
"Ah, apa ini? Aku berada di mana?" Irawan tampak kebingungan karena tempat yang ia lihat sangatlah asing.
"Akhirnya kau bangun juga! Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Luka jahitanmu belum sembuh," ujar Alesse sambil duduk santai di kursi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Irawan. "Bukanlah hal spesial, aku hanya mencoba menambal lambung bocormu dan membersihkannya," ujar Alesse santai.
"Itu bukanlah hal yang biasa! Jangan bercanda!" ujar Irawan. "Sebaiknya kau jangan marah dulu! Aku akan membiusmu loh!" ujar Alesse.
Tidak lama kemudian pintu rumah Irawan terbuka. Alesse pun terkejut bukan main karena Sanay muncul dari balik pintu itu. Ia tidak menduga hal itu karena tidak bisa mendengar suara pikiran Sanay. Ia bahkan sampai terjatuh ke lantai.
"Ke... kenapa kau muncul dari sana?" tanya Alesse keheranan. "Seharusnya aku yang tanya begitu, kenapa kau ada di rumah paman Irawan? Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Sanay sambil menghampiri Irawan yang tampak terbaring tak berdaya.
"Aku hanya mencoba menutupi lambungnya yang bocor dan membersihkannya, ia akan baik-baik saja," ujar Alesse. "Oh, begitu kah?" ujar Sanay santai, ia pun meletakkan beberapa makanan di meja.
"Kenapa responmu aneh sekali? Seharusnya kau tegur anak itu!" ujar Irawan. "Tidak perlu, aku percaya dengan kemampuan Alesse kok, Di Dasar Lautan," ujar Sanay.
Alesse pun tampak tidak peduli lagi, ia sibuk membaca di ponselnya. "Aneh sekali! Kenapa aku merasakan ruangan aneh ini dikelilingi arus listrik yang sangat besar! Lagian kenapa ada ruangan aneh ini? Sejak kapan? Padahal beberapa hari sebelumnya tidak ada," ujar Sanay.
"Tanya saja pada anak itu! Ia yang membuatnya," ujar Irawan. "Jadi, gimana caranya kau membuat ini?" tanya Sanay. "Aku tidak akan memberitahu pada seorang Elementalist," ujar Alesse.
"Elementalist? Siapa? Sanay?" Irawan penasaran. "Siapa lagi? Paman tidak curiga kenapa ia bisa mendeteksi arus listrik di kubus ini? Ia juga beberapa kali mencoba meretas barang-barangku. Aku sampai terkejut karena pengendalian listrik bisa digunakan seperti itu juga," ujar Alesse.
"Ini bukan apa-apa kok, aku hanya suka mempelajari bahasa pemrograman komputer, ternyata lebih mudah dari yang kukira, akhirnya aku bisa memanipulasi aliran listrik menjadi sebuah jaringan dan mulai menggali informasi dengan jaringan itu," ujar Sanay.
"Hebat sekali! Jika seperti itu, kau mampu menjadi peretas paling hebat di dunia, dan orang-orang pun tidak akan bisa menemukanmu," ujar Irawan.
"Yeah, aku bisa menjadi orang yang paling kaya di dunia, tapi sayangnya aku tidak tertarik dengan hal itu," ujar Sanay.
"Heh? Begitu kah? Pendiriannya sama sepertiku," pikir Alesse. "Jadi, Alesse! Kukira kau sudah berhenti melakukan ini karena tidak pernah mengunjungi perpustakaanku lagi, ternyata kau diam-diam masih menggemari hobimu itu? Bahaya loh!" ujar Irawan.
"Apanya yang bahaya?" tanya Alesse. "Kau bisa kecanduan untuk mencari tahu berbagai hal! Itu tidak baik! Apalagi jika kau sampai rela menghabiskan waktumu hanya untuk itu," ujar Irawan.
__ADS_1
"Sayang sekali, aku sudah kecanduan dari dulu, tapi aku tidak merasakan bahayanya," ujar Alesse. "Itu berbahaya Alesse! Semakin lama kau akan terus mengurung diri, menjaga jarak dari orang-orang bahkan menganggap menghabiskan waktu bersama keluarga adalah hal sia-sia," ujar Irawan.
"Aku tidak berniat untuk menikah, dengan begitu aku tidak perlu mengkhawatirkan masalah keluarga yang sangat merepotkan," ujar Alesse.
"Sepertinya tingkat kecanduannya sudah parah, ia bahkan berniat tidak menikah" ujar Sanay. "Kau akan menyesal sudah mengatakan itu Alesse! Aku sudah merasakannya sendiri! Tidak ada yang mengingatkanmu untuk makan, tidak ada yang menemani dan merawatmu saat sakit, itu adalah hal yang menyengsarakan," ujar Irawan.
Alesse tidak sependapat dengannya, ia punya Jawara jadi tidak memikirkan siapa yang akan merawat atau menemaninya. Ia bahkan berpikiran untuk membuat robot sebagai pembantunya.
"Meskipun kau mengatakan hal itu, aku tetap tidak akan menikah, aku punya solusi lain untuk masalah-masalah itu. Jika kau memang tidak sanggup hidup seperti itu, kenapa tidak menikah saja?" tanya Alesse.
"Aku? Menikah? Memangnya siapa yang menikah denganku?" tanya Irawan dengan senyum menyedihkan. "Ada, Sanay bisa menikah denganmu. Lihatlah, ia bahkan membawakanmu makanan," ujar Alesse dengan ekspresi dinginnya.
"Heh? A..... aku? Ma... maaf, paman Irawan terlalu tua untukku," ujar Sanay. "Emang apa masalahnya dengan usia? Bahkan banyak pria muda yang menikah dengan nenek-nenek atau pun sebaliknya," ujar Alesse.
"Kau ini suka sekali berbicara seenak jidat yah! Kukira kau sudah berubah, ternyata masih sama saja," ujar Irawan.
"Apanya yang berubah? Apa salahku?" tanya Alesse ekspresi datarnya karena merasa tidak ada yang salah.
"Heh? Koma? Alesse pernah terkena kecelakaan?" Sanay tampak penasaran. "Yeah benar sekali, itulah mengapa ia lebih kecil dibandingkan Alex, namun hal yang mengganjal pun semakin tampak saat aku terus mengamatinya," ujar Irawan.
"Apa itu paman?" tanya Sanay penasaran. "Ia mengidap kepribadian ganda, dan itu terdapat enam kepribadian yang berbeda. Aku sebenarnya berharap pada salah satu kepribadian ini dapat mendominasinya, agar ia tidak kecanduan dengan ilmu pengetahuan," ujar Irawan.
"Kepribadian ganda? Paman ini bicara apa? Aku tidak mengidap kepribadian ganda! Aku biasa saja! Paman ada-ada saja!" ujar Alesse. Sayangnya wajah Irawan tampak serius.
"Kau memang tidak menyadarinya, sayangnya suasana hatimu mudah berubah dengan cepat tanpa alasan, bahkan sering berpadu antara senang dengan kesal," ujar Irawan.
"Bukankah itu wajar? Suasana hati manusia memang dapat berubah dengan cepat," ujar Alesse.
"Memang, tapi tidak secepat dirimu! Kau tidak tahu alasan orang tuamu menjaga jarak darimu? Terkadang kau merusak suasana sekitar karena kepribadianmu cepat berubah-ubah," ujar Irawan.
Alesse pun menghela nafas pasrah. "Baiklah, terserah kau menganggapku berkepribadian ganda atau sebagainya. Aku tidak terlalu peduli,lagian tidak berpengaruh bagiku," ujar Alesse.
__ADS_1
"Lihatlah, bahkan saat ini kau menunjukkan tiga kepribadian yang berbeda. Padahal kita berbicara belum ada sepuluh menit lamanya," ujar Irawan.
"Eh tiga? Banyak banget!" Sanay tidak percaya. "Biar kujelaskan. Pertama, saat kau mengaku tidak ada yang aneh darimu, kau menunjukkan ekspresi datar tanpa alasan. Pembicaraan kita tidak sedingin itu hingga kau memasang wajah datar," ujar Irawan dengan wajah serius.
"Benar sekali, aku sempat takut melihat wajahnya," ujar Sanay. "Yang kedua, saat kau membantah, kau langsung berterus terang bahwa kau tidak berkepribadian ganda. Itu tidak sesuai dengan kebiasaan Alesse yang kecanduan ilmu pengetahuan. Normalnya ia akan bertanya 'Apa alasanmu menuduhku berkepribadian ganda? Apa yang membuatmu berpikir begitu? Apa buktinya?' Biasanya kau akan mengatakan hal ini," ujar Irawan.
"Sepertinya lebih baik kau hentikan pembicaraan ini," ujar Alesse. Ia tampak tidak suka Irawan membicarakannya dengan terus terang.
"Aku belum selesai bicara, tapi kau sudah menunjukkan kepribadianmu yang ke empat," ujar Irawan dengan tatapan serius.
Alesse menghela nafas lagi, kali ini lebih berat, ia menatap Irawan sambil mengerutkan dahi. "Sepertinya yang kulakukan serba salah," ujar Alesse dengan wajah murung. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Irawan terlalu menyudutkannya.
"Whoa, ternyata kau memiliki sisi yang manis juga! Padahal kebanyakan sikapmu tampak dingin seperti perempuan, apalagi dengan wajah itu," ujar Sanay. "Kau juga berpikir begitu?" Alesse semakin terpuruk.
Melihat wajahnya itu Sanay semakin gemas, entah apa yang ia pikirkan, ia langsung mengacak-acak rambut Alesse. "Baiklah-baiklah! Jangan menangis!" ujar Sanay sambil menepuk-nepuk kepala Alesse.
"Aku tidak menangis loh! Lagian, kenapa kau menepuk-nepuk kepalaku? Aku bukan anak kecil!" ujar Alesse keheranan. "Sepertinya lebih susah untuk terbiasa dengan hal ini! Alesse terlalu cepat berubah," ujar Sanay.
"Dengan begitu ia akan menyadarinya sendiri bahwa ia memiliki beberapa kepribadian," ujar Irawan.
"Alesse, sepertinya pemulihan pria ini sudah selesai, bolehkah aku kembali ke bentuk semula?" tanya Jawara.
"Loh? Suara siapa itu? Kenapa mirip Alesse?" Sanay mencoba memeriksa monitor dan mendapati wajah Alesse berada di sana. Ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya wajahmu lebih maskulin kalau berada di layar monitor ini," ujar Sanay. "Kau boleh kembali seperti semula, Jawara," ujar Alesse.
Akhirnya kubus yang menyelubungi mereka pun memecah kemudian bersatu kembali di sisi Alesse membentuk layaknya seorang manusia.
Irawan dan Sanay tercengang melihat hal itu. "Benda apa ini Alesse? Kenapa ia sangat mirip denganmu?" tanya Sanay.
"Aku menamainya Jawara," ujar Alesse singkat, ia malas menjelaskan panjang lebar. Ia juga tidak ingin Irawan tahu bahwa ia mendapatkan Jawara dari lingkaran misterius.
__ADS_1
"Karena sudah selesai, sebaiknya kita kembali pulang, Alesse," ujar Jawara. "Benar sekali, kapan-kapan aku akan berkunjung lagi," ujar Alesse kemudian pergi keluar rumah.