Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Keluarga


__ADS_3

"Luar biasa sekali, Alex! Kau punya semangat yang sangat luar biasa! Aku tidak menyangka kau bisa sejauh ini!" seru Ray.


"Me.. meskipun begitu, aku tetap tidak bisa mengalahkanmu," ujar Alex kemudian merebahkan diri di tanah lapang.


"Hei, Ray.... gimana caranya kau bisa mengendalikan enam elemental? Aku penasaran! Apakah aku juga bisa?" tanya Alex.


"Tidak bisa, hanya dua orang di dunia ini yang memiliki keistimewaan itu," ujar Ray. "Heh? Jadi itu adalah keistimewaan tersendiri? Lalu siapa orang satunya?" tanya Alex.


"Entahlah, aku juga sedang mencarinya," ujar Ray. "Heh? Jadi kau juga belum tahu siapa? Lalu gimana kau bisa yakin kalau ada lagi orang yang sama sepertimu?" tanya Alex.


"Suatu saat nanti akan kuberi tahu, setidaknya kau harus berlatih hingga aku menganggapmu layak untuk diberitahu," ujar Ray.


"Heh? Harus begitu kah? Semakin membuatku penasaran saja," ujar Alex. "Makanya berlatih lebih giat lagi!" ujar Ray sambil meninju lengan Alex. Mereka berdua pun tertawa sambil menatap langit.


"Kau tidak rindu dengan keluargamu?" tanya Ray. "Sebenarnya aku sangat-sangat rindu dengan mereka," ujar Alex. "Kenapa tidak hubungi saja? Bukankah kau punya ponsel?" tanya Ray.


"Iya, aku punya, tapi aku tidak tahu nomor orang tuaku, aku tidak bisa menghubungi mereka, tapi...." Alex agak ragu.


"Tapi kenapa?" tanya Ray. "Aku ada nomor kakakku. Tapi aku tidak berani menelponnya," ujar Alex. "Loh? Kenapa? Memangnya ia sangat mengerikan? Bukankah ia hanya anak kecil yang berusia dua tahun lebih tua darimu?" tanya Ray keheranan.


"Bukan begitu! Masalahnya adalah..... Argh! Aku bingung seperti apa menjelaskannya!" ujar Alex kesal.


"Kalau begitu tinggal telpon saja," ujar Ray sambil merogoh saku Alex lalu mencari kontaknya.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" Alex panik. "Maaf sudah kutelpon," ujar Ray. "Halo? Alex? Itukah kau? Ada apa menelpon? Ada suatu hal penting yang ingin dibicarakan?" tanya Alesse dalam telepon itu. Seketika suasana menjadi hening, bahkan Ray yang sejak tadi sangat enerjik menjadi terdiam mendengar perkataan itu.


"Ehm, ti... tidak ada apa-apa, Alesse! Maaf mengganggu," ujar Alex kemudian menutup panggilan.


"Manusia tak berhati itu adalah kakakmu? Bagaimana dia bisa bicara begitu padahal adiknya belum pernah menelponnya sekali pun?" Ray tidak percaya.


"Kau tidak mengerti apa-apa tentang kakakku," ujar Alex, ia juga tampak terpuruk setelah mendengar perkataan itu dari Alesse.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aneh sekali! Dia menelpon tapi tidak ada apa-apa?" ujar Alesse keheranan. "Siapa?" tanya Sanay.


"Alex, ia barusan menelponku tapi tiba-tiba langsung mematikannya," ujar Alesse. "Heh? Aneh sekali! Apakah dia sering menelponmu?" tanya Salsha.


"Tidak, ini pertama kalinya ia menelpon," ujar Alesse dengan wajah polosnya. "Apa yang kau katakan padanya Alesse?" tanya Salsha.


"Aku hanya tanya, kenapa ia menelpon," ujar Alesse. "Ya ampun! Pantas saja! Sudah jelas kalau dia rindu denganmu! Dengan keluargamu juga tentunya!" ujar Sandy.

__ADS_1


"Kejam sekali kau bertanya seperti itu padanya, Alesse! Setidaknya biarkan dia berbicara sendiri tanpa kau tanya alasannya menelpon!" ujar Salsha sambil menepuk jidat.


"Aku merasa kasihan pada Alex. Sebaiknya kau meminta maaf saat ia menelpon lagi," ujar Sandy. "Alesse memang benar-benar aneh!" ujar Salsha.


Alesse masih tidak mengerti maksud dari mereka. Ia hanya bisa membaca isi pikiran mereka yang menuduhnya sebagai orang yang buruk.


Setelah teman-temannya pergi, Alesse terdiam sejenak di meja kerjanya. "Hmm! Jawara, menurutmu apa yang salah dariku?" tanya Alesse. "Aku tidak mengerti apa yang kau tanyakan, kau hanya duduk dengan menopang dagu. Kesalahan yang kutangkap adalah dudukmu sangat tidak bagus, jika terlalu sering duduk seperti itu, pinggangmu akan miring. Kau tidak bisa menghadap lurus dengan baik, saat kedua kakimu sempurna menghadap ke depan, tubuh bagian atasmu condong menghadap serong ke kanan," ujar Jawara.


"Bukan itu maksudku! Tentang yang mereka katakan, mereka mengatakan bahwa aku aneh dan kejam. Memangnya apa salahku?" tanya Alesse. Jawara terdiam seperti benda yang rusak secara tiba-tiba.


"Jawara? Jawara? Kau kenapa?" tanya Alesse keheranan. "Aku sudah menemukan jawabannya! Seseorang yang dekat dan saling mencintai, jika terpisahkan, mereka akan merasa rindu, sewajarnya salah satu dari mereka akan memulai komunikasi jarak jauh dan menyatakan betapa rindunya mereka. Sedangkan kau malah menanyakan alasan dia menelpon, seolah kau sendiri tidak menganggapnya siapapun," ujar Jawara.


"Jadi begitu? Ada kesalahpahaman yah? Pantas saja Sandy menyuruhku untuk meminta maaf. Baiklah! Pikiran yang menggangguku telah lenyap!" ujar Alesse.


"Bukankah seharusnya kau lebih tahu hal ini?" tanya Jawara. "Aku tidak pernah membuktikan pengetahuan psikologi dan antropologi secara nyata. Aku juga tidak punya objek untuk melakukan uji coba itu jadi aku abaikan hingga sekarang," ujar Alesse.


"Kau harus mempertimbangkan itu baik-baik. Ilmu tentang itu juga penting karena kau hidup berdampingan dengan manusia," ujar Jawara.


"Sepertinya aku sangat bodoh ya, bahkan sampai robot harus menasehatiku," ujar Alesse tertawa.


"Aku hanya menyampaikan yang disarankan orang-orang lewat sosial media," ujar Jawara. "Ya! Ya! Ya! Terserah kau dah," ujar Alesse. Akhirnya ia pergi ke atas, untuk makan malam bersama kedua orangtuanya.


Sepertinya sudah lama ia tidak memperhatikan kedua orang tuanya. Wajah mereka semakin keriput, bahkan mata ayahnya sudah semakin layu.


"Ada apa ayah? Sepertinya ayah kurang sehat," ujar Alesse. Mendengar Alesse bertanya seperti itu, tiba-tiba mata Hendra langsung berkaca-kaca. Ia langsung menghampiri Alesse dan memeluknya.


"Ayah tidak apa-apa kok nak, hanya saja.....hanya saja...." Hendra terisak. "Ada apa ayah?" Alesse mencoba menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya.


"Kami.... kami sangat merindukan Alex. Entah sudah berapa lama kami tidak mendengar kabar darinya," ujar Hendra."Oh? Alex? Tadi ia baru saja menelpon kok," ujar Alesse.


"Menelpon ke mana?" tanya Hendra. "Aduh gawat! Karena perhitunganku sudah benar, aku malah keceplosan!" pikir Alesse dalam hati.


"Ayah, ibu, sebenarnya aku sudah punya ponsel sendiri," ujar Alesse sambil menunjukkan ponselnya.


"Ponsel apa ini? Ayah tidak pernah lihat," ujar Hendra. "Yeah, pokoknya ponsel! Intinya tadi Alex baru saja menelponku. Kalian ingin mencoba menelponnya juga?" tanya Alesse.


"Benarkah? Kita bisa melakukan hal itu?" tanya Andin. "Tentu saja," ujar Alesse.


"Sebentar, biar coba kuhubungi," ujar Alesse, ia pun pergi dari ruang makan.


******

__ADS_1


Alex terus melamun karena hal tadi, bahkan Ray sampai terus menemaninya karena ia tak kunjung membaik. "Alex, maafkan aku! Ini salahku karena menelponnya! Sebaiknya tidak usah pikirkan hal itu!" ujar Ray.


Alex tetap terdiam, entah ia sedang memikirkan apa. "Kau belum makan! Apakah harus kupanggilkan Tesla?" tanya Ray. Alex tetap terdiam. "Kalau begitu aku akan panggil Tesla ke sini," ujar Ray kemudian pergi ke luar lewat jendela.


Alex terus menatap dinding kosong, ia juga baru sadar bahwa ia tidak memiliki foto keluarga kecuali foto Alesse seorang.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, awalnya ia mengabaikannya. Ponsel itu terus berdering hingga membuatnya beranjak lalu menjawabnya.


"Halo? Alex? Ini benar kau kan?" tanya Alesse dalam panggilan itu. Alex tidak menjawab, ia hanya sekedar meletakkan ponselnya di dekat telinga lalu membuka mulut.


"Alex, aku minta maaf soal tadi. Aku terbiasa menanyakan alasan seseorang menelpon. Aku minta maaf," ujar Alesse dalam telepon itu.


Mendengar perkataan itu, Alex merasa lega, ia hampir menangis saat mendengar suara kakaknya lagi.


"Apakah kau baik-baik saja di sana?" tanya Alesse. "A... aku.. aku baik! Aku baik-baik saja!" ujar Alex dengan suara patah-patah, ia tidak bisa menahan tangisnya hingga suaranya terdengar nyaring.


"Heh? Barusan aku mendengar suara pria menangis? Apakah ini Alex yang kukenal?" Alesse mencoba membuat candaan.


"Tidak, aku tidak menangis!" ujar Alex, namun suaranya serak sehingga ia tidak bisa menyembunyikan tangisnya. "Ayah dan ibu bilang, mereka sangat merindukanmu. Aku akan membawakan ini pada mereka. Bisakah kau nyalakan kamera depan di ponselmu?" tanya Alesse.


"Ba... baiklah!" ujar Alex, ia segera mengusap air matanya. Akhirnya Hendra dan Andin pun mulai terlihat di layar ponsel Alex.


"Ayah, ibu! Gimana kabar kalian?" tanya Alex. "Kami baik-baik saja!" ujar Andin. "Wah! Anakku sudah dewasa yah! Badanmu besar sekali nak!" ujar Hendra. Alex tidak bisa menyembunyikan tangisnya. Melihat wajah kedua orangtuanya yang semakin berkeriput, membuatnya sedih.


"Gimana dengan Alesse? Aku belum melihat wajahnya tadi," ujar Alex. "Ini dia Alesse! Ia masih imut seperti biasanya!" ujar Hendra sambil mencubit kedua pipi Alesse.


"Sering Seringlah menghubungi kami! Agar kami tidak khawatir!" ujar Andin. "Baiklah, tapi aku tidak tahu kapan Alesse tidak sibuk, ini juga aku menelpon ponsel miliknya," ujar Alex.


"Lalu, kau dapat ponsel dari mana?" tanya Hendra. "Oh? Ini? Ini... pemberian seseorang," ujar Alex. Alesse sudah dari lama untuk tidak memberitahukannya.


"Baiklah, aku sudahi dulu yah, temanku ada yang datang," ujar Alex. "Baiklah!" ujar Andin. Akhirnya panggilan berakhir.


"Jadi? Ponsel itu dapat dari mana?" tanya Hendra. "Oh? Ini? Paman Irawan yang memberikannya," ujar Alesse.


"Heh? Kami kira kau sudah tidak berhubungan dengannya lagi," ujar Hendra terkejut. "Hmm, sebenarnya aku sempat datang menjenguk rumahnya beberapa bulan yang lalu, ia sedang sakit saat itu.


"Eh? Beberapa bulan yang lalu? Jadi kau hanya menjenguk beberapa kali saja?" tanya Andin. "Yeah, begitulah," Alesse kemudian lari ke kamar, ia tidak ingin menjawab pertanyaan lagi. Andin dan Hendra hanya bisa saling tatap melihat tingkahnya itu.


Alesse pun merebahkan diri di kamar, ia mencoba mengingat wajah Alex yang tampak sudah dewasa itu, saat itu ia ikut bahagia. Sayangnya ada satu hal yang terus mengganjal di pikirannya.


Ia beranjak dari kasurnya lalu menatap ke cermin. "Sampai kapan wajahku akan terus seperti ini? Awet muda pun tak masalah, aku juga tidak keberatan dengan wajah yang kekanak-kanakan ini, tapi bukankah ini tetap aneh? Aku bisa membaca pikiran orang lain, tubuhku awet muda bahkan tidak pernah tumbuh. Sebenarnya aku ini apa? Elementalist seperti Alex kah? Tidak! Tidak! Apakah aku ini manusia? Kenapa aku susah sekali mengerti ucapan orang-orang? Terkadang aku juga susah memahami perasaan mereka, seolah..... aku ini memang bukanlah makhluk yang sama," pikir Alesse dalam hati.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya berdering. "Apakah Alex menelpon lagi?" Alesse pun memeriksa ponselnya. Peta dari buku kusam itu menunjukkan sebuah titik merah pada sungai.


"Tempat ini? Bukankah ini....." Alesse menjatuhkan ponselnya. Ingatannya perlahan muncul. Ia ingat pernah mengikuti belalang raksasa hingga hanyut ke dalam sungai itu, namun hanya sebatas itu saja yang dia ingat.


__ADS_2