Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
The Blue Cowl


__ADS_3

Setelah puas menatap matahari senja, ia pun pergi ke pasar dan melihat barang-barang yang dijajakan. Ia merasa tidak asing dengan pemandangan itu semua.


Festival nelayan pun diadakan sedangkan ia terus mencari hal yang tidak pasti, mencari keberadaan gadis berjubah biru.


Setelah festival selesai, ia tidak mendapati apapun, ia pun terduduk kecewa. "Kenapa kita tidak bisa menemukannya? Waktunya sudah terlambat sekarang! Ia pasti sedang dibawa paksa oleh ayahnya," ujar Alesse.


"Mungkin saja dari awal si gadis berjubah biru itu memang tidak ada," ujar Jawara. Akhirnya mereka berdua beranjak dari tempat duduk mereka dan melanjutkan perjalanan.


Tiba-tiba seorang anak tampak berlari di tikungan, mengejutkan Alesse. Dengan cepat Jawara menghadangnya agar Alesse tidak terluka.


Karena tubuh Jawara yang keras, anak itu langsung jatuh tersungkur setelah menabraknya. Anak itu tampak tergesa-gesa dan hendak berlari lagi, namun Jawara menahan lengannya.


"Lepaskan," ujar anak itu. Suaranya terdengar datar, tidak seperti orang yang sedang tergesa-gesa.


"Kalau jalan, lihat-lihat! Kau bisa membahayakan orang lain!" tegur Jawara. "Kukira akan menemukan gadis berjubah biru, malah berhadapan dengan anak nakal," ujar Alesse.


Anak yang sejak tadi tergesa-gesa itu tiba-tiba terdiam. "Kau.... dari mana kau tahu julukanku?" tanya anak itu sambil mengangkat wajah.


Alesse terkejut bukan main saat melihat wajahnya. "Sepertinya bentuk wajahnya sama denganmu. Tapi aku tidak menemukan kecocokan pada DNA kalian berdua," ujar Jawara.


"Manusia batu ini bicara apa? bahasanya terdengar aneh!" Anak itu keheranan. "Kau...... kau gadis berjubah biru?" tanya Alesse. "Ya benar, itu aku. Ngomong-ngomong, kau tahu dari mana?" tanya anak itu.


"Whoa! Benar-benar tidak bisa dipercaya! Jika kau benar-benar gadis berjubah biru, tapi kenapa ada yang aneh darimu?" Alesse masih belum percaya.


"Aneh dari mananya? Aku tidak peduli kalian percaya atau tidak, tapi kenyataannya memang aku dijuluki seperti itu," ujar anak itu dengan wajah datar.


"Wajahmu sangat datar! Bukankah gadis berjubah biru itu periang?" tanya Alesse. "Oh? Sepertinya kau membaca dari buku seperti ini juga?" tanya anak itu sambil menunjukkan buku kusam yang ada di sakunya.


"Tunggu dulu! Ini hampir sama seperti milikku, tapi ini lebih tebal," ujar Alesse, ia mencoba mengeluarkan ponselnya. Seketika buku kusam yang ada di ponsel itu muncul kembali dalam bentuk fisik.


"Wah, ternyata kau juga punya! Apakah takdirmu di tulis di dalamnya?" tanya anak itu. "Takdir apaan? Ini hanyalah buku dongeng!" ujar Alesse. "Aneh sekali! Buku milikku berisi takdirku dari kecil hingga akhirnya terkurung di dalam penjara," ujar anak itu.

__ADS_1


"Benarkah?" Alesse mencoba membuka lembaran buku milik anak itu, namun tidak dapat membacanya. "Ini tidak bisa dibaca!" ujar Alesse. "Memang, hanya pemiliknya yang bisa membaca itu," ujar anak itu.


"Hmm? Begitu? Jadi, bukankah seharusnya kau sedang diseret ayahmu ke dalam penjara sekarang? Festival sudah selesai loh!" ujar Alesse.


"Aku kabur darinya," ujar anak itu singkat. "Eh, bukankah itu masalah besar? Mereka akan terus mencarimu loh!" ujar Alesse kemudian menarik anak itu untuk bersembunyi di keramaian pasar.


"Sebaiknya ganti pakaianmu! Mereka akan tahu kau gadis berjubah biru jika terus mengenakan pakaian serba biru ini," ujar Alesse kemudian menyerahkan kain yang menutupi Jawara.


Tanpa pikir panjang, anak itu langsung melepas bajunya di hadapan Alesse. "Hei! Tunggu! Kau tidak bisa melakukan itu di hadapan kami! Kau tidak malu? Bukankah kau seorang gadis?" tanya Alesse keheranan.


"Tidak, aku ini laki-laki," ujar anak itu singkat. Alesse merasa terbodohi, ia pun menarik kerah Jawara dengan kesal.


"Kenapa kau tidak bilang kalau dia laki-laki? Aku sampai tertipu dengannya!" ujar Alesse. "Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan dan kau tidak menanyakannya," ujar Jawara singkat.


"Kenapa kau marah-marah?" tanya anak itu keheranan. "Kenapa kau menipuku?" Alesse balik bertanya. "Aku tidak menipu, aku memang dijuluki gadis berjubah biru" ujar anak itu.


"Bukankah kau laki-laki? Kenapa kau dijuluki sebagai seorang gadis?" tanya Alesse. "Mungkin karena wajahku ini, seharusnya kau lebih tahu karena wajah kita berdua sangat mirip," ujar anak itu.


"Benar-benar aneh! Tidak sesuai dengan cerita di buku!" ujar Alesse. "Mungkin saja aku ini seharusnya terlahir sebagai perempuan. Bahkan ayahku sendiri sampai tergila-gila padaku, ia hanya bisa bertahan karena aku tidak pernah tersenyum," ujar anak itu.


"Tapi jika takdirmu ditulis di buku itu, apakah kau juga bertemu dengan seorang pria bangsawan?" tanya Alesse.


"Oh? Pria bodoh tadi? Yang menawariku untuk menikah dengannya? Sayang sekali karena aku langsung mengakui bahwa aku adalah laki-laki, ia langsung terpuruk seperti orang yang sadar setelah mengira tumpukan kotoran sebagai emas," ujar anak itu.


"Perumpamaanmu kejam sekali! Jadi, namamu siapa?" tanya Alesse. "Aqua," ujar anak itu. "Gimana caramu kabur dari ayahmu? kau melawan takdir yang ada di buku loh!" Alesse penasaran.


"Dari awal, kenyataan bahwa aku adalah laki-laki sudah melawan takdir di buku, namun kejadian sehari-hariku benar-benar sama, tidak ada yang berubah. Mulai dari jubah biru yang terus ingin kupakai itu, hingga berkeliling pasar, semuanya sama persis, kecuali hal yang menyangkut laki-laki atau perempuan, misalnya seperti pria bangsawan tadi dan bagaimana caraku kabur dari ayahku," ujar Aqua.


"Oh, benar sekali, gadis kecil tidak mungkin kuat melawan pria berbadan besar dan garang, bukan secara fisik saja, secara mental pun ia tidak akan berani. Tapi kau laki-laki, tentu punya pemikiran yang lebih logis," ujar Alesse.


"Benar sekali, aku tinggal menggunakan pengendalianku untuk melawannya," ujar Aqua. "Jadi, di mana ayahmu sekarang?" tanya Alesse.

__ADS_1


"Hei! Kurang ajar kau!" seru salah seorang pria sambil menarik lengan Jawara. Ia terkejut karena Jawara sama sekali tidak terseret olehnya.


Alesse terkejut dan langsung memeriksa siapa pria itu. "Dia ayahku," bisik Aqua. Beberapa orang lainnya ikut berkumpul dan langsung terkejut saat melihat tiga orang dengan wajah yang sama.


"Loh? Kenapa anak itu ada tiga?" pria itu keheranan. "Kontak fisik dilanggar! Menyentuh tangan dengan kasar, dalam sepuluh detik apabila tidak dilepas, mode waspada aktif," ujar Jawara, wajahnya tampak kaku seperti robot pada umumnya.


"Hei! Lepaskan! Berbahaya! Kau bisa terluka!" ujar Alesse pada pria itu. "Hah? Apa-apaan kau? Sebaiknya kalian bertiga ikut denganku!" ujar pria itu sambil berusaha menarik lengan Jawara.


"Mode waspada aktif!" Mata Jawara berubah merah, ia langsung membanting pria itu ke tanah.


Akhirnya Alesse menarik Jawara dan Aqua untuk melarikan diri. Mereka berlari ke arah hutan. Saat itu juga tiba-tiba tubuh Aqua perlahan memudar.


"Loh? Apa yang salah denganmu?" tanya Alesse keheranan. "Entahlah, mungkin karena menyalahi takdir yang ada di buku itu, aku akan lenyap," ujar Aqua.


"Lenyap? Omong kosong apa ini?" tanya Alesse keheranan. "Mungkin saja aku akan diganti dengan seorang gadis, seorang yang benar-benar tepat untuk menjalani takdirnya," ujar Aqua.


Tiba-tiba buku kusam yang ada di tangannya menyala dan terbuka Sebuah lembaran tiba-tiba sobek dan melayang di udara. Aqua yang perlahan memudar pun langsung terseret ke dalamnya.


Lembaran itu langsung mendekati Alesse. "Apa ini? Kenapa Aqua masuk ke dalamnya?" Alesse keheranan. Lembaran itu tiba-tiba masuk ke dalam tubuhnya, tidak membekas apa-apa.


"Loh? Kalian siapa?" Suara seorang gadis tiba-tiba terdengar. Gadis itu sudah ada di antara mereka berdua.


"Loh? Di mana ini? Kenapa aku di sini?" Gadis itu kebingungan. "Kau siapa? Kenapa tiba-tiba ada di sini?" Alesse ikut keheranan.


"Entahlah, seharusnya aku sedang melihat festival nelayan tadi dan..... dan....." Gadis itu tampak tidak ingat apa-apa.


Akhirnya Alesse dan Jawara pun mengantarnya ke pelabuhan, tempat festival itu diadakan. "Sebaiknya kau rahasiakan apa yang barusan kau naiki!" ujar Alesse.


"Ba... baiklah! Aku tidak akan mengatakan kepada siapapun tentang rumah terbang itu," ujar gadis itu. Ia pun pergi sambil menutupi kepalanya dengan jubahnya.


"Entah kenapa, dialah yang lebih tepat dikatakan sebagai gadis berjubah biru daripada anak laki-laki tadi," ujar Jawara. "Benar sekali! Aku juga berpikir begitu," ujar Alesse. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan ke kota seberang laut.

__ADS_1


__ADS_2