
Keesokan harinya Alesse mencoba membidik sesuatu di tanah lapang dengan busur esnya. "Ini sangat susah sekali! Gimana caranya benda ini memunculkan anak panah sendiri?" tanya Alesse.
"Ini agak rumit, menarik semua udara yang ada di sekitar untuk mengumpulkan butiran air, lalu membentuknya menjadi anak panah dengan suhu yang sangat rendah! Ini bisa mempengaruhi benda yang terkena anak panah ini, bisa membuat mereka semua membeku seketika," ujar Jawara.
"Mengerikan sekali, mungkin dulu aku terjebak dalam bongkahan es karena mekanisme yang sama dengan busur es ini," ujar Alesse.
Ia pun membuka ponselnya lalu mendesain ulang bentuk busur es itu. "Apa yang kau perbuat, Alesse?" tanya Jawara. "Sepertinya hari-harimu dipenuhi pertanyaan. Memangnya penting?" Alesse balik bertanya.
"Aku harus menulis jurnal harian dari aktivitasmu, selain meniru bentuk fisikmu, aku juga berharap bisa mempelajari jalan pikiranmu juga," ujar Jawara.
"Baiklah, aku hendak memperbaiki bentuk busur ini. Aku harus mengatur kerapatan, kelenturan dan efisiensi gaya pegas yang dihasilkan. Jika sudah kusesuaikan itu semua, aku bisa memperkirakan jatuhnya anak panah dengan parameter gaya tarik yang diberikan," ujar Alesse.
Setelah desain itu selesai, ia mencoba untuk menerapkannya. Sebuah busur es yang dimodifikasi pun jadi, ia segera menariknya perlahan dan membidik ke sasaran.
Anak panah pun mulai muncul seperti benang yang dipintal. Saat ia melepaskan tali busrnya, anak panah itu melesat dengan halus ke arah sasaran, membentuk bunga es yang sangat indah.
"Wah, cantik sekali!" Suara Sandy terdengar dari kejauhan, Alesse pun langsung menengok ke sumber suara. Ia langsung tersentak saat matanya bertatapan langsung dengan mata Salsha, begitu pula dengan Salsha, ia mengalami hal yang sama.
"Dih, apaan itu?" tanya Alesse keheranan. "Aku juga heran, padahal beberapa hari ini tekanan darahmu mengalami penurunan, namun beberapa detik yang lalu detak jantungmu sempat memberikan tekanan yang tertinggi dalam sedetik," ujar Jawara.
Salsha pun menghampiri Alesse dengan wajah datarnya. "Alesse! Kau....." Salsha semakin dekat dengannya.
"Ada apa Salsha? Kau aneh sekali!" ujar Sandy. "Alesse, kau...... pengendali air!" ujar Salsha.
"Hah? Kau ngigau apa sih?" tanya Alesse keheranan. "Mata dan rambut itu!" Salsha langsung menyingkap jubah biru yang menutupi kepala Alesse.
"Hei, Salsha! Apa yang aku lakukan?" Sandy semakin heran. Seketika wajah Alesse pun terlihat jelas di hadapan teman-temannya.
__ADS_1
"Wah, cantik sekali!" ujar Sandy dan Sanay serentak setelah melihat rambut biru Alesse yang terurai di udara. Meskipun begitu, perhatian mereka tertuju pada satu hal, yaitu mata birunya yang mirip dengan Salsha.
"Ke.... kenapa penampilanmu seperti itu Alesse?" Sandy terkejut, ia tidak bisa berhenti menatapnya. "Cih!" Salsha tampak sebal sambil menatap Sandy dengan wajah sinisnya. "Eh, bukan begitu kok! Aku tidak tertarik pada Alesse, santai saja!" ujar Sandy gagap.
"Kenapa mata dan rambutmu berwarna biru Alesse?" tanya Sanay keheranan. "Tentu saja karena dia mewarnainya. Aku juga tidak paham dengan hobi barunya itu. Kemarin ia berpenampilan sangat tampan sekali dengan rambut dan mata berwarna merah, selain itu ia juga memakai celana pendek," ujar Sandy.
"Eh, serius? Seorang Alesse? Memakai celana pendek?" Sanay tidak percaya. "Argh! Sayang sekali aku tidak mengambil gambarnya," ujar Sandy.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, yang jelas aku bukan pengendali air, Salsha. Es yang muncul tadi berasal dari busur ini," ujar Alesse.
"Wah, sepertinya kalian semua sudah berkumpul di sini!" seru Kaa. "Kenapa ada unggas di sini?" tanya Alesse keheranan. "Hei, kejam sekali! Aku bukan unggas!" Kaa membantah.
"Jadi, apa yang kau inginkan dari kami hingga menyuruh kami berkumpul di sini?" tanya Sandy.
"Aku ingin kalian memberantas para pengikut Warden sebelumnya. Akhir-akhir ini mereka sering membuat keributan di berbagai dunia. Bahkan pembantaian terhadap manusia iblis tidak jarang terjadi. Terkhusus kau, Sandy! Kau tidak akan membiarkan kaummu tertindas seperti itu kan?" tanya Kaa.
"Kenapa kau ragu-ragu? Contoh manusia iblis yang ada di sini adalah Ray dan aku, bukankah kami tampak seperti manusia biasa? Mereka semua yang terbantai juga seperti itu! Wanita, anak-anak, dan orang-orang lemah. Para pengikut Warden itu membantai mereka semua tanpa pandang bulu," ujar Kaa. Menceritakan hal itu membuat dirinya sendiri mengeluarkan aura gelap. Sandy bahkan ikut terpancing oleh perkataannya, ia juga mengeluarkan aura gelap yang membuat tanduknya muncul.
"Sandy? Kau baik-baik saja?" tanya Salsha. "Gimana bisa aku baik-baik saja saat mendengar saudara-saudaraku terbantai seperti itu aku tidak bisa diam saja," ujar Sandy.
"Eh, saudara?" Sanay keheranan. "Manusia iblis itu memiliki hubungan yang sangat erat, mereka tidak mudah mengkhianati pihak mereka, namun karena hal ini kebanyakan mereka dijadikan sebagai budak. Meskipun manusia iblis lebih kuat daripada manusia biasa, mereka dipandang layaknya budak bagi manusia biasa di dunia lain," ujar Kaa.
"Kejam sekali!" ujar Salsha. "Oleh karena itu aku meminta kalian untuk menyelesaikan masalah ini, kita tidak bisa mengandalkan Ray seorang," ujar Kaa.
"Tapi kenapa dari semua orang, kau malah memilih kami? Bukankah kami ini sangat lemah?" tanya Sanay.
"Kalian lemah karena berada di bumi ini, tapi kekuatan kalian akan berbeda jika berada di dunia lainnya, dan satu hal lagi, aku dapat memastikan bahwa tidak ada yang berkhianat dari kalian berempat, tidak seperti manusia biasa lainnya," ujar Kaa.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kau tidak mencari dari manusia iblis saja? Bukankah kau bilang mereka tidak mudah berkhianat? Kau bisa mendapatkan lebih banyak orang," ujar Alesse.
"Manusia iblis akan berubah menjadi iblis seutuhnya saat emosi mereka tidak stabil, aku tidak bisa mengandalkan mereka semua, tidak seperti Sandy yang bisa meredam emosi dan kembali menjadi manusia, mereka akan menjadi iblis dan tidak akan kembali menjadi manusia lagi," ujar Kaa.
"Jika tidak bisa berubah menjadi manusia lagi, berarti hidup mereka sudah tidak tertolong lagi? Seperti Iblis-iblis yang kita bunuh saat berada di antah berantah?" tanya Sandy dengan wajah pucat, ia benar-benar merasa bersalah setelah membunuh para iblis itu.
"Kau hanya kurang berusaha saja! Seharusnya kau lebih berusaha mencari cara agar Iblis itu bisa kembali menjadi manusia! Untuk apa hidup selama ribuan tahun?" tanya Alesse.
"Yeah, itu adalah salah satu aib Chron, tidak ada yang bisa kami lakukan sekarang karena kami berpecah belah, bahkan untuk mencari seorang Chron yang meninggal aku sampai butuh tujuh tahun lamanya," ujar Kaa.
"Jadi... kau sudah menemukan orang yang mati terjebak dalam es itu?" tanya Sandy. "Mati terjebak es? Apakah gadis yang ada di Abyss itu?" tanya Alesse.
"Bukan, yang jelas aku sudah memastikan bahwa Chron yang terjebak dalam es itu sudah mati," ujar Kaa.
"Tapi, meskipun kau bisa mengajak siapapun, kami memiliki orang tua di sini, kami juga harus bersekolah, melanjutkan rutinitas kami," ujar Alesse.
"Aku hanya meminta kalian pada liburan ini saja, masih ada waktu tiga pekan, kurasa cukup untuk meredakan kericuhan," ujar Kaa.
"Itu mustahil! Aku bahkan menghabiskan waktu setahun untuk mencari-cari gerbang penghubung dunia lain," ujar Alesse.
"Tidak perlu kalian cari, gerbang itu sudah ada di hadapan kalian. Aku adalah Chron dengan kemampuan membuka gerbang antar dunia," ujar Kaa.
"Apakah semua Chron seperti ini? Luar biasa sekali!" ujar Sandy. "Bukankah sudah kujelaskan, di antara kami ada yang bisa kembali ke masa lalu! Bahkan ada yang bisa membaca pikiran orang lain" ujar Kaa sambil melirik Alesse, itu seperti sebuah ancaman baginya.
"Baiklah, aku tidak keberatan pergi bersamamu," ujar Alesse. "Aku juga," ujar Sanay. Pada akhirnya Salsha juga ikut.
"Jadi kita akan pergi berkedok liburan lagi," ujar Sandy. Ia melakukan penipuan pada semua orang tua teman-temannya tentang pergi liburan.
__ADS_1