
"Loh? Di mana Yuki? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Geni. "Siapa Yuki ini? Lagian kenapa dia ada di sini?" tanya Gord.
"Aku menemukan satu orang lagi yang senasib dengan kita. Harusnya dia berada di sini setelah tertelan buku kusam itu," ujar Geni.
"Tidak ada seorang pun yang datang ke sini sejak kau mengambil alih tubuh Alesse," ujar Gord.
"Jadi, siapa Yuki ini? Namanya indah sekali, apakah wajahnya juga seindah namanya?" tanya Rasya. Belum sempat menjawab, Geni melihat sebuah kobaran api kecil dari kejauhan.
Tak lama kemudian ruangan gelap itu mulai menjadi terang dan akhirnya berubah menjadi padang rumput yang luas.
Kenapa kita berada di sini?" tanya Gord. "Ini Alesse! Alesse telah kembali!" seru Geni, ia pun menghampiri sosok yang tampak kebingungan memerhatikan sekitar.
"Alesse! Alesse! Kau bisa melihatku?" tanya Geni. Anak itu pun langsung menoleh ke sumber suara dengan tatapan datarnya. "Kau Alesse, kan?" tanya Gord.
"Alesse....." Anak itu terdiam sejenak seolah ingatan masa lalu menghujani dirinya. "Benar, aku Alesse," jawab anak itu kemudian berjalan ke arah gua.
"Alesse! Kau masih ingat kami kan? Kau masih ingat aku kan?" tanya Geni. "Tentu saja. Lagian kenapa aku lupa? Lalu.... kenapa aku berada di sini?" tanya Alesse.
Geni pun terdiam, ia tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Alesse pun mengubah tongkat petirnya menjadi Levy, kemudian masuk ke dalamnya. "Wah! Ternyata kau benar-benar Alesse!" ujar Gord tidak percaya.
"Kalian ini benar-benar aneh! Berhentilah membuatku penasaran jika kalian tidak ingin menjawabnya. Aku yakin kalian pasti banyak berulah saat mengambil alih tubuhku," ujar Alesse.
Ia pun langsung melaju ke sebuah tempat seperti kuil, tak lama kemudian pemandangan sekitar berubah menjadi tempat yang sangat redup.
Ia merasa keheranan karena banyak sekali mayat yang tergeletak di tanah. "Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Alesse.
"Entahlah. Kuyakin yang membantai mereka ini hanya satu orang. Tapi yang tidak bisa dipercaya adalah luka sayatan itu. Tampaknya dilakukan menggunakan pisau," ujar Gord.
__ADS_1
Alesse sempat terdiam, luka sayatan di mayat-mayat itu tampak sama persis seperti caranya menyayat dan memegang pisau. Sebelum yang lain mulai mengamati, akhirnya ia pun langsung pergi menjauh dan berhenti di sebuah gubuk.
Saat itulah langit redup berubah menjadi terang benderang. Levy pun melesat dengan cepat ke rumah lalu mendarat di lapangan.
Setelah keluar dari Levy, Alesse pun langsung membuka pintu rumah. "Aku pulang," ujarnya, ia membuat tongkat petirnya tampak seperti seragam sekolah untuk mengelabui Hendra dan Andin.
Andin dan Hendra pun tampak benar-benar terkejut melihatnya. Mereka tahu yang kali ini pulang ke rumah bukanlah robot tak bernyawa, melainkan anak mereka yang sebenarnya.
"Kalian kenapa?" tanya Alesse keheranan. "Bukan apa-apa, syukurlah kau pulang ke rumah," ujar Andin, ia langsung memeluknya. Hendra pun ikut memeluknya karena rasa bahagia.
"Serius, kalian ini kenapa? Aneh sekali," ujar Alesse kemudian masuk ke dalam kamar. "Jawara, ini hari apa?" tanya Alesse. "Hari selasa," jawab Jawara.
"Tanggal?" tanya Alesse. Jawara tampak enggan menjawab dan hal itu membuat Alesse curiga.
"Jawara, kenapa kau diam saja?" tanya Alesse. Akhirnya ia sendiri mencoba melihat kalender dan mendapati lebih dari setengah tahun telah berlalu sedangkan ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi.
"Jawara, apakah kau mulai membangkang? Sekali lagi kau tidak menjawab pertanyaanku, aku akan menonaktifkanmu," ujar Alesse.
Sayangnya Jawara masih teguh dengan pendiriannya. Meskipun ia bisa mengambil keputusan sendiri, namun ia tetaplah robot yang kaku dengan sistem. Ia tidak bisa bertindak seenaknya yang dapat merugikan Alesse.
Ia pikir menjawab pertanyaan Alesse yang satu ini juga akan merugikan anak itu sehingga ia memilih bungkam.
"Jawara, apa saja yang terjadi selama beberapa bulan ini?" tanya Alesse. "Aku mempersilahkanmu untuk menonaktifkan unitku. Maaf karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku hanya tidak ingin menimbulkan kerugian untuk admin setelah kujawab semua pertanyaanmu," ujar Jawara.
Alesse pun memilih untuk sabar, ia pun duduk di kursinya sambil merakit kembali beberapa hal yang ada di mejanya, sayangnya belum sempat ia menyentuh benda itu, ia merasa sangat lapar.
"Oh, maaf! Sepertinya seharian ini aku tidak mencari makan sama sekali," ujar Geni. "Memangnya anak kecil sepertimu bisa cari makan apa?" tanya Gord. "Berisik!" ujar Geni merasa tersindir.
Alesse pun akhirnya beranjak dari kursinya dan pergi ke dapur. "Wah, Alesse! Ayo makan!" ujar Andin sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ada apa dengan kalian hari ini? Aneh sekali!" ujar Alesse curiga, ia mulai mengambil sendok. "Tidak ada apa-apa anakku! Kami merasa senang kau datang ke dapur dengan sendirinya," ujar Hendra sambil memeluk Alesse dari belakang, membuatnya terkejut. Andin pun tertawa.
"Woi, Geni! Kenapa kau tidak beritahu kalau pria ini ada di belakangku?" tanya Alesse. "Kenapa kau begitu kaku? Dia adalah ayahmu, biarkan dia merasa senang sedikit dengan menjahilimu," ujar Geni.
Akhirnya Alesse hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Hendra. "Ayah....." Alesse hendak mengatakan sesuatu, ia mencoba membuat Hendra memerhatikan perkataannya.
"Ada apa, Alesse?" tanya Hendra. "Kalau aku bukanlah Alesse yang kalian kenal, kalau aku bukan anak kalian, kira-kira apa yang akan kalian lakukan? Apakah ayah masih bisa memelukku seperti ini?" tanya Alesse tiba-tiba.
Andin dan Hendra sempat terdiam karena pertanyaannya. Pelukan Hendra pun menjadi lebih erat.
"Kau adalah anakku, Alesse! Apapun yang terjadi, apapun kata orang-orang, apapun kata dunia, kau tetap anakku. Jadi, jangan katakan yang aneh-aneh! Jangan pergi ke manapun! Kau membuat ayah ingin menangis dengan pertanyaan itu," ujar Hendra dengan suara yang semakin lirih, tentu saja ia tidak ingin Alesse menyadari apa yang dirahasiakan olehnya selama ini.
Andin yang melihat mata Hendra yang mulai berkaca-kaca pun menjadi terharu, ia juga ikut memeluk Alesse.
"Ehm, kalian sedang apa sih? Aku cuma tanya doang," ujar Alesse. "Jangan menanyakan hal itu lagi. Apapun yang terjadi selanjutnya, apapun yang kau ketahui, jangan pernah menanyakan hal seperti itu lagi!" ujar Hendra, pada akhirnya ia benar-benar menangis.
"Baiklah! Baiklah! Aku minta maaf, aku tidak akan menanyakan hal itu lagi," ujar Alesse, ia merasa bersalah karena membuat ayahnya menangis.
Keesokan harinya, Alesse pun berangkat ke sekolah. Sanay pun langsung memeluknya secara tiba-tiba. "Akhirnya kau berangkat juga! Hampir satu tahun kau bolos sekolah loh!" ujarnya.
Sayangnya Salsha dan Sandy tampak menatapnya sinis. "Mereka kenapa?" tanya Alesse keheranan. "Bukan apa-apa, tidak usah dipikirkan," ujar Sanay.
Akhirnya Alesse pun masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Biasanya teman-temannya langsung mengerubunginya, namun hari ini hanya Sanay yang masih berada di dekatnya.
"Alesse, beberapa bulan ini kau ngapain aja? Kenapa aku tidak pernah menjumpaimu di rumah? Atau kau pergi ke dunia lain untuk melakukan sesuatu?" tanya Sanay.
"Yeah, banyak hal yang terjadi, tapi ini benar-benar menggangguku! Sebenarnya mereka berdua kenapa?" tanya Alesse sekali lagi.
"Kalau kau bertanya seperti itu, aku yakin ada kesalahpahaman di antara mereka. Apalagi kau Berbulan-bulan tak terlihat, mereka pasti sedang marah," ujar Sanay. "Begitukah?" Akhirnya Alesse pun mengabaikan sikap mereka.
__ADS_1