Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Tubuh yang tidak bisa bangun


__ADS_3

Alex mendapati tubuh Alesse sedang tertidur di meja belajar. Ia tidak berani membangunkannya karena wajah Alesse tampak sangat nyenyak dalam tidurnya. Akhirnya ia hanya mengambil selimut dan menutupi sebagian tubuh Alesse dengannya setelah itu keluar dari kamarnya.


"Aneh sekali, padahal ini masih pagi! Bagaimana ia bisa tertidur nyenyak seperti itu?" tanya Alex keheranan kemudian mulai melakukan rutinitasnya di pagi hari.


Setelah berjam-jam lamanya, ia mencoba memeriksa apa yang di lakukan Alesse, namun anak itu masih tertidur apa adanya di meja belajar.


"Ini sudah hampir siang, kenapa ia masih tidur?" Alex sedikit khawatir karena anak itu tak kunjung bangun. Akhirnya ia mencoba menyentuh lehernya dan mendapati tidak ada keanehan dalam tubuh Alesse.


"Kupikir ia tidak begitu kelelahan hingga perlu tidur sepanjang hari," ujarnya kemudian mencoba membangunkan Alesse. Sayangnya tubuh Alesse tetap bergeming meskipun beberapa kali ia guncangkan.


"Hmm! Mungkin dia hanya ingin tidur agar bisa terjaga semalaman. Pintar sekali, ia pasti enggan tidur denganku," ujarnya kemudian keluar kamar karena bosan.


Akhirnya sore hari tiba sedangkan Alex masih berada di luar rumah untuk berjalan-jalan. Di sisi lain, Andin dan Hendra baru saja pulang dari perjalanan mereka.


"Kenapa rumah ini sangat sunyi sekali?" tanya Andin keheranan. "Benar sekali, tidak seperti biasanya kamar Alesse terbuka seperti itu," ujar Hendra.


Andin segera memeriksa ke dalam kamar Alesse dan mendapati anak itu masih tertidur nyenyak di kursinya. Hendra pun menyusulnya.


"Wah! Wah! Menggemaskan sekali! Sudah lama aku tidak melihat wajah Alesse yang sedang tertidur pulas seperti itu!" seru Hendra.


"Ia tidak pernah menunjukkan kelengahannya pada kita, mungkin saja ia lupa menutup pintu," ujar Andin. Ia pun menutup kamar Alesse.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Hendra. "Aku tidak ingin melihatnya dengan suasana hati buruk karena lupa mengunci pintu! Sebaiknya kita berpura-pura tidak melihatnya," ujar Andin.


"Ngomong-ngomong, orang besar itu di mana? Kenapa ia membiarkan kakaknya sendirian di rumah ini?" tanya Hendra keheranan.


"Pasti sedang jalan-jalan! Ia bosan jika terus-terusan tinggal di dalam rumah, apalagi di rumah yang begitu sempit ini.... bahkan ia selalu menundukkan kepalanya saat berada di dapur karena takut menabrak plafon yang sangat rendah itu," ujar Andin.


"Aku heran, gimana caranya ia bisa tumbuh setinggi itu? Sangat tidak wajar!" ujar Hendra. "Kau pikir ukuran tubuhmu itu wajar? Kau juga sama-sama tidak wajar untuk seukuran orang Indonesia!" ujar Andin. Hendra pun hanya bisa tertawa sambil menggaruk-garuk kepala.


Tak lama kemudian Alex datang, hal pertama yang ia periksa adalah pintu kamar Alesse. "Syukurlah ia sudah bangun. Sejak pagi ia terus tertidur," ujar Alex.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Alex?" tanya Hendra. "Aku mendapati pintu kamar Alesse terbuka dan ternyata ia sedang tertidur pulas di pagi hari. Karena sekarang sudah tertutup, kupikir ia sudah bangun dan mengunci kamarnya," jawab Alex.


"Yang menutup pintu kamarnya adalah kami," ujar Andin. "Jadi.... maksud kalian Alesse masih tertidur di sana?" tanya Alex. Ia segera membuka pintu dan mendapati Alesse masih pada posisi semula saat ia melihatnya di pagi hari.


"Hei, Alesse! Kau hendak tidur sampai kapan? Ini sudah sore loh!" ujar Alex, ia mencoba mengguncang-guncang tubuhnya, namun Alesse tak kunjung bangun, yang ada malah tubuhnya jatuh tersungkur di lantai.


"Alesse? Alesse!" teriak Alex panik, ia segera mengangkat tubuh Alesse dan membaringkannya di kasur.


"Kenapa ia tak kunjung bangun? Kukira ia baik-baik saja," ujar Hendra setelah memeriksa beberapa bagian tubuhnya. "Benar sekali! Ia sudah seperti ini sejak tadi pagi," ujar Alex.


Andin tampak begitu khawatir, meskipun tahu anaknya masih bernafas, ia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa anak itu tak bangun dari tidurnya.


"Mungkin sebaiknya kita bawa ke rumah sakit! Aku takut dia kenapa kenapa!" ujarnya. Akhirnya mereka membawa Alesse ke rumah sakit.


Sayangnya dokter mengatakan bahwa kondisinya baik-baik saja dan menyarankan untuk menunggunya sedikit lebih lama.


Akhirnya keluarga itu terjaga semalaman, berharap Alesse terbangun dari tidurnya. Akan tetapi anak itu tetap terbaring tak sadarkan diri.


"Mohon tunggu sebentar, tuan! Sepertinya ini kondisi yang sangat langka. Kami perlu melakukan beberapa tes untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat mengenai kondisi ananda," ujar dokter, ia membawa Alesse ke lab untuk melakukan pemeriksaan.


Betapa terkejutnya dokter itu setelah melihat bagian dalam tubuh Alesse. Semua organnya dalam posisi terbalik, membuat dokter itu mencoba memeriksakannya kembali, akan tetapi hasilnya tetap sama. Akhirnya ia langsung memberitahu keluarga anak itu.


"Ada yang perlu saya sampaikan terkait kondisi ananda, ia memiliki kondisi fisik yang sangat langka dan hampir tidak mungkin terjadi!" ujar dokter sambil menunjukkan beberapa hasil tes.


"Ti... tidak mungkin! Kenapa aku tidak menyadarinya? Apakah karena selama ini aku tidak pernah melihatnya saat membelakangiku?" Hendra tampak sangat tidak percaya.


"Benar sekali, mungkin karena aku hanya melihatnya secara berhadapan sehingga tidak sadar kalau jantung Alesse berada di sebelah kanan!" ujar Alex. "Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa yang salah dengan Alesse?" tanya Andin.


"Semua posisi organ pada tubuh ananda dalam keadaan terbalik, seperti melihat bayangan kita sendiri pada sebuah cermin. Yang seharusnya berada di kanan malah di kiri, begitu pula sebaliknya," jawab dokter.


"Apakah kalian bercanda? Memangnya ada seseorang yang bisa hidup seperti itu?" tanya Andin sambil merebut catatan medis milik Alesse.

__ADS_1


"Asalkan organ dalam tubuhnya berjalan normal seperti orang pada umumnya, seharusnya itu baik-baik saja. Sekedar pertanyaan sederhana, apakah ananda menulis dan makan atau beraktivitas dengan tangan kirinya? Biasanyajika sudah terbalik, bagian tubuh yang dominan juga akan terbalik, dan itu mungkin hal yang normal mengingat kondisi tubuhnya yang seperti itu," ujar dokter.


"Aku tidak terlalu memerhatikan, ia bisa menggnukana kedua tangannya untuk beraktivitas. Ia memakan dengan tangan kanan, menggunakan pisau dengan tangan kiri, ia bahkan bisa menulis dengan kedua tangannya secara bersamaan," ujar Alex.


"Dih! Itu malah lebih aneh lagi! Kalian tetap tenang meskipun harus menyaksikan semua keanehan itu setiap hari?" tanya dokter.


"Asalkan ia tidak makan menggunakan kakinya, kupikir itu bisa di toleransi, lagi pula kami memiliki anak yang lebih aneh lagi daripada dirinya," ujar Hendra sambil melirik Alex.


"Mungkin untuk saat ini kami hanya bisa memberikan infus untuk mengganti nutrisi dan cairan dalam tubuhnya. Sepertinya ia belum makan sejak tengah hari dan itu membuat asam lambungnya sedikit meningkat," ujar dokter.


"Lalu? Kapan ia akan bangun, dok?" tanya Andin. "Kami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Kasus yang dialami ananda ini sangatlah langka, kami perlu berdiskusi dengan dokter lainnya," ujar dokter.


Tak lama kemudian perut Alex berbunyi keras sekali, menggelegar dalam ruangan itu. Dokter bahkan terkejut saat mendengarnya.


"Hahaha! Sepertinya kau juga sudah lapar nak!" ujar Hendra tertawa. "Tuan yakin itu suara lapar dari perutnya?" tanya dokter itu keheranan.


"Bukankah sudah kubilang? Aku memiliki anak yang lebih aneh daripada Alesse," ujar Hendra. "Sepertinya sudah lewat jam makan, mungkin kita bisa keluar sebentar," ujar Andin.


"Apakah Alesse akan baik-baik saja?" tanya Alex. "Walah, kau sangat mengkhawatirkan adikmu ya? Benar-benar kakak yang baik!" ujar dokter.


"Aku bukan kakaknya, aku adiknya," ujar Alex. Lagi-lagi dokter itu dibuat bingung oleh keanehan keluarga itu.


"Oh, begitukah? Memang ada beberapa kasus orang memiliki pertumbuhan yang lambat karena asupan gizi yang tidak tepat," ujar dokter. "Pertumbuhan Alesse tidak lambat! Ia baru berusia 17 tahun!" ujar Andin tidak terima.


"Eh? 17 tahun? Lalu.... berapa usia adiknya ini?" tanya dokter. "15 tahun, dok! Sudah kubilang kalau kami punya anak yang lebih aneh dari Alesse," jawab Hendra.


"Baiklah, maaf karena telah menyinggung perasaan kalian. Kalau begitu selamat beristirahat," ujar dokter kemudian segera keluar dari kamar pasien.


"Menyebalkan sekali! Dia pikir kita ini adalah keluarga yang buruk?" tanya Andin kesal. "Tenanglah, mungkin karena kau sudah lapar hinga mudah sekali marah. Sebaiknya kita segera mencari makan," ujar Hendra. Akhirnya mereka bertiga pun keluar sebentar untuk membeli makanan, namun begitu mereka keluar dan menutup pintu, mata Alesse tiba-tiba terbuka.


Itu adalah pemandangan yang cukup mengerikan karena ia tak berkedip sama sekali. Tatapannya begitu layu seolah tak bernyawa, ia juga tetap bergeming meskipun terbaring di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2