Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Alesse hilang


__ADS_3

Hari sudah mulai redup, namun Alesse tak kunjung pulang. Andin dan Hendra pun mulai khawatir.


"Sebenarnya kemana anak itu pergi? Kenap belum pulang-pulang juga?" Andin terus mondar-mandir sambil menggigit jari.


Alex tahu tempat yang biasa Alesse kunjungi, tetapi Alesse memintanya untuk merahasiakannya, akhirnya ia pun merelakan diri untuk keluar rumah dengan tubuh yang berbalut bulu.


"Hei boneka, kau mau pergi ke mana?" tanya beberapa remaja sambil menghadang Alex. "Awas! Aku harus menemukan Alesse!" ujar Alex, ia tampak terburu-buru.


"Kami tidak kenal siapa yang bernama Alesse itu, sebaiknya kau ikut dengan kami! Ada mainan yang sangat asyik loh!" ujar salah seorang remaja.


"Minggir! Aku harus mencari kakakku! Jangan mengganggu!" ujar Alex. Sayangnya para remaja itu malah mencegat dan menahan tubuhnya.


"Lepaskan aku!" ujar Alex. Para remaja itu tidak mendengarkan. Akhirnya Alex pun meraung keras. Bahu dan lengannya tiba-tiba membesar, membuat bajunya sobek. Ia langsung membuat para remaja itu terlempar.


Setelah bebas, ia pun segera pergi ke perpustakaan dan mendapati tempat itu sepi, tidak ada orang kecuali Irawan.


"Kau... bukankah kau adalah adik Alesse? Eh? Atau malah kakaknya?" Irawan agak ragu, tubuh anak itu tampak lebih besar daripada terakhir kali ia melihatnya.


"Di mana Alesse? Apakah paman melihatnya?" tanya Alex terburu-buru. "Tidak, memangnya kenapa?" tanya Irawan.


"Sudah sore tapi ia belum pulang ke rumah!" ujar Alex. "Loh? Memangnya ia tidak pernah keluar sampai larut malam?" tanya Irawan keheranan.


"Kalau itu...... ku tidak tahu! Dia selalu mengunci pintu kamarnya, jadi aku tidak tahu apakah ia ada di dalam atau tidak. Tapi sering kali aku tidak merasakan adanya gerakan di kamarnya itu," ujar Alex.


"Mungkin ia sedang melakukan kebiasaannya. Tenanglah, dia adalah anak pintar, dia akan baik-baik saja," ujar Irawan untuk menenangkannya. Seketika tubuh Alex pun mengecil seperti sedia kala.


"Oh, ternyata adik Alesse! Paman sempat kebingungan karena tubuhmu tiba-tiba lebih besar daripada Alesse," ujar Irawan.


Akhirnya Alex pun pulang ke rumah dengan telanjang dada. Meskipun begitu, ia tidak menyadarinya karena dadanya ditutupi oleh bulu.


"Loh? Ke mana bajumu Alex? Kenapa kau telanjang begitu?" tanya Andin. "Bajuku sobek tadi ada orang-orang nakal," ujar Alex kemudian menangis.


"Makanya jangan keluar begitu saja. Kalau pergi-pergi jangan sendirian," ujar Hendra kemudian memeluknya erat-erat.


"Tapi Alesse..... Alesse belum pulang!" ujar Alex terisak. Andin Hendra pun menjadi semakin cemas.

__ADS_1


Hingga malam tiba, mereka terus menunggu di ruang tamu. Hendra tampak sangat khawatir sambil berdiri di depan pintu.


Beberapa menit kemudian bel rumah pun berbunyi, Hendra langsung membuka pintu. "Kau ini sudah malam kenapa baru pu....." Hendra terkejut karena yang berada di hadapannya bukanlah Alesse, melainkan Irawan.


"Siapa?" tanya Hendra. "Mohon maaf mengganggu waktunya malam-malam begini, aku adalah Irawan, seorang pustakawan," ujar Irawan.


"Kenapa seorang pustakawan datang ke tempat kami?" tanya Hendra keheranan. "Aku mengkhawatirkan keberadaan Alesse. Tadi sore adiknya datang ke perpustakaan untuk mencarinya, namun tidak menemukannya," ujar Irawan. Hendra dan Andin pun langsung menatap Alex.


"Alesse masih berada di perpustakaan pagi tadi, setelah meminjam beberapa buku ia langsung pulang. Setelah itu ia tidak datang lagi. Tidak seperti biasanya, ia selalu menghabiskan waktu liburannya di perpustakaan, namun hari ini ia tak kunjung kembali. Karena khawatir,aku langsung ke sini untuk menanyakan keberadaannya" ujar Irawan.


"Alesse...... belum pulang," ujar Alex. Raut wajah Irawan langsung berubah khawatir. "Padahal hari sudah petang," ujarnya.


"Kalian tidak tahu tempat mana saja yang biasa dikunjungi anak itu?" tanya Irawan. Mereka semua menggeleng kepala.


"Alesse adalah anak yang pendiam, ia jarang berbicara di rumah dan selalu mengunci pintu kamarnya saat berada di rumah. Sayangnya hari ini pintu kamarnya tidak terkunci, ia pasti sedang pergi ke suatu tempat," ujar Andin.


"Aku jadi merasa bersalah karena tidak menanyakan kebiasaannya. Dia sudah sering mengunjungi perpustakaan tempatku bekerja. Aku akan membantu mencarinya," ujar Irawan.


"Ti.. tidak perlu! Alesse sering ke tempat kerjamu? Itu pasti sangat merepotkan. Kami mohon maaf!" ujar Andin.


Ia pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada keluarga Alesse, namun tidak mendapatkan hasil yang baik.


"Kenapa anak itu sangat tertutup sekali? Aku tidak percaya! Dia selalu berterus terang saat berbicara denganku di perpustakaan," ujar Irawan.


"Ia selalu menghindari kami dengan pergi ke kamar. Ia bahkan meminta dipisahkan dari Alex dengan alasan takut karena tubuh Alex lebih besar darinya," ujar Hendra.


"Sepertinya ia menyembunyikan banyak hal di kamarnya," ujar Irawan. "Ia selalu melarang kami memasuki kamarnya, bahkan hanya sekedar membersihkan pun tetap ia larang," ujar Andin.


"Loh? Bukankah kalau ia pergi kalian bisa memasukinya? Tidak mungkin orang tua akan menuruti perkataan anaknya begitu saja," ujar Irawan.


"Kami sudah pernah masuk ke dalam saat ia pergi, namun ia selalu mengetahui kalau kamarnya baru saja dimasuki oleh orang lain dan hal itu membuatnya kecewa. Ia akan semakin menutup diri layaknya orang asing, bahkan untuk makan bersama di ruang makan pun ia enggan. Akhirnya kami tidak pernah memasuki kamarnya lagi," ujar Hendra.


"Tapi kali ini adalah keadaan yang genting! Gimana jika kita masuk dan memeriksa?" tanya Irawan.


"Ba... baiklah," ujar Hendra agak ragu. Ia pun menuntun Irawan menuju ke kamar Alesse. Setelah membuka kamar itu, mereka pun mendapati kamar yang sangat bersih dan rapi. Tidak terbayang bagaimana caranya anak kecil bisa membuatnya tampak seperti itu.

__ADS_1


Irawan pun semakin penasaran dengan kondisi kamar itu. Penataan yang sangat simetris dan sejajar,bahkan posisi botol pun harus sempurna layaknya barang dagangan yang dipajang pada etalase.


"Apakah ini kamar? Kukira akan kotor dan lusuh, ini benar-benar sempurna!" ujar Hendra tercengang.


"Ka...kalian tidak tahu karakteristik dari susunan kamar ini? Kerapihan yang berlebihan seperti ini sering kali dihubungkan dengan psikopat loh! Sepertinya dia banyak menyembunyikan jati dirinya!" ujar Irawan.


"Kau ini bicara apa? Alesse hanyalah anak kecil yang kebetulan masuk sekolah satu tahun lebih muda daripada anak-anak pada umumnya," ujar Andin. Irawan menggeleng kepala.


"Dia tidak sepolos itu!" ujar Irawan sambil menunjukkan sebuah buku yang ada di meja belajar Alesse.


"Bu... buku apa itu? Kok bisa anak yang masih di bangku SD memiliki buku itu?" Hendra tampak tidak percaya. "Bukan hanya memiliki! Dia bahkan sudah menyelesaikannya, ia memahami berbagai paragraf dari buku ini dan sebagian ia sudah dapat menerapkannya dengan sempurna. Bahkan untuk seorang mahasiswa pun jarang ada yang bisa melakukan itu," ujar Irawan.


Hendra dan Andin masih tidak percaya dengan perkataannya. "Kalian benar-benar orang tua Alesse kah? Aku benar-benar tidak percaya! Kenapa bisa ada jarak antara langit dan bumi pada hubungan kalian? Kalau begini, semua orang bisa menjadi orang tua Alesse kecuali kalian berdua!" ujar Irawan kecewa.


Ia mencoba memeriksa meja Alesse dan menemukan beberapa buku ensiklopedia mengenai retakan Abyss.


"Kalian berdua sudah tidak bisa diharapkan lagi! Andai aku menyadarinya lebih cepat, andai aku sadar kenapa ia terus mengunjungi perpustakaan dan menanyakan hal-hal yang tidak ia ketahui kepadaku padahal ia sendiri memiliki orang tua yang pastinya bisa menjawab semua pertanyaan itu. Dia butuh seseorang yang memperhatikannya, memperingatkannya untuk hati-hati, dan sekali-kali menegurnya," ujar Irawan.


Andin Hendra hanya terdiam, mereka berdua pun menyadari betapa kurangnya perhatian mereka terhadap Alesse. Hal itu dikarenakan mereka terlalu sibuk memperhatikan Alex yang memiliki masalah perubahan wujudnya.


"Sepertinya aku tahu kemana Alesse pergi! Sebaiknya kalian memanggil polisi untuk melakukan pencarian! Pertama, mintalah kepada mereka untuk mulai mencari Alesse di bukit Balai Hitam! Aku akan ke sana terlebih dahulu!" ujar Irawan. Ia pun segera pergi dengan motornya.


Beberapa menit kemudian, ia pun sampai di kaki bukit dan mulai mendaki. Ia pun menemukan sebuah pembatas yang sudah sobek lalu mengamatinya.


"Sepertinya ini masih baru, mungkin Alesse ke sini," ujarnya. Ia pun terus menelusuri tempat itu namun tidak menemukan apa-apa.


Ia pun mendapati pembatas yang sobek di sisi lain. Setelah mengikuti arah sobeknya pembatas itu, ia pun menemukan sebuah sungai. Saat itu juga ia menemukan tas milik Alesse yang tergeletak di pinggir sungai.


"Sudah kuduga ia berada di sekitar sini!" ujar Irawan sambil memeriksa isi tas itu. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel dengan buku catatan beserta barang-barang lainnya.


Ia pun membuka buku catatan itu dan membaca hasil pengamatan Alesse. "Anak ini masih luar biasa! Bahkan dapat membuat hipotesis sendiri! Lebih baik kusembunyikan ini!" ujar Irawan sambil menyimpan buku dan ponsel milik Alesse.


Ia terus mencari dengan menulusuri sungai itu sambil sesekali meneriakkan nama Alesse. Polisi pun akhirnya datang. Mereka ikut mencari, namun Irawan ditahan di kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Kenyataan bahwa ia mengetahui tempat yang mungkin didatangi oleh Alesse membuat kecurigaan di kalangan polisi. Setelah memberikan beberapa penjelasan, akhirnya polisi melepaskannya. Ia pun kembali mencari keberadaan Alesse.

__ADS_1


__ADS_2