
Alesse tampak sedang menikmati makanannya. Meskipun begitu ia selalu berekspresi datar, ia tidak biasa mengutarakan tentang perasaannya itu.
Tak lama kemudian Hendra datang dengan ponselnya, ia tampak sedang merekam dirinya sendiri sambil membicarakan keluarganya. Pertama ia memperkenalkan istrinya lewat kamera itu.
Tak lama kemudian ia mengarahkan kamera itu pada Alesse sedangkan ia sendiri berdiri di belakang Alesse sambil menempelkan pipinya di pipi Alesse.
Wajah Alesse menjadi tampak sebal, ia hanya melirik pria itu dengan tatapan tajamnya. Ia hanya mendapati pria itu sedang tersenyum kepadanya.
"Ayah sedang apa sih?" tanya Alesse keheranan. Tak menjawab pertanyaan Alesse, Hendra segera menghampiri Andin. "Ada apa?" tanya Andin keheranan.
"Lihatlah cara dia melirikku," ujar Hendra sambil mengulang rekaman wajah Alesse. Andin pun tertawa.
"Manis sekali kan? Gimana kalau kita punya anak lagi, kali ini perempuan. Pasti lirikannya tak kalah menggemaskan dari Alesse," ujar Hendra.
"Ayah, sebaiknya hentikan keusilanmu itu! Aku bukan anak kecil lagi," ujar Alesse. "Bisakah kau tidak mengatakan hal itu dengan ekspresi datar? Jika kau terlihat kesal sedikit, itu pasti akan terlihat menggemaskan," ujar Hendra.
"Tapi ini memang sangat mengherankan ya. Padahal Alex tampak cepat tumbuh besar dan dewasa, namun Alesse justru kebalikannya, ia tampak masih kecil diusianya yang sudah 17 tahun. Atau mungkin karena aku membandingkannya dengan Alex sehingga ia tampak terlalu muda?" tanya Andin.
"Menurutku ia memang tak kunjung tumbuh dan berkembang, tidak seperti teman-temannya," ujar Hendra.
"Benar sekali! Ini sangat mengkhawatirkan! Perlukah kita periksa ke dokter saja?" tanya Andin. "Tidak perlu bu! Aku tidak perlu pergi ke dokter! Aku baik-baik saja, tidak ada masalah dengan tubuh ini kok!" ujar Alesse, ia tidak ingin melakukan hal yang merepotkan dan berujung sia-sia.
Selagi ia makan, ia menyingkirkan beberapa potongan daging yang ada di piringnya. "Hei, Alesse! Tidak seperti biasanya! Jangan pilih-pilih makanan loh!" tegur Andin.
"Makanlah, Alesse! Itu sangat enak loh! Atau ayah perlu menyuapimu?" tanya Hendra, ia langsung menyumbat mulut Alesse dengan potongan daging itu.
Alesse tidak siap dengan perlakuannya secara tiba-tiba, pada akhirnya ia menelan potongan daging itu. "Hei! Kenapa ayah melakukan hal itu?" tanya Alesse, akhirnya wajah kesalnya terlihat, sayangnya terus berlanjut hingga dahinya berkerut.
"A... Alesse? Kau baik-baik saja? Wajahmu tampak semakin marah!" ujar Hendra. Ia terus memerhatikan ekspresi Alesse.
Sayangnya pandangannya teralihkan ke hal lain. Pakaian yang Alesse kenakan tampak mulai mengetat hingga akhirnya sobek, dalam hitungan detik, tubuh Alesse berubah menjadi pria berotot.
"Lain kali jangan seenaknya menyumbat mulutku dengan makanan," ujar Alesse, suaranya tampak semakin membesar, membuat Hendra sempat ketakutan.
__ADS_1
"Kenapa suaramu tiba-tiba menggelegar seperti Alex? Lagian.... apa-apaan tubuh itu?" tanya Hendra.
"Nah, sudah kubilang kan? Aku bukanlah anak kecil lagi. Bayangkan ayah selama ini menjahili, memeluk, bahkan menempelkan pipi pada seorang pria ini, bukankah itu sangat aneh?" tanya Alesse.
"Ehm, begitukah. Jadi ayah tertipu dengan tubuh mungil itu? Jadi yang selama ini ayah jahili adalah pria dewasa? Bukan anak kecil yang polos?" Hendra merasa jijik membayangkan semua hal yang ia lakukan pada Alesse.
"Akhirnya menyesal sendiri setelah berkali-kali kuperingatkan? Jika saja ayah mendengarkan peringatanku, tentu saja tidak akan mendapatkan perasaan kacau balau seperti ini," ujar Alesse. Hendra pun berbalik badan tanpa bicara.
"Ada apa? Merasa malu setelah melakukan semua itu?" tanya Alesse, pada akhirnya Hendra menuju ke dalam kamar dengan wajah terpuruk, ia berharap tidak ingat semua hal yang ia lakukan pada Alesse.
"Alesse, bukankah kau terlalu kejam padanya?" tanya Andin. "Huh, setidaknya biarkan dia sadar kalau aku ini bukan anak kecil. Toh aku berubah seperti ini karena ia membuatku menelan daging," ujar Alesse.
Tak lama kemudian ponsel Andin berdering. "Wah, Alex! Gimana kabarmu nak?" tanyanya. "Aku baik-baik saja bu. Gimana dengan Alesse? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Alex.
"Heh, kau tidak tanya kabar ayah dan ibumu dulu?" tanya Andin. "Oh, ma... maksudku.... gimana kabar kalian semua?" tanya Alex, ia tampak gagap setelah disindir ibunya. Andin pun tertawa mendengar respon anaknya itu.
"Di sini baik-baik saja kok! Ngomong-ngomong, kenapa kau tiba-tiba menelpon?" tanya Andin. "Aku akan pulang besok bu! Bisa tolong hiasi rumah? Mungkin aku juga minta tolong agar Alesse mengosongkan kamarnya untuk sementara," ujar Alex.
"Heh? Ada apa ini? Kau mengajak seseorang pulang?" tanya Andin. "Ehm, be... begitulah," ujar Alex tampak malu-malu.
"Alex, Alesse tidak mau mengosongkan kamarnya. Gimana kalau kamarmu saja yang dikosongkan?" tanya Andin.
"Ba... baiklah, tapi jangan ibu yang mengosongkan! Biar Alesse saja!" ujar Alex. "Eh? Kenapa?" tanya Andin keheranan. "Pokoknya jangan! Bilang Alesse juga untuk tidak menyuruh ayah! Pokoknya hanya dia yang boleh mengosongkan kamarku," ujar Alex.
"Alesse, gimana? Kau mau merapihkan kamar Alex?" tanya Andin, ia ragu kalau Alesse akan menurutinya.
"Boleh saja," ujar Alesse santai, Andin tidak menyangka kalau Alesse tidak menolak permintaan Alex.
Akhirnya mereka pun mulai merapikan seisi rumah, Alesse juga mulai mengosongkan barang-barang yang ada di kamar Alex.
Setelah ia selesai membereskan, ia mendapati satu hal yang kurang. Noda yang ada di plafon kamar masih terus membekas sejak kejadian lama itu.
"Huh, benar-benar merepotkan!" ujar Alesse, ia pun mengerti mengapa Alex melarang ibunya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Setelah semua persiapan selesai, akhirnya mereka semua menunggu di ruang tamu kecuali Alesse.
"Kira-kira siapa yang datang bersama Alex?" tanya Hendra penasaran. "Entahlah, dia tidak pernah membicarakan temannya pada kita," ujar Andin.
"Kalau tidak pernah dibicarakan, jangan-jangan ia membawa seorang gadis ke sini? Dari Amerika? Apakah dia akan membawa bule ke sini?" tanya Hendra.
"Hentikanlah angan-anganmu! Mana mungkin dia ke sini bersama bu......." Andin tercengang saat melihat anaknya tiba-tiba muncul bersama seorang wanita berkulit putih.
Hendra tak berkedip, ia terus memandangi wanita berambut coklat itu. Akhirnya mereka berdua pun keluar rumah untuk menyambut keduanya.
"Akhirnya pulang juga, Alex!" seru Andin, ia langsung menghampiri Alex dan memeluknya. "Walah, siapa ini?" tanya Andin.
"Namanya Tesla," ujar Alex. "Tesla? Nama yang indah sekali," ujar Andin. "Alex, ke sini sebentar," ujar Hendra. Alex pun menghampirinya sedangkan Hendra langsung merangkul bahunya.
"Ada apa ini nak? Kenapa kau membawa seorang gadis ke rumah? Apalagi gadis bule! Kau benar-benar membuat ayah iri saja!" ujar Hendra.
"Aku tidak membawanya, dia yang memaksa ikut ke sini, aku tidak bisa melakukan apapun!" bisik Alex.
"Hmm? Apa yang sedang kalian berdua bicarakan? Tidak baik berbisik-bisik, apalagi membelakangi tamu kita loh!" ujar andin sambil menunjukkan senyum paksaannya yang tampak mengerikan.
"Habislah, kau nak. Ayah tidak bisa menolongmu jika terjadi sesuatu," ujar hendra.
"Tesla, mari... masuk ke dalam dulu," ujar Andin, ia mengajak Tesla duduk di sofa.
"Tesla, barang-barangmu..... biar kutaruh," ujar Alex. "Aduh, tidak perlu! Biar ibu saja yang membawanya, kalian pasti lelah dalam perjalanan kan?" ujar Andin kemudian membawa koper Tesla ke kamar Alex.
Tak lama kemudian Alesse keluar dari kamar. Alex yang kebetulan melihatnya dari ruang tamu pun langsung memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Alesse dengan ekspresi datarnya, ia langsung membuat kecanggungan di antara mereka.
Setelah menyadari keberadaan Tesla, Alesse pun menatapnya sejenak hingga kedua matanya saling berpapasan dengan mata bule itu. Alesse pun kembali ke kamar karena tidak ada keperluan lagi di luar.
"Gadis kecil itu adikmu? Matanya indah sekali," ujar Tesla. "Di... dia kakakku, Tesla! Dan dia bukan perempuan," ujar Alex.
__ADS_1
"Walah, mengejutkan sekali! Jadi itu adalah kakak yang selaku kau ceritakan itu?" tanya Tesla, Alex pun mengangguk.