Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Orangnya bertambah lagi


__ADS_3

Alesse keluar dari kamarnya. Setelah memastikan bahwa hari itu tidak hujan, ia pun melangkah ke luar rumah dan pergi menuju ke perpustakaan Irawan.


Sesampainya di depan gerbang, ia mendapati rintik-rintik hujan mulai membasahi halaman. "Ada apa dengan bumi hari ini? Apakah aku salah memperhitungkannya?" tanya Alesse.


"Menurutku itu adalah tanda pemanasan global! Di tempat kami prediksi cuaca tidak berlaku lagi, yang kami lakukan adalah mencegah bagaimana itu akan terjadi, tidak memprediksinya," ujar Geni.


"Semakin lama bumi ini semakin mengkhawatirkan," ujar Alesse kemudian masuk ke dalam perpustakaan.


"Lihatlah siapa yang datang! Si bocah kasar yang tidak tahu diri!" ujar Irawan sambil berkacak pinggang. Ia tidak terlalu suka dengan kehadiran Alesse.


"Aneh sekali, kupikir ini adalah pertama kalinya kita bertemu setelah sekian lama, paman!" ujar Alesse. Irawan terkejut karena Alesse berbicara sopan padanya.


"Kau ini..... Dua hari yang lalu kau datang ke sini dan merusak suasana hatiku! Muslihat apalagi kali ini? Gimana caranya kau mengembalikan rambut dan mata jinggamu itu menjadi hitam semula dalam waktu sehari?" tanya Irawan.


"Kau membicarakan siapa?" tanya Alesse. "Rambut jingga dan mata jingga.... kupikir yang ia maksud adalah Baraq," ujar Gord.


"Oh, benar sekali.... anak itu. Kukira ia tidak akan sampai ke tempat ini karena tidak mengerti cara membaca peta," ujar Alesse.


"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Irawan. "Lupakan saja paman. Aku minta maaf mewakili anak yang kemarin datang dengan lancang terhadapmu. Ia juga menggangguku di rumah sehingga kusuruh ia pergi ke sini," ujar Alesse.


"Tunggu dulu! Maksudmu yang kemarin itu bukanlah dirimu? Ia adalah orang lain?" tanya Irawan. "Kupikir pertanyaanmu itu sudah terjawab dari kemarin. Aku yakin 100% ia tidak ingin disamakan dengan diriku, perlukah kubawa Alex ke sini untuk menjelaskannya jika kau tidak percaya? Kupikir kau akan penasaran seperti apa rupa Alex sekarang. Kau pasti akan terkejut," ujar Alesse.


"Tidak perlu, aku sudah melihatnya kemarin. Ia juga mengatakan bahwa anak kurang ajar itu bukanlah kakaknya," ujar Irawan.


"Lalu kenapa kau bertanya lagi? Kau membuatku menjelaskan hal itu seperti orang bodoh!" ujar Alesse kesal, rambutnya hampir mengembang karena kilatan listrik muncul di sekitar kepalanya.


"Lihatlah! Seperti itu rupa anak itu kemarin! Sangat mirip denganmu sehingga membuatku bingung," ujar Irawan. Alesse mencoba meredakan amarahnya.


"Baiklah, aku ke sini karena ingin meminjam beberapa buku," ujar Alesse kemudian memilih beberapa dan menyerahkannya pada Irawan. "Ini adalah ensiklopedia dasar. Apakah kau yakin hendak meminjam ini? Kupikir banyak buku berat lain yang ingin kau baca," ujar Irawan.

__ADS_1


"Ini bukan untukku," ujar Alesse. "Oh, maksudmu ini untuk anak angkuh itu?" tanya Irawan. "Yup! Meskipun aku tidak tahu kapan ia akan datang lagi," ujar Alesse.


"Bukankah ia tinggal serumah denganmu?" tanya Irawan. "Kupikir Alex sudah menjelaskan kemarin! Jika ia mengatakan bahwa anak itu bukanlah kakaknya, lalu apa alasan baginya untuk tinggal di rumahku? Logikamu semakin sempit, paman! Apakah karena kau semakin menua?" tanya Alesse.


"Tidak sopan! Usiaku bahkan belum sampai 40 tahun!" ujar Irawan kesal. "Aku tidak tanya," ujar Alesse kemudian mengambil tumpukan buku itu.


"Kau yakin akan membawa buku itu sendirian? Di luar masih hujan loh!" ujar Irawan. "Hanya gerimis, aku bahkan sudah memprediksi kalau hari ini tidak hujan. Aku yakin ini hanya akan berlangsung singkat," ujar Alesse.


Belum sempat ia melangkah keluar, ia tersandung oleh kakinya sendiri. Ia pun segera memungut buku-buku yang berserakan itu.


"Kau tidak membantuku?" tanya Alesse pada Irawan. Ia mencoba menoleh ke belakang untuk memeriksa, apa yang sebenarnya Irawan lakukan sampai mengabaikannya.


Tampaknya Irawan tercengang karena melihat Aqua yang sedang berdiri tegak di belakang Alesse. Tentu saja dengan tumpukan buku di tangannya.


Alesse terkejut, rupanya buku-buku yang berserakan di lantai itu hanyalah halusinasinya. Buku yang asli masih berada di tangan Aqua.


"Hei, Aqua? Aqua! Sadarlah!" Alesse mencoba mengguncang-guncang Aqua yang mematung. Saat itulah asap mulai muncul, seolah-olah ada lapisan es yang meleleh dari tubuh Aqua.


Melirik ke sekitar, Aqua tidak mengeluarkan reaksi apapun, ia langsung menjatuhkan buku yang ia pegang setelah merasa tidak kuat menahannya.


"Hei! Aku tidak menyuruhmu untuk menjatuhkan itu!" ujar Alesse kesal. ia terpaksa memungut buku-buku itu kembali.


"Hei, Alesse! Beginikah yang kau maksud orang lain itu? Gimana caranya ia tiba-tiba muncul di belakangmu?" tanya Irawan, ia masih tercengang.


"Aku juga tidak tahu! Ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dan aku tidak menyukainya," ujar Alesse.


"Jadi, ia adalah anak kurang ajar yang kemarin aku temui? Kenapa ia menutupi kepalanya seperti itu?" tanya Irawan.


Alesse mencoba menyingkap penutup kepala Aqua, seketika rambut birunya yang mengkilap pun terurai, membuat Irawan terpana.

__ADS_1


"Kupikir ini terlalu berbahaya untuk diperlihatkan ke orang lain. Asal kau tahu, anak ini berbeda dengan yang kau temui kemarin, tapi ia sama-sama menyebalkannya. Lihatlah, ia bahkan tetap mengabaikanku meskipun aku melakukan sesuatupadanya," ujar Alesse kemudian menutup kembali kepala Aqua.


"Jadi, Alesse.... kau ini sebenarnya apa?" tanya Irawan. "Sebaiknya jangan tanyakan hal lain lagi, kau membuatku tersinggung! Aku akan kembali ke rumah," ujar Alesse.


Saat itulah petir tiba-tiba mengkilat dari luar jendela. "Hujan!" Aqua mulai membuka mulutnya. Bahkan matanya tampak menyala hanya karena melihat tetesan air di balik jendela.


"Ada apa? Kau tertarik?" tanya Alesse. Aqua mengangguk. "Huh, maaf paman! Kupikir aku akan meninggalkannya di sini agar kau bisa menanyakan banyak hal kepadanya, sepertinya aku harus membawanya pulang sebelum ia membuat masalah," ujar Alesse kemudian menarik lengan Aqua dan memintanya membawakan beberapa buku.


"Sudah lama sekali aku memikirkan hal ini. Kupikir wajahmu sangatlah feminim, tapi begitu melihat anak serba biru itu..... ia jelas-jelas seorang gadis! Apakah aku benar?" tanya Irawan. "Tidak, kau salah," ujar Alesse kemudian pergi bersama Aqua.


"Aish! Hujan ini tak kunjung berhenti!" ujar Alesse kesal. Saat itulah Aqua mengayunkan tangan kanannya. Gerakan itu tampak seperti menyapu bersih apa yang ada di depan. Saat itu juga rintik air air berhenti berjatuhan di jalan, seolah ada sesuatu yang menghalanginya.


"Kau bisa membuat hal seperti itu? Ternyata lumayan berguna juga kau," ujar Alesse. Akhirnya mereka berdua pun sampai di rumah tanpa perlu khawatir basah kuyup.


Sayangnya Alesse tidak bisa masuk bersamaan dengan Aqua. Akhirnya ia meminta Aqua untuk menunggunya di jendela, namun anak itu tak kunjung mau masuk ke dalam.


"Hei, Aqua! Masuklah! Kenapa kau diam saja?" tanya Alesse geram. Ia pun mencoba terus menarik lengan Aqua, namun anak itu tetap bergeming.


Sebuah tangan pun muncul, ikut membantu Alesse menarik tubuh Aqua agar masuk ke dalam. Saat Alesse mencoba menoleh, rupanya itu adalah Yuki. Alesse pun terkejut karena topeng yang Yuki kenakan, ia terperanjat hingga jatuh ke lantai.


"Kenapa kau juga berada di sini?" tanya Alesse. Yuki tampak bingung hendak menjawab apa. Ia hanya menggelengkan kepala karena tidak tahu.


"Sungguh melelahkan sekali! Aku harus bertahan dengan dua anak bisu ini?" Alesse semakin kesal.


Di sisi lain, Yuki tidak berhasil menarik Aqua ke dalam, akhirnya ia mencoba menggerakkan telapak tangannya. Seketika pusaran angin muncul, membuat tubuh Aqua melayang di udara. Akhirnya Yuki dapat membuatnya masuk ke dalam kamar dengan mudah.


"Wah! Kalian dan pengendalian kalian itu...... benar-benar luar biasa! Cara yang begitu mudah untuk membuatku kesal! Aku akan ke bawah sekarang. Aku tidak peduli apakah kalian lapar atau tidak, silahkan saling membagi waktu untuk pergi ke dapur jika kalian ingin makan," ujar Alesse kemudian pergi ke rubanah.


Tepat seperti yang Alesse katakan, Yuki mulai merasa lapar dan perutnya keroncongan. Sayangnya Aqua tidak begitu peduli, ia hanya menatap jendela untuk menikmati suara hujan.

__ADS_1


__ADS_2