Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Misi Dark Warden


__ADS_3

Akhirnya mereka semua kembali tenang, meskipun beberapa Ray harus menahan tubuh Alex agar tetap duduk di kursinya.


"Kalau kalian tidak bisa akrab, kita akan kesulitan untuk menyusun rencana kita!" ujar Atlas kesal. "Makanya, Sandy! Kau tidak perlu mengatakan hal yang aneh-aneh! Jangan memancing emosinya," ujar Kaa.


"Maaf, maaf! Ini salahku, sepertinya Alex adalah orang yang sangat sensitif, padahal saat kami berlatih, ia tidak pernah mengeluhkan apapun," ujar Alpha.


"Dari awal dia sudah menandaiku dan membenciku. Padahal itu hanyalah salah paham," ujar Sandy.


"Omong kosong apa ini? Bukankah kalian terlalu lama berbasa-basi? Kenapa kita tidak langsung membahas misi kita?" tanya Boltz, salah satu Ray yang mengenakan jas berwarna kuning kusam. Ia tampak kesal sejak awal muncul, bahkan saat ini rambutnya terangkat ke atas.


"Ehm, baiklah! Kita lanjut saja. Aku tidak ingin rumahku hangus tersambar petir lagi," ujar Atlas. Seketika semua orang di dalam rumah itu menjadi diam, bahkan Alex yang dari tadi menggeru layaknya binatang buas pun ikut diam.


"Kenapa suasananya jadi sangat dingin di sini?" bisik Sandy pada Inferno. "Sst! Jika Boltz marah, dia bisa meledak secara tiba-tiba!" jawab Inferno dengan suara lirih.


"Me...meledak? Apakah dia baik-baik saja setelah melakukan itu?" tanya Sandy. "Tentu saja tidak, ia akan ikut hancur berkeping-keping. Bukan hanya itu, jika kita tetap di sini, mungkin akan merasa mual. Bahkan kulitmu bisa meleleh jika tidak beruntung," bisik Inferno.


"Me... meleleh? Jadi maksudmu ledakannya menciptakan radiasi nuklir?" tanya Sandy. "Begitulah, ia pernah membuat satu pulau menjadi tak berpenghuni karena ledakannya," Alpha ikut menimpali.


"Lalu gimana nasib pulau tak berpenghuni itu? Apakah sekarang sudah kembali berpenghuni?" tanya Sandy. "Tentu saja tidak!" ujar Inferno.


"Gila! Ray, bukankah dia salah satu bagian dari dirimu? Lalu kau biarkan pulau itu tak berpenghuni sampai sekarang?" tanya Sandy.


"Aku bisa apa? Aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi di pulau itu, tidak terlihat ada sesuatu yang buruk, namun tidak ada makhluk hidup yang tinggal di dalamnya," jawab Alpha.


Sandy berhenti berbicara, ia sempat menelan ludah karena Boltz terus menatapnya dengan mata menyala.


"Baiklah, hari ini kita akan pergi ke Adraksh, karena ukurannya lebih kecil dari yang lainnya, kita bisa menemukan markas sekte sesat itu dengan mudah," ujar Kaa.


"Boltz, mohon bantuannya," ujar Atlas. "Apa-apaan ini? Kau mencoba untuk mengaturku?" tanya Boltz. Caranya berbicara sudah membuat orang-orang yang mendengarnya merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Bu... bukan begitu, Boltz! Hanya kau pengendali petir di sini, hanya kau yang bisa menghalau sambaran petir Adraksh," ujar Alpha.


"Tidak bisa begini! Kalian yang harus menuruti perintahku," ujar Boltz.


"Mulai lagi! Sifat aslinya tidak pernah berubah! Sampai kapan kau terus bersikap egois seperti ini?" tanya Cryo salah satu Ray dengan penampilan serba putih.


"Siapa orang ini? Aku sampai tidak menyadari keberadaannya. Benar-benar setipis angin!" bisik Sandy. "Itu salah satu diriku. Kesanmu terhadapnya memang benar, ia adalah pengendali angin. Hanya dia yang bisa meredam amarah Boltz. Dia juga yang melindungi kami dari ledakannya. Yeah, meskipun kami masih terkena dampaknya walaupun sedikit," ujar Alpha.


"Baiklah, kami akan ikut arahanmu! Jadi, mohon bantuannya! Misi kita adalah memberantas sekte sesat, bukan berdebat di rumah sempit ini!" ujar Kaa, ia tampak geram karena keributan yang mereka buat.


"Sudah kuduga, entah siapapun itu yang marah, tidak ada yang bisa menandingi amarah Kaa," ujar Sandy.


Kaa pun langsung membuka gerbang antar dunia, akan tetapi yang muncul di hadapan mereka adalah sebuah pusaran angin yang sangat kencang.


"Tunggu apalagi? Masuklah! Kita tidak punya banyak waktu!" ujar Kaa. "Kau serius kalau itu adalah gerbang antar dunia? Terlihat sangat tidak meyakinkan!" ujar Atlas.


"Tentu saja ini gerbang antar dunia! Kau meragukanku?" tanya Kaa. "Kau bercanda? Bagaimana mungkin pusaran keruh ini adalah gerbang antar dunia? Kupikir tubuh kita akan tercabik-cabik jika mencoba untuk menyentuhnya," ujar Alpha.


"Aku paling benci dengan orang yang suka mengaturku! Baiklah, kami semua akan masuk ke lubang cacing yang sangat jelek ini," ujar Boltz, sebenarnya ia tampak ragu untuk menyentuh pusaran itu, namun perhatiannya tiba-tiba tertuju pada Alex.


"A... apa?" tanya Alex kebingungan. Boltz tidak menjawab, ia langsung menarik kerah Alex lalu melemparnya ke dalam pusaran itu, menyisakan teriakan histeris.


"Kau gila? Kenapa kau lempar anak orang ke pusaran yang mengerikan itu?" tanya Atlas. "Lalu? Kau berharap aku akan masuk terlebih dahulu? Tenang saja, ada saatnya giliran kalian memeriksa semua hal yang ada di sana," ujar Boltz kemudian masuk ke dalam pusaran itu.


"Te... Tenang saja, itu tidak berbahaya kok. Aku pernah masuk ke dalamnya," ujar Sandy. "Bagus sekali wahai pemuda! Jadi, bagaimnaa perasaanmu saat masuk ke dalam sana? Apakah seperti pembilas air di toilet?" tanya Boltz.


"Ye... Yeah, mungkin mirip seperti itu. Aku menganggapnya seperti rollercoaster," jawab Sandy. "Mantap sekali! Itu bisa jadi pemanasan untuk kita semua," ujar Alpha.


"Pemanasan jidatmu! Lalu bagaimana nasib Alex? Ia pasti sangat tidak siap karena tiba-tiba dilempar ke dalamnya," ujar Alpha. "Itu bukan salahku, pemuda ini tidak mengatakannya dari awal kalau itu seperti rollercoaster. Lagi pula, kau juga sering menjahilinya dengan menjatuhkannya di berbagai tempat kan?" tanya Boltz. Alpha hanya menyeringai lebar sambil menggaruk kepala karena tidak dapat menyangkalnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyusul Alex," ujar Sandy, ia menjadi merasa bersalah karena tidak berbicara lebih awal. "Lihatlah! Manis sekali pemuda ini! Ia bahkan merasa sangat bertanggung jawab untuk hal-hal yang tidak dilakukannya. Tidak seperti seseorang," ujar Inferno menyindir Boltz dan Alpha.


Sandy pun akhirnya masuk ke dalam pusaran angin itu sambil menggigit selembar kain. Setelah masuk ke dalamnya, ia merasa tubuhnya terombang-ambing ke sana kemari.


Untuk mempertahankan kesadarannya, ia terus menggigit selembar kain itu. Di sisi lain keenam Ray yang ikut masuk ke dalam pusaran itu tampak menikmati suasana yang mereka alami.


"Ini benar-benar menyenangkan! Ini satu satunya gerbang antar dunia yang tidak membosankan!" seru Inferno. Teriakan mereka berenam membuat Sandy ingin segera keluar dari pusaran angin itu.


Setelah sepuluh menit berlalu, akhirnya Sandy berhasil mendarat dengan selamat di hamparan tanah, ia mendapati Alex yang tidak berdaya terkapar di tanah, bahkan mulutnya sampai mengeluarkan busa.


"Alex? Kau baik-baik saja?" tanya Sandy sambil mengangkat sebagian tubuh Alex. Sayangnya ia sendiri merasa mual setelah keluar dari pusaran itu.


Dengan terpaksa ia menjatuhkan kembali tubuh Alex hingga kepalanya terbentur tanah. Ia langsung muntah di tempat yang jauh dari Alex.


"Kalian berdua sangat payah sekali," ujar Boltz. Alex tampak kelengar, namun berusaha berbicara meskipun ia tak berdaya.


"Sial sekali kau, Alex! Sampai harus masuk ke gerbang paling buruk yang pernah ada. Kupikir ia akan trauma dan tidak ingin masuk ke gerbang buatan Kaa," ujar Sandy.


"Memangnya kau sendiri baik-baik saja? Kau terlihat sama payahnya," ujar Inferno. "A... aku sering masuk gerbang sialan itu. Aku hanya tidak terbiasa," ujar Sandy.


"Sebaiknya hentikan pembicaraan kalian! Kalian tidak tahu ini di mana?" tanya Kaa. "Whoa! Benar-benar tempat mendarat yang paling buruk di dunia! Kenapa kita bisa sampai di tengah-tengah tempat pelatihan prajurit sekte sesat itu?" tanya Cryo.


"Bukankah ini bagus? Kita tidak perlu repot-repot mencari keberadaan mereka! Tinggal maju ke depan dan hajar!" seru Boulder, ia sudah terlebih dahulu membuat kericuhan dengan guncangan tanah yang ia kendalikan.


"Selalu seperti ini jika kita menjalankan misi dengan Dark Warden. Aku tidak bisa mengkritiknya karena ia selalu menyelesaikannya dengan baik," ujar Atlas sambil menepuk dahi.


Sandy tampak ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam penyerangan, ia merasa tidak nyaman dengan Alex yang masih bingung dengan keadaan sekitar.


"Tu... tunggu dulu! Apa maksudnya ini? Apa-apaan semua ini?" Alex tampak begitu pucat karena melihat cipratan darah di mana-mana.

__ADS_1


"Bu... bukankah ini pembunuhan? Apa yang kalian lakukan? Kalian membantai orang-orang ini?" Alex tampak sangat ketakutan melihat mereka tanpa ragu menebas dan menikam lawan.


__ADS_2