengan pria itu! Dia sudah semakin tumpul dan bodoh," ujar Kaa. "Huh, memangnya kau sehebat apa sampai menyebut Dak Warden tumpul dan bodoh?" tanya Atlas.


"Asal kau tahu saja, aku dulu pernah mengasuhnya juga. Saat itu dia adalah remaja yang sangat keras kepala dan gegabah," ujar Kaa.


"Jadi rumor yang beredar itu benar?" tanya Atlas. "Rumor seperti apa?" tanya Sandy penasaran. "Orang-orang mengatakan bahwa saat Ray masih muda, ia pergi bersama temannya untuk menemukan benda pusaka yang dapat digunakan untuk mengalahkan Warden. Sayangnya ia kembali tanpa temannya. Orang-orang menduga bahwa temannya terbunuh karena kelalaiannya, mereka mengatakan bahwa Ray menukar temannya untuk kekuatannya sendiri," ujar Atlas.


"Rumor macam apa itu? Memang mereka memiliki bukti?" Salsha tampak tidak terima. "Aku juga tidak memercayai rumor seperti itu, namun rumor itu terus menyebar ke berbagai dunia," ujar Atlas.


"Hoi! kenapa kau tiba-tiba tersulut marah gegara hal itu?" tanya Sandy tidak terima, ia tidak menyangka Salsha masih terus mengaggumi Ray. "Ya itu memang salah! Kita tidak boleh percaya pada rumor begitu saja!" ujar Salsha.


"Aku tidak percaya rumor seperti itu, karena aku sendiri yang mengasuh Ray. Tapi tentang pusaka yang bisa mengalahkan Warden itu..... sepertinya menarik juga. Mungkin itu adalah solusi untuk menghadapi orang gila yang berani berbuat keji seperti ini," ujar Kaa.

__ADS_1


"Memangnya kau tahu di mana benda itu?" tanya Atlas. "Tentu saja, saat itu aku hanya berhasil menyelamatkan Ray, sedangkan temannya langsung lenyap tertelan lubang hitam," ujar Kaa.


"Ja... jadi benda itu berada di tempat yang berbahaya? lubang hitam katamu? Manusia bisa tertelan ke dalamnya?" tanya Sandy.


"Yeah, meskipun begitu, dengan adanya kendaraan Alesse, kupikir kita bisa menggapainya dengan mudah. Saat itu Ray dan temannya hanyalah manusia primitif yang melakukan perjalanan dengan kedua kaki mereka, namun keadaan kita berbeda, kita punya kendaraan yang lebih hebat!" seru Kaa.


Tiga anak itu tampak tidak setuju untuk menaiki Levy, mereka enggan berurusan dengan Alesse lagi.


"Sebenarnya apa masalah kalian? Kenapa kalian bersikap begitu di hadapan Alesse?" tanya Kaa keheranan.


"Anak itu..... dia bukanlah orang yang baik!" ujar Sandy. Akhirnya Alesse pun membuka suara. "Asal kau tahu saja, aku tidak pernah mengaku kalau diriku adalah orang baik. Kupikir aku sudah seperti ini dari dulu, rapi kenapa kalian baru menghindariku sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Bukankah kalian sangat aneh?" tanya Alesse.


"Pokoknya aku tidak setuju pergi bersamanya! Dia adalah orang yang sangat buruk! Mungkin saja pelaku pembunuhan semua ini adalah dia. Kita tidak tahu apa-apa, apalagi ia pergi tanpa kabar selama berbulan-bulan, sudah pasti ia melakukan suatu hal yang mencurigakan," ujar Sandy.


"Aku sudah memastikan kalau hal itu bukanlah ulah Alesse! Hal ini terjadi saat Alesse sedang berada di rumahnya," ujar Kaa.


"Baiklah, bagus sekali! Lalu apa alasanmu mengawasiku? Jika kau tahu saat itu aku ada di rumah, sudah pasti kau mengawasiku. Jadi, sejak kapan? Kenapa dari sekian banyak orang, kau mengawasiku?" tanya Alesse. Kaa tidak bisa menjawab, ia tidak bisa menyebutkan mengapa dirinya tiba-tiba memeriksa keberadaan Alesse.


Karena suasananya menjadi lebih dingin, Alesse pun menghela nafas. "Ya sudahlah, kupikir bukanlah hal penting. Jadi, kau ingin kami pergi ke mana?" tanya Alesse.


"Bumi dengan peradaban tercanggih," ujar Kaa. Mendengar perkataannya itu, Alesse menjadi tertarik, akhirnya ia pun membuka pintu Levy dengan senang hati.


"Aku mempersilahkan kalian untuk pergi kapanpun yang kalian mau," ujar Alesse. "Sabarlah sedikit! Kita tidak pergi hari ini," ujar Kaa.


"Lalu... benda pusaka yang kau cari-cari itu seperti apa?" tanya Sandy. "Aku tidak tahu jelas seperti apa bentuknya, namun kata Ray itu berbentuk seperti tongkat," ujar Kaa.

__ADS_1


"Bagaimana sebuah tongkat bisa dijadikan benda pusaka? Bagaimana cara mengalahkan Warden hanya dengan sebuah tongkat?" tanya Atlas keheranan.


"Aku juga menanyakan hal itu pada Ray, dan ia menjawab bahwa kita akan mengerti saat melihat benda itu secara langsung, ini bisa diartikan kita dapat mengenali benda itu meskipun yang kita ketahui hanyalah sebuah tongkat," ujar Kaa.


Malam itu mereka berempat menginap di tempat Atlas, namun hanya tersisa dua kamar kosong sehingga Sanay tidur berasa Salsha sedangkan ketiga orang lainnya harus tidur dalam satu kamar.


Pada akhirnya Alesse memilih tidur di Levy, ia merasa lebih tenang dan aman berada di sana.


"Di mana anak itu?" tanya Sandy. "Oh, Alesse? Ia memilih tidur di kendaraannya," ujar Kaa. "Syukurlah, bisa saja dia membunuh kita jika tidur di sini," ujar Sandy.


"Kenapa kau tiba-tiba menjadi sangat membencinya?" tanya Kaa. Akhirnya Sandy membuka kerah bajunya dan menunjukkan bekas luka yang ada di dadanya, ia juga menunjukkan bekas luka di telapak tangannya.


"Ini perbuatan Alesse? Kau yakin?" tanya Kaa. "Kenapa aku tidak yakin? Aku yang berhadapan langsung dengannya, dan sempat berbicara baik-baik. Sayangnya watak aslinya terlihat juga, ia dangat membenci para elementalist dan berniat membunuh mereka semua. Kupikir tidak ada pelaku yang lebih tepat untuk pembantaian para mayat itu daripada Alesse," ujar Sandy.


Kaa pun mencoba memerhatikan luka sayatan yang ada di dada dan telapak tangan Sandy. Ia memang mendapati bekas luka yang sama seperti pada mayat-mayat itu.


"Hmm! Sebaiknya kita tunggu saja nanti seperti apa hasilnya. Kau tidak salah kok jika mencurigai anak itu. Kita semua memang tidak tahu hal-hal yang tak terduga. Akan tetapi, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu tentang Alesse. Dia tidaklah seburuk itu loh! Bahkan jika kau meminta maaf padanya, ia tidak akan menyimpan dendam. Tentu saja jika kau tidak mengusiknya, anak itu terlalu sensitif, " ujar Kaa sambil tertawa.


"Candaanmu membuatku tak berselera. Aku tidak setuju kalau kau mengatakan bahwa anak itu adalah anak yang baik," ujar Sandy.


"Yeah, tak apalah, namun jika kebenaran dan kenyataan telah terungkap, kau tidak boleh menyangkalnya dengan keras kepala. Aku akan membencimu loh," ujar Kaa memperingatkan.


"Baiklah mari kita lihat siapa yang benar! Kupikir kau akan menyesal karena terlalu berlebihan memuji anak itu," ujar Sandy.


"Kau hendak beradu argumen dengan orang yang usianya ratusan tahun lebih tua darimu? Lumayan juga rasa percaya dirimu. Alangkah baiknya jika itu digunakan untuk membela orang yang benar-benar baik dan bisa memaafkan orang lain dengan mudah," ujar Kaa.

__ADS_1


__ADS_2