
"Bukankah ini terlalu kejam? Kenapa mereka menyuruhmu pergi ke tempat yang jaraknya sangat jauh? tempat tujuanmu hampir dua puluh kilometer loh!" ujar Geni.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, dua puluh kilometer itu apa?" tanya Gord. "Sama saja dengan panjang tiga ribu kaki," jawab Alesse.
"Hmm? Tiga ribu kaki? panjang sekali! Aku tidak tahu kalau jarak dari tempat ke tempat bisa dihitung seperti itu, biasanya kami menggunakan waktu untuk menjelaskannya, seperti perjalanan setengah hari dan lain sebagainya," ujar Gord.
"Yeah, kalau jalan kaki..... dua puluh kilometer itu sama saja seperempat hari," ujar Geni. "Loh? Dari mananya yang jauh? Perjalanan seperempat hari itu sangatlah dekat!" ujar Gord.
"Kalau dibandingkan dengan mereka...... lebih jauh tempat tujuan Alesse! Mereka hanya sekitar dua sampai lima kilometer saja dari reruntuhan tadi! Yeah, meskipun begitu Alesse bisa pergi ke sana dengan waktu singkat," ujar Geni.
"Sudahlah! Aku yang berjalan, tapi kenapa kalian yang ribut?" Alesse semakin kesal karena suara gaduh di kepalanya.
Ia pun mengambil tongkat yang ada di punggungnya dan merubahnya menjadi Levy.
"Bukankah sangat tidak efektif? Kau harus merubah tongkatmu setiap saat, menurutku itu sangat merepotkan," ujar Geni.
"Aku juga berpikir begitu, semakin lama rasanya semakin malas," ujar Alesse. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti," ujar Gord.
"Pria buta teknologi diam saja," ujar Alesse. "Kasihan sekali kawan, nanti biar kujelaskan semuanya. Sebaiknya jangan ganggu Alesse," ujar Geni.
Setelah masuk ke dalam Levy, Alesse pun mengemudikannya menuju ke tempat tujuan, ia langsung turun dari Levy dan bersembunyi di semak-semak, Levy pun berubah menjadi tongkat kembali.
"Lihatlah, ini sangat membuang-buang waktu, kau harus merubahnya setiap kali kau membutuhkannya. Kau juga membutuhkan tongkat itu sebagai senjatamu kan?" tanya Geni.
"Hmm! Benar sekali! Ini merepotkan, lebih baik kubuat Levy secara terpisah, mungkin tidak akan menggunakan tongkat ini lagi," ujar Alesse.
Saat ia sibuk berbincang-bincang dengan Gord dan Geni, tiba-tiba suara gemuruh muncul dari langit, disusul dengan kepulan asap hitam.
Alesse pun memeriksa apa yang sedang terjadi di tenda-tenda pasukan itu. Orang-orang tampak berlari pontang-panting dengan wajah panik.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka lari terbirit-birit?" tanya Alesse keheranan. "Asap hitam itu..... sepertinya terjadi pembakaran hebat di sana! Ia pasti pengendali api tingkat tinggi!" ujar Geni, ia bahkan tampak berwajah pucat.
"Apakah semengerikan itu?" tanya Alesse. "Lihatlah! Asap itu seperti bekas letusan gunung berapi!" ujar Geni.
Karena penasaran, akhirnya Alesse mencoba memeriksa sekitar markas pasukan itu menggunakan teropong yang ia buat dengan tongkatnya.
Setelah melihat-lihat setiap sudut wilayah itu, akhirnya ia menemukan sosok pria kekar sedang melayang di udara.
"Siapa itu? Tubuhnya hampir sama seperti Gord, tapi lebih besar!" ujar Alesse, ia menyaksikan sosok pria kekar itu menyerang pasukan secara bertubi-tubi.
__ADS_1
"Itu bukan pengendali api, Geni! Itu pengendali listrik!" ujar Alesse, ia bisa melihat bagaimana pria itu memanfaatkan kilatan petir yang ada di langit mendung untuk menyalurkannya ke arah pasukan tanpa ampun.
"Kejam sekali! Mereka diserang tanpa perlawanan loh! Mereka benar-benar tak berkutik!" ujar Geni, wajahnya tampak pucat melihat orang-orang yang satu persatu hangus terbakar.
Alesse sampai bisa mencium bau daging yang terpanggang dari kejauhan. Saat itu juga ia merasa dadanya sesak.
"Ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar hebat?" Alesse keheranan. "Mungkin karena melihat nasib mereka yang tragis itu," ujar Geni.
"Sepertinya benar, ini pembantaian! Ini berbeda dengan perang yang melibatkan banyak orang untuk melakukan perlawanan! Pria itu.... Ia sengaja menyerang di sore hari ketika orang-orang sudah mulai kelelahan dan berhenti beraktivitas!" Wajah Alesse mulai pucat.
Ia merasakan firasat buruk dari pria kekar itu. "Wah, sepertinya kita bisa langsung mati hanya dalam sekali serang," ujar Gord. "Sebaiknya kita pergi dari sini, Alesse!" ujar Geni.
Alesse mencoba mengendap-endap keluar dari semak-semak. Sayangnya ia tersandung ranting dan menimbulkan bunyi ranting yang patah. Wajahnya semakin berkeringat sedangkan pria yang melayang di udara itu langsung menengok ke sumber suara.
Alesse pun dapat melihat wajah pria itu setelah sebuah kilatan petir membuat langit menjadi terang seketika.
"Pria itu..... Raya Stephen? Apa yang dia lakukan di sini?" Alesse keheranan. "Siapa itu Raya Stephen?" tanya Geni.
"Tunggu dulu! Raya Stephen? Bukankah ia adalah Dark Warden?" tanya Gord. "Benar sekali! Tidak kusangka akan bertemu dengannya di sini!" ujar Alesse.
Setelah ia beranjak dari posisi terjatuhnya, Alesse benar-benar terkejut karena Ray sudah menemukannya, saat ini ia sedang menatapnya penuh curiga.
"Apa yang salah denganku? Kenapa tubuhku gemetaran?" tanya Alesse tidak mengerti. "Kau juga mengalaminya? Kupikir hanya aku yang sedang gemetaran," ujar Geni.
Ray semakin curiga dengan tatapan Alesse yang terus teralihkan. "Kenapa anak kecil sepertimu berada di sini? Apakah kau juga pengikut Warden?" tanya Ray, kilatan listrik muncul di kepalan tangan kanannya. Hal itu membuat Alesse langsung tumbang ketakutan.
"Bu... bukan! Aku bukan pengikut Warden!" ujar Alesse. "Lalu apa? Kenapa kau bisa berada di sini? Kau tampak baik-baik saja. Sudah pasti bukan tawanan mereka. Satu-satunya hal yang masuk akal adalah kau pengikut Warden," ujar Ray.
"Hei! Tunggu dulu! Biar kujelaskan maksudku datang ke sini! Aku bukan pengikut Warden!" ujar Alesse dengan nada tinggi, ia langsung kesal karena Ray asal menuduh.
"Hei, apa yang kau lakukan, Alesse? Kau hendak menyulut amarahnya? Habislah kita!" ujar Geni.
Kilatan listrik di tangan kanan Ray semakin membesar. "Sepertinya sudah tak tertolong lagi," ujar Gord.
"Merepotkan sekali! Pria bodoh itu tidak bisa diajak bicara!" ujar Alesse kesal, ia langsung menggenggam tongkatnya kuat-kuat.
Sebelum akhirnya pria itu melepaskan tinjunya yang diselimuti kilatan listrik, Alesse langsung merubah tongkatnya menjadi busur es lalu membidik lengan kanan Ray.
Saat panah es itu menancap di lengan Ray, ia langsung berlari dengan sepatu hokinya.
__ADS_1
"Wah! Hebat sekali sepatu itu, sampai bisa menciptakan medan es," ujar Geni. "Ini bukan saatnya terkagum-kagum! Awasi keberadaan Ray agar aku bisa merubah tongkat ini menjadi Levy.
"Menurutku mustahil! Kau masih berada di jangkauannya, sekali berhenti kau akan terkena sambaran petirnya," ujar Geni.
Akhirnya Alesse terus mengayuh sepatu hokinya agar meluncur lebih cepat. "Kenapa kau tidak menggunakan sepatu roda? Bukankah itu lebih mudah dibandingkan sepatu hoki?" tanya Geni.
"Tanah di sini tidak mendukung untuk memakai sepatu roda! Sedangkan sepatu hoki hanya memerlukan bidang es agar bisa meluncur, ini lebih efektif, jadi disaat yang sama sepatu ini juga membuat jalur es agar dapat dilalui dengan mudah," ujar Alesse.
Meskipun ia sudah berlari sekuat tenaga, namun Ray tetap bisa mengejarnya. "Duh! Gimana ini? Aku sudah mulai kelelahan!" ujar Alesse. Ia terus berlari dengan nafas terputus-putus.
"Jantungku rasanya mau meledak!" ujarnya sambil terus berlari kepayahan, ia sesekali memejamkan matanya agar bisa berlari sekuat tenaga. Saat itulah ia terpeleset karena medan es yang di hasilkan sepatunya merambat ke aliran sungai, menciptakan bidang miring yang membuatnya terlempar ke udara.
"Sialan! Aku malah membuat tubuhku menjadi sasaran empuk untuknya," ujar Alesse kesal, saat ini tubuhnya sedang terlempar di udara sedangkan Ray sudah melesatkan kilatan petir ke arahnya.
"Geni? Gord? Kalian di mana?" tanya Alesse keheranan ia tidak mendapati keduanya di saat-saat sebelum tersambar kilatan petir itu.
"Oh, jadi begitu kah? Kalian akan lenyap bersamaan dengan kematianku? Menyedihkan sekali! Aku tidak akan bisa hidup lagi jika mati tersambar petir, tidak seperti saat membeku dalam es," ujar Alesse kemudian memejamkan mata. Ia berharap tersambar petir tidak akan menyakitkan.
"Jangan menyerah!" teriak salah seorang, Alesse pun membuka matanya karena terkejut. Saat itu juga ia mendapati dunia yang ia tempati menjadi begitu lambat, bahkan saat ini ia masih melayang di udara sedangkan kilatan petir itu terus merambat ke arahnya meskipun tidak tidak terlalu cepat.
Saat ini posisi tubuhnya sedang terbalik, ia mendapati Baraq berada di hadapannya. "Jangan menyerah, Alesse! Kau bisa membalikkan keadaan!" ujar Baraq.
"Itu tidak mungkin, bahkan saat dunia tiba-tiba jadi lambat begini, tidak ada hal yang bisa kulakukan lagi, aku juga tidak bisa bergerak cepat menyamai kilatan petir yang mengejarku itu," ujar Alesse pasrah.
"Kau tidak perlu bergerak cepat, kau hanya perlu menghadapinya dengan penuh keyakinan! Biar kubimbing kau," ujar Baraq sambil memegangi lengan kanan Alesse yang sedang memegang busur es.
Saat itu juga busur es di tangannya berubah menjadi pedang bermata dua dengan mata pedang yang berbentuk zig-zag seperti lambang petir.
"Ma... mau apa kau dengan benda ini?" tanya Alesse. "Percayalah padaku! Bernafaslah secara perlahan, biarkan tubuhmu mengikuti kehendakku," ujar Baraq, ia mengayunkan lengan kanan Alesse lalu mengarahkannya pada arah datangnya kilatan petir itu.
Seketika petir itu langsung berbelok arah menyambar pedang yang Alesse pegang. Sebuah getaran hebat membuat Alesse terkejut bukan main.
"Jangan lepaskan pedang itu! Kau harus membuatnya berbalik arah!" ujar Baraq. Alesse mencoba menggunakan kedua tangannya untuk memutar arah pedang itu.
Kilatan-kilatan petir yang tersisa membuat beberapa bagian bajunya terbakar. Akhirnya Alesse berhasil mengayunkan pedangnya.
Seketika kilatan petir yang berada di ujung mata pedang bagian kanan merambat ke mata pedang bagian kiri.
"Sekarang waktunya serang balik!" seru Baraq sambil mendorong lengan Alesse. Seketika mata pedang itu mengarah ke Ray, membuat kilatan petir yang seharusnya menyambar dirinya kembali ke tuannya.
__ADS_1
"Ini kesempatanmu untuk pergi!" ujar Baraq. Akhirnya Alesse langsung merubah pedang di tangannya menjadi Levy, ia langsung masuk ke dalam dan membuatnya melaju sejauh mungkin dari Ray.