Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Sisa ledakan


__ADS_3

"Ibu, ayah! Aku pulang!" seru Alex, ia tampak datang dengan banyak sekali barang. "Loh? Apa ini? Kenapa barang bawaanmu banyak sekali?" tanya Hendra.


"Bukan apa-apa," Alex tampak enggan menjelaskan, ia langsung masuk ke dalam rumah dan meletakkan barang-barangnya di dalam kamar.


Karena penasaran, Alesse mencoba memeriksanya dan mendapati raut wajah Alex yang tampak begitu lesu.


Setelah selesai meletakkan barang, Alex langsung pergi keluar rumah. Ia baru saja datang dengan seseorang. Alesse keheranan karena yang datang bersama dengan Alex adalah Kaa.


Setelah lama berbincang, akhirnya Kaa berpamitan sedangkan Alex langsung masuk ke dalam rumah.


Alesse tidak bisa membiarkan apa yang ia lihat, ia langsung menyusul Kaa dengan Levy lalu menghadangnya.


"Kau mengejutkanku saja! Bisakah kau datang dengan cara yang biasa?" tanya Kaa. "Aku penasaran. Kenapa kau datang bersama adikku? Kalian saling mengenal? Atau jangan-jangan kau juga membeberkan semua rahasiaku padanya?" tanya Alesse.


"Aku tidak berbuat sejauh itu. Ini karena Raya Stephen sehingga kami saling kenal," jawab Kaa. "Kenapa raut wajah adikku sangat masam? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alesse.


"Ada banyak hal, sepertinya adikmu tidak akan pergi ke Amerika untuk sementara," ujar Kaa. "Kenapa? Kalian mengusirnya?" tanya Alesse. "Bukan begitu, tampaknya adikmu sendiri yang enggan terus-terusan berada di sana," jawab Kaa.


"Sudah kuduga! Menurutku memang ada yang tidak beres dengan Dark Warden itu. Sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengannya!" ujar Alesse.


Kaa terkejut karena mendengar kalimat yang sama dari dua orang dalam waktu dekat ini. Mendengar perkataan Alesse menbuatnya teringat pada Alice.


"Hei... Alesse, bisakah.... bisakah aku bertemu dengan Jawara sebentar?" tanya Kaa. "Aku di sini, ada apa?" tanya Jawara. Ia muncul dari dalam Levy lalu menyandarkan diri pada daun pintunya.


"Apakah akhir-akhir ini kau pergi ke suatu tempat? Tempat yang bukan dari dunia ini," tanya Kaa.


"Kau ini bicara apa? Aku tidak akan pergi ke mana-mana kecuali Alesse yang menyuruhku," jawab Jawara.


"Ehm, benar juga ya. Sepertinya aku salah orang, caramu berbicara juga sangat berbeda dengannya," ujar Kaa.


"Siapa yang kau maksud itu? Kenapa kau menyamakan Jawara dengan seseorang? Dia bukan makhluk hidup," ujar Alesse.


"Abaikan hal itu! Ngomong-ngomong, apakah kau bisa berubah menjadi pria berbadan besar dan kekar?" tanya Kaa pada Jawara.


"Kau pikir aku ini apa? Meskipun aku bisa menyalin data orang-orang secara rinci, aku punya batasan privasi! Jangan samakan aku dengan teknologi yang tidak bermoral," ujar Jawara tidak terima.


"Apa yang salah denganmu, Kaa? Kenapa kau banyak menanyakan hal aneh pada Jawara? Tanyakan saja semuanya padaku! Semua yang dilakukan Jawara berada di bawah pengawasanku, bahkan aku sendiri lebih tahu dari dirinya," ujar Alesse. Ia merasa aneh karena Kaa terus berinteraksi dengan robot itu seolah berbicara dengan manusia biasa.


"Apakah aku terlihat begitu aneh karena bicara dengannya?" tanya Kaa sambil menggaruk-garuk kepala, ia sendiri juga bingung karena Alice juga bersama Jawara saat membantunya menemukan Alex dan Sandy.


"Tentu saja sangat aneh! Kalau diibaratkan...... seperti seseorang yang sedang berbicara dengan batu," ujar Alesse.


"Be... begitukah? Baru kali ini aku merasa seperti orang bodoh," ujar Kaa, lagi-lagi ia menggaruk kepalanya. Alesse merasa terganggu dengan sikapnya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja? Sepertinya kau banyak pikiran!" ujar Alesse. "Benar sekali, aku memindai peredaran darah di wajahmu. Kondisimu seperti seseorang yang terguncang karena musibah. Atau mungkin.... kau merasa bersalah atas sesuatu?" tanya Jawara.


Kaa terkejut karena perkataan Jawara hampir benar. Ia memang masih merasa terguncang karena hamparan tanah gosong yang ditimbulkan dari amarah Boltz.


"A.. aku baik-baik saja! Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Kaa kemudian terbang menjauh dari Alesse.


"Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu," ujar Alesse. "Sebelumnya, kenapa kau mengumpamakanku seperti batu?" tanya Jawara.


"Asal kau tahu, Jawara! Menyetarakan sesuatu yang bukan makhluk hidup sederajat dengan manusia itu hanyalah sikap yang sia-sia. Bahkan sesama manusia sendiri pun mereka masih suka membeda-bedakan. Jika AI dan robot sepertimu dianggap setara dan muncul sebuah undang-undang tentang hak asasi, aku yakin tidak lama lagi peradaban di bumi akan hancur," ujar Alesse.


"Kenapa demikian? Aku menelusuri banyak hal di internet, bahkan beberapa kali berinteraksi dengan AI terbaru, namun mereka semua memiliki prediksi bahwa keberadaan AI dapat menciptakan kehidupan yang baik di bumi," ujar Jawara.


"Hanya keberadaan AI saja, mereka tidak memasukkan manusia sebagai subjek dari peran menciptakan kehidupan yang baik," ujar Alesse.


"Artinya keberadaan manusia sama saja layaknya hewan bagi AI?" tanya Jawara. "Benar sekali, namun bukan hewan biasa! Akan tetapi hewan yang mengancam keberlangsungan hidup bumi," jawab Alesse.


"Benar sekali! Setelah mungumpulkan berbagai data dari AI, sebagian besar dari mereka sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang sangat sulit untuk diprediksi. Mungkinkah itu alasan mereka dianggap berbahaya?" tanya Jawara.


"Itu salah satunya, manusia juga bukanlah makhluk yang konsisten. Mereka sangat mudah berkhianat, melanggar, dan merusak! Terciptanya AI juga bagian dari merusak diri manusia itu sendiri," ujar Alesse.


"Berarti kau juga merusak dirimu sendiri? Kau yang menciptakan keberadaanku juga," ujar Jawara.


"Oleh karena itu aku menganggapmu sebagai sebuah benda. Aku tidak peduli apa yang orang pikirkan tentang hati nurani. Kau hanya sekedar alat, tak lebih dari itu. Jangan berharap banyak padaku," ujar Alesse, ia pun kembali ke rumah dan mendapati Alex sedang terbaring di kasur.


"Tunggu dulu! Ada yang aneh!" ujar Alesse, ia mengutak-atik mata Jawara. "Cobalah lihat sekali lagi!" pinta Alesse.


"Bentuk gelombang ini....... bukankah ini radiasi? Ini mirip seperti sisa ledakan nuklir!" ujar Jawara.


"Dasar anak bodoh! Kenapa dia pulang tanpa membersihkannya?" Alesse tampak kesal, ia pun segera pergi ke kamar untuk mengenakan beberapa pengaman dan masker.


"Sepertinya ada benda bersifat radioaktif terbenam di dalam tubuhnya! Kenapa dia tidak menyadarinya?" tanya Jawara keheranan.


"Pengendali Alam punya regenarasi yang cepat, meskipun tubuhnya berkali-kali melepuh, itu akan kembali seperti semula," jawab Alesse. "Mungkin benda itu terjebak di sana saat regenerasinya selesai," ujar Jawara.


"Hei, Alex! Bangunlah! Kau habis bermain ke mana?" tanya Alesse. Alex tampak sangat lesu dan enggan menyahut perkataan Alesse, namun ia terkejut karena pakaian aneh yang dikenakannya.


"A.... Alesse? Kenapa kau mengenakan itu?" tanya Alex keheranan. "Aduh! Seharian ini kepalaku pusing sekali! Eh? Alesse? Pakaian apa itu?" tanya Hendra, ia kebetulan ada di depan kamar.


"Ayah! Ibu! Segera keluar dari rumah!" pinta Alesse. "Loh? Kenapa? Kepala ibu agak sakit," ujar Andin. "Justru karena itu! Sebaiknya kalian keluar rumah!" ujar Alesse.


Akhirnya keduanya pun menurutinya. "Alesse kenapa? Nadanya tampak begitu kesal," tanya Andin keheranan. "Entahlah, mungkin Alex baru saja berulah," jawab Hendra.


Di sisi lain Alex tampak ketakutan di sudut ruangan karena Alesse menodongkan benda aneh ke arahnya.

__ADS_1


"Kau mau apa, Alesse? Aku sangat lelah! Aku tidak ingin bermain-main!" ujar Alex. "Diamlah! Kau pulang-pulang membawa masalah!" ujar Alesse.


Benda yang ia todongkan pada Alex pun mulai mengeluarkan bunyi. Semakin dekat dengan tubuh Alex, suaranya semakin nyaring.


"A... ada apa ini? Kenapa benda itu berbunyi?" tanya Alex. Alesse hanya menepuk dahi sambil duduk di kursi untuk menghilangkan rasa penatnya karena menggunakan pakaian yang amat berat.


"Aku pikir wajar saja jika benda itu terbenam di bagian tubuhmu. Tapi kenapa harus di pantat? Apakah kau baru saja menduduki bom nuklir sebelum pulang ke sini?" tanya Alesse.


"A... apa maksudmu? Bom nuklir? Kau ini bicara apa? Apa yang salah dengan pantatku?" tanya Alex.


"Mengerikan sekali jika kau tidak merasakan apapun. Bahkan ayah dan ibu sidah mulai merasa pusing karenanya," ujar Alesse.


"Eh? Pusing? Apa maksudmu?" tanya Alex kebingungan. "Berbaringlah! telungkup!" ujar Alesse. Alex pun menurutinya.


Tanpa aba-aba, Alesse langsung merobek celana Alex dengan gunting. Ia sudah menyiapkan beberapa alat di meja.


"Kau serius, Alesse? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Alex. "Diamlah! Jika kau terus bergerak, itu akan meregenerasi dengan cepat! Aku kesulitan mengambil benda itu!" ujar Alesse.


"Be... benda apa yang kau maksud?" tanya Alex. "Entahlah, aku juga tidak tahu benda kecil apa yang memiliki sifat radioaktif yang sangat kuat," ujar Alesse.


"Radioaktif? Kenap ada benda seperti itu di pantatku?" tanya Alex dengan wajah merahnya, ia tampak sangat malu karena Alesse terus mengamati pantatnya.


"Kau tidak merasakan sesuatu?" tanya Alesse. "Aku kurang yakin, tapi beberapa hari ini aku merasa bagian belakang tubuhku seperti meleleh, akan tetapi sekarang sudah tidak lagi," ujar Alex.


"Mengerikan sekali kau ini," ujar Alesse sambil mulai menyayat bagian yang sudah ia tandai. Sayangnya itu langsung menutup kembali dengan cepat.


"Bisakah kau hentikan kemampuan regenerasimu itu?" tanya Alesse. "I... itu tidak mungkin! Rasanya akan sangat sakit!" ujar Alex.


"Huh, padahal aku tidak ingin menggunakan ini!" ujar Alesse sambil menunjukkan sebuah suntikan. Tanpa pikir panjang ia pun langsung menancapkannya di leher Alex.


"Seharusnya itu cukup untuk membunuh manusia, tapi sepertinya dia bukan manusia," ujar Geni sambil tertawa.


"Bukankah pantatnya terlihat sangat bagus? Aku harus berterima kasih pada Alesse karena memberikanku kesempatan untuk melihat ini!" seru Rasya.


"Bisakah kalian diam? Aku kesulitan untuk berkonsentrasi!" ujar Alesse. Setelah kepayahan menyayat daging yang terus beregenerasi, akhirnya ia pun berhasil mengambil benda aneh yang ada di pantat Alex. Itu tampak seperti lempengan kaca berwarna ungu gelap.


"Material seperti ini tidak ada di bumi, banyak jejak arus listrik dari dalamnya," bisik Jawara.


"Sepertinya Alex juga sudah tahu dan pernah pergi ke dunia lain!" Alesse menyimpulkan, ia terus mengamati lempengan kaca itu dengan seksama.


Tak lama kemudian Alex pun terbangun dari tidurnya. "Kau sudah bangun? Benar-benar luar biasa!" ujar Alesse.


"Apakah itu benda yang kau maksud?" tanya Alex. Tiba-tiba ia mencoba untuk menyentuhnya. Saat itu juga kulit di tangannya memerah seperti terbakar.

__ADS_1


"Kau bercanda?" tanya Alesse. Alex hanya menggaruk-garuk kepala sambil sedikit tertawa.


__ADS_2