
Malam pun tiba, Aqua tampak bingung hendak meletakkan busurnya di mana. "Ada apa lagi Alesse... Eh, Aqua!" ujar Sandy, ia belum terbiasa memanggilnya seperti itu.
"Aku tidak tahu harus meletakkan busur ini di mana, sangat mengganggu sekali meskipun ringan," ujar Aqua.
"Kau tidak bisa merubahnya? Alesse bisa merubah bentuk benda itu menjadi apa saja loh," ujar Sandy.
"Caranya seperti apa?" tanya Aqua. "Entahlah, meskipun ada yang bisa menjelaskan, aku tidak yakin kau langsung paham," ujar Sandy.
"Tinggal kau sampirkan di punggungmu, itu akan terus melekat di sana, kau tidak perlu khawatir," ujar Jawara.
"Bukankah seharusnya kau bisa mengakses benda itu, Jawara?" tanya Sanay. "Tentu saja tidak, benda itu tidak terkait denganku tanpa persetujuan Alesse. Di tangan orang lain, benda itu hanyalah tongkat biasa. Hanya administrator yang bisa mengubah bentuknya," ujar Jawara.
"Dan sekarang administratornya sedang mengalami gangguan kejiwaan, kau tidak memberikn toleransi?" tanya Salsha keheranan.
"Tentu saja tidak, benda ini tidak akan menoleransi keadaan apapun, bahkan ketika administratornya sudah meninggal," ujar Jawara.
"Wah, kalau begitu kau tidak akan berguna sama sekali sepeninggalan Alesse, bahkan sekarang pun tampak tidak berguna saat ia kehilangan ingatannya," ujar Salsha.
"Aku bisa mendapatkan administrator baru setelah tidak terpakai selama beberapa waktu," ujar Jawara.
"Berapa lama?" tanya Sanay. "Seratus tahun, atau sesuai ketentuan dari Administrator sebelumnya. Bahkan kepemilikan bisa dialihkan ketika administrator lama masih hidup dan menyepakatinya," jawab Jawara singkat. "Hmm, kalau begitu suruh Aqua mengalihkan administratornya," ujar Salsha.
"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Apa itu administrator? Apa maksudnya mengalihkan?" tanya Aqua.
"Bicara dengannya benar-benar melelahkan," ujar Salsha. "Sudahlah, kita bisa terus berjalan kaki ke tempat Atlas! Sekarang waktunya tidur, kalian akan melakukan perjalanan berat besok," ujar Kaa.
Aqua mencoba melakukan sesuatu dengan genangan air yang ada di hadapannya. "Kau sedang apa?" tanya Sandy. "Hmm! Aneh sekali! Aku tidak bisa mengendalikan air ini," ujar Aqua sambil berkali-kali mengayunkan tangannya.
"Memangnya kau pengendali air?" tanya Sandy. "Tentu saja! Kau tidak lihat bagaimana aku membekukan orang-orang di benteng tadi?" tanya Aqua.
"Tentu saja aku melihatnya, itu luar biasa! Tapi yang membuatnya beku bukanlah kau, melainkan busur es itu," ujar Sandy.
"Benarkah? Benda ajaib ini bisa melakukannya?" tanya Aqua. "Itu bukan benda ajaib, menurut Alesse itu hanyalah teknologi biasa, sama sekali tidak ada unsur supranatural di dalamnya," ujar Sandy.
"Pantas saja bentuk es yang keluar terlihat seperti bunga, sangat tidak sesuai dengan seleraku," ujar Aqua.
"Menurutku itu cocok saja untukmu. Membayangkan ada bunga es yang tertanam di helaian rambutmu juga akan tampak lebih indah," ujar Sandy, ia tampak seperti orang yang kehilangan kesadaran, ia terus menyudutkan Aqua dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
Aqua sudah biasa mendapati tatapan seperti itu dari ayahnya, bahkan dari orang-orang di lingkungan hidupnya. Ia memiliki sebuah kutukan yang dapat memikat siapa saja, apalagi ketika rambutnya tersingkap dari jubah birunya.
Selagi menyudutkan Aqua, Sandy langsung menyingkap rambut biru itu dari jubahnya, ia semakin terpana.
"Apa yang kau lakukan Sandy?" tanya Salsha keheranan, ia langsung menghampiri Aqua lalu menutup rambut Aqua dengan jubah birunya.
"Eh? Loh? Apa yang barusan kulakukan?" Sandy tampak kebingungan, ia sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba tertarik dengan Aqua.
"Jangan dekat-dekat dengannya lagi!" ujar Salsha kemudian menarik lengan Sandy agar menjauh dari Aqua.
Setelah yang lainnya beristirahat, Aqua masih terjaga, ia masih waspada barang kali ada orang yang tiba-tiba menyudutkannya seperti yang dilakukan Sandy.
Saat itulah ia mendapati Salsha belum tidur juga. Ia pun menghampiri gadis itu. "Sepertinya kau sangat paham sekali tindakan yang harus dilakukan saat menghadapiku," ujar Aqua.
"Itu karena keluargaku juga mengalami hal yang sama. Kami tidak pernah terbuka dengan orang asing, kami jarang tersenyum di hadapan mereka. Sekali mereka melihat kami, mereka langsung terpikat, entah pria ataupun wanita," ujar Salsha.
"Bohong! Aku melihatmu tersenyum di hadapan teman-temanmu tadi," ujar Aqua. "Itu karena mereka bukanlah orang asing. Normalnya orang yang baru pertama kali bertemu akan terpikat dengan rambut dan mata biru ini. Oleh karena itu aku belum tidur juga. Aku tidak bisa menjamin orang-orang asing yang kita selamatkan itu akan diam saja karena aku sempat tersenyum tadi," ujar Salsha.
Aqua pun mulai menguap, ia sudah mengantuk. "Apakah kau masih kuat berjaga?" tanya Aqua. "Mungkin sekitar sejam atau dua jam lagi," ujar Salsha. "Baiklah, kalau kau sudah mengantuk, bangunkan aku. Aku ingin tidur sekarang, kuharap tidak ada yang berani mendekatiku jika kau masih bangun," ujar Aqua.
"Kenapa kau tidak minta Sandy saja untuk berjaga? Sepertinya ia dapat bertahan sampai pagi," ujar Salsha.
"Baiklah, tidurlah terlebih dahulu, nanti kita bergilir," ujar Salsha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari pun tiba, Salsha dan Aqua tampak pucat, mereka berdua kurang tidur semalaman. "Eh? Ada apa ini? Kenapa Salsha dan Al..... Aqua seperti mayat hidup?" tanya Sanay keheranan.
"Bukan apa-apa, aku hanya berusaha waspada dari serangan hewan buas," ujar Aqua sambil melirik Sandy. "Eh? Apaan? Kenapa kau melihatku?" tanya Sandy kebingungan.
"Bukan apa-apa," ujar Aqua. Salsha yang tampak kepayahan pun tidak sengaja melihat Jawara.
"Sepertinya kita terlalu bodoh! Bukankah kita bisa menyuruh robot itu untuk menjaga kita?" ujar Salsha sambil menepuk jidat. "Robot? Apa itu?" tanya Aqua.
"Tidak, bukan apa-apa. Sepertinya aku sendiri yang bodoh karena tidak menyadari keberadaan Jawara," ujar Salsha.
Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di tepi sungai besar.
__ADS_1
"Kita tidak mungkin menyeberangi ini, sepertinya tampak dalam," ujar Sanay. Salsha pun mencoba mendekati permukaan air. Ia berusaha mengayunkan tangannya sekuat tenaga, berharap air sungai itu membelah jadi dua.
Sayangnya ia hanya bisa membuat ombak kecil tak berarti di tengah-tengah arus sungai. "Sepertinya tidak terlalu kuat, gimana kalau menggunakan busur esmu, Aqua? Bukankah itu bisa membekukan air ini?" tanya Sanay.
"Itu tidak mungkin! Sungai ini akan terbendung hanya dengan satu anak panah saja, itu bisa mengakibatkan aliran baru yang memperburuk keadaan penduduk sekitar yang memberdayakan sungai ini," ujar Aqua.
Orang-orang terdiam saat ia menjelaskan. "Ada apa? Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Aqua keheranan.
"Bukan apa-apa, aku jadi teringat Alesse yang suka menjelaskan panjang lebar suatu hal meskipun ia malas melakukannya. Ekspresinya sama sepertimu tadi," ujar Sandy.
Pada akhirnya dua setengah hari sudah berlalu, namun mereka tak kunjung sampai ke tempat Atlas. Karena kelelahan, mereka tidak bisa mengeluhkan hal itu, mereka memilih untuk tidur.
Keesokan harinya Sandy kebingungan menengok ke sana kemari. "Di mana si anak berambut biru itu?" tanya Sandy keheranan. "Aku juga berambut biru, bodoh! Kenapa dari semua kata, kau lebih memilih menyebutnya rambut biru? Jangan-jangan kau tertarik padanya?" tanya Salsha.
"Eh! Mana mungkin! Dia laki-laki! Untuk apa aku tertarik padanya?" tanya Sandy keheranan. "Kau terlihat begitu," ujar Salsha sebal. "Kau sedang membenciku? Apa-apaan tatapanmu itu?" tanya Sandy keheranan. "Bukan apa-apa," ujar Salsha sambil membuang muka, membuat Sandy terpuruk.
"Pagi-pagi kalian meributkan apa sih?" tanya salah seorang anak. "Aqua! Eh? Kemana rambut birumu?" tanya Sandy dengan wajah kecewa.
"Aqua? Aku Alesse, bukan Aqua," ujar anak itu. "Alesse? Akhirnya kau kembali normal!" seru Sanay sambil memeluknya.
"Kalian ini kenapa? Seperti lihat orang baru saja. Ngomong-ngomong ini di mana? Kenapa aku sudah berada di sini?" tanya Alesse.
"Kau benar-benar tidak ingat apa yang terjadi selama dua setengah hari ini?" tanya Sandy. "Memangnya ada apa?" tanya Alesse.
"Kau mengaku-ngaku sebagai orang lain, bahkan tidak ingat cara menggunakan teknologi kuark.... apalah itu, sehingga kami berjalan kaki dari benteng ke tempat Atlas selama dua setengah hari," keluh Salsha.
"Oh, jadi sudah setengah hari yah," ujar Alesse dengan wajah datarnya, ia tidak terkejut sama sekali.
"Tanggapan macam apa itu? Kita sudah menghabiskan waktu dua setengah hari untuk berjalan loh! Liburan kita tidak panjang!" Sandy menegaskan.
"Lalu? Kau hendak menyalahkanku karena kalian berjalan kaki selama dua setengah hari?" tanya Alesse dengan ekspresi datarnya.
"Dih? Kau ini kenapa lagi, Alesse? Bisa sedikit peka tidak sih?" tanya Salsha. "Lah? Memang apa salahku? Seingatku, aku hampir mati membeku loh! Tapi setelah berhasil bangun seperti ini, kalian malah menyalahkanku? Aneh sekali," ujar Alesse.
"Argh sudahlah! Kenapa terus mempermasalahkan ini?" ujar Sanay kesal. "Benar sekali, untuk apa membahas hal yang sudah berlalu? Tidak penting," ujar Alesse kemudian mengambil tongkat yang ada di punggungnya.
Seketika tongkat itu berubah menjadi Levy. "Ayo, semuanya silahkan naik!" seru Alesse. "Akhirnya! Kita tidak perlu susah payah berjalan lagi!" seru Kaa.
__ADS_1
"Sepertinya kau sangat suka sekali naik Levy," ujar Sandy. "Tentu saja, aku tidak pernah mengendarai benda aneh seperti itu," ujar Kaa. Setelah semuanya naik, Levy pun melesat dengan cepat ke tempat Atlas