
Kaa mengetuk pintu rumah, Alex pun segera membukanya. Melihat wajah Kaa suasana hatinya menjadi buruk. "Apa yang kau inginkan?" tanya Alex.
"Sepertinya kau belum bisa melupakan kejadian itu. Kuharap kau baik-baik saja selama ini," ujar Kaa. "Aku baik-baik saja! Tapi kedatanganmu menghancurkan itu semua!" ujar Alex.
"Kupikir itu hanyalah alasan. Kau tahu kan? Wajahku sangat mirip dengan kakakmu," ujar Kaa. "Tidak lagi! Alesse bukanlah anak kecil sepertimu," ujar Alex. "Tidak sopan sekali! Meskipun terlihat seperti ini, usiaku sudah ratusan tahun! Sebaiknya kau tarik kembali apa yang kau katakan!" ujar Kaa.
"Huh! Jadi, apa yang kau inginkan? Tidak mungkin kau datang ke sini hanya untuk menanyakan keadaanku," ujar Alex. "Benar sekali! Aku tidak sebaik itu! Aku hendak berbicara tentang kakakmu itu," ujar Kaa.
"Apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Alex. "Kakakmu..... sudah mati kan?" tanya Kaa. Alex tampak begitu emosi hingga bulu-bulu mulai tumbuh di seluruh tubuhnya.
"Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan membunuhmu!" ujarnya sambil mengeluarkan cakar dari tangannya.
"Kau tidak bisa berpura-pura bodoh tentang hal ini. Kau membuat tubuh tak bernyawa itu hidup kembali, Itulah kenyataannya! Yeah, aku tidak bisa menganggap salah bahwa Alesse yang sekarang adalah kakakmu. Selama ini kalian memang hidup sebagai adik dan kakak. Aku yakin kakakmu yang asli tidak terlalu berkesan karena ia mati saat kau masih kecil pula," ujar Kaa.
"Jadi, apa yang kau inginkan? Kenapa kau sangat bertele-tele?" tanya Alex kesal. "Lakukanlah hal yang sama! Aku ingin kau membangkitkan kembali seseorang yang terjebak dalam es juga. Biar kuberitahu, kondisinya sama persis seperti Alesse. Bisa dibilang, Alesse dibekukan oleh orang yang sama dengannya. Mungkin kau bisa menanyakan siapa pelakunya padanya. Bukankah itu menarik?" tanya Kaa.
Alex menatap cakar pada kedua tangannya, ia juga menatap lengan dan tubuhnya yang kekar. "Mungkin waktu itu aku hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tapi sekarang..... aku tidak akan memaafkan siapapun yang mencoba menyakiti kakakku!" ujar Alex.
"Aku sangat menyukai semangatmu. Kuharap itu dapat membuatmu lupa akan tragedi yang mengerikan itu," ujar Kaa.
"Jadi, kapan aku akan bertemu dengan gadis dalam bongkahan es itu?" tanya Alex. "Santai saja, tidak untuk hari ini. Kondisinya sangat tidak memungkinkan," ujar Kaa kemudian mengepakkan sayapnya dan melesat jauh hingga menghilang dari hadapan Alex.
Di sisi lain, Alesse tampak sedang memegang topeng Yuki dan terus mengamatinya. Tak lama kemudian Kaa datang menghampirinya. "Lih? Di mana pemuda itu?" tanya Kaa. "Kau akan tahu," ujar Alesse sambil melempar topeng itu ke arah Kaa.
Sebelum dapat menggapainya, topeng itu langsung lenyap di udara. "Apakah kau..... membunuhnya?" tanya Kaa. "Kasar sekali, aku hanya menyuntikan bius dengan dosis tinggi. kupikir ia tidak akan merasakan sakit karena hal itu," ujar Alesse.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Kaa. "Kau mengatakan bahwa aku tidak dapat mengendalikan orang-orang itu, tapi menurutku itu salah. Ini adalah salah satu cara gimana aku mengendalikan mereka. Bukankah sederhana? Cukup satu suntikan untuk menghilangkan mereka dari hadapanku," ujar Alesse.
"Itu sangatlah beresiko, Alesse! Kau tidak tahu apa akibatnya jika terus melakukan hal itu! Lagi pula aku sudah mencapai kesepakatan dengan Alex. Ia bersedia melakukannya," ujar Kaa. "Kenapa anak itu mau melakukannya untuk orang asing? Apakah ia bodoh? Kesepakatan apa yang kau buat dengannya?" tanya Alesse.
"Kau tidak perlu tahu, ini adalah rahasia kami berdua," ujar Kaa kemudian pergi meninggalkan Alesse.
Alesse pun akhirnya pulang ke rumah, Alex sudah menunggunya sejak lama di ruang tamu. "Aku tidak tahu kau bisa duduk dengan tenang di sofa itu," ujar Alesse.
__ADS_1
"Akhirnya kau pulang juga. Apakah ini dirimu yang biasanya? Aku selalu melihat orang aneh di dalam rumah beberapa hari ini," ujar Alex. "Biasanya atau tidak seperti biasanya..... bukankah itu hanyalah penilaian darimu? Aku mana tahu apa yang kau anggap biasa dan tidak biasa dariku," ujar Alesse.
"Sudah kuduga ini Alesse yang biasanya," ujar Alex kemudian memeluk Alesse. "Kenapa tiba-tiba....."
"Sst! Diamlah, hanya sebentar saja. Butuh banyak keberanian untuk memelukmu seperti ini," ujar Alex. "Yeah, benar sekali! Kita berdua tidak terlalu akrab sampai kau perlu berpelukan seperti ini. Bisa lepaskan? Aku bisa mati karena sesak nafas," ujar Alesse.
"Maaf untuk itu. Sepertinya aku terlalu erat," ujar Alex. "Aneh sekali! Aku tahu beberapa alasan mengapa kau tiba-tiba memelukku seperti saat sedih, kegirangan, ataupun kehilangan sesuatu. Kau selalu melakukan hal itu sejak kecil," ujar Alesse.
"Aku tidak menyangka kau masih mengingatnya, itu membuatku malu. Tapi kenapa kau sekarang tampak enggan?" tanya Alex.
"Kau bukanlah kucing kecil berbulu lembut lagi, tubuhmu terlalu kekar dan keras. Kau pikir apa yang kurasakan saat kau mencoba memelukku tadi? Aku merasa dililit oleh seekor ular," ujar Alesse.
"Be..... begitukah? Aku tidak tahu akan sekuat itu bagimu," ujar Alex. "Bercanda, itu cuma perumpamaan. Jadi, dari tiga alasan yang kusebutkan tadi, mana yang benar?" tanya Alesse.
"Ketiga-tiganya benar, lalu satu lagi. Mungkin rasa marah," ujar Alex. "Kau marah padaku? Jarang sekali melihatmu marah apalagi kau mengakuinya sendiri. Jadi, apa yang membuatmu marah?" tanya Alesse penasaran.
"Ini bukan tentangmu, ada orang lain yang membuatku geram. Pokoknya aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik keluarga ini," ujar Alex.
"Wah! Wah! Lihatlah adikku ini, rupanya kau sudah jadi pria dewasa! Sayang sekali aku tidak bisa mengusap-usap kepalamu karena kau terlalu tinggi," ujar Alesse.
"Hentikanlah kalian berdua! Kalian membuatku malu!" ujar Alex sebal. Alesse tidak terlalu menghiraukan mereka berdua, ia hanya ingin kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya Kaa datang ke rumah, ia mengajak Alex pergi ke suatu tempat. Sebuah bukit yang tampak tak berpenghuni. "Aku tidak merasakan sesuatu yang istimewa di sini," ujar Alex.
"Ikutlah, ini tempat kakakmu ditemukan dalam keadaan membeku," ujar Kaa. "Kenapa kau tahu lebih banyak tentang Alesse daripada diriku?" tanya Alex curiga.
"Y.... yeah, aku mendengarnya dari Sandy. Ia dekat dengan kakakmu," jawab Kaa. "Hmm? pemuda berbadan besar itu? Aku sangat tidak menyukainya! Bukankah ia terlalu tua untuk berteman dengan Alesse? Apakah ia adalah orang bodoh yang tinggal kelas atau semacamnya?" tanya Alex.
"Sebagai orang yang sama-sama berbadan besar, kau tidak berhak mengatakan itu. Kudengar justru Alesse yang tinggal kelas selama dua tahun, bukankah berarti ia lebih tua dari kalian semua?" tanya Kaa.
"Alesse adalah pengecualian, ia tidak terlihat lebih tua dariku," ujar Alex. Selagi ia asyik berbicara, Kaa langsung mendorongnya dengan kencang hingga jatuh ke sungai. Tentu saja Alex tidak menyadari hal itu karena Kaa menggunakan pengendaliannya.
__ADS_1
Alex hanya bisa memejamkan mata, ia berharap tidak terlalu sakit saat kepalanya membentur dasar sungai.
Meskipun begitu, ternyata yang ia tunggu-tunggu tak kunjung terjadi. Akhirnya ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di tempat lain.
"Kenapa kau memejamkan matamu? Apakah begitu mengerikan?" tanya Kaa. "Kenapa kau melakukan hal itu? Kau seperti Ray yang suka melakukan hal tak terduga!" ujar Alex kesal. Kaa pun tertawa.
"Sebelum kau lahir, aku sering melakukan ini padanya. Tidak kusangka ia akan menirunya," ujar Kaa. Ia pun mulai berjalan ke suatu tempat sedangkan Alex mengikutinya.
"Kau ini..... benar-benar sudah hidup selama ratusan tahun?" tanya Alex. "Kau masih tidak percaya?" tanya Kaa.
"Bukan itu.... hanya saja..... ini benar-benar curang! Aku tidak berharap berumur panjang, tapi kenapa aku tampak lebih cepat menua daripada Alesse? Mungkin dalam lima tahun kedepan aku akan tampak lebih tua dari ayah dan ibuku. Aku tidak ingin hidup seolah menjadi kakek mereka," keluh Alex. Sekali lagi Kaa tertawa.
"Tenang saja, mungkin setahun lagi kau akan berhenti menua, kau akan tampak terus seperti itu hingga lima puluh tahun kedepan," ujar Kaa.
"Maksudmu aku tidak akan menua lagi?" tanya Alex. "Aku tidak bilang begitu, kau akan mulai menua setelah lima puluh tahun berlalu, jadi tenang saja. Bahkan saat kau berkali-kali menikahi gadis yang usianya puluhan tahun di bawahmu, mereka tidak akan menyadarinya. Seperti yang kau lihat pada wajah Ray saat ini. kau pikir berapa usianya sekarang?" tanya Kaa.
"35 tahun?" tanya Alex. "Eh? Begitukah menurutmu? Kalau begitu aku akan ragasiakan usia aslinya. Anak itu akan marah jika kau tahu betapa tua dirinya," ujar Kaa. "Setua itu kah?" tanya Alex penasaran. "Aku tidak akan bicara lagi. Ngomong-ngomong, kita sudah sampai di tempat tujuan," ujar Kaa sambil menunjuk bongkahan es yang tampak menyala. Terdapat seorang gadis yang sedang memejamkan mata di dalamnya.
"Kenapa ada bagian yang rumpang? Ia tampak sedang memeluk sesuatu, tapi benda yang ia peluk sudah tidak ada," ujar Alex. "Ia mencoba melindungi kakakmu, sayangnya ia terpecah dan terpisah," ujar Kaa.
"Tunggu dulu! Gadis ini...... ia berbeda dengan Alesse waktu itu!" ujar Alex sambil mencoba mendekatinya. "Apa maksudmu?" tanya Kaa penasaran.
"Gadis ini masih hidup! Peredaran darahnya bahkan masih terus berjalan!" ujar Alex. "Tidak mungkin! Jawara bahkan mengatakan bahwa ia sudah mati! Eh..... tunggu sebentar! Apakah kau menemukan sesuatu yang berbeda lagi darinya dengan Alesse saat baru ditemukan?" tanya Kaa.
"Aku tidak begitu yakin, tapi bongkahan es pada Alesse tidak bercahaya seperti ini!" ujar Alex. Akhirnya Kaa menyadari sesuatu, ia tampak terkesan dan tertawa.
"Gadis ini.... benar-benar luar biasa! Sungguh tidak bisa dipercaya!" ujar Kaa. "Apa maksudmu? Apa yang istimewa darinya?" tanya Alex.
"Apakah kau tahu bahwa pengendali air dapat menyembuhkan diri dengan air yang ia kendalikan?" tanya Kaa. "Aku pernah melihat seseorang melakukannya, kupikir itu adalah kemampuan yang langka," ujar Alex.
"Sepertinya gadis ini menggunakan kemampuan penyembuhannya agar bisa bertahan hidup di dalam es ini. Akhirnya aku tahu alasan mengapa bongkahan es Alesse terpisah darinya. Mungkin saja, ia mencoba menyelamatkan Alesse dengan kemampuan penyembuhannya, namun gagal. Itu membuat es yang meleleh terbelah menjadi dua," ujar Kaa.
"Jadi, apa yang harus kulakukan di sini?" tanya Alex. "Hmm! Sepertinya aku keliru membawa orang, mungkin sebaiknya kita pergi dahulu. Kau sudah cukup membantu karena menyadari bahwa ia masih hidup di dalam sana," ujar Kaa.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, siapa itu Jawara? Bukankah itu nama belakangku?" tanya Alex. "Eh? Be.. benarkah aku menyebutkan nama itu? Sepertinya kau salah dengar!" ujar Kaa sambil menggaruk-garuk kepala.