Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Aqua


__ADS_3

Alesse terbangun dari tidurnya, ia mendapati anak berjubah biru sedang duduk santai di depan meja belajarnya sambil membaca buku.


"Akhirnya kau bangun juga," ujar anak itu. "Aqua? Kenapa kau bisa di sini?" tanya Alesse keheranan, kamarnya benar-benar biru gelap, namun Aqua tetap membaca buku.


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa berada di sini, yang jelas lebih baik daripada berhadapan dengan ayahku yang mesum itu, jadi aku tidak peduli lagi," ujar Aqua.


"Ini masih gelap, kenapa kau membaca buku? Memangnya kau bisa membaca tulisan dari dunia ini?" tanya Alesse.


"Tentu saja aku bisa membacanya, aku memiliki sebagian besar ingatanmu dari kecil hingga sekarang, ternyata kita berdua tidak jauh berbeda," ujar Aqua.


"Tidak jauh berbeda dari mananya? Kita berdua jelas berbeda! Aku sudah mempelajari berbagai hal dari kecil, aku bukan anak ingusan yang terus terkurung di bawah laut," ujar Alesse.


"Bukan masalah yang itu, jika kau tidak memiliki buku kusam, kau akan menjalani hari-harimu sama sepertiku," ujar Aqua.


"Jadi kau tahu isi buku kusamku?" tanya Alesse. "Tentu saja, bukankah sudah kubilang? Aku memiliki sebagian besar ingatanmu. Aku bahkan mengira bahwa aku ini Alesse, bukan Aqua, tapi siapa yang peduli? Mau Alesse ataupun Aqua, aku hanya perlu menjalani hidup seperti ini. Lagian aku juga tidak tahu apakah aku ini masih hidup atau tidak," ujar Aqua kemudian lanjut membaca buku.


"Di mana Geni? Seharusnya ia selalu di sampingku," ujar Alesse sambil melihat sekitar.


"Siapa Geni? Setahuku tidak ada siapa-siapa di sini. Kita berada di alam bawah sadar," ujar Aqua.


"Aku tahu! Seharusnya Geni juga di sini, ia juga terjebak di alam bawah sadarku," ujar Alesse.


"Oh, jadi ada orang lain yang terjebak dalam antah berantah ini? Kasihan sekali," ujar Aqua. "Kau anggap alam bawah sadarku sebagai kesialan?" tanya Alesse. "Tidak, aku tidak terlalu peduli hingga menganggapnya begitu, tapi orang lain mungkin akan berpikir berbeda," ujar Aqua. "Berbeda?" Alesse ingat keluhan Geni yang terus terjebak di dalam kamarnya.


"Dih! Kenapa di sini dingin sekali? Sejak kapan kamarku membiru seperti ini? Seperti tenggelam dalam lautan saja!" Alesse keheranan, suasananya sangat berbeda dengan alam bawah sadar yang ia jumpai saat bersama Geni, saat itu langit tampak sangat cerah.


"Alesse! Alesse! Bangun! Sudah siang!" ujar Andin, seketika kamarnya yang serba biru memudar, menjadi terang.


"Tidak seperti biasanya kau bangun jam segini! Kau tidur jam berapa semalam? Sudah waktunya sarapan loh," ujar Andin.

__ADS_1


Alesse pun mencoba berdiri, ia sempat panik kalau kepalanya akan menabrak plafon kamar. "Whoa! Sepertinya kau bertambah tinggi! Tapi tenang saja, kepalamu tidak akan sampai ke plafon kok, plafon di kamar ini tingginya dua setengah meter," ujar Andin sambil tertawa, ia pun pergi keluar kamar.


Alesse pun langsung memeriksa cermin dan mendapati ada yang berubah dengan penampilannya.


"Kenapa rambutku memerah seperti ini? Aduh! Mataku juga! Kalau ibu menyadarinya bisa gawat!" ujarnya. "Oh! Itu sama persis seperti rupaku! Bahkan kau juga mengenakan Hoodie merahku!" ujar Geni.


"Sejak kapan kau berada di sini?" tanya Alesse. "Tentu saja sejak kau bangun dari tidurmu! Kini aku sudah masuk ke dalam kesadaranmu, saat kau tidur, aku juga tertidur, begitu pula saat kau bangun, aku juga bangun," ujar Geni.


"Argh! Kenapa ada Hoodie di balik bajuku? bikin gerah saja!" Alesse mencoba melepaskan baju dan Hoodie merah yang ia kenakan, namun beberapa detik kemudian Hoodie itu kembali melekat pada kulitnya.


"Ya ampun apa-apaan pakaian ini?" Alesse merasa kesal. "Sepertinya itu tidak mau lepas darimu, sebaiknya kau gunakan saja seperti itu, atau mungkin kau bisa menutupinya dengan pakaian lain. "Argh! Merepotkan! Aku tidak ingin merasa gerah di pagi hari! Kalau seperti ini terus aku tidak bisa mandi!" keluhnya.


Alesse memastikan dirinya di depan cermin sekali lagi. "Benarkah ini rupamu? Memangnya tinggi badanmu segini?" tanya Alesse agak ragu.


"Hei, jangan salah! Tubuhku sangat atletis loh! Meskipun tidak kekar," ujar Geni. Alesse pun hendak melangkah keluar kamar, namun ia merasa ada yang aneh dengan alas kakinya.


"Oh, sepertinya sepatu itu bisa di lepas tanpa melekat kembali!" ujar Geni. "Tentu saja, sepatu ini benda lain, bukan milikmu, tapi kaus kaki konyol ini terus melekat di kakiku!" ujar Alesse sambil berkali-kali melepaskan kaus kaki itu, namun tidak berhasil.


"Kau ini benar-benar maniak merah! Dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya merah! Andai jika kau memakai pakaian yang lebih normal sedikit, mungkin aku tidak akan keberatan meskipun pakaianmu terus melekat di tubuhku!" Alesse menambahkan. Ia pun pasrah dan langsung pergi ke ruang makan.


Setelah duduk di kursi, Hendra menatapnya keheranan. "Ayah tidak tahu kau punya gaya dalam berpakaian! Hari ini kau benar-benar berbeda! Kapan kau menyemir rambutmu?" tanya Hendra. Alesse tidak menjawab, ia langsung menutup kepala dengan Hoodie merah.


"Kau ini tidak pernah bisa diam! Kau membuat suasana hatinya rusak saja!" tegur Andin. "Ya, maaf! Aku hanya penasaran," ujar Hendra sambil melanjutkan makannya. Andin hanya menggeleng kepala melihat suaminya itu masih memiliki nafsu makan setelah mengacaukan suasana.


"Sikapmu dingin sekali! Seharusnya kau bersyukur karena memiliki orang tua! Aku bahkan dari kecil harus tinggal sendiri dan melatih tubuhku agar bisa menjaga diri," ujar Geni sambil sesekali mengambil lauk yang ada di piring Alesse. Itu tidak mempengaruhi apapun karena setelah diambil, lauk di piringnya tidak berkurang.


"Andai saja jika aku punya tubuh sendiri, aku ingin menyicipi rasanya kenyang dengan memakan semua benda ini," ujar Geni.


"Dari kemarin kerjaanmu hanya berandai-andai saja!" ujar Alesse. Ia pun tersadar kalau kedua orang tuanya menatapnya keheranan. "Alesse, kau bicara dengan siapa?" tanya Andin.

__ADS_1


"Oh, bukan apa-apa," ujar Alesse sambil segera mengeluarkan ponselnya, berpura-pura sedang menelepon seseorang.


"Sebaiknya kau berhati-hati saat bicara denganku, mereka bisa menganggapmu gila," ujar Geni.


Tidak lama kemudian Sandy menelepon, Alesse pun langsung menjawabnya. "Ada apa, Sandy?" tanyanya. "Alesse, apakah kau di rumah?" tanya Sandy.


"Iya, di rumah! Ada apa?" tanya Alesse keheranan. "Bolehkah aku pergi ke tempatmu? Ada hal-hal yang ingin kubicarakan," ujar Sandy.


"Kenapa tidak lewat telepon saja?" tanya Alesse keheranan. "Kalau lewat telepon kau tidak akan berbicara serius, kau tidak akan antusias!" jawab Sandy.


"Kau ini benar-benar merepotkan sekali yah!" ujar Alesse. "Maafkan aku Alesse! Sekali ini saja! Kau juga tahu kan? Kalau aku tidak memiliki teman selain kau, karena perilakuku sejak SMP, orang-orang menjauhiku," ujar Sandy.


"Lagian siapa yang mau dekat-dekat dengan bocah ingusan yang selalu peringkat terakhir di kelas?" tanya Alesse. "Duh! Jangan membahas hal itu, aku jadi malu!" keluh Sandy.


"Baiklah, aku sedang tidak ada kerjaan, jadi kau beruntung karena bisa berkunjung ke rumahku," ujar Alesse. "Ya ampun! Kau seperti orang penting saja," ujar Sandy sambil tertawa.


Alesse pun duduk di depan meja belajarnya setelah selesai makan, ia menunggu kedatangan Sandy.


Tidak lama kemudian kamarnya berubah menjadi biru gelap, tentu saja ia tidak menyadari perubahan itu karena terus melamun, menunggu Sandy.


"Akhirnya kau datang ke sini, apakah ini sengaja? Atau hanya kebetulan?" tanya Aqua, kali ini ia sedang melempar batang es runcing ke arah dinding. Ia terus mengulanginya berkali-kali hingga tepat sasaran.


"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan? Dari mana kau mendapatkan es itu?" tanya Alesse.


"Tentu saja aku membuatnya, ada air di gelas itu, aku bisa mengendalikannya menjadi es berbentuk apapun," ujar Aqua. "Lalu melemparnya ke dinding? Sepertinya kau kehabisan akal karena terjebak di dalam sini," ujar Alesse.


"Kata siapa? Membidik adalah salah satu keahlianku," ujar Aqua. Ia merubah batang es itu menjadi beberapa jarum es. Ia pun melemparkannya satu persatu ke arah tertentu, ia dapat mengenai targetnya dengan baik.


"Wah! Hebat jug......." Belum selesai Alesse berbicara, Aqua langsung lenyap dari hadapannya. Kamarnya yang berwarna biru gelap kembali seperti semula.

__ADS_1


__ADS_2