Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Miasma


__ADS_3

Mereka berlima pun akhirnya menaiki Levy setelah Kaa membukakan gerbang untuk pergi ke antar dunia.


Sayangnya mereka terus dikejutkan dengan tumpukan mayat yang ada di perjalanan mereka.


Akhirnya mereka pun singgah di sebuah tempat dengan bau yang tidak sedap. "Bau ini benar-benar menyiksa! Kenapa ada orang yang tega berbuat keji seperti ini?" tanya Salsha.


"Watak seperti itu hanya pantas untuk menggambarkan seseorang yang tidak tahu diri," ujar Sandy sambil melirik Alesse. Sayangnya Alesse tampak tidak peduli.


Tiba-tiba saja Kaa menjatuhkan gelas yang ia gunakan untuk minum, wajahnya pucat seketika. "Alesse! Kau..... kembalilah ke kendaraanmu!" ujar Kaa panik.


"Loh? Kenapa?" tanya Alesse. "Tidak usah banyak tanya! Cukup lakukan yang aku minta!" ujar Kaa, pada akhirnya ia tergesa-gesa mendorong Alesse untuk masuk ke dalam Levy.


"Ada apa Kaa? Kau tampak begitu ketakutan! Baru kali ini aku melihat wajahmu bisa seperti itu," ujar Salsha.


"Ini bukan urusan kalian. Mari ikut aku terlebih dahulu," ujar Kaa. Mereka pun pergi menuju ke sebuah kedai dan mendapati seseorang dengan bahu lebar sedang duduk meneguk segelas air.


"Itu siapa?" tanya Salsha keheranan. Saat pria itu tiba-tiba menolehkan wajah ke arah mereka, ia pun terpana.


"Bu.... bukankah itu Raya Stephen?" tanya Salsha terkejut. Pria itu pun beranjak dari kursinya lalu menghampiri mereka.


"Tidak ada yang memanggilku dengan nama itu di sini. Kalian pasti dari bumi Earth! Kenapa kalian berada di sini?" tanya Ray dengan ekspresi dinginnya, ia tidak sadar kalau Kaa berada di hadapannya.


"Apakah kau mabuk? Di pagi hari seperti ini?" tanya Kaa dengan perasaan kecewa. "Oh? Kaa! Selamat datang! Maaf karena tidak menyadarimu. Kalau mereka adalah orang yang bersamamu, mereka pasti para pemuda yang baik! Salam kenal, namaku adalah Raya Stephen," ujar Ray.


Jantung Salsha merasa berdebar kencang saat pria itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Sandy yang selama ini membenci pria itu juga tampak gagap karena baru pertama kali bertemu dengan orang yang paling terkenal di dunia. Di sisi lain Sanay tampak biasa saja.


"Ada apa gadis cantik? Kenapa kau tampak murung begitu? Perlukah aku memberimu semangat?" tanya Ray.


"Hei! Jadi orang sadar dirilah! Usiamu berapa? Jangan menjahili anak-anak!" tegur Kaa. "Oh, maaf aku tidak bermaksud apapun," ujar Ray sambil menggaruk-garuk kepala.


"Kami bukan anak-anak! Kami sudah dewasa!" ujar Salsha. "Wah, lihatlah gadis yang cantik dan indah ini. Matamu benar-benar memikat hatiku," ujar Ray, ia hendak berjabat tangan dengannya sekali lagi.


Sayangnya saat itu juga Sandy berusaha memberanikan diri untuk menepis tangannya. "Ma... maaf! Meskipun kau orang paling terkenal di dunia, menurutku yang seperti ini terlalu berlebihan," ujar Sandy.


"Walah! Kau mengingatkanku pada Alex! Kalian benar-benar pemuda yang gagah berani!" ujar Ray terkesan.


"Eh? Alex? Ma... maksudmu Alex Jawara?" tanya Sandy. "Whoa! Dunia ini sangat kecil ternyata! Apakah kalian mengenal Alex Jawara?" tanya Ray.


"Tentu saja! Dia satu sekolah dengan kami sebelum akhirnya pergi ke Amerika," ujar Salsha.

__ADS_1


"Jika kalian adalah teman-teman Alex, kalian pasti orang-orang yang hebat juga," ujar Ray. "Tidak, kami hanya mengenalnya saja. Kami tidak terlalu akrab dengan Alex, hanya saja kakaknya....." Sandy enggan mengakuinya kalau dia lebih akrab dengan Alesse daripada dengan Alex.


"Kakaknya? Kakak Alex Jawara?" tanya Ray, ia semakin penasaran. "Ehm, abaikan hal itu! Ngomong-ngomong, kenapa kau berada di sini?" tanya Kaa.


"Akhir-akhir ini banyak mayat yang berserakan, sedangkan aku harus membakar semua itu sebelum menjadi penyakit yang membahayakan banyak orang," ujar Ray.


"Sepertinya yang mampu melakukan hal itu hanya kau seorang," ujar Kaa terkesan. "Dasar orang-orang keji! Berani-beraninya dia membantai orang-orang itu! Mereka tidak bersalah, tapi kenapa....." Ray tampak frustasi dan meneguk minumannya lagi.


"Sebaiknya kau tidak mengacau pagi-pagi begini, awas saja kalau aku mendengar hal buruk darimu lagi," ujar Kaa dengan ekspresi dinginnya.


"Oi, pak tua.... Tidak perlu garang begitu padaku. Anak-anak itu bisa ketakutan di dekatmu loh," ujar Ray. "Si.. siapa yang kau bilang pak tua?" Kaa tampak kesal, sedangkan ketiga anak lainnya hanya bisa menahan ludah karena tidak ingin membayangkan seperti apa Kaa saat marah.


Akhirnya Kaa mencoba sabar sambil menghela nafas perlahan. "Anak-anak, ayo pergi dari sini! Benar-benar membuang-buang waktu!" ujar Kaa kemudian berpaling dari Ray.


"Tunggu dulu, Kaa! Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu!" ujar Ray, wajahnya tiba-tiba serius.


"Kau tahu siapa dalang di balik semua perbuatan keji ini?" tanya Ray, wajahnya tampak serius meskipun ia sedang mabuk.


"Tidak, aku tidak tahu," jawab Kaa. "Kalau pelakunya adalah Warden, sebaiknya kau tidak menutup-nutypinya apalagi membelanya. Yang kau musuhi bukan hanya aku, tapi semua orang yang ada di dunia ini," ujar Ray.


Kaa hanya mengepalkan tangan, ia tidak merespon apapun dari perkataan Ray. "Anak-anak, ayo pergi!" ujarnya sekali lagi.


Alesse tidak terlalu peduli apa yang barusan terjadi karena dari awal Kaa tidak mengikutsertakannya bersama mereka.


"Kemana lagi tujuan kita, Kaa?" tanya Alesse. "Gordon," ujar Kaa, ia tidka menyebutkan gerbang mana yang dapat mereka lewati menuju ke bumi Gordon.


Alesse pun mengerti apa yang diinginkannya, ia sudah hafal sebagian tempat gerbang antar dunia itu berada.


Setelah sampai di sebuah air terjun yang sangat tinggi, Alesse mencoba membuat Levy menerjang air terjun itu.


"Kau hendak pergi ke mana? Ini di mana?" tanya Kaa kebingungan. "Kau bilang hendak pergi ke Gordon, tempat ini adalah gerbang menuju Gordon," jawab Alesse.


Saat air hujan mulai menghantam permukaan Levy, suara gemuruh pun terus terdengar dari dalam Levy, bahkan getaran hebat terjadi, membuat orang-orang tampak panik. Mereka pikir kendaraan yang mereka naiki itu akan terhempas ke dalam lautan.


Akan tetapi sebelum hal itu terjadi, Levy berhasil menembus aliran air terjun itu dan berakhir di kabut yang sangat tebal.


"Ada apa ini? Kenapa kabutnya sangat tebal sekali? Kenapa warnanya sangat aneh?" tanya Sandy. Kaa pun mencoba memeriksa dari dinding Levy.


Wajahnya semakin pucat. "Ini sudah dimulai! Hal buruk yang sudah kuduga jauh jauh hari akhirnya terjadi juga! Tapi kenapa bisa secepat ini?" Kaa tampak sangat ketakutan.

__ADS_1


"Sebenarnya ini apa, Kaa?" tanya Sandy. "Itu adalah Miasma. Hanya dalam hitungan hari sampai kabut ini menyelimuti dunia dan merenggut nyawa orang-orang!" ujarnya.


"Kenapa kabut bisa merenggut nyawa orang?" tanya Salsha. "Kalian tidak lihat di bawah? Itu semua adalah hamparan mayat yang sudah sangat membusuk! Bahkan jika ada burung yang nekat terbang di sini, ia akan mati!" ujar Kaa.


"Mengerikan sekali! Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah ini menyebar?" tanya Salsha.


"Yang bisa kita lakukan adalah segera pergi dari sini! Alesse segera keluar dari tempat ini! Ayo keluar sebelum kalian semua menghirup kabut tebal ini!" ujar Kaa panik.


"Kenapa kau sangat mengkhawatirkan kami? Seolah kau sendiri akan baik-baik saja meskipun menghirupnya," tanya Alesse. "Karena aku adalah Chron! Aku tidak mati hanya karena racun dan penyakit! Tapi kalian berbeda! Sebaiknya segera pergi! Kumohon segeralah!" ujar Kaa.


"Tenang saja, Levy punya cadangan oksigen untuk keadaan seperti ini," ujar Sandy. "Ternyata kau cukup tahu tentang Levy untuk seseorang yang tidak peduli pada pemilik kendaraan ini," sindir Alesse. Sandy tampak kesal, ia tidak ingin mengakuinya, namun tidak bisa menyangkalnya.


"Sebaiknya simpan dulu permusuhan kalian! Aku benar-benar berbicara serius! Kalian bisa dalam bahaya jika menghirupnya!" Kaa masih terlihat cemas.


"Tenang saja. Itu tidak akan tembus ke dalam sini," ujar Sandy berusaha menenangkan, namun Kaa masih tidak yakin dengan perkataannya. "Hei, Alesse! Katakanlah sesuatu! Bukankah kita akan baik-baik saja meskipun berada di di sekitar kabut ini?" tanya Sandy, meskipun sebenarnya ia enggan berinteraksi dengannya.


"Selanjutnya kita pergi ke mana?" tanya Alesse, ia malah mengabaikan pertanyaan Kaa. "Kalau kau begitu panik, bukankah sebaiknya kita segera pergi dari sini? Jadi ke mana tujuan selanjutnya?" tanya Alesse sekali lagi.


Akhirnya Kaa pun menunjukkan peta kusam miliknya. Alesse pun menyelaraskannya dengan peta digital yang ia miliki.


"Luar biasa! Dari mana kau mendapatkan peta yang sangat akurat ini? Bahkan ada keterangan ketinggiannya juga," ujar Kaa terkesan.


"Inilah hal mencurigakan yang selama berbulan-bulan lamanya kulakukan. Merekam seluruh permukaan planet berbagai bumi," jawab Alesse, ia menyindir Sandy yang terus mengatakan bahwa ia sangat mencurigakan.


"Hanya karena peta ini, bukan berarti alasanku mencurigaimu akan hilang!" ujar Sandy sambil menunjukkan bekas luka di tangannya. Meskipun sebelumnya Sandy tidak menunjukkan luka itu, Alesse sudah mengamatinya dari awal.


Luka sayatan yang ada di tangan Sandy sama persis seperti saat ia memegang pisau.


"Jadi.... luka itu disebabkan olehku?" tanya Alesse, akhirnya ia tahu inti dari kebencian Sandy terhadapanya. Yang awalnya ia tidak peduli, kini ia mencoba memahami keadaannya.


Sandy tampak tidak percaya setelah mendengar pertanyaan itu. "Kenapa kau bertanya? Bukankah kau yang paling tahu siapa yang memberikan luka ini padaku?" tanya Sandy sedikit kesal.


"Tidak, tentu saja tidak. Yang lebih tahu hal itu adalah kau sendiri. Kau yang mendapatkan luka, jadi seharusnya kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, " ujar Alesse.


"Tidak usah berbelit-belit! Jelas-jelas kau berusaha membunuhku dengan sebuah pisau! Jika saja Jawara tidak menyelamatkanku, kau pasti sudah membunuhku!" ujar Sandy. "Aku tidak mendengar apapun dari Jawara, yang mengatakan bahwa luka itu disebabkan olehku," ujar Alesse.


"Tentu saja tidak! Robot itu di bawah kendalimu! Tidak mungkin ia menjatuhkan majikannya sendiri!" ujar Sandy.


"Hentikanlah! Kita harus segera pergi dari tempat ini!" ujar Kaa.

__ADS_1


__ADS_2