
Sudah tiga hari berlalu, namun Alesse tak kunjung pulang. Sanay semakin gelisah mengetahui kenyataan itu.
"Gimana ini? Jika terus seperti ini Alex mungkin akan menyadari kalau yang bersamanya selama ini hanyalah lempengan logam!" ujar Sandy panik.
"Sebenarnya apa yang ia lakukan hingga tak kunjung pulang juga? Di hari sekolah seperti ini membuat kita khawatir saja!" ujar Salsha.
"Kita juga hanya bisa berkumpul seperti ini setelah pulang sekolah. Jika kita ketahuan mendekati Probe di sekolah, mungkin Alex akan menghajar kita semua," ujar Sanay.
"Mungkin ia akan memakan kita dengan wajah harimau itu," ujar Sandy. "Ini bukan waktunya bercanda! Alesse belum pulang!" tegur Salsha. "Maaf, aku hanya ingin memperbaiki suasana," ujar Sandy.
"Probe, apakah saat liburan Alesse sering melakukan ini? Pergi selama berhari-hari tak kunjung pulang?" tanya Sanay.
"Tidak, terakhir ia pergi paling lama adalah saat aku menggantikannya pergi ke sekolah di SMP dulu," ujar Probe.
"Itu sudah lama sekali!" ujar Salsha. "Tapi saat itu ada yang ganjal dengan kepergiannya," ujar Probe. "Ada apa?" tanya Sanay penasaran.
"Aku memang tidak melacak kepergian Alesse, namun aku menemukan riwayat sinyal yang Jawara pancarkan berakhir di bukit Balai Hitam, seolah mereka lenyap begitu saja di sana, namun belum ada sehari mereka sudah kembali ke rumah. Keesokan harinya mereka juga pergi lagi saat pagi, dan kembali setelah malam tiba. Akan tetapi aku tidak bisa melacak kepergian mereka tiga hari yang lalu, mungkin karena jaraknya tidak terjangkau olehku," ujar Probe.
"Hmm? Bukit Balai Hitam? Oh iya! Sehari setelah Probe menggantikannya ke sekolah hari itu, Alesse tiba-tiba membicarakan tentang retakan Abyss padaku sendirian! Ia menyudutkanku hingga aku berubah menjadi iblis," ujar Sandy.
"Oh? Jadi keesokan harinya kau mengaku bahwa kau adalah iblis, itu karena Alesse yang menyuruhmu mengakuinya?" tanya Salsha. "Yeah begitulah," ujar Sandy.
"Namun sejak hari itu kita malah tidak bisa mendekatinya lagi karena ia sibuk pergi ke perpustakaan," ujar Salsha.
"Bukit Balai Hitam? Di sana bukannya terdapat retakan Abyss juga?" tanya Sanay. "Ya benar sekali! Mungkinkah ia pergi ke sana saat itu dan mulai tertarik hingga menanyakannya padaku? Ia bahkan sampai tahu kalau aku bisa berubah menjadi iblis. Sepertinya ia juga melakukan pengamatan di sana," ujar Sandy.
"Pengamatan? Mengamati iblis? Apakah itu mungkin? Ia bisa saja membunuhnya terlebih dahulu," ujar Salsha. "Tidak, saat aku berubah menjadi iblis, ia juga dapat membelengguku dengan baik," ujar Sandy.
"Iblis? retakan Abyss? Pengamatan? Sepertinya Alesse memang melakukan hal itu, ia terlalu mudah untuk penasaran dengan hal yang tidak wajar," ujar Sanay dengan wajah pucat.
"Berarti.... apakah ia terjun ke dalam retakan Abyss?" tanya Salsha. "Mungkin saja, dia orang yang nekat," ujar Sandy.
"Hei, Sandy! Kau bisa berubah menjadi iblis kan? Berarti kau berasal dari sana kan? Seperti apa tempat itu? Apakah seperti gua berkawah panas dan lain sebagainya?" tanya Salsha.
"Entahlah, aku tidak ingat pernah berada di sana, aku sudah diadopsi oleh keluargaku sejak bayi," ujar Sandy.
"Sepertinya kita perlu memastikannya sendiri! Kita perlu ke sana!" ujar Sanay. "Bukankah berbahaya? Kita tidak bisa berbuat apa-apa loh!" ujar Salsha takut.
"Tenang! Ada Probe, dia bisa melindungi kita," ujar Sanay. "Jadi, kita benar-benar hendak ke sana? Kapan?" tanya Sandy.
"Mungkin hari Minggu besok, sekalian kita tunggu apakah Alesse sudah pulang atau belum," ujar Sanay.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hari Minggu pun tiba, namun Alesse tak kunjung pulang. Keempat anak itu akhirnya berkumpul di depan gerbang sekolah.
"Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini, tapi karena Alesse tak kunjung pulang, apa boleh buat! Kita harus memeriksa retakan Abyss itu!" ujar Sanay.
Akhirnya mereka berempat pun naik ke dalam bus dan meminta berhenti di tengah hutan, tepat di sisi kanan bukit.
"Ini lebih luas dari yang kukira! Sepertinya kota akan kesulitan untuk menemukan retakan Abyss itu," ujar Sandy.
"Menurutku tidak, lihatlah itu!" ujar Sanay sambil menunjuk pembatas polisi. "Sepertinya kita sudah dekat," ujar Salsha.
Mereka pun mendaki bukit itu, namun tidak menemukan apa-apa. Mereka terus berkeliling ke sana kemari hingga akhirnya sampai di puncak.
"Pemandangannya indah sekali di atas sini," ujar Sandy, ia tampak menikmati itu sambil membentangkan kedua tangannya. "Benar sekali! Tidak kusangka Alesse merahasiakan kita dari tempat yang bagus ini," ujar Salsha.
"Dimana Sanay dan Probe?" tanya Sandy. Salsha menengok ke sana kemari. "Kukira mereka mengikuti kita tadi," ujar Salsha. "Sanay! Probe! Kalian di mana?" teriak Sandy.
"Apakah tidak apa-apa berteriak seperti itu? Gimana jika ada hewan buas yang datang?" Salsha waspada. Ia mencoba menelpon Sanay.
"Sanay tidak menjawab teleponnya," ujar Salsha dengan wajah pucat. "Padahal sinyal di sini seharusnya bagus! Apa jangan-jangan......" Wajah Sandy ikut pucat. "Ini aneh sekali! Tempat ini terlalu tenang!" ujar Salsha. Sandy pun langsung memegang Salsha dan berlari ke bawah.
"Sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka berdua! Kau ingat? Probe pernah mengatakan bahwa ia kehilangan sinyal dari Jawara di sekitar sini!" ujar Sandy. Saat mereka berdua terus berjalan, mereka tidak sadar kalau langit sudah menjadi redup.
"Sandy, apa yang terjadi? Kita ada di mana?" tanya Salsha ketakutan. Sekeliling mereka dipenuhi kabut. "Salsha, jangan lepaskan tanganku!" ujar Sandy waspada.
"Sandy? Sandy! Di mana kau?" tanyanya ketakutan. Ia merasakan kandungan air pada kabut tebal itu, akhirnya ia mencoba menghilangkannya dengan pengendaliannya.
Saat itulah ia menyaksikan hamparan tanah tandus dan gelap, terdapat beberapa batuan besar yang menghalangi penglihatannya.
Di saat kebingungan, tiba-tiba iblis muncul di hadapannya. Salsha terkejut bukan main, namun tubuhnya terasa kaku seketika, ia sangat syok hingga tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
Iblis itu berteriak, membuatnya tidak mampu berdiri lagi. Ia jatuh bertekuk lutut dengan wajah pucat sedangkan iblis itu terus menyudutkannya. Seorang iblis lagi muncul menyeruduk iblis yang berhadapan dengan Salsha.
"Salsha? Kau baik-baik saja?" Suara Sandy terdengar dari mulut Iblis itu. Salsha masih tampak pucat.
"Maaf Salsha karena harus melihat tubuhku berubah seperti ini," ujar Sandy. Ia pun langsung bergulat dengan iblis itu lalu mematahkan lehernya. Tubuhnya pun akhirnya bersimbah darah.
Ia bernafas lega sambil menatap Salsha dari kejauhan. "Salsha, sekarang sudah aman, kau akan baik-baik saja," ujar Sandy. Sayangnya saat berbicara seperti itu, seorang iblis muncul lagi dan menyeruduk perutnya.
Ia pun tertikam oleh tanduk iblis itu hingga darah memancar keluar membasahi wajah Salsha. Salsha menjadi semakin pucat melihat pemandangan itu. Ia benar-benar tertekan.
"Tenang saja Salsha! Kau akan baik-baik saja! Bertahanlah! Aku tidak apa-apa kok! Luka seperti ini tidak masalah bagiku," ujar Sandy sambil mencoba tersenyum. Ia khawatir kalau Salsha akan menjadi gila saat menyaksikannya bersimbah darah.
Sandy terus menyerang Iblis itu tanpa henti hingga akhirnya ia melihat sebuah gubuk di tengah-tengah hamparan tandus itu.
__ADS_1
Ia segera menggendong Salsha di kedua lengannya dan berlari ke gubuk itu. Secara tidak sadar ia sudah berdiri di tengah-tengah aliran sungai.
"Sepertinya kita sudah kembali! Kita selamat Salsha!" ujar Sandy, tubuhnya pun kembali seperti semula. Tanduk di atas kepalanya menghilang. Ia mendudukkan Salsha pada sebuah batu kemudian mulai membersihkan wajahnya.
"Sepertinya wajahmu terlalu kotor! Jika begini orang-orang akan mengiramu baru saja membunuh," ujar Sandy, ia mencoba bercanda agar Salsha merasa tenang. Gadis itu terus menelan ludah, ia juga mencoba menahan sekuat tenaga rasa tertekannya. Akhirnya ia pun menangis.
"Tenanglah, kau baik-baik saja. Tidak ada masalah kok! Kita berdua selamat!" ujar Sandy sambil memeluknya. "Pulang," ujar Salsha singkat.
"Tapi kita masih belum tahu Sanay dan Probe di mana," ujar Sandy. Salsha terus menarik lengan baju Sandy. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang," ujar Sandy.
Ia pun pergi ke rumah Salsha dan masuk ke dalam kamarnya lewat jendela. Ia langsung membaringkan Salsha di kasur lalu hendak pergi keluar. Sayangnya Salsha terus menarik lengan bajunya.
"Ada apa Salsha?" tanya Sandy. "Bisakah kau tinggal sebentar? Aku takut," ujar Salsha. "Baiklah," ujar Sandy sambil duduk di kursi. Salsha masih terus menangis.
"Kenapa lagi Salsha?" tanya Sandy keheranan. "Kejauhan!" ujar Salsha. Sandy pun teringat bagaimana Salsha terus menggenggam tangannya erat-erat, namun masih tetap terpisah. "Sepertinya ia takut hal itu terjadi lagi," Pikir Sandy.
"Tenang saja Salsha, kita berada di rumahmu! Kita sudah aman," ujar Sandy sambil duduk di kasur. "Berbaringlah! Temani aku tidur," ujar Salsha.
"Aku tidak bisa Salsha! Seorang pria tidak boleh tidur satu kasur dengan gadis!" ujar Sandy. "Kalau begitu aku tidak akan menganggapmu sebagai pria! Andai ada Sanay, aku pasti akan menyuruhnya menemaniku hingga aku tertidur," ujar Salsha.
"Baiklah! Hanya sampai kau tidur loh! Setelah itu akan pergi!" ujar Sandy terpaksa. Ia pun membaringkan tubuhnya dengan perasaan tidak nyaman. Ia berusaha menjaga jarak sebisa mungkin dari Salsha dan membelakanginya.
"Sandy, apakah Sanay akan baik-baik saja?" tanya Salsha, ia sudah mulai tenang sambil memeluk bonekanya. "Menurutku ia baik-baik saja, ia bersama Probe, pasti akan baik-baik saja!" ujar Sandy.
"Gimana jika mereka berdua terpisah?" Salsha semakin gelisah. "Tidak usah memikirkan yang aneh-aneh, kau cukup tidur saja," ujar Sandy.
"Aku takut!" ujar Salsha terisak, semakin lama tangisnya semakin terdengar. Sandy bingung bagaimana menghadapinya. "Tenanglah Salsha! Ia akan baik-baik saja!" ujarnya sekali lagi.
Setelah suasana tenang dan senyap, Sandy mencoba membalik badan untuk memeriksa apakah Salsha sudah tidur.
Ia terkejut karena wajahnya langsung berhadapan dengan Salsha. Entah kenapa ia tidak ingin langsung beranjak dari kasur. Ia terus memandangi wajah Salsha selagi gadis itu masih tidur. Secara tidak sadar tangannya sudah membelai rambut hitam agak kebiruan milik gadis itu.
"Apa yang aku lakukan? Apakah aku sudah gila?" Sandy berusaha menyadarkan diri. Ia pun beranjak dari kasur dan keluar lewat jendela dengan hati-hati.
Beberapa menit kemudian ponselnya berdering, ia mengangkat teleponnya. "Sandy? Kau baik-baik saja? Aku tidak bisa menghubungi Salsha!" ujar Sanay dalam telepon itu, ia tampak gelisah.
"Aku dan Salsha baik-baik saja, ia sedang tidur di rumahnya," ujar Sandy. "Begitu kah? Syukurlah! Aku sangat khawatir pada kalian berdua!" ujar Sanay.
"Kau gimana? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Sandy. "Oh, tentu saja! Si Probe melindungiku dengan baik. Ia menebas semua iblis itu dengan mudah, bahkan aku hanya duduk santai seolah sedang menonton film thriller," ujar Sanay, saking tidak ada masalahnya ia sampai sempat bercanda.
"Oh? Begitu kah? Syukurlah!" ujar Sandy. Setelah beberapa kata, Sanay pun menutup teleponnya.
Sandy mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kenyataan bahwa ia tidak dapat melindungi Salsha dengan baik sangat memalukan baginya. Ia pun bertekad untuk menjadi lebih kuat.
__ADS_1