
Sudah beberapa bulan sejak Alesse menghancurkan gedung milik wanita yang menipunya. Meskipun begitu tidak ada polisi yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kerugian besar yang didapat tak terelakkan.
Alesse juga sempat mengambil uang dari gedung itu, sesuai dengan jumlah yang ia bayarkan saat memesan generator untuk robotnya.
"Akhirnya selesai juga, bahkan kau buat mirip denganmu lagi. Kau tidak bosan?" tanya Sandy. "Lah, apa salahnya?" tanya Alesse. "Menurutku tidak masalah! Robot ini lebih tegas daripada tubuhmu, Ia lebih gagah," ujar Salsha.
"Meskipun tampak sama seperti gadis lainnya, kau aneh juga yah," ujar Alesse. "Salsha kan memang sukanya sama om-om, yang punya Alpha Face," ujar Sandy.
"Oh, kudengar julukan Raya Stephen adalah Alpha mata keranjang," ujar Sanay. "Apa katamu? Mata keranjang? Mana mungkin pria itu mata keranjang! Ia tidak pernah berkencan dengan siapapun! Ia ramah pada semua wanita! Ia tidak pernah terlibat skandal apapun!" ujar Salsha sambil mengguncang-guncang tubuh Sanay.
"Yeah, bukan begitu juga dari yang kudengar," ujar Sanay karena takut. "Nah, kau juga mengerti kan?" tanya Salsha.
"Masalahnya ia dijuluki Alpha mata keranjang karena suka menggoda orang-orang," ujar Sanay. "Kau ini sangat ember sekali," ujar Alesse.
"Setidaknya dia bukan siapa-siapa kita," ujar Sanay sambil tertawa. "Hei tunggu dulu! Saat kau mengatakan 'Menggoda orang-orang' itu sangat aneh sekali! Apakah ia menggoda pria?" tanya Sandy.
"Yeah, begitulah yang kudengar," ujar Sanay. "Heh? Jadi ini alasan ia tidak menyukai Raya Stephen? Karena penyuka sesama?" Alesse menyimpulkan dalam hati.
"Tidak mungkin! Ia sangat ramah pada wanita loh, ia bahkan bis membuat banyak wanita jatuh cinta padanya. Ia tidak tertarik dengan laki-laki!" ujar Salsha, ia tetap mempertahankan argumennya.
"Aku tidak mengatakan kesimpulan Sandy adalah sepenuhnya benar! Kudengar Raya Stephen suka menggoda semua orang, entah pria atau wanita, asalkan ia memiliki wajah rupawan," ujar Sanay.
"Oh begitu, berarti bukan berarti ia tertarik dengan sesama jenis, ya kan? Ia hanya menggodanya saja, mungkin itu candaan kan?" Salsha mencoba menyakinkan teman-temannya.
"Peduli amat! Lagian apa pentingnya buatku? Buset dah nih orang!" Alesse merasa kesal karena pembicaraan ini tidak selesai-selesai.
"Menurutku sih itu malah lebih tidak sehat! Ia tertarik dengan pria dan wanita. Tamak sekali, lalu ia pilih yang rupawan saja, benar-benar tamak!" ujar Sandy.
"Aish! Kenapa kau sebegitu bencinya sih? Mentang-mentang wajahmu jelek jadi memandang buruk Raya Stephen?" tanya Salsha.
"Yeah, aku hanya masih kecil saja, wajah dewasaku masih menanti di masa depan sana, kau penasaran kan?" ujar Sandy sambil tersenyum penuh gaya.
"Baiklah, akan kunantikan! Bila tetap jelek, aku akan terus mengejekmu!" ujar Salsha. "Tidak masalah! Jangan sampai tertarik denganku loh!" ujar Sandy. "Tidak akan!" ujar Salsha dengan sombong.
"Tapi menurutku lebih baik kau pergi ke Raya Stephen saja, mungkin ia menerima wajahmu. Orang Asia bermata biru sangatlah jarang," ujar Sandy.
"Bilang saja! Kau mengakui kalau aku cantik kan?" ujar Salsha. "Tidak kok, biasa aja," ujar Sandy dengan ekspresi mengejeknya, ia memang terlihat masih kecil dan belum tertarik dengan wanita.
"Menurutku lebih cantik Alesse," ujar Sanay tiba-tiba. "Kau ini bicara apa?" tanya Alesse dengan wajah datarnya. "Kalau aku tidak perlu dibandingkan dengan Alesse," ujar Salsha sambil mencubit pipi Alesse. "Hei! Kenapa aku? Bukankah Sanay yang bilang?" tanya Alesse keheranan.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, aku cuma gemas melihat wajahmu saja," ujar Salsha. "Benar kan? Aku juga setuju!" Pada akhirnya kedua gadis itu terus mempermainkan pipi Alesse.
"Hei, wajahku juga seperti anak kecil loh!" ujar Sandy. "Ogah," ujar Sanay dan Salsha serentak, membuat Sandy terpuruk.
"Oh, Alesse! Tombol apa ini?" Sandy mencoba mengalihkan perhatian sambil menekan tombol yang ada di di leher robot yang baru jadi.
"Jangan!" ujar Alesse, sayangnya itu sudah tertekan. "Lah, Sandy membuat masalah lagi!" ujar Sanay.
"Ma... maaf aku penasaran hingga tidak sengaja menekannya. Apakah ini akan rusak?" Wajah Sandy tampak pucat.
Alesse langsung menghampiri tanpa berkata sedikit pun. "Tidak, aku hanya ingin menekan tombol itu sendiri, bukan ditekan orang lain, tapi karena sudah terlanjur, ya sudahlah," ujar Alesse santai.
"Sialan! Kukira hal itu akan merusak semua usahamu," ujar Salsha kecewa, padahal ia tidak sabar ingin melihat wajah pucat pasi milik Sandy.
"Sayang sekali, tidak sesuai harapanmu!" ujar Sandy sambil menjulurkan lidah di hadapan Salsha.
"Kalian berdua tampak sangat akrab sekali! Mencurigakan!" ujar Sanay. "Apanya yang perlu dicurigai? Bocah tengil ini selalu saja membuat masalah! Aku benci kelakuannya!" ujar Salsha.
"Sudahlah, mari kita lihat bayi logam yang baru saja lahir! Jika ia mendengar cekcok dari mulut kalian, bisa-bisa ia menirunya nanti, kan gawat!" ujar Alesse.
Akhirnya mereka pun mencoba menyaksikan bagaimana benda yang serupa dengan Alesse itu mulai membuka matanya. Matanya langsung mengeluarkan cahaya yang seketika menghilang.
"Indah sekali! Andai saja kau bisa mengeluarkan cahaya seperti itu dari matamu, Alesse!" ujar Sanay. "Sst!" Alesse memintanya diam.
"Sayangnya aku belum menanamkan program bahasa padanya, ia belum lengkap," ujar Alesse. "Loh? Kenapa?" tanya Sandy keheranan. "Karena kau menekan tombolnya lebih dulu! Awalnya aku hendak meminta Sanay menanamkan program bahasa padanya," ujar Alesse.
"Tidak masalah kok, akan kulakukan sekarang," ujar Sanay sambil duduk santai di kursinya. "Kau sedang apa? Bukankah kau akan melakukan sesuatu pada robot itu?" tanya Salsha keheranan.
"Ciye! Salsha dan Sandy saling suka! Mereka berdua pacaran!" seru robot yang baru saja menyala itu.
"Hei! Apa-apaan ini?" Sandy tampak terkejut melihat robot itu berbicara. Sanay pun tertawa. "Tidak kusangka wajah Alesse juga bisa dibuat seperti ini!" ujarnya.
"Hei, jangan main-main dengan robot itu, segera masukkan program bahasanya!" ujar Alesse. "Baiklah!" Sanay mulai mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan lewat ponsel seperti itu?" tanya Sandy penasaran. "Kau tidak perlu tahu," ujar Alesse.
"Penyalaan ulang sistem disetujui. Memulai booting panas," ujar robot itu kemudian memejamkan mata. beberapa menit kemudian, ia kembali membuka matanya.
"Alesse? Sandy? Sanay? Salsha? Siapa.... siapa namaku?" Robot itu tampak berbicara dengan patah-patah. "Kunamai kau, Probe!" ujar Alesse.
__ADS_1
"Hei, membosankan sekali! Itu seperti di film-film! Kenapa tidak cari yang lain, Alesse?" tanya Sanay.
"Lah? Peduli apa aku? Aku tidak pernah menonton film-film apalah itu, terserah aku mau kasih nama seperti apa," ujar Alesse.
"Probe, pemberian nama selesai! Selanjutnya, apa yang harus kulakukan?" tanya robot itu. "Dih! Kaku sekali! Seperti dubbing bahasa pada film-film luar negeri di televisi tahu! Menjijikkan sekali!" ujar Salsha.
"Tenang saja, ini baru awal saja, jika sudah lama, ia akan beradaptasi seperti Jawara," ujar Alesse. "Benar sekali! Gimana jika Probe dinyatakan sebagai adikku?" tanya Jawara. "Boleh boleh saja!" ujar Alesse.
"Baiklah, sekarang kau adalah adikku," ujar Jawara sambil menjabat tangan Probe. "Adik?" Tampaknya Probe masih terdiam lama.
"Hei, Alesse! Yang kau ciptakan ini robot tempur kah?" tanya Sanay. "Heh? Robot tempur? Mengerikan sekali!" ujar Salsha.
"Serius! Ada pisau, gergaji lipat, bahkan bor yang biasa digunakan untuk menggali tanah!" ujar Sanay. "Buset! Keren banget tuh! Coba tunjukkan salah satunya dong!" ujar Sandy semangat, ia langsung memegang lengan Probe.
Seketika lengan Probe berubah menjadi gergaji. Secara tidak sengaja gergaji itu memotong pergelangan tangan Sandy.
Salsha langsung rampak pucat saat melihat tangan Sandy yang terjatuh ke lantai. "Buset! Bikin muntah saja!" ujar Alesse. "Tangannya terpotong, Alesse! Kenapa kau tenang saja?" Sanay tampak panik dan langsung mengambil tangan Sandy yang terjatuh. Saat itu juga darah Sandy menyirami wajahnya.
"Kau sudah gila Sanay? Mau kau apakan tangan itu?" Salsha keheranan. Tanpa pikir panjang Sanay langsung memberikan tangan itu ke Salsha. "Ambillah! Bukankah kau bisa menyembuhkan luka? Kemarin juga kau menyembuhkan mata Sandy kan?" ujar Sanay sambil menyodorkan tangan bersimbah darah itu.
"Hei! Ini beda cerita! Kenapa kau malah tenang saja memegang tangan itu?" tanya Salsha, ia semakin jijik melihatnya.
"Sudahlah! Mana sini tangannya!" ujar Alesse, ia mengambil dengan hati-hati tangan itu lalu membungkusnya ke dalam kotak berisi es.
"Kau mau apa? Aku tidak perlu operasi! Aku bisa sembuh sendiri! Mana tanganku!" ujar Sandy. Ia mencoba mengambil tangan yang ada di kotak itu.
"Tidak perlu! Kita ada Salsha! Ia bisa menyembuhkannya," ujar Sanay sambil merebut tangan itu dari Sandy.
"Hei! Jika seperti ini terus, tangan itu bisa rusak loh! Mungkin tidak bisa dipasang lagi," ujar Alesse sambil menarik-narik tangan itu. Akhirnya mereka bertiga pun saling berebut tangan itu tanpa peduli darah Sandy sudah memancar kemana-mana.
Menyaksikan hal itu, Salsha pun langsung muntah, membuat mereka berhenti berebut. "Suasana horor macam apa ini? Menjijikkan!" Salsha tidak bisa berhenti muntah. Akhirnya Jawara menutupi wajahnya agar tidak melihat itu.
"Tuh kan! Biar aku saja yang mengurus hal ini! Toh salahku karena seenaknya memegang benda itu," ujar Sandy. Ia menempelkan kembali tangannya yang putus itu dan mencoba konsentrasi.
"Oh! Sepertinya tulang tanganmu sudah terhubung lagi!" seru Sanay. "Yeah, sayangnya karena terlalu banyak darah yang keluar, aku tidak bisa melanjutkan penyembuhanku sekarang. Aku sudah lelah," ujar Sandy. Matanya mulai sayup-sayup, dan akhirnya terpejam.
Saat ia membuka mata, luka di tangannya sudah sembuh total. "Loh? Bagaimana ini bisa sembuh?" tanya Sandy keheranan. "Salsha yang menyembuhkannya," ujar Sanay.
"Loh, kukira ia tidak bisa menyembuhkan tangan yang putus," ujar Sandy keheranan. "Aku tidak bisa menyembuhkan tulang yang patah, aku hanya bisa menyembuhkan jaringan lunak saja," ujar Salsha.
__ADS_1
"Berterima kasihlah, Sandy! Salsha sudah rela menahan muntah demi menyembuhkanmu loh," ujar Sanay. "Aku tidak sampai berkorban atau sebagainya, aku hanya tidak tahan saat melihat orang terluka, apalagi jika orang itu adalah teman kita," ujar Salsha.
"Hmm! Teman yah?" Alesse yang bisa membaca pikiran kedua orang di hadapannya pun akhirnya mulai mengerti apa itu teman, bagaimana pikiran mereka tampak canggung satu sama lain, itu membuatnya semakin penasaran.