
Setelah berhari-hari masuk sekolah, Salsha dan Sandy tampak semakin jauh, mereka tidak lagi terlihat menyapa atau menatap Alesse. Seolah hanyalah orang asing.
Sayangnya Alesse juga tidak menghiraukan perlakuan mereka, ia terus beraktivitas seperti biasanya.
Sanay pun hanya bisa bergiliran menatap tiga orang itu dengan wajah kebingungan, ia tidak tahu harus menghampiri siapa. Setelah melihat Alesse yang duduk sendirian dan tampak seperti orang yang kesepian, akhirnya ia pun hendak menghampirinya.
Saat itu juga Sandy langsung menarik lengannya. "Tidak perlu mendekatinya lagi, Sanay! Dia bukanlah orang baik! Kita tidak tahu sampai kapan ia akan menyembunyikan jati dirinya," ujar Sandy. Luka di dadanya masih membekas meskipun itu sudah sembuh sepenuhnya.
"Kenapa kau sangat membenci Alesse?" tanya Sanay. "Kau tidak sadar kalau dia h3ndak membunuh Sandy tanpa ragu? Lihatlah luka di tangannya ini, bahkan pengendali Alam sepertinya pun tidak bisa meregenerasinya dengan cepat. Luka ini sampai membekas!" ujar Salsha.
"Tapi Jawara pernah bilang kan? Saat itu ada yang aneh dengan Alesse! Dia bukanlah orang seperti itu!" ujar Sanay.
"Kita tidak tahu kapan lagi ia akan menggila seperti itu, Sanay! Sebaiknya kau menjauhinya! Aku mengatakan hal ini demi kebaikanmu, Sanay! Kita adalah teman," ujar Sandy.
"Alesse juga teman kita! Teganya kalian menjauhinya!" ujar Sanay kemudian melepas lengannya dari genggaman Sandy dengan sengatan listrik.
"Sanay!" Sandy masih mengkhawatirkan gadis itu. "Sudahlah, biarkan saja. Akan semakin rumit jika kau terus memaksanya," ujar Salsha, ia dan Sandy pun masuk ke kelas lalu duduk di bangku masing-masing.
"Alesse, kau baik-baik saja hari ini kan?" tanya Sanay. "Tidak ada yang istimewa," ujar Alesse singkat, ia biasa bersikap dingin dengan siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Sekilas Sanay merasa tidak nyaman dengan sikapnya, namun ia memutuskan tetap tersenyum sambil terus mengajaknya berbicara.
Ia bisa saja meninggalkan anak itu sendiri, namun ia tidak tahan melihatnya duduk sendirian seperti orang yang kesepian.
Kelas pun selesai, Alesse langsung beranjak dari kursinya untuk pulang ke rumah. Sanay pun mengikutinya dari belakang.
"Kenapa kau selalu membuntutiku?" tanya Alesse. "Bukan apa-apa kok, aku penasaran apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya Sanay.
"Tidak ada yang istimewa, " jawab Alesse, lagi lagi ia menggunakan kata-kata itu untuk menjawab pertanyaan Sanay.
Akhirnya Sanay berhenti berjalan, ia tidak lagi menngiringi langkah kaki Alesse.
__ADS_1
"Alesse, apakah kau bosan melihatku?" tanya Sanay tiba-tiba. Alesse pun berhenti berjalan juga lalu menatap Sanay dengan ekspresi datarnya.
"Sepertinya aku yang harus mengucapkan pertanyaan itu. Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Kau bosan melihatku? Bosan mendengar jawabanku setiap kali ditanya?" tanya Alesse. "Tidak, Alesse! Kenapa aku bosan?" tanya Sanay.
"Kau serius menanyakan itu? Kau tidak lihat anak yang lainnya? Mereka sudah bosan melihatku sampai terasa seperti orang asing. Aku tidak peduli, tapi melihatmu terus tersenyum seperti itu..... bukankah melakukan itu sangat melelahkan? Kau ingin membuatku merasa lelah juga? Bersikaplah natural saja! Bosan tinggal pergi, tidak perlu memaksakan diri untuk terus mengobrol denganku. Kau akan menyia-nyiakan waktumu untuk orang sepertiku, kau berhak memiliki teman yang lebih baik," ujar Alesse.
"Kejam!" ujar Sanay, matanya tampak berkaca-kaca, ia tidak berkata-kata lagi dan langsung berlari meninggalkan Alesse.
"Bukankah kau sangat keterlaluan, Alesse?" tanya Geni. "Sejak kapan kau jadi suka mengkritik semua tindakanku?" tanya Alesse dengan ekspresi dinginnya, bahkan Rasya yang selalu merespon dengan gurauan pun kini memilih diam.
Akhirnya Alesse kembali ke rumah, ia mencoba fitur baru dari Levy yang selama ini ia kembangkan.
"Sayang sekali, jika beberapa bulan ini tidak terlewat dengan sia-sia, aku bisa membuat versi yang lebih baik," ujar Alesse.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk jendela kamarnya. Alesse pun memeriksanya dan mendapati Kaa yang tampak tergesa-gesa.
Alesse merasa bahwa Kaa akan mengajaknya pergi hingga berhari-hari, akhirnya ia menarik tuas di sebelah rak bukunya, seketika Probe muncul dari rubanah.
"Gantikanlah aku," ujar Alesse singkat kemudian menyuruh Kaa menaiki Levy bersamanya.
"Apakah hanya perasaanku saja, benda ini mengeluarkan suara aneh dan bergetar," ujar Kaa.
"Jangan manja! Benda ini adalah buatanku sendiri, bukan dari tongkat petirku! Masih sulit untuk mencari bahan yang sesuai," ujar Alesse.
"Oh, be.... begitukah? Aku bukan mengeluhkan hal ini, hanya saja kendaraan ini terasa berbeda dari yang kemarin, tapi menurutku bisa menaiki kendaraan ini sudah sangat luar biasa," ujar Kaa.
Akhirnya mereka berdua pun sampai di bukit Balai Hitam, Levy langsung menyelami sungai di mana retakan Abyss berada.
Saat itulah langit cerah berubah redup seketika dan kini mereka berada di bumi Abyss. Alesse pikir hanya ia sendiri yang diajak oleh Kaa, namun tiga orang lainnya tampak sudah menunggu di dekat gubuk.
__ADS_1
"Apa ini? Kupikir kau kelupaan membawa sesuatu, tapi kenapa kau malah mengajak anak itu?" tanya Salsha. "Benar sekali! Tanpa dirinya pun kita bisa bergerak sendiri! Dia bukan elementalist, ada atau tidaknya anak itu tidak akan mengubah apapun," ujar Sandy.
"Aku tidak tahu kalian ada masalah apa, tapi aku butuh Alesse karena hanya dia yang memiliki kendaraan secepat kilat ini. Kalian juga enggan berlama-lama di antar dunia kan? Perjalanan dari satu gerbang ke gerbang lainnya bisa Berbulan-bulan. Aku tidak bisa terus menerus menggunakan kemampuanku," ujar Kaa.
Alesse tak berkomentar, ia tidak peduli apa yang dikatakan anak-anak itu, ia sibuk memeriksa Levy barang kali ada hal yang terlewatkan olehnya.
Setelah tidak menemukan sesuatu yang salah, akhirnya Alesse berhenti dari kesibukannya. "Jadi, kenapa kau memanggil kami ke sini?" tanya Alesse.
Kaa terdiam selama beberapa menit. "Seharusnya itu akan datang beberapa saat lagi," ujar Kaa. Tak lama kemudian angin berhembus ke arah mereka, namun mereka merasakan hal yang buruk sampai bertekuk lutut karena menghirup angin itu.
Alesse langsung menutup hidung sepersekian detik sebelum udara itu terhirup olehnya. "Aroma apa ini? Mengerikan sekali! Sangat pekat dan menyesakkan," ujar Sandy dengan wajah pucat, begitu pula dengan Salsha dan Sanay.
"Ini adalah bau medan perang. Mayat-mayat yang tidak dikubur dengan benar akan membusuk dan menimbulkan aroma busuk sejauh beberapa kilometer jika disertai angin sekencang ini. Menghirupnya bisa membuat kalian keracunan," ujar Alesse, ia pun langsung masuk ke dalam Levy agar terhindar dari hembusan angin itu.
Kaa pun mengikutinya dan masuk ke dalam, sayangnya tiga orang lainnya tampak enggan. "Wahai kalian, masuklah!" ajak Kaa.
Setelah ia mengajak mereka, meskipun dengan langkah ragu, mereka pun akhirnya masuk ke dalam Levy.
"Anak-anak muda ini benar-benar menyusahkan sekali! Apakah aku harus menggiring kalian dulu untuk masuk ke dalam? Kalau seperti ini sia-sia aku mengajak kalian! Tolong bergeraklah lebih cepat!" ujar Kaa sambil menggeleng kepala, ia sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka, namun ia enggan bertanya karena takut Alesse akan menolaknya dan menyuruh mereka semua keluar dari Levy.
"Oh, sebentar lagi kita sampai di sebuah gerbang!" ujar Kaa. "Gwrbang yang mana? Kau tidak pernah cerita tentang hal itu sebelumnya," ujar Sandy penasaran.
Kaa pun mengarahkan mereka pada sebuah gua, namun sebelum sampai ke tempat itu, banyak sekali mayat berserakan, rata-rata mereka mati dengan luka sayat yang amat banyak di sekujur tubuh mereka.
"Mengerikan sekali! Siapa yang berbuat hal sekeji itu?" tanya Salsha merasa ngeri. Melihat luka-luka itu, Sandy pun menyadari sesuatu, ia langsung memeriksa bekas luka yang ada di dadanya, dan itu tampak sangat mirip yang ada di bawah sana. Sayangnya ia tidak berani berbicara karena posisi yang tidak memungkinkan.
"Kaa, sebaiknya kita tidak menaiki benda ini. Lebih baik kita turun saja," ujar Sandy. "Apa maksudmu? Kenapa kita turun di tunpukan mayat? Apakah kau gila?" tanya Salsha.
"Kalian, diamlah! Sekali lagi meminta hal yang aneh-aneh, aku benar-benar akan melempar kalian ke tumpukan mayat itu!" ujar Kaa, punggung bajunya sampai robek karena sayapnya tiba-tiba mencuat keluar setelah marah.
__ADS_1