Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Sebongkah es di dasar sungai


__ADS_3

Lima hari sejak Alesse menghilang, namun pihak kepolisian belum bisa menemukannya. Menurut petunjuk dari barang-barang Alesse yang ditemukan, mereka menduga bahwa Alesse sengaja meletakkan tas itu. Tidak ada tanda-tanda kekerasan yang menyebabkan kerusakan pada tas tersebut.


Hendra dan Andin semakin putus asa. Lima hari bukanlah waktu yang singkat bagi anak kecil untuk bertahan di hutan liar seperti itu.


Untuk memastikan lagi, akhirnya Irawan pun pergi ke tempat tas Alesse ditemukan. Ia mencoba menyeberangi sungai dangkal itu dan menemukan hal yang janggal.


Sebuah aliran sungai tampak bergerak berbelok menghindari sesuatu. Seolah ada batu besar yang menghadang. Ia pun mendekati aliran yang membuat air tampak menyembul ke atas layaknya sebuah gundukan.


Air sungai itu sangat keruh sehingga ia tidak bisa melihat apapun yang ada di dasar sungai. Setelah meraba bagian dasar sungai itu, ia dikejutkan dengan sesuatu yang sangat dingin di dasar sungai. Saking terkejutnya sampai ia terperanjat dan jatuh.


"Kau ini kenapa? Terpeleset di sungai dangkal? Konyol sekali!" ujar salah seorang polisi. "Bukan! Sepertinya ada sesuatu yang aneh di sini! Coba kalian periksa!" ujar Irawan.


Beberapa orang pun mencoba meraba gundukan aneh itu dan terkejut tiba-tiba."Ini.... seperti bongkahan es! Ini dingin sekali! Tanganku sempat merekat padanya!" ujar salah, seorang polisi. Mereka pun akhirnya membendung sungai itu hingga dasarnya terlihat.


Orang-orang pun terkejut karena menyaksikan seorang anak yang terbungkus dalam bongkahan es.


Mereka pun akhirnya segera mengangkat bongkah es itu dan dikejutkan dengan retakan Abyss yang ada di bawahnya.


"Sulit dipercaya! Ternyata di bawah arus sungai pun terdapat hal ini!" ujar Irawan. Akhirnya bongkahan es itu dipindahkan ke tempat yang aman.


Keluarga Alesse pun akhirnya dipanggil ke kantor polisi untuk menyaksikan sebongkah es itu.


"Apakah itu..... adalah anak kami? Apakah itu Alesse?" tanya Andin kepada Irawan. Irawan memintanya untuk memastikannya sendiri.


Andin pun berjalan menghampiri bongkah es itu dengan ragu-ragu. Ia pun langsung tumbang setelah melihat dengan jelas wajah beku yang ada di dalamnya.


"Kenapa ibu menangis?" tanya Alex keheranan. Pertanyaannya itu membuat orang-orang keheranan. Karena masih kecil,Hendra berpikir bahwa Alex belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Akhirnya Hendra menutup matanya agar tidak melihat wajah yang terselimuti es itu. "Bukan apa-apa kok! Nanti kau tunggu di rumah saja yak! Ayah dan ibu akan mengurus beberapa hal," ujar Hendra.


"Lalu gimana dengan Alesse? Apakah ia ikut pulang?" tanya Alex. Hendra terdiam sebentar, ia tak mampu lagi membendung air matanya. Ia hanya menggeleng kepala sebagai jawaban untuk pertanyaan Alex.


"Kenapa? Kenapa Alesse tidak ikut pulang?" tanya Alex keheranan. "Maafkan ayah, kakakmu sudah tidak ada, Alex!" ujar Hendra.


"Apa maksud ayah? Bukankah yang di meja itu adalah Alesse? Kenapa Alesse sudah tidak ada? Alesse masih ada di meja itu! Dia masih hidup!" ujar Alex.


"Tidak anakku, dia terjebak di sana, dia sudah tidak bisa bermain denganmu lagi," ujar Hendra. "Tidak! Tidak! Alesse masih hidup ayah! Dia masih bernapas! Aku bisa mendengarnya!" ujar Alex.


"Alex? Apa maksudmu? Bernapas?" Andin langsung bangkit seolah mendengar sebuah harapan.


"Di dalam es yang keras itu seharusnya ia tidak bisa bernapas," ujar Irawan. "Tidak kok, aku masih bisa mendengarnya bernapas," ujar Alex lalu mendekati bongkahan es itu. Ia menunjukkan sebuah lubang yang ada di dekat pipi Alesse.

__ADS_1


Ia sempat mendekatkan jarinya ke lubang itu lalu tersenyum. "Ayah! Ibu! Sini!" pinta Alex untuk mendekat. Ia meminta Andin mengulurkan tangannya lalu mendekatkan jemarinya ke lubang itu.


"A.... ada angin yang berhembus dari dalam! Ini sangat terasa! Dia masih hidup! Alesse masih hidup!" seru Andin. Hendra yang tidak percaya pun langsung mencoba memeriksa lubang itu. Ia tampak terkejut lalu kegirangan.


"Alesse masih hidup! Anak kita masih hidup!" ujar Hendra. Karena mengira keluarga itu sedang berhalusinasi, akhirnya Irawan ikut mencoba memeriksanya.


"Ini, sangat luar biasa! Aku tidak menyadari sejak tadi!" Irawan langsung memeriksa bagian dada Alesse dari samping. Ada celah antara es dengan dada Alesse, itulah yang membuatnya bisa bernapas hingga kini.


"Sepertinya dia baik-baik saja! Melihat warna bibirnya, sepertinya ia terkena hipotermia! Kita harus segera menyingkirkan es ini!" ujar Irawan.


"Gimana caranya? Apakah harus kuambil palu?" tanya Hendra ia tampak panik. "Tidak, jika es ini terkena getaran,bagian dalamnya yang pecah bisa melukai Alesse! Kita harus melelehkannya!" ujar Irawan.


Akhirnya bongkahan es itu dibawa ke sebuah tempat pemanas, mereka mengatur suhu dalam ruangan lalu memasukkan bongkahan es itu ke dalamnya. Beberapa menit kemudian seluruh es yang menyelimuti Alesse pun mencair, ia segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.


"Kenyataan bahwa anak ini masih hidup meski terbungkus oleh es adalah sebuah keajaiban! Bagaimana caranya kalian menyadari hal itu? Kalau saja terlambat, mungkin anak ini tidak akan selamat," ujar seorang dokter.


"Dia yang menyadari hal ini dok, dia yang menyelamatkannya," ujar Irawan sambil mengangkat tubuh Alex, ia sengaja melakukan hal itu dengan niatan bisa menyentuh bulu-bulu Alex.


Dokter itu melepas kacamatanya karena keheranan setelah melihat Alex. "Anak ini? Elementalist?" tanya dokter. Alex tampak ketakutan dengan tatapan dokter itu, ia langsung melompat ke punggung ayahnya layaknya seekor kucing.


"Hei, Alex! Tidak sopan!" tegur Hendra. "Maafkan anak kami, dia sangat penakut karena banyak orang yang suka mengejarnya," ujar Andin. Alex tampak murung setelah mendengar teguran ayahnya.


"Tidak apa-apa. Wajar jika merasa waspada dengan orang asing! Kau akan menjadi anak yang kuat dan pemberani kok!" ujar dokter itu kemudian mengelus-elus kepala Alex.


"Jadi, gimana kondisi anakku?" tanya Hendra. "Kenyataan bahwa ia dapat bertahan di dalam es adalah hal yang sangat luar biasa. Sayangnya terjadi trauma pada otaknya. Kami tidak tahu apa penyebabnya karena tidak ada cidera yang membuat kondisinya seperti itu. Ia belum bisa bangun untuk saat ini. Ia sedang menjalani masa vegetatif," ujar dokter.


"Kira-kira kapan ia akan bangun?" tanya Andin. "Kami tidak tahu pasti. Kasusnya sangatlah langka. Kami juga harus mempelajari ini," ujar dokter.


"Kami mohon bantuannya dok! Tolong sembuhkan anakku! Tolong buat anakku bangun sesegera mungkin!" pinta Hendra.


"Yeah, untuk masalah sembuh atau tidaknya bukan aku yang menentukan, aku hanya bisa berusaha sebaik mungkin agar ia dapat pulih lebih cepat," ujar dokter itu.


Mereka pun lega karena akhirnya bisa menemukan dan menyelamatkan Alesse. Polisi juga menutup kasus ini sebagai kecelakaan yang disebabkan oleh retakan Abyss. Mereka pun akhirnya membuat sebuah pembatas baru dipinggiran sungai agar tidak ada orang lagi yang celaka karena tempat berbahaya itu.


Kasus hilangnya Alesse pun terus dirahasiakan sehingga tidak ada orang yang tahu kecuali pihak kepolisian, Irawan, rumah sakit, dan keluarga Alesse.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu terus berjalan, namun Alesse tak kunjung sadarkan diri. Keluarganya terus menjenguknya, berharap ia akan bangun suatu hari nanti.


Hingga dua tahun berlalu, anak itu tetap terbaring di sana. Keluarganya tidak tahu apakah ia sudah mati atau belum. Anak itu tidak berubah sama sekali. Tidak menjadi kurus ataupun bertambah gemuk. Ia seperti sebuah boneka yang terbujur kaku di dipan.

__ADS_1


Andin tampak terlalu lelah untuk mengunjungi anak itu setiap hari. Terkadang ia terus menunggunya dengan wajah pucat, sesekali menangis, lalu Alex menggendongnya dan membawanya pulang ke rumah.


Sejak dua tahun berlalu itu, pertumbuhan Alex sangat cepat, ia sudah melampaui Alesse dan sekarang terlihat seperti seorang remaja belasan tahun. Ia bahkan kuat untuk menggendong ibunya ke rumah.


Sayangnya pertumbuhannya yang pesat itu tidak disaksikan oleh Alesse, kakaknya sendiri. Tentu saja hal itu membuatnya sedih.


Pada akhirnya dokter pun menyerah, mereka tidak memiliki solusi lagi untuk membangunkan Alesse. Karena merasa tidak nyaman dengan uang yang terus dikeluarkan keluarga itu untuk membiayai tagihan rumah sakit, akhirnya dokter memberi pilihan.


"Sudah dua tahun berlalu, meskipun kalian bisa membayar tagihan rumah sakit. Tapi ini terasa tidak benar! Aku merasa bersalah karena tidak bisa memberikan penanganan yang baik, namun kalian terus mengeluarkan biaya. Kami sudah menyerah dan memberikan kalian pilihan. Apakah kalian akan melepaskannya, atau akan terus seperti ini, menunggu keajaiban? Kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memberikan suplai untuk perawatannya," ujar dokter.


"Apa maksudmu dok? Kami tidak akan merelakan anak kami! Tolonglah dok! Selamatkan anak kami!" ujar Hendra, ia bahkan sampai berlutut di hadapan dokter.


"Ma...maafkan kami tuan Hendra, kami sudah mencoba sebaik mungkin, namun tidak menemukan penyelesaiannya," ujar dokter itu.


Alex yang mendengar itu langsung menangis, ia langsung menghampiri Alesse, berharap ia segera bangun. Irawan yang terus menjenguk Alesse pun tampak sudah menyerah, ia bahkan berbalik badan dan keluar dari ruangan itu.


"Alesse bangunlah! Lihatlah wajahku! Sekarang aku sudah besar! Aku tidak takut lagi pergi ke luar rumah sendirian! Sekarang aku sudah naik kelas 5 loh! Sama sepertimu!" ujar Alex. Ia memegang tangan Alesse yang terasa lebih dingin darinya.


Saat itu juga ia merasakan peredaran darah yang bergerak di seluruh tubuh Alesse. "Ini..... ini sangat aneh!" ujar Alex, ia mencoba berkonsentrasi dengan memejamkan mata.


"Ada apa Alex?" tanya Andin. "Entahlah, tiba-tiba aku bisa merasakan aliran darah di tubuh Alesse.


"Ada yang terhambat!" seru Alex. "Apanya? Peredaran darahnya? Di mana?" tanya dokter itu penasaran. "Ini bukan peredaran darah. Ini seperti sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang mengkilap, ini seperti listrik!" ujar Alex. "Itu adalah jaringan saraf! Bisa kau beritahu di bagian mana itu? Mungkin aku bisa mengatasinya," tanya dokter penasaran.


"Ini aneh sekali! Sepertinya kedua telinganya pernah terluka! Ini bukan luka biasa! Ini luka yang sangat besar!" ujar Alex.


"Bagaimana kau tahu hal-hal seperti itu?" tanya dokter. "Aku pernah melihatnya. Jika seseorang terluka, maka ada sesuatu yang tumbuh memperbaiki bagian yang terluka itu. Tentu saja usia bagian itu lebih muda dibandingkan dengan bagian yang lain!" ujar Alex.


"Oh, yang kau maksud pasti regenerasi sel! Memang sel-sel akan otomatis beregenerasi ketika ada yang terluka. Mereka akan membentuk jaringan baru," ujar dokter.


"Jadi, telinga Alesse pernah terluka? Kapan? Ia tidak pernah mengeluhkannya pada kami," ujar Andin.


"Ini sepertinya luka baru," ujar Alex. "Tidak mungkin! Kami sudah memindai seluruh tubuh, namun tidak ada bagian yang mengalami cidera serius!" ujar dokter.


"Sepertinya ini sembuh seketika! Seperti lukaku, akan sembuh dalam beberapa detik! Sepertinya Alesse juga seorang Elementalist!" seru Alex.


"Be... benarkah? Alesse?" Hendra tidak percaya. "Kita kembali ke pembahasan yang tadi! Di mana letak jaringan saraf yang terhambat itu?" tanya dokter.


"Aku tidak tahu di mana tepatnya, tapi sepertinya aku bisa memperbaikinya!" ujar Alex. "Ba... bagaimana caranya?" tanya dokter keheranan. "Aku hanya perlu merubah bentuknya saja, mereka terlihat seperti benang-benang yang saling terhubung! Aku bisa membuat satu yang sama seperti mereka!" ujar Alex. Ia pun mulai berkonsentrasi.


Seketika cahaya hijau muncul dari tangannya. Cahaya itu menyebar ke tubuh Alesse dan mulai terpusat pada kepala.

__ADS_1


"Melihat Elementalist beraksi adalah hal yang langka, sepertinya aku harus menyaksikan hal ini hingga selesai!" ujar dokter.


"Oh! Berhasil! Akhirnya benang-benang mengkilap ini menyebar ke seluruh tubuh!" seru Alex. Ia tampak kegirangan.


__ADS_2