
"Planet ini benar-benar berwarna biru terang! Tidak seperti bumi tempat tinggal kita," ujar Alesse. "Mungkin di sini sedang mengalami zaman es, tapi peradaban di sini sudah maju dan tidak sesuai dengan sejarah di bumi," ujar Jawara.
"Mungkin karena ada beberapa orang dari dunia lain datang ke sini dan mengajarkan peradaban kepada mereka," ujar Alesse.
"Berarti kasus orang berpindah dunia ini bukanlah hal yang asing! Apakah mungkin kita bertemu dengan orang yang berasal dari bumi? Aku tidak bisa terus seperti ini! Tidak bisa memahami apa saja yang mereka katakan, bahkan kau juga tidak mengajariku bahasa yang mereka gunakan," ujar Jawara.
"Masalahnya aku juga tidak mengerti! Aku sendiri hanya berbicara seperti biasa, namun mereka memahaminya, seolah ada penerjemah otomatis padaku. Mungkin ini pengganti dari kemampuan membaca pikiran!" Alesse menyimpulkan.
"Aku tidak tertarik, aku hanya ingin tahu bagaimana caranya agar bisa berbicara dengan mereka," ujar Jawara.
"Ini aneh sekali! Sejak tadi hanya ada lautan saja! Di mana manusianya?" Alesse keheranan. Ia pun mencoba merendahkan Levy hingga ke permukaaan air.
"Alesse! Aku menemukan struktur jaringan dan organ mirip manusia! Mereka hidup di bawah sana!" seru Jawara.
"Hah? Mirip manusia? Di bawah air? Mungkin paus dan lumba-lumba," ujar Alesse. "Bukan, kalau mereka masih sangat jauh dari manusia! Tapi yang ini benar-benar mirip! Bahkan anatominya hampir sama persis," ujar Jawara.
"Heh? Apa-apaan itu? Hidup di bawah air? Mirip manusia? Apakah alien?" Alesse penasaran. Ia pun membuat Levy menyelam ke dasar laut.
"Tidak ada apa-apa, Jawara! Kau menipuku?" tanya Alesse dengan wajah sebal. "Tidak! Coba maju lagi ke depan!" ujar Jawara. "Ini tidak bisa bergerak cepat, tekanan airnya terlalu tinggi!" ujar Alesse.
Ia pun mencoba menggerakkan Levy agar maju ke depan. Setelah dua jam lamanya, sirine pun berbunyi.
"Alesse! Sepertinya kondisi tubuhmu memburuk!" ujar Jawara. "Aku baik-baik saja kok! Apanya yang bur......" Alesse mendapati darah mengalir dari hidungnya. "Kenapa ini Jawara? Kenapa hidungku mimisan?" tanya Alesse keheranan. Saat berbicara pun ia tidak sadar kalau darah mengalir dari mulutnya juga.
Beberapa detik kemudian ia terbatuk-batuk sedangkan darah terus keluar dari mulutnya. "Jangan terlalu banyak bicara Alesse! Darahmu mengalir ke tenggorokan! Itu akan membuatmu batuk!" ujar Jawara.
"Itu sudah mengalir! Aku tidak bisa menahan batuk ini!" ujar Alesse panik. Tiba-tiba pendengaran dan penglihatannya terus menjadi samar. Darah pun keluar dari lubang telinganya dan itu sangat menyakitkan.
Ia langsung merintih kesakitan hingga mengeluarkan air mata. "Ini perih sekali!" ujar Alesse sambil mengusap air matanya, ternyata ia mengusap darah. Darah juga terus keluar dari matanya.
"Sepertinya banyak pembuluh darah tipis yang pecah! Jawara, tolong naikkan Levy kembali ke atas!" ujar Alesse. Ia pun langsung membaringkan diri karena sakit kepala yang hebat.
Setelah beberapa tertidur, ia pun bangun dengan terkejut. "Sepertinya tubuhku sangat kotor sekali! Aku harus mandi!" ujar Alesse.
Ia pun melepaskan semua bajunya dan memasukkannya dalam mesin cuci. Ia pun segera membersihkan dirinya dengan air.
"Jawara, kira-kira kapan terakhir aku mandi?" tanya Alesse. "Sejak kau pergi dari bumi, kau belum pernah mandi," ujar Jawara. "Benar sekali! Ini sangat menjijikkan!" ujar Alesse. Ia pun menggosok seluruh tubuhnya dengan kasar.
"Jika terus seperti itu, kulitmu akan menjadi kusam loh!" Jawara memperingatkan. "Aku tahu! Tapi ini sangat gatal dan menjijikkan!" keluh Alesse.
Setelah selesai mandi dan memakai baju, ia pun mencoba menatap lautan. "Sepertinya aku memerlukan percobaan juga di sini! Aku butuh sesuatu yang bisa mengurangi pengaruh tekanan air dalam Levy!" ujar Alesse. Ia pun mencoba memeriksa sesuatu di ponselnya, dan mencari model kapal selam.
__ADS_1
"Kupikir hanya akan terbang di udara jadi tidak memikirkan model kapal selam ini! Aku harus memodifikasinya!" ujarnya semangat.
Ia pun mencoba membayangkan kerangka kapal selam yang ia pelajari dan merubah bentuknya menjadi kubus, namun tetap kesulitan.
"Jika mengikuti bentuk kapal selam ini, ruangannya menjadi sempit! Sangat tidak nyaman!" ujarnya kemudian berusaha mendesain kerangka ulang kapal selam dengan ponselnya. Setelah berulang kali menyuruh Jawara menyelamkan Levy ke dasar lautan, akhirnya ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke bawah laut.
"Sepertinya sekarang sudah baik-baik saja. Tekanan di Levy menjadi sangat stabil," ujar Jawara. Alesse pun mencoba membuat dinding Levy menjadi tembus pandang.
Pemandangan bawah laut yang gelap itu benar-benar penuh dengan misteri. Sesekali beberapa hewan besar seperti paus berlalu di hadapan mereka.
"Sepertinya masih banyak predator ganas di tempat ini! Aku beberapa kali melihat Megalodon berenang ke sana kemari mengejar paus biru," ujar Alesse.
Tidak lama kemudian sebuah bayangan biru melesat dari pandangan mereka. "Buset! Apa itu? Cepat sekali!" ujar Alesse terkejut. "Itulah makhluk yang kusebut mirip dengan manusia!" ujar Jawara.
"Mana ada manusia yang bisa berenang secepat itu!" ujar Alesse. "Sudahlah! Ikuti saja! Ia berjalan ke depan!" ujar Jawara.
Akhirnya Alesse pun menggerakkan Levy agar terus berjalan ke depan. Akhirnya mereka sampai di ujung tebing yang curam.
"Sepertinya di bawah sana adalah palung laut, apakah tekanan Levy bisa menahannya?" tanya Alesse. Jawara pun menunjukkan monitor berisi grafik kepada Alesse. "Menurutku bisa!" ujar Jawara.
Levy pun terjun ke dalam palung itu. Sedangkan Alesse mulai menyalakan lampu yang lebih terang.
Beberapa jam lamanya, akhirnya mereka sampai ke dasar palung. "Whoa! Ini sangat luas! sekali! Seperti sebuah lembah raksasa!" ujar Alesse.
"Sepertinya suhu di depan sana semakin menurun," ujar Jawara. "Tuh, kan! Tidak mungkin ada manusia yang berenang sampai ke sini!" ujar Alesse.
Setelah beberapa menit maju ke depan, sebuah kubah es raksasa pun terlihat. Warnanya yang putih sangat mencolok di dasar palung itu.
"Bentuknya sempurna sekali! Ini bukan es alami!" ujar Alesse curiga. Ia pun mendekatkan Levy ke kubah es itu.
"Lihatlah, terdapat ratusan makhluk mirip manusia di dalam sana," ujar Jawara. "Hmm! Kadar oksigen di dalam sana juga sangat tinggi! Mungkinkah di dalamnya ada udara?" tanya Alesse. "Mungkin saja," ujar Jawara.
"Oh! Ada lubang di bawah! Sepertinya itu terhubung ke dalam kubah! Seru Alesse. Akhirnya ia membawa Levy masuk ke dalam lubang itu.
Setelah menelusuri beberapa menit dari lubang itu, pemandangan yang sangat luar biasa pun terlihat.
Ternyata lubang tersebut terhubung pada sebuah air terjun di dinding kubah. Di dalamnya juga terdapat banyak tumbuhan, lebih tepatnya seperti hutan. Di sisi lain ada sebuah ladang pertanian dan peternakan, tampak rumah-rumah berjajar rapi di bawah sana.
"Ini benar-benar luar biasa! Gimana caranya mereka hidup di tempat seperti ini? Lihatlah pemandangan indah ini! Seperti sebuah kota yang telah lama hilang!" seru Alesse.
Ia pun menurunkan Levy ke hamparan rumput. "Apakah aman untuk keluar dari Levy?" tanya Alesse. "Tekanan di bawah sini hampir dama seperti di permukaan," ujar Jawara.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Alesse pun keluar dari Levy dan membaringkan diri di padang rumput itu. Levy pun berubah menjadi Jawara.
"Di sini sangat menyegarkan! Lihatlah Cahaya yang ada di atas itu! Kenapa bisa ada matahari di dalam kubah es ini? Benar-benar misterius!" seru Alesse.
Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka berdua. "Kalian siapa? Pakaian kalian sangat asing!" ujar orang itu.
Alesse merasa aneh dengan penampilan orang itu, telinganya menyirip seperti ikan sedangkan kedua tangan dan kakinya berselaput. Alesse terus mengamatinya karena penasaran.
"Tubuh kalian sangat berbeda dengan manusia lainnya!" ujar Alesse. "Kukira apa, kami hidup di bawah sini karena ancaman yang datang dari Warden," ujar orang mirip ikan itu.
"Warden? Siapa itu?" tanya Alesse penasaran. "Seorang Elementalist yang bisa mengendalikan enam Elemental. Kenapa kau bertanya? Kukira semua orang tahu tentang itu, aneh sekali! Sama anehnya dengan pakaian kalian!" ujar orang itu.
"Seorang Elementalist yang bisa mengendalikan enam Elemental? Terdengar seperti Raya Stephen," ujar Alesse.
"Kalian kenal Raya Stephen?" tanya orang itu. "Eh? Tunggu dulu! Kau bisa mengerti apa yang aku bicarakan? Padahal aku sedang berbicara pada Jawara loh," ujar Alesse keheranan.
"Bahasa yang ia gunakan sama seperti kita, Alesse!" ujar Jawara. "Oh, begitu rupanya! Jadi, Raya Stephen ini adalah Warden? Dan ia mengancam kalian?" tanya Alesse.
"Bukan begitu! Raya Stephen bukanlah Warden, tapi Dark Warden, ia berada di pihak kami," ujar orang itu. "Kenapa Dark Warden malah terdengar baik, sedangkan Warden terdengar buruk?" tanya Alesse keheranan.
"Sebenarnya itu terjadi dua puluh tahun yang lalu, karena banyak manusia iblis yang menjadi iblis liar dan merusak lingkungan hidup, Warden memutuskan untuk membantai mereka semua agar yang tersisa di Atlane ini hanyalah manusia biasa," ujar orang itu.
"Hmm! Terdengar tidak adil sekali! Itu benar-benar keuntungan sepihak saja! Ngomong-ngomong, Atlane itu apa?" tanya Alesse.
"Atlane itu ini! Tempat yang sekarang kau injak, dunia ini maksudku," ujar orang itu. "Maksudnya mungkin seperti planet kita, Alesse. Seperti kita menyebut Bumi," ujar Jawara.
"Nah, oleh karena itu kami bersembunyi di sini, dengan bantuan Raya Stephen dan Chron Kaa," ujar orang itu.
"Lalu gimana dengan Warden itu? Apakah ia masih ada di dunia ini?" tanya Alesse. "Entahlah, ia bertarung dengan sengit melawan Raya Stephen. Aku tidak mengetahui kabar mereka berdua sejak tujuh belas tahun yang lalu," ujar orang itu.
"Hmm? Tujuh belas tahun yang lalu? Kupikir itu adalah pertama kalinya para Elementalist di bumi, sepertinya penyebab kemunculan mereka adalah pertarungan dari Raya Stephen dan Warden!" Alesse menyimpulkan.
"Bukankah kau masih muda? Jika kau kenal dengan Raya Stephen, berarti.... apakah ia masih hidup? Apakah ia baik-baik saja?" tanya orang itu.
"Dia baik-baik saja di bumi, tempat kami tinggal," ujar Alesse. "Bumi? Aku belum pernah mendengar nama dunia itu," ujar orang itu.
"Loh? Jadi maksudmu ada dunia lagi selain Atlane?" tanya Alesse penasaran. "Tentu saja! Ada Nova, Mehy, Abyss, Sheng Dao, Gordon, dan Eva," ujar orang itu.
"Tunggu dulu! Ada Abyss juga?" tanya Alesse. "Benar, Abyss! Dunia dengan langit tanpa siang," ujar orang itu.
"Kita pergi ke pemukiman dulu saja, jika terus berdiri di sini, kalian akan lelah! Perkenalkan juga, namaku As," ujar orang itu. Ia mengajak mereka berdua ke rumah penduduk.
__ADS_1