Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Benda pusaka


__ADS_3

Kaa tidak merasakan apapun, ia pikir lehernya sudah tertebas. Saat itulah ia mencoba membuka mata dan suara nyaring tiba-tiba menyambutnya.


Sosok yang tak asing baru saja melindunginya dari tebasan mematikan itu. Padahal matanya sudah berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa dirinya masih diselamatkan, apalagi oleh sosok yang tak terduga.


"Kenapa kau tampak sedih begitu?" tanya sosok yang suaranya sangat familiar itu. Kaa pun mengucek kedua matanya agar pandangannya menjadi tampak jelas.


"Alesse?" ia mencoba memastikan siapa yang sedang ia lihat. "Benar sekali, ini aku. Apakah karena hampir mati kau jadi hilang ingatan?" tanya sosok itu yang ternyta adalah Alesse.


"Cih! Akhirnya muncul juga yang asli!" ujar anak yang gagal menebas leher Kaa. "Yo, sebenarnya kau siapa? Kenapa kau tampak sangat mirip denganku? Siapa namamu?" tanya Alesse.


Anak itu pun tersenyum. "Ini mengejutkan sekali karena kita bertemu lagi dengan cara yang tak terduga. Perkenalkan, namaku adalah Alesse Jawara," ujar anak itu.


"Tapi Alesse Jawara adalah namaku. Kalau aku memanggilmu dengan namaku, itu akan aneh! Kalau dalam ensiklopedia hal seperti ini orang-orang sebut sebagai Equal. Sangat mirip atau bahkan sama persis. Mungkin sebaiknya aku memanggilmu itu saja.... Equal, bagus juga kan?" tanya Alesse.


"Terserah kau mau memanggilku apa! Pada akhirnya kau juga akan mati!" ujar anak itu kemudian mengayunkan pisaunya ke arah Alesse. Saat itulah Alesse mengeluarkan tongkat petir dari punggungnya, membuat Zwan terkejut.


"Sepertinya akan menarik karena melawan diriku sendiri," ujar anak yang sekarang dipanggil oleh Alesse sebagai Equal.


Alesse hendak menanggapinya, namun saat melihat Sandy yang terluka parah, ia pun mengabaikannya, ia langsung memanggil Levy untuk membawa keempat orang itu jauh dari Equal.


"Maaf, aku tidak bisa meladenimu hari ini," ujar Alesse kemudian masuk ke dalam Levy dan melesat sangat jauh dari Equal.


Saat itu Salsha masih panik karena tidak bisa menyembuhkan Sandy. "Apa yang harus kulakukan? Sandy tak kunjung bangun! Lukanya masih terbuka!" ujarnya kebingungan.


"Tenanglah! Biar aku yang menangani hal itu," ujar Alesse. Seketika ia menjauhkan tubuh Sandy dari orang-orang.


"Tunggu! Apa yang ingin kau lakukan pada Sandy? Hentikan!" teriak Salsha. "Aku akan menjahit lukanya, aku juga perlu memeriksa apakah ada hal lain yang rusak di tubuhnya," ujar Alesse, ia memberikan isyarat pada Sanay dan Kaa untuk menenangkannya.


Setelah memberi ruangan yang berbeda pada Sandy. Ia mulai mengenakan beberapa peralatan bedah. Beberapa lengan robot juga membantunya mempersiapkan semua yang ia butuhkan.


Alesse pun mencoba memeriksa bagian apa saja yang rusak pada tubuh Sandy dan mulai melakukan pembersihan pada lukanya. Ia tampak tenang dan profesional saat melakukan hal itu hingga Sanay tercengang melihatnya.


"Apa yang sedang ia lakukan pada tubuh Sandy? Apakah ia sedang menyulamnya?" tanya Kaa. "Itu namanya operasi. Seharusnya hal itu hanya bisa dilakukan oleh dokter. Tapi.... karena dia Alesse, kupikir apa saja bisa dia lakukan," ujar Sanay sambil tersenyum. Salsha yang panik pun menjadi lebih tenang.


"Sepertinya kau sudah menemukan kembali senyumanmu," ujar Kaa pada Sanay. Sayangnya Sanay enggan mengakuinya.

__ADS_1


"Aku percaya kalau Alesse tidak sekeji itu. Itulah yang membuatku terkejut saat orang-orang mulai menuduhnya," ujar Sanay. "Aku juga memikirkan hal yang sama. Aku sempat terkejut saat Zwan menunjukkan foto dan rekaman Alesse," ujar Kaa.


Hanya dalam beberapa menit, Alesse pun menyelesaikan operasinya. Ia langsung melepas semua peralatan operasinya dan pergi keluar layaknya dokter yang hendak memberikan keterangan tentang pasien.


"Harusnya dia baik-baik saja setelah kita membawanya pulang. Terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya," ujar Alesse.


Salsha pun menghampiri Alesse. "Alesse.... ma.... maafkan aku.... lalu.... terima kasih karena telah menyelamatkan Sandy," ujar Salsha dengan perasaan agak malu.


"Sama-sama, aku juga minta maaf karena menyebut pacarmu memiliki kulit setebal badak. Ternyata kulitnya setipis kertas hingga pisau kecil dapat menebasnya dengan mudah," ujar Alesse.


"Sa.... Sandy tidak selemah itu!" ujar Salsha sebal. Di sisi lain Sanay langsung menghampiri Alesse, namun ia tidak tahu hendak berbicara apa.


Saat itulah tiba-tiba tubuh Alesse berubah membesar, namun Alesse tidak menyadarinya karena ia sibuk menunggu ucapan yang hendak disampaikan Sanay.


Saat itulah Sanay tiba-tiba terkejut sedangkan Kaa dan Salsha hanya terdiam melihat rupanya.


"Alesse..... wajahmu..... tidak seperti biasanya," ujar Sanay. "Oh, maksudmu pakaian hijau i....." Alesse pun salah menduga. Ia pikir tubuhnya berubah menyerupai tubuh Rasya, namun ia mendapati sesuatu melekat pada wajahnya.


Salsha pun tertawa. "Apa-apaan itu? Kenapa tiba-tiba ada topeng di wajahmu?" tanyanya keheranan. Ia merasa geli dengan bentuk topeng yang menempel pada wajah Alesse.


Akhirnya Alesse mencoba melepaskannya. Seketika rambut putih dan mata merahnya pun terlihat, membuat orang-orang yang melihatnya terdiam seketika.


"Yeah, itu adalah anak yang kupungut dari dalam gua, dialah Yuki yang kumaksud. Sayangnya dia tidak ada di tempat kita, mungkin ia bersama Baraq dan Aqua," ujar Geni.


"Kuharap ia baik-baik saja menghadapi dua orang itu," ujar Gord.


Saat suasana di dalam Levy tampak hening, Sandy pun terbangun dari tidurnya, ia terkejut karena sedang dalam keadaan telungkup.


"A... apa yang terjadi? Kenapa posisiku seperti ini?" tanya Sandy kebingungan. "Sandy! Akhirnya kau bangun juga!" seru Salsha dengan mata berkaca-kaca, ia langsung menghampirinya.


"Salsha! Syukurlah kau baik-baik saja!" ujar Sandy, ia hendak membelai kepalanya, namun ia harus mengangkat lengannya.


Sebelum hal itu terjadi, Alesse langsung menahannya agar tidak bergerak. "Hei! Siapa kau? Kenapa kau menahanku?" tanya sandy. "Diamlah! Jika kau terus bergerak dan berbicara, luka di punggungmu akan terbuka kembali," ujar Alesse.


Akhirnya Sandy berusaha tenang, ia pun kembali ke posisi telungkup meskipun hal itu sangat tidak nyaman baginya. "Aku tidak bisa menunjukkan bagian belakang tubuhku seperti ini, benar-benar memalukan!" ujar Sandy. "Aku tidak keberatan kok," ujar Salsha, ia justru tampak tersenyum lega melihat Sandy terbaring tenang di hadapannya.

__ADS_1


"Salsha, siapa pria itu?" tanya Sandy. "Oh? Itu Alesse," jawab Salsha. "Apa? Alesse?" Sandy hendak beranjak dari posisi telungkupnya, seketika darah memancar kembali dari punggungnya, membuat Salsha teriak histeris.


"Sandy! Ya ampun! Jangan bergerak!" ujar Salsha panik. "Kenapa kau membiarkan Alesse di sini? Dia sangat berbahaya!" ujar Sandy.


"Benar sekali, aku sangat berbahaya! Ngomong-ngomong, aku akan menyulam punggungmu dengan jarum ini," ujar Alesse.


Sandy pun ketakutan saat melihat jarum yang berbentuk seperti kail pancing itu. "Tenanglah, Sandy! Dia hanya bercanda! Alesse juga! Hentikan candaanmu!" ujar Salsha.


"Ini bukan salahku, tapi salah si bongsor ini karena terlalu banyak bergerak! Ngomong-ngomong otot punggungnya tebal sekali! Membuatku susah untuk menjahit lukanya!" keluh Alesse.


"Apa? Dia menjahit lukaku?" Sandy tidak percaya. "Yeah, dugaanmu selama ini terhadap Alesse adalah keliru, dia bukanlah orang yang membantai para elementalist," ujar Kaa.


"Apa maksudmu? Lalu siapa tadi yang melukai punggungku?" tanya Sandy. "Itu memang alesse Jawara, tapi bukan Alesse yang selama ini kita kenal," jawab Kaa.


"Loh? Loh! Memangnya ada yang seperti itu?" tanya Sandy, ia masih tidak terima. Alessetidak menyadari lagi kalau tubuhnyatiba-tibaberubah menyerupai Rasya. "Kalau itu benar-benar aku, kepalamu mungkin sudah kujadikan pajangan di atap Levy. Tanduk ini..... lumayan bagus, kokoh, dan kuat untuk dijadikan hiasan," ujar Alesse sambil memegangi tanduk Sandy.


Sandy tercengang, ia merasa harga dirinya sudah jatuh sampai Alesse dengan begitu mudahnya memegangi tanduknya.


Alesse pun segera menyadarkan diri, tangannya bergerak tanpa kehendaknya, ia tidak menyangka sebegitu tertarik dengan tanduk yang ada di kepala Sandy.


"Kenapa aku tampak seperti orang bejat begini?" tanya Alesse dalam hati, wajahnya begitu pucat. "Sepertinya sifat Rasya menulur lewat tubuhnya itu," ujar Gord.


"Alesse, pakaianmu agak....." Salsha langsung menjauhkan dipan Sandy dari Alesse. "Apa yang salah dengannya? Kupikir ia terlihat gagah dengan pakaian ituloh. Lihatlah, bahkan lekukan ototnya terlihat jelas dari baju yang ia kenakan. Apalagi berwarna hijau, ia tampak seperti orang militer," ujar Sandy.


"Yeah, kau tidak perlu tahu, Sandy. Cukup tidak perlu lama-lama menatapnya," ujar Sanay sambil menolehkan wajah Sandy agar tidak menatap Alesse.


"Kalian pikir aku ingin mengenakan pakaian seperti ini? Bukankah pria bertelanjang dada yang sebelumnya lebih parah?" tanya Alesse, pria yang ia sebut adalah Gord.


"Menurutku yang itu justru lebih normal," ujar Sanay. "Kau juga ikut-ikutan mengkritikku?" Alesse tampak terpuruk, ia langsung mengambil baju yang ada di sebuah lemari lalu mengenakannya. Pakaian itu sedikit lebih longgar sehingga otot-ototnya tidak terlalu menonjol.


"Bukankah lebih baik kau melepaskan pakaianmu dulu sebelum memakai baju lainnya?" tanya Sanay. Kalau bisa kulakukan, pasti sudah kulakukan dari tadi. Baju ini terus melekat di tubuhku," ujar Alesse.


Tak lama kemudian layar monitor menyala, wajah Zwan pun muncul darinya. "Wahai, anak muda! Kalian ada di sana?" tanya Zwan mencoba memastikan.


"Yeah kami ada di sini! Bukankah tidak sopan tiba-tiba meretas kendaraanku?" tanya Alesse. "Maafkan aku, anak muda. Untuk anak muda yang tadi mengeluarkan tongkat dari punggungnya, bisakah kau menunjukkannya sekali lagi tongkat itu padaku?" tanya Zwan.

__ADS_1


Maksudmu tongkat ini?" tanya Alesse sambil menunjukkan tongkat petirnya. Zwan pun mencoba memeriksanya.


"Sudah kuduga! Kaa, tongkat yang dipegang anak itu adalah benda pusaka yang kalian cari!" ujar Zwan. Semua orang pun terkejut mendengar perkataannya.


__ADS_2