
Alesse bangun dari tidurnya, setelah seharian merasa kesal, kini rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi.
Ia beranjak dari kasurnya untuk bercermin, berharap tubuhnya kembali normal. Sesuai harapannya, kini tubuhnya telah kembali seperti semula.
"Akhirnya aku bisa beraktivitas dengan lanc......" Alesse terdiam karena ada seseorang di kasurnya dan itu berada di balik selimutnya.
Ia pun membalik selimutnya dan mendapati Alex sedang tertidur pulas. Meskipun begitu, ia tidak merasakan kesal sedikit pun. Tentu saja karena sekarang ia berada di tubuh normalnya.
"Akhirnya Alesse kembali seperti semula, kupikir akan terus melihatnya tersiksa dalam tubuh Baraq," ujar Geni.
Alesse pun pergi ke luar kamar dan mendapati sebuah catatan yang ditinggal oleh kedua orang tuanya. Sepertinya keduanya sedang bepergian.
Alesse pergi ke dapur untuk membuat sarapan. "Eh, Alesse? Kau memasak? Wah, ini mengejutkan!" seru Rasya.
"Memang apa yang perlu dibanggakan dari memasak? Bukankah itu pekerjaan wanita? Yang pria lakukan adalah berburu dan mencari bahan untuk makanan," ujar Gord.
"Pemikiran primitif itu tidak perlu kau bagi-bagikan pada kami. Memasak adalah hal yang menyenangkan," ujar Geni.
"Bemar sekali, aku juga mempelajari banyak kuliner selagi berkelana ke berbagai tempat," seru Rasya.
"Bagaimana kau bisa tertarik dengan memasak, Alesse? Kupikir kau adalah orang yang sangat datar dan hambar," ujar Geni. "Cara bicaramu blak-blakan sekali," bisik Rasya.
"Kenapa aku tidak boleh tertarik dengan memasak? Justru dari memasaklah aku tertarik dengan berbagai pelajaran seperti kimia dan biologi," ujar Alesse.
"Huh, tentu saja... kimia dan biologi, kenapa kau menyebutkan dua hal membosankan itu?" tanya Geni kesal. Alesse tidak menjawab, ia melanjutkan masakannya hingga selesai.
Setelah itu ia kembali ke dalam kamarnya untuk menyantap sarapannya. Tak lama kemudian Alex terbangun dari tidurnya dalam keadaan terkejut. "Aish! Aku pasti sudah gila! Kenapa aku tertidur di sini?" pikirnya dalam hati. Ia yakin kalau Alesse sudah menyadari keberadaannya.
"Ehm," Alex mencoba memberikan isyarat bahwa dirinya baru saja terbangun dari tidurnya. "Oh, kau sudah bangun? Makanlah," ujar Alesse.
Alex keheranan karena kakaknya itu tidak marah padanya. Ia pun beranjak dari kasur untuk memeriksa apa yang sedang Alesse makan.
"Wah, sepertinya sangat lezat!" seru Alex kegirangan, ia segera menuju ke dapur.
__ADS_1
Alesse pun melanjutkan sarapannya hingga selesai, setelah itu ia kembali ke dapur untuk mencuci piringnya.
"Hmm? Kemana anak itu? Bukankah ia hendak sarapan?" Geni keheranan karena tidak mendapati Alex di dapur.
Alesse tidak begitu peduli kemudian kembali ke dalam kamar dan duduk di kursinya. Seperti biasa, ia membuat berbagai catatan untuk menyempurnakan anatomi robot yang ia buat.
"Aku benar-benar terkesan karena kau bisa membuat semua itu hanya di kamar sekecil ini. Orang-orang tidak akan percaya kalau di bawah kamarmu ada sebuah laboratorium," ujar Geni.
Alesse tiba-tiba berhenti menulis karena merasa terganggu. "Ma... maaf, Alesse! Aku tidak bermaksud mengganggumu," ujar Geni.
Alesse tidak tampak kesal, ia terus menatap cermin yang menghadap ke kasurnya. "Apa yang kau lihat, Alesse?" tanya Geni.
"Bukankah kau seharusnya mengambil sarapan? Kenapa kau kembali tidur di situ?" tanya Alesse.
"Eh? Kau bicara dengan siapa?" tanya Rasya keheranan, ia mencoba menengok ke kasur dan terkejut.
"Sejak kapan anak itu masuk ke dalam kamar?" tanya Gord keheranan. "Benar sekali! Aku bahkan tidak menyadarinya!" ujar Rasya.
Akhirnya Alesse beranjak dari kursinya untuk menarik selimut yang ada di kasurnya. Saat itulah ia terkejut karena mendapati dirinya sendiri sedang terbaring di balik selimut itu.
"Whoa! Wow! Apa itu? Kenapa tubuhmu ada di situ Alesse? Benar-benar menakutkan! Apakah itu Jawara? Kenapa dia terbaring di situ?" tanya Geni.
"Itu bukan Jawara," ujar Alesse kemudian menghampirinya lebih dekat dan memeriksa leher dari tubuh yang terbaring itu.
"Ini aku," ujar Alesse. "Kau bercanda? Kenapa kau ada dua?" tanya Rasya. "Mungkin dia adalah pria yang kemarin kau temui di rubanah," ujar Rasya.
"Tidak, pria itu tetap berbeda denganku meskipun mencoba meniru bentuk tubuhku, tapi yang ini tampak sama persis," ujar Alesse. Ia mencoba membuka pakaiannya.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Apakah kau orang cabul? Kenapa kau menelanjanginya?" tanya Geni. "Apa salahku? Karena dia yang meniru bentuk tubuhku, justru dialah yang cabul!" ujar Alesse. Ia mencoba membangunkan tubuh itu. namun tidak bisa.
"Alesse, kau tahu ayah dan ibu kemana?" tanya Alex. Suaranya yang tiba-tiba terdengar membuat Alesse terkejut, ia segera menutup pintu sebelum Alex sempat melihat tubuhnya yang terbaring di kasur.
"Argh! Ini sangat merepotkan dan nyaris membuatku kesal! Apa yang harus kulakukan pada benda ini?" ujar Alesse, emosinya hampir meluap-luap lagi.
__ADS_1
"Jangan, Alesse! Tenanglah! Jika kau berubah menjadi Baraq lagi hari ini, mungkin kamarmu akan hancur berantakan," ujar Geni.
"Kini dia menyebutnya benda, kalau begitu sembunyikan saja di rubanah," ujar Rasya. Akhirnya Alesse pun menyeret tubuh itu ke ruang bawah tanah.
Karena tangannya masih licin setelah mencuci piring, ia membuatnya terlepas hingga jatuh terguling-guling di tangga hingga turun ke bawah dengan sendirinya.
"Praktis sekali, bukankah itu menyakitkan?" tanya Geni. "Aku lebih heran karena dia tidak kunjung bangun meskipun terbentur dengan keras.
"Atau.... mungkinkah dia sudah mati?" tanya Gord. "Jangan mengatakan yang aneh-aneh! Dia jelas masih bernafas!" ujar Alesse kesal.
"Kau tidak perlu marah segala untuk memberitahuku," ujar Gord. "
Memang begitu, jika dia benar-benar mati, Alesse bisa celaka. Ia jadi terkesan menyimpan mayat dalam kamarnya. Jika tiba-tiba seseorang mencari mayat itu, akan lebih merepotkan," ujar Geni.
"Lalu, bagaimana cara membangunkannya? Kira-kira siapa dia? Kenapa dia meniru bentuk tubuh Alesse? Dan bisa sama persis, seolah ia pernah melihat Alesse telanjang sebelumnya," ujar Rasya sambil tersenyum sendiri. "Pria ini benar-benar tidak tertolong," ujar Geni sambil menggelengkan kepala.
Alesse tidak ingin amarahnya melonjak, akhirnya ia tinggalkan tubuh itu di ruang bawah tanah kemudian kembali beraktivitas seperti biasanya.
"Alesse benar-benar hebat! Bisa-bisanya dia mengabaikan orang itu tanpa risau sama sekali," ujar Geni terkagum-kagum.
Sore pun tiba, Alesse tidak bisa beranjak dari kursinya karena seharian itu ia tidak bergerak ke mana pun.
"Ada apa, Alesse?" tanya Geni. "Sepertinya kakiku mati rasa, ini tidak mau bergerak sama sekali," jawab Alesse.
Ia berusaha berdiri, namun tidak bisa karena kakinya sangat lemas. Pada akhirnya ia pun terjatuh ke lantai. Sayangnya bukan rasa sakit yang ia dapat, ia mendapati penglihatannya menjadi gelap sedangkan tubuhnya sedang terbaring di lantai.
"Kenapa semuanya jadi gelap begini?" Alesse mencoba meraba-raba sekitar dan menemukan saklar lampu. begitu lampu menyala, ia terkejut karena dirinya berada di ruang bawah tanah.
"Loh? Kenapa kita berada di sini?" Geni kebingungan. "Sepertinya kau berpindah ke tubuh yang kau simpan di rubanah," ujar Rasya.
"Tidak mungkin!" ujar Alesse sambil memukul dinding. "Kenapa, Alesse?" tanya Geni. "Ruang bawah tanah ini sudah kukunci dari luar, itu tidak bisa terbuka karena menggunakan kunci tuas manual," ujar Alesse.
"Jadi, maksudmu kita terjebak di dalam sini? Kau benar-benar luar biasa, Alesse!" seru Rasya. "Ini tidak akan terjadi jika seseorang tidak menyarankan untuk menaruh benda sialan itu di rubanah," sindir Alesse kesal.
__ADS_1