Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Kenangan kelam IV


__ADS_3

Ray terus berjalan menuju ke tempat tongkat itu berada. Di saat yang sama suara gemuruh mulai muncul.


Lubang hitam bermunculan di wilayah merah. Tempat kemunculan mereka terlihat sangat acak.


Karena merasa sangat jauh dari bahaya, Ray terus melanjutkan langkahnya hingga berhasil meraih benda pusaka itu.


"Ray! Segeralah ke sini!" teriak Ralph. "Baiklah!" seru Ray, ia tampak sangat gembira seolah mendapatkan kemenangan. Ia mencoba memastikan bahwa yang ia ambil itu sama persis dengan yang ditunjukkan pada hologram.


Ia melayang di udara agar bisa bergerak lebih cepat ke wilayah hijau. Sayangnya lubang hitam tiba-tiba muncul di hadapannya, membuatnya terkejut lalu menjatuhkan tongkat itu.


Lubang hitam itu tidak diam, ia juga mengeluarkan tebasan angin seperti yang diceritakan Zwan.


Ray berteriak kesakitan setelah mencoba menahan tebasan angin yang mengarah ke dadanya itu.


Dadanya pun terluka, ia tidak dapat melakukan regenarasi sehingga darah tetap mengucur deras di tubuhnya.


Karena khawatir, akhirnya Ralph pun terbang ke arahnya. Sayangnya Ray tak mampu mempertahankan posisinya, ia berhenti melayang dan terjun bebas di udara sedangkan lubang hitam tampak menantinya di bawah.


Ralph langsung melesat dengan cepat dan membenturkan diri pada tubuh Ray, akhirnya sebagian tubuhnya terlahap lubang hitam.


Ray pun tersadar, ia terus memegangi lengan Ralph agar sebagian tubuh lainnya tidak terlahap oleh lubang hitam.


"Lepaskan aku, Ray! Kalau terus begini kau juga akan ikut terhisap!" ujar Ralph. "Mana mungkin aku melakukan hal itu! Aku akan melindungimu, Ralph! Kau akan baik-baik saja! Jadi, jangan mengatakan yang aneh-aneh!" ujar Ray, ia berusaha membuat dirinya menjadi lebih berat agar bisa menarik tubuh Ralph keluar dari lubang hitam.


Akan tetapi, bukannya keluar, tubuh Ralph semakin terbenam ke dalam lubang hitam itu. "Ray, kumohon! Lepaskan aku! Aku sudah tak tertolong lagi! Aku bahkan sudah tidak bisa marasakan kedua kakiku," ujar Ralph.


"Jangan mengatakan yang tidak-tidak! Aku akan menolongmu!" ujar Ray, ia pun mulai menangis karena tidak bisa menarik Ralph keluar dari lubang hitam.


"Kau sudah terlalu banyak menolongku, Ray! Kau selaku menolongku. Kau selalu melindungiku. Izinkanlah aku sekali ini saja untuk menolongmu. Jadi, lepaskanlah tanganku dan gunakan kesempatan ini untuk pergi," ujar Ralph.


"Ti... tidak! Jangan pergi Ralph! Aku tidak akan kemanapun sampai berhasil membawamu keluar!" ujar Ray.


"Ray, terima kasih atas waktunya selama ini. Aku benar-benar senang bisa menemanimu berkeliling dunia. Itu sudah cukup bagiku. Sekarang, biarkanlah aku membalas semua kebaikanmu ini," ujar Ralph.

__ADS_1


"Jangan katakan yang aneh-aneh! Jangan katakan itu, Ralph! Kumohon!" ujar Ray, ia terus menangis penuh penyesalan.


"Ray, kau tidak memerlukan pusaka itu. Percayalah, kau adalah yang terbaik! Kau akan menjadi yang terkuat, Ray! Kau sudah kuat tanpa perlu menggunakan benda pusaka itu," ujar Ralph.


"Jangan membicarakan hal itu di saat seperti ini! Yang jelas kau harus keluar terlebih dahulu!" ujar Ray.


"Percayalah pada dirimu sendiri, Ray! Kau tidak memerlukan kekuatan pinjaman! Kau sudah kuat apa adanya," ujar Ralph.


Tak lama kemudian tubuh Ralph mulai terbenam, bahkan wajahnya pun ikut terseret ke dalam. Ia hanya menyisakan senyuman sambil memejamkan mata di hadapan Ray.


Ray terus memegangi tangan Ralph sekuat tenaga hingga akhirnya putus. "Tidak! Ralph!" teriaknya keras keras. Ia pun terjatuh bersama dengan tangan yang terputus itu.


Belum sampai ia menyentuh tanah, sebuah lubang bercahaya terang muncul lalu menelannya ke dalam. Ray tak bisa melihat apapun, tiba-tiba penglihatannya menghilang.


Tak lama kemudian ia bisa membuka matanya kembali. Ia bisa melihat langit yang tampak cerah, itu bukanlah bumi Pallas.


Orang-orang pun berdatangan menghampirinya, mereka tampak terkejut karena luka di dada Ray tak kunjung sembuh seperti biasanya, akhirnya orang-orang pun mengangkatnya ke sebuah rumah lalu merawatnya.


"Yo, sepertinya kau mulai sadarkan diri," ujar salah seorang anak yang tampak sebaya dengannya itu.


"Kenapa aku berada di sini? Apa yang terjadi? Di mana Ralph?" tanya Ray. "Maksudmu... pemilik tangan itu?" tanya Kaa sambil menunjuk sisa potongan tangan yang ia taruh pada bongkahan es.


Wajah Ray langsung berubah pucat, ia berteriak keras hingga membuat orang-orang datang memeriksanya.


"Ini salahku! Ini semua gara-gara aku!" ujarnya sambil mencakar-cakar wajahnya sendiri. "Tidak perlu menyakiti dirimu, tidak ada hal yang akan berubah," ujar Kaa, ia menyingkirkan cakar Ray dari wajahnya.


"Aku benar-benar bodoh!" ujar Ray, ia masih tidak percaya apa yang sebenarnya terjadi. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi syukurlah kau bisa pulih dengan baik. Kupikir kau akan mati dengan luka dalam itu. Syukurlah pengorbanan temanmu tidak sia-sia," ujar Kaa


Ray menatap keheranan dengan bekas luka di dadanya, seharusnya kemampuan regenerasinya dapat memulihkan luka tanpa bekas.


"Bagaimana bisa aku berada di tempat ini?" tanya Ray. "Aku yang membawamu kemari," ujar Kaa. "Kau? Bagaimana caranya?" tanya Ray.


"Aku adalah seorang Chron. Kemampuanku adalah membuka gerbang antar dunia. Kebetulan saat itu aku sempat membawamu pergi sebelum tertelan lubang hitam itu.

__ADS_1


"Ke..... kenapa kau tidak menyelamatkan Ralph?" tanya Ray. "Kau pikir semudah apa membuka gerbang antar dunia? Nasib baik temanmu berhasil mengulur waktu agar kau tidak langsung terjatuh ke lubang hitam! Kalau tidak, mungkin kau juga akan tertelan lubang hitam juga, membuat pengorbanan temanmu menjadi tindakan yang paling bodoh," ujar Kaa. Ray pun terdiam, ia benar-benar tidak ingin memercayai kenyataan ini.


Ia mencoba menghampiri potongan tangan Ralph lalu merabanya. Tangan itu tampak begitu dingin menyatu dengan es.


Ia pun terkejut karena melihat apa yang digenggam oleh tangan itu. Sebuah batu pahatan berbentuk lentera.


Ray mengusap-usap air matanya sambil memerhatikan lentera itu baik-baik. "Ralph.... Ralph.... Ralph masih hidup!" seru Ray.


"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanya Kaa keheranan. "Lihatlah lentera ini! Ia masih mengeluarkan cahaya! Ia masih hidup! Temanku masih hidup!" seru Ray.


"Lentera?" Kaa mencoba menatap batu yang dipegang. "Hmm? Lentera kehidupan? Rupanya anak itu adalah keturunan Boerden," ujar Kaa sambil mengamati batu itu.


"Kau tahu tentang klan Boerden?" tanya Ray terkesan. "Tentu saja, batu itu.... aku yang menciptakannya. Mana mungkin aku tidak tahu," ujar Kaa.


"Tidak mungkin! Batu ini diciptakan oleh Dwarf ratusan tahun yang lalu!" ujar Ray.


"Lebih tepatnya hampir dua ratus tahun yang lalu. Aku menggunakannya untuk menemukan lokasi seseorang," ujar Kaa.


"Eh? Bukan untuk mengetahui apakah orang itu sudah mati atau belum?" tanya Ray. "Itu salah satu kegunaannya, tapi kegunaan yang sebenarnya adalah untuk mengetahui keberadaan seseorang. Lihatlah cahaya redup ini. Tandanya ia sangat jauh dari tempat ini. Cahayanya akan semakin terang jika dekat dengan pemiliknya, " ujar Kaa.


"Lihatlah! Sepertinya cahaya ini menjadi lebih terang, meskipun sedikit! Berarti Ralph masih hidup! Kuyakin dia pasti mencariku saat ini!" ujar Ray.


"Coba kulihat sebentar, " ujar Kaa. Ray pun memberikan batu itu padanya. "Sepertinya anak itu tidak bergerak sama sekali, " ujar Kaa.


"Apa maksudmu? Lihatlah cahaya ini! Ia berkelip, menjadi semakin terang!" ujar Ray.


"Itu bukan karena dia bergerak, tapi bumi tempat dia berada yang bergerak. Asal kau tahu saja, bumi itu mengelilingi matahari, ia juga terus berputar sepanjang waktu, itulah yang membuat cahaya lentera ini berkelip. Aku terkesan kau bisa menyadarinya. Kebanyakan orang akan mengira cahaya ini tidak ada yang berubah sama sekali," ujar Kaa.


"Tentu saja aku menyadarinya! Aku adalah Dark Warden!" ujar Ray. "Hmm! Begitukah? Kau terlihat merepotkan sekali! Sebaiknya aku segera pergi," ujar Kaa.


"Tunggu dulu! Kau mau ke mana?" tanya Ray. "Aku sudah menyembuhkan lukamu, sudah tidak ada yang perlu kulakukan lagi di sini. Aku akan berkelana lagi," ujar Kaa.


"Tidak ada yang bisa kau lakukan lagi? Maukah kau menemaniku pergi mencari Ralph? Jika kau adalah Chron yang sudah hidup ratusan tahun yang lalu, kau pasti banyak mengenal bumi lainnya, " ujar Ray.

__ADS_1


"Aku tidak berpihak siapapun, carilah temanmu sendiri, tebuslah kesalahanmu sendiri," ujar Kaa kemudian pergi meninggalkan Ray.


Sambil menggenggam batu lentera itu, Ray bertekad untuk segera menemukan Ralph


__ADS_2