
"Hei Alesse! Kau tidak bosan datang ke sini terus?" tanya Irawan. "Mau gimana lagi? Tidak ada apa-apa di sini," ujar Alesse.
"Jangan menyalahkan perpustakaan! Kalau kau ingin belajar lebih nyata, pergilah ke lapangan! Carilah apa yang bisa dipelajari. Paman pernah baca tentang seminar yang selalu diadakan oleh beberapa universitas di kota. Mereka juga akan mengadakan survei di sekitar sini untuk menemukan jenis belalang sembah yang baru," ujar Irawan.
"Hmm? Belalang sembah? Aku sudah pernah baca artikelnya. Mereka menduga itu bermutasi karena ada retakan Abyss di bukit Balai Hitam," ujar Alesse.
"Bukankah kau penasaran? Gimana jika kau ikut kegiatan survei itu? Paman belum pernah melihat retakan Abyss sebelumnya. Mereka mengatakan kalau itu berbahaya," ujar Irawan.
"Bukit Balai Hitam sudah pasti masuk zona waspada! Susah untuk masuk ke sana," ujar Alesse.
"Kudengar orang-orang sekitar masih melakukan aktivitas seperti biasa, belum ada perintah evakuasi loh! Ini kesempatanmu untuk mempelajari sesuatu secara langsung," ujar Irawan.
"Baiklah! Jika sudah mulai, aku akan mengikuti mereka! Paman ini sok bijak sekali!" ujar Alesse. Ia pun mengambil beberapa buku dan menyerahkannya pada Irawan.
"Apa-apaan ini?" tanya Irawan keheranan. "Aku mau pinjam semua itu. Aku harus mempersiapkan beberapa hal mengenai survei ini. Aku juga belum mempelajari sesuatu tentang retakan Abyss. Kudengar hal itu baru muncul di tahun kelahiranku. Berarti masih belum ada hasil penelitian yang pasti," ujar Alesse.
"Yeah, paman harap kau juga bisa meneliti hal itu. Retakan Abyss..... kan lebih menarik kalau kau mengambil gambarnya pula," ujar Irawan.
"Baiklah, aku akan memberikan beberapa foto dari retakan Abyss ini," ujar Alesse. Ia pun pulang dengan beberapa buku di dalam tasnya.
Setelah sampai di rumah, ia langsung mengunci pintu kamarnya dan membaca semua buku tentang retakan Abyss dan sejarahnya.
Retakan Abyss pertama kali muncul secara serentak di beberapa tempat dari seluruh dunia tepat sehari setelah kelahiran Alesse.
Retakan yang paling besar muncul di Washington, Amerika serikat. Awal mulanya itu adalah lubang raksasa yang diduga sebagai Sinkhole, namun semakin lama tanah di sekitarnya semakin meninggi hingga menyerupai kawah gunung berapi. Beberapa hari kemudian makhluk-makhluk aneh mulai berdatangan dan membuat kekacauan di kota.
Makhluk itu disebut sebagai iblis karena mayoritas hampir menyerupai manusia, namun lebih besar dan memiliki tanduk. Bahkan aura gelap pun muncul di sekujur tubuh mereka.
Dengan ukuran mereka yang sangat besar dan agresif itu, tentu saja manusia tidak bisa melawan mereka. Pada saat itulah orang-orang yang disebut sebagai Elementalist muncul. Mereka adalah orang-orang yang bisa mengendalikan beberapa material dan energi.
Diantara mereka ada yang bisa mengendalikan air, tanah, udara, api, listrik, dan Alam. Untuk material dan energi selain Alam pasti lebih mudah dibayangkan seperti apa spesifiknya, namun mengendalikan Alam memiliki perbedaan yang istimewa. Material yang dikendalikan adalah material hidup seperti sel, jaringan, organisme, tumbuhan, dan binatang.
__ADS_1
Para Elementalist itu langsung menghadapi para iblis itu dan membuat blokade untuk keamanan masyarakat sekitar.
Kemunculan retakan Abyss ini sangatlah acak, namun tidak semua tempat terdapat seorang Elementalist. Oleh karena itu dibentuklah organisasi Guardian, sebuah organisasi yang menampung para Elementalist dan siap membantu negara manapun yang terkena dampak dari retakan Abyss ini.
Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Guardian tidak hanya membantu masalah retakan Abyss saja, mereka juga membantu masalah keamanan dan penanggulangan bencana. Masyarakat menyebut mereka sebagai pahlawan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alesse menutup bukunya setelah membaca semua yang ia perlukan. Sayangnya rasa penasarannya terlalu tinggi hingga ia memutuskan untuk pergi ke bukit Balai Hitam saat itu juga, padahal jadwal survei dari universitas masih dua hari lagi.
Ia langsung membawa beberapa peralatan lalu pergi berjalan menuju ke bukit Balai Hitam. Setelah sejam lamanya berjalan, akhirnya ia sampai.
"Baiklah, karena keberadaan retakan Abyss itu tidak dipublikasikan, sepertinya aku harus melakukan beberapa hal yang merepotkan.
Ia pun mengambil sebuah botol spray yang ada di dalam tasnya kemudian menyemprotkannya ke seluruh tubuhnya.
Ia pun mulai mendaki ke atas bukit dan mendapati garis polisi yang digunakan sebagai pembatas zona berbahaya.
"Besar sekali!" ujar Alesse dengan wajah berkeringat. Ia pun langsung mengambil gambar dari belalang sembah itu.
Setelah beberapa menit mengamati dan mencatat perbedaan yang dimiliki belalang sembah itu dengan belalang sembah normal, ia pun menyimpulkan.
"Sepertinya belalang sembah ini tidak ikut famili manapun! Ini bukan mutasi! Ini seperti sesuatu yang datang dari tempat lain! Sesuatu yang tidak ada di bumi ini" ujar Alesse.
Ia pun mengikuti arah perginya belalang sembah itu karena penasaran. Secara tidak sadar ia langsung melewati pembatas. Ia tidak melihat ada beberapa barang-barang milik orang lain yang terbengkalai di dekatnya.
Akhirnya iapun menemukan sebuah tempat yang ia duga sebagai retakan Abyss. Tampak bekas tanah merekah di tempat itu. Sedangkan dari dalamnya terus mengeluarkan aura berwarna ungu gelap.
Alesse pun mengambil gambar dari berbagai sisi tempat itu. Setelah merasa puas, ia kembali menatap belalang sembah yang tampak seperti menunggunya.
Belalang sembah itu kembali berjalan setelah Alesse memandanginya. "Apa-apaan belalang itu? Dia ingin menunjukkan sesuatu? Sepertinya ia sangat pintar untuk seekor serangga," ujar Alesse. Ia pun menulis hipotesis di buku catatannya kemudian kembali mengikuti belalang sembah itu.
__ADS_1
"Ini sudah di luar zona retakan Abyss! Membosankan sekali! Dia mau pergi ke mana?" tanya Alesse keheranan.
Senja pun tiba, namun Alesse tetap mengikuti belalang sembah itu, akhirnya ia menemukan sebuah sungai dangkal.
Belalang itu mulai menyeberang sungai dengan perlahan-lahan. "Aneh sekali! Kenapa ia tidak terbawa arus?" Alesse keheranan ia pun terus mengikuti belalang itu.
Sayangnya belalang itu langsung hanyut di tengah sungai. "Loh? Kemana dia? Tenggelam? Bukankah ini hanyalah sungai dangkal?" Alesse pun langsung menghampiri tempat belalang itu menghilang.
Tiba-tiba ia menginjak sesuatu di dasar sungai, seperti sebuah celah besar. Tiba-tiba ia merasa tanah yang ia injak berputar seratus delapan puluh derajat.
"Apa-apaan perasan tadi? Membuatku merinding saja! Loh? Sepertinya sudah hampir malam!" Alesse baru sadar kalau langit sudah redup berwarna ungu.
"Hmm! Jarang-jarang langit tampak sesuram ini! Sebaiknya aku segera pulang!" ujar Alesse. Ia pun segera berbalik badan, namun dikejutkan oleh seekor belalang sembah. Ia pun jatuh terduduk
"Hiih! Sejak kapan belalang itu menjadi sebesar ini?" Alesse tampak panik karena mata belalang itu tiba-tiba menyala merah.
"Akhirnya umpanku membuahkan hasil! Tapi aku sangat kecewa karena kau masih terlalu kecil! Kukira kau adalah pria dewasa," ujar seseorang berjubah hijau.
"Siapa kau? Apa urusanmu denganku?" tanya Alesse. "Urusan? Sepertinya kau bukanlah anak kecil yang biasa. Yeah, walaupun sebenarnya kau memang istimewa," ujar orang itu.
"Awas nak! Segera menjauh darinya!" teriak seorang gadis sambil meluncurkan beberapa es runcing.
"Elementalist? Ini pertama kalinya aku melihat Elementalist selain adikku sendiri," ujar Alesse. "Nak! Segera pergi dari sini! Dia bisa mencuci otakmu!" teriak gadis itu.
Alesse pun mencoba berlari, namun beberapa belalang menghalanginya. "Argh! Tidak ada pilihan lagi!" gadis itu tampak kesal lalu menghampiri Alesse.
"Heh? Kakak mau apa?" tanya Alesse keheranan. Gadis itu langsung menusuk k dua telinga Alesse dengan es runcing.
"Eh? Loh? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menusuk kepalaku? Ini sangat sakit!" ujar Alesse, ia tampak tidak berdaya. Penglihatannya mulai kabur, ia mencoba meraba-raba telinganya dan merasakan sesuatu yang ganjal.
"Loh? Kenapa tidak berdarah? Padahal ini sangat menyakitkan!" ujar Alesse. Es yang tertanam di telinganya mulai bercahaya. Hal itu semakin membuat Alesse kesakitan, namun tubuhnya terasa semakin lemas.
__ADS_1
"Maafkan aku nak, tidak ada pilihan lain selain ini!" ujar gadis itu. "Apakah aku akan mati?" tanya Alesse. Sebelum mendengar gadis itu menjawab, pendengaran dan penglihatannya menghilang, ia langsung jatuh tergeletak di tanah.