Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Pengendalian Pertama


__ADS_3

"Kau ingin aku melakukan apa di lapangan ini?" tanya Alesse. "Cukup duduk saja dengan tenang di situ," ujar Kaa. Ia pun menghampiri Yuki.


"Bagaimana caramu dapat mengendalikan udara? Melihat kondisimu yang seperti ini, kau tidak mungkin berguru pada seseorang," ujar Kaa.


Yuki agak ragu untuk menjawab. "Jika yang aku katakan itu salah, ingatkan saja! Kau tidak perlu takut untuk berbicara," ujar Kaa.


"Aku belajar sendiri," jawab Yuki. Suara yang keluar dari mulutnya itu membuat Alesse dan Kaa terkejut. "Entah kenapa aku merinding saat mendengarnya berbicara," ujar Alesse. Yuki menjadi terpuruk mendengar komentarnya. "Abaikan yang ia katakan, kau tidak perlu berkecil hati," ujar Kaa.


"Hei! Kupikir kita hanya membuang-buang waktu di sini! Lebih baik aku pergi ke dalam dan menyelesaikan pekerjaanku!" ujar Alesse.


"Duduklah dengan tenang! Selagi hujan belum datang, coba nikmati aroma rerumputan ini," ujar Kaa. "Aku tidak merasakan apapun," ujar Alesse singkat.


"Cepat sekali! Kau bahkan belum mencobanya! Pejamkan matamu, kupikir itu akan membuat dirimu semakin fokus. Cukup rasakan saja aroma remruputan ini. Tidak terlalu sulit," ujar Kaa.


Alesse pun memejamkan mata. Ia mulai merasakan angin sejuk datang menghampirinya, beriringan dengan aroma tanah yang menyebar karena basah terkena air hujan.


Alesse pun mulai merasakan sesuatu yang lain, seolah arah tiupan angin itu tampak seperti lembaran kain yang terus menyelimutinya. Lembaran itu terus berlalu di wajahnya.


"Setiap orang dapat merasakan hembusan angin dengan cara yang berbeda. Mungkin kau sudah menemukan gambaran besarnya," ujar Kaa.


"Aku merasakannya seperti kawanan domba yang perlu digiring," ujar Yuki, sekali lagi ia berbicara dan membuat Kaa merinding. Yuki bisa mengetahui bahwa Kaa mencoba menahan rasa terkejutnya.


"A... aku baik-baik saja, kau tidak perlu segan-segan untuk berbicara," ujar Kaa. "Kawanan domba? Kenapa kau mengibaratkan tiupan angin sebagai kawanan domba? Itu terlalu berat!" ujar Alesse. "Cukup fokus pada dirimu saja! Tidka perlu mencoba membayangkan seperti yang orang lain pikirkan! Aku bahkan membayangkan hembusan angin sebagai bagian dari sayapku," ujar Kaa.


"Rumit sekali kalian berdua! Padahal aku dapat merasakannya..... ini.... seperti... lembaran kain tipis," ujar Alesse.

__ADS_1


"Tepat sekali! Akhirnya kau menemukan cara untuk mengendalikan hembusan angin itu!" seru Kaa.


"Baiklah, lenapa tiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang angin ini? Bukankah itu membuat yang lain kesulitan untuk mengajari seseorang?" tanya Alesse.


"Yeah, kalau kau tidak keberatan meniru seseorang, silahkan! Kau tidak punya sayap, jadi kau tidak bisa meniru apa yang aku pikirkan, sedangkan Yuki..... lihatlah otot-otot ini, ia menggunakan cara yang keras untuk mengendalikan angin. Kawanan domba bukanlah hal yang mudah untuk dikendalikan," ujar Kaa.


"Berarti yang ia pikirkan itu sangatlah tidak efektif! Bukankah lebih mudah mengibaratkan angin sejuk ini sebagai lembaran kain tipis?" tanya Alesse.


"Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda, Alesse! Seperti aku yang selalu bergantung pada sayapku untuk bepergian, ataupun Yuki yang memang seorang pengembala domba. Tidak banyak orang yang sempat kepikiran menganggap hembusan angin sebagai lembaran kain. Jika dilihat dari sifatmu, kau memang suka memudahkan sesuatu, mencari solusi dengan resiko paling sedikit. Seperti lembaran kain ini, kau tidak perlu khawatir itu akan membebanimu," ujar Kaa.


"Jadi, apa keistimewaan dari perbedaan tiap pola pikir orang-orang ini? Jika tidak ada, pada akhirnya lembaran kain adalah yang paling logis untuk menggambarkan hembusan angin ini!" ujar Alesse.


"Tentu saja ada keistimewaannya! Yuki, cobalah tunjukkan pengendalianmu," pinta Kaa. Yuki pun mengangguk. Ia melakukan suatu gerakan seperti menyeret tali tambang.


"Lihatlah betapa kuatnya angin yang ia buat! Bahkan rerumputan di sekitar sini ikut tertarik olehnya. Sayangnya pengendaliannya masih terlalu kasar! Ia perlu banyak latihan! Sekarang giliranmu, cobalah untuk mengendalikan hembusan angin ini sebelum menghilang," ujar Kaa.


"Aku harus berbuat apa? Melakukan gerakan konyol sepertinya?" tanya Alesse. "Aku tahu kau malu untuk memperagakannya. Bagaimana pun juga kau harus melawan rasa gengsimu! Bukankah kau benci rasa malu yang berlebihan? Kau harus bisa mengendalikannya!" ujar Kaa.


Akhirnya Alesse mencoba menenangkan diri. Ia membayangkan kain yang terus berlalu di hadapannya dan mencoba untuk melipatnya, akan tetapi tidak terjadi apapun setelahnya.


"Aku sudah mencobanya tapi kain-kain itu bahkan tidak dapat kugapai," ujar Alesse. "Aneh sekali! Harusnya tidak seperti ini!" ujar Kaa.


"Jadi? Apanya yang salah?" tanya Alesse. Kaa mencoba memeriksa telapak tangan Alesse. "Saat Elementalist Udara mencoba menggunakan kekuatannya, akan ada tanda! Suhu dari telapak tangannya akan berbeda!" ujar Kaa. Akan tetapi ia tidak mendapatkan sesuatu yang istimewa dari telapak tangan Alesse.


"Ini bukanlah tangan seorang Elementalist! Benar-benar aneh! Kau adalah Warden, setidaknya kau harus memiliki salah satu ciri dari keenam Elementalist yang ada!" ujar Kaa. Ia tampak begitu kebingungan.

__ADS_1


"Oke, sudah cukup omong kosongnya! Yang aku dapatkan hari ini adalah waktu yang terbuang sia-sia! Aku tidak akan mendengarkanmu lagi dan kembali pada pekerjaanku!" ujar Alesse.


"Tunggu dulu, Alesse! Sepertinya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu! Seseorang telah menyegel pengendalianmu! Tapi siapa? Aku kenal Chron yang mempunyai kemampuan itu. namun ia tidak akan melakukan hal itu padamu! Ia juga belum tahu bahwa kau adalah seorang Warden! Apakah kau berkontak dengan orang lain yang memiliki pengendalian air?" tanya Kaa. "Mungkin Salsha, ia tidak pernah sedekat itu denganku. Kami selalu menjaga jarak seolah ada kebencian di antara kami," ujar Alesse.


"Aku yakin itu terjadi setelah ia melihat dirimu berubah menjadi Aqua, tidak banyak orang yang mau disamakan seperti itu! Jadi mustahil Salsha melakukannya," ujar Kaa. Saat mencoba berpikir keras, akhirnya dalam kepala Kaa terbesit seseorang yang tidak asing.


"Anne, cucuku! Apakah gadis itu melakukan sesuatu padamu?" tanya Kaa. "Oh? Gadis dalam bongkahan es itu? Ingatanku masih samar-samar, hal terakhir yang kuingat adalah ia menusuk kedua telingaku dengan es runcing. Aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya," jawab Alesse.


"Sudah kuduga! Sepertinya aku tahu kenapa ia melakukan hal itu," ujar Kaa. "Kenapa?" tanya Alesse. "Ia sudah tahu bahwa kau akan menjadi Warden selanjutnya, ia mencoba untuk menyegel pengendalianmu agar kau tak bisa menggunakannya," jawab Kaa.


"Brilian sekali! Kenapa ia tidak sekalian menyegel enam orang ini agar tidak keluar dengan sendirinya? Bukankah ini terlalu setengah-setengah?" tanya Alesse. "Itu bukanlah hal yang bisa dilakukan elementalist air, ia hanya membekukan suatu bagian kecil dalam kepalamu. Aku tidak terlalu mengerti bagian yang mana, namun itu bisa dikembalikan seperti semula oleh orang yang sama," ujar Kaa.


"Wah! Bagus sekali! karena gadis itu sudah mati terjebak dalam es, kita tidak punya pilihan lain kan? Kalau begitu biarkan aku menikmati hidupmu sebagai orang biasa. Kau mungkin bisa menunggu kehadiran Warden selanjutnya setelahku jika ingin melakukan sesuatu. Bukankah chron berumur panjang? Kupikir 50 atau 100 tahun bukanlah waktu yang panjang bagi mereka," ujar Alesse.


"Ini tidak boleh dibiarkan, Alesse! Kau ingat dunia cermin yang pernah kuceritakan? Dirimu yang lain dari dunia itu sedang berkeliaran ke berbagai tempat dan membunuh banyak orang! Jika dibiarkan, orang-orang tidak akan tinggal diam! Mereka akan mengira dirimu yang melakukannya! Tidak akan lama lagi hingga itu terjadi! Hidupmu akan selalu terusik jika ia tidak dihentikan!" ujar Kaa.


"Kenapa itu jadi tanggung jawabku untuk mengehenrikannya? Lalu guna Chron dan Dark Warden apa? Seharusnya kalian yang menghentikannya!" ujar Alesse.


"Kau juga memiliki tanggung jawab itu karena kau adalah Warden," ujar Kaa. "Sekarang tidak lagi. Lihatlah. aku bahkan tidak bisa mengendalikan apapun. Sekarang aku adalah orang biasa yang ingin hidup tenang sambil melakukan berbagai eksperimen ilmiah," ujar Alesse.


Kaa pun tersenyum. "Masamu sebagai manusia biasa akan berakhir, Alesse!" ujarnya kemudian berjalan menuju ke rumah.


"Hei! Apa yang kau inginkan? Apakah kau hendak mengancamku?" tanya Alesse. "Tidak, aku baru ingat bahwa kau kembali hidup dari bongkahan es itu karena Alex. Kupikir ia bisa melakukan hal serupa untuk gadis itu, jadi ucapkan selamat tinggal untuk kehidupanmu yang tenang itu," ujar Kaa.


"Kupikir percuma saja melakukan hal itu. Meskipun hidup kembali, jiwa aslinya tetap sudah mati," ujar Alesse. "Aku tidak peduli, yang kubutuhkan hanyalah isi kepalanya. Aku yakin setidaknya ia ingat sesuatu saat menyegel pengendalianmu," ujar Kaa.

__ADS_1


__ADS_2