
Setelah pria itu tersungkur tak berdaya, tubuhnya perlahan kembali seperti manusia normal. Jawara pun berubah bentuk dari belenggu menjadi manusia.
"Alesse!" teriak Sanay kemudian datang memeluk Alesse, ia tidak kepikiran dengan sepatu roda yang masih dikenakan Alesse dan itu membuat keduanya terjatuh ke tanah.
"Kau ini kenapa? Seperti ayahku saja, datang-datang langsung main peluk tanpa pikir panjang," ujar Alesse dengan wajah datarnya.
Kaa sempat terkesan melihat ekspresi datar itu meskipun seharusnya suasana canggung yang terjadi.
Alesse pun mencoba berdiri setelah roda di sepatunya menghilang, ia langsung menatap Kaa karena wajahnya sangat tidak asing.
"Sepertinya kau tidak terlalu terkejut setelah melihat wajahku," ujar Kaa. "Kau juga sepertinya tidak terlalu terkejut layaknya menyaksikan cermin biasa di hadapanmu," ujar Alesse, mereka berdua sama-sama bertatapan dingin.
"Sudahlah, baru bertemu kalian berdua tampak bermusuhan begitu!" ujar Sandy. "Aku bercanda, aku tidak seserius itu kok! Perkenalkan, namaku Kaa," ujar Kaa sambil mengulurkan tangan."Tatapan apa itu? Aneh sekali! Anak ini tidak bisa kubaca isi pikirannya! Sama seperti Sanay! Padahal dua anak lainnya masih bisa kubaca dengan jelas!" pikir Alesse dalam hati. Ia tidak ada niatan untuk menjabat tangannya sama sekali.
"Aku tidak menjabat tangan seseorang yang menganggapku sebagai musuhnya," ujar Alesse.
"Maaf, sepertinya terlihat sangat jelas dari wajahku yah? Kalau begitu aku akan bersikap santai," ujar Kaa sambil tersenyum.
"Heh? Musuh? Siapa yang memusuhi siapa? Aku tidak mengerti! Bukankah kalian berdua baru bertemu?" tanya Sandy keheranan.
Selagi suasana dingin terus menjebak mereka, tiba-tiba pria tadi terbangun dari tidurnya. "Loh? Di mana aku?" tanya pria itu dengan wajah pucatnya.
Alesse langsung berdiri tepat di sisi kepalanya seolah merendahkannya. "Jalanilah hidupmu dengan baik! Tahanlah semua perasaanmu yang berlebihan! Keberadaanmu itu sangat merugikan banyak orang ketika melewati Status Sesat! Kekacauan yang ditimbulkan olehmu membuat kaummu terisolasi dari kehidupan!" ujar Alesse. Kaa mulai kembali waspada terhadapnya.
"Status Sesat? Apa itu?" tanya Salsha. "Itu adalah kondisi di mana manusia iblis akan menjadi sedikit lebih liar karena emosinya terlalu berlebihan, entah ketika terlalu tertekan, terlalu takut, terlalu marah, terlalu sedih, dan bahkan ketika terlalu senang," ujar Kaa.
__ADS_1
"Jika dibiarkan, mereka akan berubah menjadi iblis-iblis seperti mayat yang berserakan ini," ujar Alesse menambahkan.
"Whoa, melihat kalian saling sambung menyambung perkataan membuat kalian tampak seperti saudara kembar! Alex pasti akan terkejut melihatnya!" ujar Sandy.
Alis Alesse langsung naik ke atas, ia menghormati Sandy dan menahan kedua bahunya. "Gimana dengan Alex? Aku tidak ketahuan setelah setahun ini pergi kan?" tanya Alesse dengan wajah khawatir.
"Buset, kepribadiannya langsung berubah," ujar Salsha dan Sanay serentak. Ekspresi dingin Alesse telah menghilang dan itu yang membuat mereka merasa aneh.
Kaa langsung tertawa terbahak-bahak, ia juga sempat geli melihat tingkah Alesse yang terlalu tiba-tiba. "Tenang saja nak, adikmu tidak tahu apapun karena aku menggantikanmu selama lima bulan ini," ujar Kaa.
"Nak? Sepertinya usiamu berkali-kali lipat lebih tua dari kami." Alesse menyimpulkan. "Yeah, begitulah, tapi aku tidak berniat memberitahu berapa tepatnya," ujar Kaa.
"Oh? Kau takut dijuluki kakek tua?" tanya Alesse. "Tidak kok, wajahku cukup awet muda bahkan setelah puluhan tahun berlalu," ujar Kaa dengan lagaknya. Suasana menjadi semakin senyap karena peraduan mereka berdua.
"Kepalamu itu aneh sekali! Kenapa ada sayap ayam terbenam di sana?" tanya Alesse keheranan.
"Kukira kau sudah tahu berbagai ras di dunia ini, ternyata kau kurang mencari wawasan yah?" tanya Kaa. "Hei! Kau hendak mengusirnya lagi kah? Mendapatkannya kembali saja butuh waktu setahun lamanya! Jika ia pergi lagi akan merepotkan!" keluh Sandy.
"Hmm! Sejauh ini aku jarang bertemu dengan manusia iblis, aku hanya sempat bertemu dengan desa ras Dracal dan setengah binatang di dasar laut. Oh iya, aku juga menemukan patung mesum Raya Stephen dan satu anak dengan sayap seperti malaikat," ujar Alesse tersenyum, ia menyindir Kaa.
"Cih!" Kaa merasa kesal. "Sepertinya mata orang-orang itu sudah rusak hingga membayangkan sayap ayam yang terbenam di kepala menjadi sayap malaikat yang sempurna di punggungnya." Alesse menambahkan dengan nada mengejek.
"Sepertinya perangaimu lebih buruk dari yang aku duga," ujar Kaa. "Kalian berdua ini sedang berbicara apa? Kami tidak paham! Lalu patung mesum Raya Stephen? Memangnya ada yang seperti itu? Apakah ia sedang berpose? Atau telanjang? Atau mungkin batangnya menjulang ke lan....." Belum selesai Sandy bertanya, Salsha langsung menyumbat mulut Sandy dengan tangannya.
"Tidak usah hiraukan anak ini," ujar Salsha. "Heh, sebegitu bencinya Sandy pada pria itu," ujar Sanay.
__ADS_1
"Itu adalah hal yang wajar, pria mana yang tidak iri dengan fisik dan wajah rupawan Raya Stephen?" tanya Kaa. "Aku tidak iri," ujar Alesse dengan ekspresi datar. Kaa menatap Alesse dari ujung kaki hingga kepala. "Kau laki-laki?" tanyanya.
"Pertanyaan paling menyakitkan sedunia, aku tidak tahu kau bisa bermulut pedas seperti itu! Kau lebih mirip Alesse dari pada adiknya sendiri!" ujar Sandy.
"Kau diam saja! Kenapa selalu menanggapi hal-hal yang berkaitan dengan Raya Stephen seolah kau itu lebih jelek darinya! Itu tidak benar! Kau tidak terlalu buruk untuk wajah seorang pria!" ujar Salsha sambil menarik-narik baju Sandy.
Suaranya terlalu keras, membuat semua orang terdiam. Sandy dan Salsha langsung berwajah merah karena malu, mereka segera menjaga jarak satu dengan lainnya sambil memalingkan wajah.
"Heh? Ada apa dengan kalian berdua? Kukira selama ini kalian bermusuhan, tahunya malah saling memiliki perasaan. Sejak kapan?" tanya Sanay menggoda.
"Di....diam! Aku tidak punya rasa apa-apa padanya!" ujar Salsha, ia merasa malu lalu menendang kaki Sandy.
Tiba-tiba Alesse merasa sakit kepala, ia merasakan panas dan dingin tercampur aduk di kepalanya. Sekilas ia membayangkan wajah Aqua dan Geni yang pudar kian menjelas.
"Alesse? Apakah kau baik-baik saja? Ada apa ini? Apa yang terjadi!" teriak Sanay panik. Suaranya semakin samar-samar di telinga Alesse.
Telinganya terasa terbakar, namun sesekali juga terasa seperti tenggelam, membuatnya tidak dapat mendengar dengan jelas.
"Alesse? Alesse! Bertahanlah! Kita akan pulang!" ujar Sandy.
Alesse masih dalam keadaan berdiri, namun ia tidak bisa bergerak. Rasa sakit di kepalanya membuatnya terbujur kaku di tempat.
"Alesse?" suara seseorang menggema di telinganya, itu adalah suara Geni. "Alesse, kau adalah aku, aku adalah kau!" Suara Aqua juga ikut menimpali seperti suara ombak. Saat itu juga Alesse langsung jatuh tersungkur ke tanah sedangkan matanya masih terbuka lebar, membuatnya dapat melihat orang-orang mengkhawatirkannya lalu mengangkatnya ke dalam Levy.
Setelah membaringkannya pada dipan, Sandy pun memejamkan matanya, membuatnya tidak dapat melihat lagi keadaan saat itu.
__ADS_1