Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Alice dari masa depan


__ADS_3

Akhirnya mereka semua pun kembali ke rumah Atlas. Sayangnya Alesse tidak disambut baik oleh mereka, orang-orang tampak berkumpul dengan tatapan penuh benci pada Alesse.


"Ada apa ini? Kenapa mereka berkumpul di sini?" tanya Kaa. "Anak itu..... bukankah ia seorang Warden?" tanya Abel.


"A.... apa maksudmu? Tanganmu menunjuk ke mana?" tanya Sandy. "Kalian memang bodoh atau berpura-pura bodoh? Kaa, bisakah kau menjelaskan hal ini? Kenapa selama ini kau diam saja tentang musuh dalam selimut ini? Aku tidak mengerti! Sebenarnya kau memihak kami atau Warden? Kau tidak tahu betapa tidak berdayanya kami, dan kau memilih kaum yang menindas kami?" tanya Atlas.


Kaa terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa. "Tunggu dulu! Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Aku? Kenapa semua orang suka melimpahkan semua keburukan padaku? Memangnya aku berbuat apa pada kalian?" tanya Alesse.


"Alesse, tenanglah, jangan marah!" ujar Geni. "Aku tidak marah! Aku butuh penjelasan dari mereka! Mamalia bodoh ini selalu menuduh tanpa dasar dan bukti!" ujar Alesse, ia tidak mengucapkannya dalam hati, ia mengatakannya keras-keras tanpa sadar karena emosinya terus meluap.


"Alesse, kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Salsha. "Kalian lihat itu? Dia berbicara dengan pikiran paralelnya! Dalam tubuh itu ada lebih dari satu orang. Itu adalah ciri Warden dan Dark Warden, mereka gemar berbicara sendiri karena dalam diri mereka ada orang lain," ujar Atlas.


Akhirnya rasa heran yang selama ini selalu menjadi tanda tanya bagi Sanay, Sandy, dan Salsha pun terjawab. Mereka memang sering mendapati Alesse berbicara sendiri, namun memilih mengabaikannya karena mengira itu adalah ciri khas orang jenius.


Pada akhirnya semua bukti itu membuat mereka semakin yakin. "Alesse? Apakah benar begitu?" tanya Sanay. "Aku.... tidak tahu," ujar Alesse, baru kali ini ia menjawab dengan ekspresi yang tidak begitu yakin.


"Tapi, bukankah kalian tahu sendiri? Aku bukanlah elementalist! Aku tidak memiliki kemampuan seperti kalian!" ujar Alesse.


"Bahkan seorang elementalist yang terlahir tanpa tahu bahwa dirinya elementalist pun tidak akan bisa menggunakan kemampuannya. Tidak usah beralasan!" ujar Atlas.


Orang-orang tampak siap dengan segala hal yang bisa mereka jadikan untuk senjata. "Kalian dan manusia-manusia yang mengaku diri kalian suci, kami tidak akan menyerah begitu saja untuk hidup kami! Kami akan bertahan sampai akhir hayat kami!" ujar orang-orang seolah bersiap untuk berperang.


Karena mereka terus berteriak menyoraki Alesse, Kaa pun menyuruhnya untuk segera pergi. "Alesse, pergilah! Biar hal ini aku yang mengatasinya. Pergilah, dan temuilah Sang Pertapa, ia akan menjawab semua pertanyaanmu yang sekarang ini membuatmu penasaran dan tidak mengerti," ujar Kaa.


Ia langsung mendorong Alesse agar segera masuk ke dalam Levy dan pergi dari tempat itu.


"Manusia memanglah makhluk yang mengerikan dan tidak tahu diri. Bagaimana mereka bisa sekejam itu padahal selama ini sudah dibantu?" tanya Geni kesal.


"Bukankah kau menyuruhku untuk tenang dan mengabaikan hal itu? Mengapa kau sendiri yang kesal?" tanya Alesse. Geni terdiam tidak bisa menyangkal.


"Dari pada itu semua, sepertinya mencari orang yang dijuluki sang Pertapa ini lebih menarik," ujar Alesse.


"Benar sekali! Sang Pertapa adalah pria yang luar biasa! Aku bahkan bisa menggunakan pengendalian apiku lagi berkat sang Pertapa itu!" seru Geni.


"Mengendalikan api? Dengan tubuh ini?" tanya Alesse. Geni mengangguk, akhirnya salah satu pertanyaan Alesse terjawab meskipun ia belum mendatangi sang Pertapa itu.

__ADS_1


"Jadi, pada akhirnya tubuhku ini adalah tubuh elementalist? Mencari sang Pertapa untuk menemukan jawabannya? Konyol sekali! Aku bahkan bisa mencari sendiri jawaban yang kuinginkan untuk pertanyaanku ini," ujar Alesse percaya diri.


"Sepertinya reaksimu terlalu datar untuk orang yang mengetahui bahwa dirinya adalah elementalist, " ujar Geni.


"Lagian aku tidak bisa menggunakan kemampuan itu, bagiku sama saja mau elementalist atau bukan. Toh hidupku tidak bergantung padanya, ilmu sains sudah sangat cukup bagiku," ujar Alesse.


"Bisa mengendalikan elemen adalah hal yang luar biasa loh! Aku saat pertama kali tahu bahwa diriku adalah elementalist juga sangat senang. Mungkin lebih baik jika kau bisa menguasai kemampuan itu juga! Nah, pergilah ke pria tua yang disebut Sang Pertapa itu!" seru Geni.


"Kau tahu di mana tempatnya?" tanya Alesse. "Tentu saja..... tidak," ujar Geni tiba-tiba ragu, saat itu ia hanya asal berjalan hingga kebetulan menemukan sebuah gua dan bertemu dengan sang Pertapa di sana.


"Kau serius menanyakan hal itu pada anak kecil? Dia bahkan tidak tahu dimana sekarang. Percuma saja bertanya padanya," ujar Gord.


"Be... berisik! Aku bukan anak kecil!" ujar Geni kesal. "Entah kenapa auramu tampak lebih bijak daripada biasanya. Lumayan juga, kau sangat menawan," ujar Rasya.


"Benar sekali, kupikir kau hanyalah orang bodoh yang berotak otot," ujar Alesse, ia juga tidak menduganya. "Cih! Asal kalian tahu saja. Aku tampak bodoh di hadapan kalian hanya untuk mengalah! Di antara kalian hanya aku sendiri yang tampak dewasa! Aku tidak beradu mulut dengan anak kecil," ujar Gord.


"Yeah, dewasa dan tidak perjaka lagi," ujar Geni menyindir. Rasya tampak syok mendengar perkataannya.


"Be....benarkah apa yang baru saja ia katakan? Kau sudah tidak perjaka? Siapa? Siapa yang merenggut status perjakamu?" tanya Rasya penasaran.


"Hei! Hei! Kenapa kau tampak serius dengan hal itu? Kau membuatku takut saja! Lagian aku sudah tidak perjaka bukan karena aku korbannya!" ujar Gord. "Jadi, bagaimana rasanya? Kau tidak keberatan menceritakan itu padaku kan? Kalau bisa kau boleh memperagakannya," ujar Rasya.


"Kalian bertiga, diamlah! Sedang fokus mengemudi," ujar Alesse, ia mencoba mencari tempat yang memiliki gerbang antar dunia.


"Apa yang kau cari? Kenapa tampak sangat serius?" tanya Gord. "Hei, Alesse! sebaiknya kau menemui Sang Pertapa! Mungkin ia bisa mengajari cara menggunakan pengendalian api! Bukankah bisa mengendalikan elemen itu adalah hal yang menarik? Tubuhmu sudah jelas elementalist, tinggal manfaatkan saja apa yang ada!" seru Geni.


"Omong kosong sekali! Kenapa aku harus menuruti perkataanmu?" tanya Alesse. "Percayalah! Setidaknya cobalaha pengendalian api! Kupikir itu lebih menarik dari pengendalian lainnya sehingga kau tidak bosan!" ujar Geni.


"Apanya yang menarik?" tanya Alesse. "Pada dasarnya pengendalian api dan listrik tidak seperti elemental lain yang menggunakan material dan unsur partikel, sedangkan api dan listrik adalah unsur energi, bahkan dalam tubuh kita sendiri terdapat energi panas dan listrik," seru Geni.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Partikel? listrik? Makanan apa itu?" tanya Rasya. "Orang bodoh seperti kalian tidak perlu tahu," ujar Geni sebal. "Ke... kenapa aku ikut dibawa-bawa? Apa salahku?" tanya Gord.


"Tenanglah kawan! Beginilah rasanya menjadi pria dengan wajah menawan. Anak kecil hanya iri pada kita," ujar Rasya sambil merangkul bahu Gord dan terus menatapnya.


"Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu darimu," ujar Gord kemudian menjauhkan lengan Rasya dari bahunya.

__ADS_1


"Padahal kalian hanyalah sebuah jiwa, tapi kenapa aktivitas kalian tampak seperti manusia biasa? Lagian kenapa harus menjauhkan lengan pria mesum itu? Kau bahkan bisa membuatnya agar menembus tubuhmu saja," ujar Geni sambil memperagakan sebuah contoh dengan menendang ************ Gord.


"Ouch, itu... benar-benar mengerikan," ujar Rasya. Meskipun begitu, kenyataannya kaki Geni menembus hingga ke perut Gord.


Gord sempat terkejut dengan tindakannya. "A.... apa yang sebenarnya kau lakukan? Meskipun ini tidak terasa, kenapa dari semua bagian tubuh... kau memilih untuk menendang kelemahanku?" tanya Gord.


"Tidak ada maksud apapun, aku hanya merasa kesal melihat wajahmu," ujar Geni.


Alesse pun tiba-tiba menghentikan Levy, ia mendapati seorang gadis berambut biru sedang menghadangnya.


"Siapa gadis itu?" tanya Gord. "Bukankah dia sangat mirip dengan Aqua?" tanya Rasya. "Tidak, Aqua memiliki rambut biru tua, bukan biru langit," ujar Geni.


Alesse pun keluar dari Levy untuk memeriksa. "Apa yang kau inginkan? Kenapa kau berada di sini? Bukankah kau adalah gadis yang bersama Equal?" tanya Alesse.


"Oh? Kupikir itu bukan aku. Aku bukanlah orang yang kau maksud, aku adalah orang lain," ujar gadis itu sambil tersenyum.


"Bukankah wajahnya agak mengerikan? Ia terlihat seperti succubus yang haus birahi," ujar Rasya. "Kalau begitu minta Gord saja, dia yang sudah berpengalaman," ujar Geni.


"Isi kepalamu pasti sedang membicarakan hal tak senonoh," tebak gadis itu. "Bagaimana dia tahu? Benar-benar menakutkan," ujar Geni.


"Kau ini siapa?" tanya Alesse. "Sederhana saja, namaku Alice di dunia ini. Aku berasal dari masa depan. Lebih tepatnya.... aku adalah masa depanmu," ujar gadis itu.


Geni dan Rasya tampak tercengang sedangkan Gord tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. "Apakah dia gila? Kenapa masa depan Alesse adalah seorang gadis yang sangat manis ini? Atau jangan-jangan dia adalah anakmu di masa depan?" tanya Rasya.


"Aku bukanlah anak Alesse!" ujar gadis itu. "Serius? Dia bisa mendengar percakapan kita?" tanya Gord penasaran.


"Yeah, aku tidak terlalu tahu apa saja yang dibicarakan oleh pikiran paralelmu, namun aku mengingatnya," ujar gadis itu.


"Kenapa kau mengingatnya? Lagian apa hubungannya denganmu? Lalu apa maksudmu bahwa kau adalah masa depanku?" tanya Alesse.


Gadis itu tampak menunjukkan wajah serius. "Aku adalah kau, itulah mengapa aku mengingat percakapan Geni dan Rasya saat ini, aku berasal dari masa depan dan merupakan reinkarnasi dari jiwamu yang sekarang," ujar gadis itu.


"Alesse? Bereinkarnasi menjadi seorang gadis yang cantik?" tanya Rasya tidak percaya, sedangkan Geni justru tertawa.


"Sebaiknya kau tidak usah bertemu denganku lagi! Aku tidak percaya omong kosongmu!" ujar Alesse dengan ekspresi datarnya.

__ADS_1


"Ekspresi itu...... adalah sebuah kesalahan, adalah sebuah kegagalan! Sebaiknya kau tidak memeliharanya, kau akan menyesalinya, kau akan membenci dirimu sendiri. Dan asal kau tahu saja, aku sangat membencimu, meskipun itu bukan sekarang, aku akan membenci dirimu belasan bahkan puluhan tahun yang akan datang. Sebaiknya kau renungi betapa buruknya dirimu mulai sekarang, kuharap kau tidak akan menyesal di kemudian hari," ujar gadis itu kemudian menyerahkan sebuah sapu tangan.


"Apa ini?" tanya Alesse. "Kau akan membutuhkannya! Oh ya, jangan lupa terus berjalan lurus dari sini, kau akan mendapatkan yang kau inginkan," ujar gadis itu sambil mengusap-usap pipi seolah mengisyaratkan sesuatu pada Alesse. Ia pun menghilang begitu saja dari hadapan Alesse.


__ADS_2