Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Antah berantah


__ADS_3

Keesokan harinya Alesse pergi sungai di dekat bukit Balai Hitam. Ia mendapati beberapa pembatas yang sudah koyak karena termakan usia. Saat itulah ingatannya perlahan kembali.


Ia ingat alasan ia mengikuti belalang itu hingga menyebrang sungai. Akhirnya ia mengulangi tindakannya yang dulu pernah ia lakukan. Ia mencoba menyebrang sungai, namun tidak terjadi apa-apa.


"Loh? Kenapa tidak ada apa-apa di sini?" Alesse keheranan. Ia mencoba lihat ke sisi kanannya dan mendapati bekas tumpukan batu. "Sepertinya bekas bendungan! Jawara, bisakah kau bendung lagi di bagian sini?" pinta Alesse. Akhirnya tongkat di punggungnya pun melayang ke dasar sungai dan membentuk sebuah sekat.


"Loh? Beton? Siapa yang memasang beton di sini?" Alesse keheranan, ia mencoba melihat logonya, ternyata dari kepolisian.


Karena penasaran, akhirnya ia pun menghancurkan beton itu dengan bor yang terbentuk dari Jawara.


"Apakah kau yakin akan menghancurkan itu? Bisa menyebabkan masalah loh!" ujar Jawara. "Tenang saja, setelah penasaranku hilang, aku akan kembali mengecornya," ujar Alesse.


"Aku tidak tahu durasi penasaranmu akan bertahan hingga berapa lama," ujar Jawara.


Belum sempat melihat apa yang ada di balik beton itu, tiba-tiba langit berubah redup seketika.


"Hei, Jawara! Bukankah ini aneh? Padahal aku ke sini sekitar pukul sembilan pagi, tapi kenapa sudah gelap? Atau hanya perasaanku saja?" Alesse keheranan.


"Sepertinya kita berpindah tempat secara paksa! Setelah kupindai dalam radius satu kilometer, kondisi geografis ini tidak cocok dengan koordinat manapun di bumi. Kita tidak lagi berada di bumi," ujar Jawara.


"Tidak berada di bumi? Ngomong-ngomong batu apa itu? Kok bisa bersinar seperti lampu," ujar Alesse. "Dari suhunya, mungkin itu adalah bongkahan es. Ada tubuh manusia di dalamnya," ujar Jawara.


"Tubuh manusia? Di dalam es? Itu seperti kejadian yang menimpaku dulu!" Alesse langsung menghampiri bongkahan es yang menyala itu.


Saat melihat wajah seorang gadis yang terbungkus di dalam es itu, ia pun mengingat sesuatu dan langsung menjaga jarak.


"Ada apa Alesse?" tanya Jawara. "Aku sedikit ingat kejadian sebelum aku koma. Entah jahat atau baik, gadis ini menusuk kedua telingaku dengan es runcing!" ujar Alesse.


"Ini sangat luar biasa! Meskipun ia terjebak dalam es itu, kondisi tubuhnya benar-benar baik! Seolah waktu terhenti di dalam bongkahan es itu! Ini seperti kapsul waktu," ujar Jawara.


"Sepertinya kita perlu pulang dulu untuk membuat persiapan! Kita akan mulai menjelajahi tempat aneh ini besok!" ujar Alesse. Ia pun mengajak Jawara kembali ke tempat asal.


"Gimana caranya kita kembali?" tanya Jawara. "Entahlah, seharusnya tadi kita muncul di sini! Mungkin di bagian bawah sini....." Alesse melihat tanah tempat ia berdiri. Seketika bayangannya muncul seolah ada genangan air di bawah sana. Secara tidak sadar, ia sudah berada di tengah-tengah sungai. Langit juga tampak terang benderang.

__ADS_1


"Akhirnya kita bisa kembali!" ujar Alesse kemudian pergi keluar dari sungai. Jawara tetap diam di tempat.


"Kau kenapa?" tanya Alesse keheranan. "Bukankah kau bilang akan menutup kembali beton yang kau rusak itu?" tanya Jawara.


"Argh! Kalau kututup sekarang, lalu besok gimana caranya aku pergi ke tempat itu? Aku akan menutupnya jika urusanku sudah selesai," ujar Alesse.


Mereka pun akhirnya pulang ke rumah dan menyiapkan berbagai rencana.


"Kau ingin aku membawa beberapa batang kayu? Untuk apa?" tanya Jawara. "Bukankah sudah jelas? Kita akan membuat base camp di sana, juga agar kita tidak kehilangan pintu masuk kita ke tempat aneh itu," ujar Alesse. Seharian itu mereka sibuk mempersiapkan barang-barang yang hendak dibawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hei Alesse! Hari ini kita akan melakukan apa? Ngomong-ngomong kenapa aku tidak merasakan kehidupan sama sekali darimu?" tanya Sandy.


"Dih! Tanganmu keras sekali! Kau bukan Alesse?" Sandy terkejut saat menyadari bahwa yang ia ajak bicara adalah bongkahan logam.


"Apa maksudmu? Dia bukan Alesse?" Salsha juga ikut terkejut. "Hmm! Sepertinya hari ini dia bolos sekolah!" ujar Sanay, ia sudah tahu kalau yang duduk di bangku Alesse adalah Probe.


"Probe, apa yang Alesse lakukan? Kenapa ia tidak berangkat ke sekolah?" tanya Sandy. "Rahasia," ujar Probe. "Aku bisa membobolnya loh, sebaiknya kau beritahu sebelum kuretas otakmu," ujar Sanay.


"Semakin lama semakin mengerikan saja anak itu!" ujar Salsha. "Sst! Ada Probe! Kalau dia mengadukanmu gimana?" Sandy memperingatkan.


"Tenang saja, aku diberi program untuk menjaga privasi kalian," ujar Probe. "Eh? Begitu kah? Entah kenapa aku malah menjadi merasa bersalah," ujar Salsha.


"Lagian kenapa anak itu masih sembunyi-sembunyi sih? Kita teman kan? Kenapa ia masih merahasiakan apa yang ia lakukan?" Salsha keheranan.


"Itu karena Alesse memiliki lebih dari satu kepribadian. Ada kalanya ia bersikap misterius, dingin, bersemangat, sensitif, dan bahkan mengalah serta peduli pada orang sekitarnya," ujar Sanay.


"Mengalah dan peduli? Memangnya ia terdengar seperti itu?" tanya Sandy. "Tentu saja, ia bahkan membiarkan kita terus mendekatinya. Dari awal ia adalah orang yang tidak tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Ia tidak mengerti cara membaca perasaan orang lain," ujar Sanay.


"Pantas saja ia mengatakan hal yang kejam saat Alex tiba-tiba menelponnya. Bahkan keluarganya sendiri yah?" Salsha mulai merenung.


"Kasihan sekali anak itu, meskipun jenius, tapi kekurangannya sangat memprihatinkan," ujar Sandy.

__ADS_1


"Kuharap ia bisa sembuh dari penyakitnya. Kepribadian ganda bukanlah hal yang sepele," ujar Sanay. Mereka bertiga akhirnya merenungkan nasib Alesse.


*******


"Akhirnya base camp kita sudah jadi! Mungkin kita bisa menjelajah sekitar karena hamparan tanahnya masih datar, belum ada pegunungan sejauh ini," ujar Alesse sambil melihat-lihat kondisi geologi dari layar tabletnya.


"Apakah kau akan menggunakan Levitate room?" tanya Jawara. "Tentu saja! Lebih nyaman mengendarai itu. Oh ya, untuk namanya, Levy saja agar tidak terlalu panjang," ujar Alesse.


Levitate room yang Alesse buat ini adalah sebuah kubus yang melayang di udara, itu adalah kendaraan ideal dengan dinding yang bisa berubah bentuk sesuai keadaan. Ia memilih desain seperti itu agar bisa santai saat mengemudikannya juga. Sesekali ia juga bisa membiarkan Jawara mengemudikannya secara otomatis.


Akhirnya Jawara berubah menjadi sebuah kubus besar, Alesse pun masuk ke dalamnya dan mulai menjelajah.


"Alesse, setelah kutelusuri, sebenarnya ada hal menarik dari gadis dalam es itu," ujar Jawara. "Ada apa?" tanya Alesse keheranan. "Cara kerja tubuhnya sama persis seperti tubuh Sandy. Ia tidak memerlukan cahaya matahari untuk hidup," ujar Jawara.


"Apa maksudmu? Tidak memerlukan cahaya matahari? Banyak orang yang hidup tanpa cahaya matahari kok, diam di dalam kamar pun tidak terkena cahaya matahari," ujar Alesse.


"Memang, tapi bagi manusia biasa hal itu menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan. Sedangkan tubuh gadis itu dan Sandy, memang dirancang tidak membutuhkan sinar matahari," ujar Jawara.


"Hmm! Jika tubuh mereka seperti itu, berarti di tempat ini memang tidak ada matahari! Tapi kenapa suhu di sini sangat normal?" tanya Alesse keheranan.


"Sirkulasi udara di sini terbalik dengan di bumi. Jadi, panas yang dihasilkan bukan dari atas, melainkan dari bawah," ujar Jawara.


"Meskipun begitu, langit di sini tidak gelap gulita, padahal tidak ada matahari," ujar Alesse. "Aku belum menemukan sumber dari cahaya redup itu, pemindaianku belum mencapai ketinggian maksimum," ujar Jawara.


Sepertinya untuk hari ini cukup sampai di sini dulu, sebaiknya kita pulang. Dari tadi tidak ada hal yang istimewa," ujar Alesse.


Mereka hendak kembali, namun Jawara mendeteksi sensor miliknya mengeluarkan sirine.


"Ada apa Jawara?" tanya Alesse. "Sepertinya aku menemukan jejak keberadaan manusia di sini. Beberapa bekas kotoran dan api unggun," ujar Jawara.


"Akhirnya setelah sekian lama! Mungkinkah ada pemukiman di sekitar sini? Aku sangat menantikannya!" seru Alesse.


Mereka pun tidak jadi pulang dan terus melanjutkan perjalanan. Sayangnya setelah berjam-jam menelusuri antah berantah itu, mereka tidak menemukan manusia, hanya beberapa bekas bahwa manusia pernah ada di sana.

__ADS_1


"Sepertinya untuk hari ini sampai di sini dulu, bisa disimpulkan dalam radius 50 kilometer dari base camp, tidak ada pemukiman manusia, kita lanjutkan besok untuk berkeliling di tempat ini," ujar Alesse.


Pada akhirnya mereka pulang tanpa menemukan apapun. Meskipun begitu, Alesse tetap penasaran dengan antah berantah itu, apalagi karena ada jejak manusia yang pernah singgah di sana. Ia pun pulang dengan membawa banyak rasa penasaran.


__ADS_2