Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Alex Jawara


__ADS_3

Alex menatap ponsel yang Alesse berikan padanya, ia masih tampak berkaca-kaca. "Alex, sekarang usiamu sudah berapa tahun?" tanya Roger, pendamping Alex yang akan membawanya ke Amerika.


"Usiaku tiga belas tahun, paman," jawab Alex. Ia masih terus memandangi ponselnya. "Wah, Elementalist Alam memang memiliki ciri khas yang berbeda yah. Paman tidak menyangka kau masih semuda itu," ujar Roger.


"Iya paman, maafkan aku karena menangis," ujar Alex sopan. "Ponselmu sepertinya edisi terbatas! Paman juga punya model yang sama," ujar Roger sambil menunjukkan ponselnya. Ia ingin mengajak Alex berbicara agar ia tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.


"Wah! Benar-benar sama!" seru Alex. "Sepertinya kau pintar memilih barang bagus yah!" ujar Roger. Alex pun tersenyum. "Sebenarnya ini bukan aku yang memilihnya, ini adalah pemberian," ujar Alex.


"Pemberian? Luar biasa sekali! Apakah dia orang kaya? Ia pasti sangat akrab denganmu sampai memberikan barang berharga itu!" ujar Roger tak percaya.


"Ini adalah ponsel pemberian kakakku," ujar Alex. "Kakakmu? Kakakmu yang mana? Sepertinya paman tidak melihatnya di rumahmu," ujar Roger.


"Masa? Perasaan tadi paman berpapasan dengannya loh," ujar Alex. "Hmm? Apakah jangan-jangan si gadis muda itu adalah kakakmu?" tanya Roger. Alex pun tertawa.


"Gadis muda? Dia laki-laki, paman!" ujar Alex. "Eh? Benarkah? Penampilannya sangat feminim sekali! Apakah ia sengaja memanjangkan rambutnya seperti itu?" tanya Roger.


"Kalau rambutnya pendek, ia lebih terlihat seperti anak kecil, ia sengaja memanjangkannya. Ia juga selalu memakai baju yang panjangnya sampai ke lutut seperti seorang pendeta agar kaki pendeknya tidak terlihat," ujar Alex.


"Wah, benar-benar sempurna sekali tujuannya! Paman tidak pernah mendengar penampilan seseorang berdasarkan alasan tertentu. Sepertinya ia anak yang cerdas!" ujar Roger.


"Memang, ia bahkan membeli ponsel ini tanpa menggunakan uang orang tua. Ia memiliki penghasilan sendiri," ujar Alex.


"Penghasilan sendiri? Penghasilan apa?" tanya Roger penasaran. "Entahlah, ia tidak pernah menyebutkannya. Di kamarnya banyak sekali buku tentang bisnis dan investasi. Aku tidak mengerti apa isinya," ujar Alex.


"Luar biasa sekali semangat belajarnya! Bukankah itu termasuk jenius?" tanya Roger. "Mungkin saja, ia pernah mengatakan bahwa ia bisa menjadi orang yang paling kaya di dunia. Sayangnya ia tidak tertarik dengan hal itu," ujar Alex.


"Heh? Ada orang yang seperti itu yah? Dunia benar-benar luas," ujar Roger. Tanpa disadari,mereka sudah masuk pos pemeriksaan sebelum naik ke dalam pesawat.


"Sepertinya kita sudah banyak berbincang-bincang!" ujar Roger sambil tertawa. Akhirnya mereka pun masuk ke dalam pesawat dan memulai perjalanan.


Alex sempat terkesan dengan pemandangan yang dapat ia lihat dari jendela. Ia terus menikmati perjalanan itu hingga akhirnya mendarat.


Roger langsung membawanya ke pusat Guardian di New York. Ia langsung diarahkan untuk mengikuti upacara pembukaan. Saat itu juga ia terkesan karena bisa melihat secara langsung Raya Stephen yang sedang memberikan sambutan hangat kepada para Elementalist yang baru datang.

__ADS_1


Setelah selesai menghadiri upacara, semua peserta diarahkan menuju ke asrama masing-masing.


"Kenapa asrama ini campuran? Pria dan wanita dalam gedung yang sama?" Alex tidak percaya, ia takut saat tubuhnya mulai berubah, ia akan dikejar-kejar oleh banyak wanita.


"Ada apa bung? Kenapa kau terkejut? Ini adalah hal yang biasa. Apalagi untuk perjaka dewasa sepertimu. Kau akan menikmatinya,," ujar salah seorang anak.


Beberapa wanita bahkan melirik Alex dengan tatapan aneh, hal itu semakin membuat Alex takut. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya karena panik. Sekali lagi ia menangis karena ketakutan.


Tiba-tiba tubuhnya mulai berubah. "Tidak! Tidak boleh! Ini tidak boleh terjadi!" Ia berusaha menutupi lengan berbulunya dengan pakaian. Sayangnya perlahan-lahan pakaian itu robek dan akhirnya tidak bisa menutupi tubuh berbulunya.


"Alex Jawara? Kau di dalam? Sekarang waktunya berkumpul di aula untuk pembagian jadwal kegiatan!" teriak seorang gadis sambil mengetuk pintu kamar.


"Argh! Siapa sih wanita itu? Kenapa harus mengetuk pintu kamarku?" Alex tampak gelisah, ia tidak bisa keluar begitu saja dengan penampilannya yang sekarang.


"Alex Jawara? Alex? Kau masih di dalam? Ayo cepat keluar sebelum terlambat! Hanya kau yang belum kumpul!" teriak gadis itu.


"Argh! Apa boleh buat!" Alex pun akhirnya membuka pintu kamarnya. Saat itu juga gadis di depan kamarnya hendak mendobrak pintu, namun pintu sudah terbuka. Akhirnya ia menabrak Alex dan membuat keduanya jatuh ke lantai.


"Wajah apa ini? Menggemaskan sekali!" ujar gadis itu. Alex semakin ketakutan dengan tatapan gadis itu.


"Ayo ke aula sebelum penjaga asrama datang," ujar gadis itu. Mereka berdua pun langsung menuju ke barisan.


Kali ini Alex benar-benar menjadi pusat perhatian. Hanya ia yang sedang berubah menjadi harimau. Orang-orang lainnya masih dalam bentuk manusia biasa.


Gadis tadi tiba-tiba mengulurkan tangan kepadanya. "Perkenalkan paman! Namaku Tesla," ujar gadis itu. "Eh? Paman?" Alex merasa terpuruk dengan panggilan itu. Rahangnya sampai terbuka lebar secara tidak sadar.


"Eh? Ada apa? Apakah aku melakukan kesalahan?" tanya gadis itu keheranan. "Tidak! Tidak! Tapi aku tidak terlalu tua hingga dipanggil paman, aku masih berusia tiga belas tahun," ujar Alex.


"Tiga belas tahun?" tanya Tesla keheranan, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. "Mana ada anak tiga belas tahun sebesar ini! Usiaku bahkan enam belas tahun loh!" ujar Tesla.


"Tidak! Tidak! Itu benar! Aku masih berusia tiga belas tahun!" ujar Alex bersikeras menyangkal. Ia sampai kebingungan harus berbuat apa agar Tesla percaya.


"Baiklah! Baiklah! Kau sangat lucu sekali! Anggap saja kau benar-benar tiga belas tahun! Kalau begitu, mungkin kita bisa berteman!" ujar Tesla. Sejak tadi ia bersikeras mengajak Alex berjabat tangan. Ia hanya penasaran dengan bulu-bulu yang menyelimuti tangan Alex yang besar itu.

__ADS_1


Alex pun menyadari itu lalu menyembunyikan kedua tangannya di belakang. "Aish! Tidak usah malu-malu!" ujar Tesla sambil menarik paksa lengan kanan Alex. Ia pun berjabat tangan sambil mengayun-ayunkan tangan Alex.


"Percayalah padaku! Jika kau tidak segera berteman, kau akan menjadi bahan bullying!" ujar Tesla, ia semakin merekat di lengan Alex.


Alex sendiri tidak tahu harus berbuat apa akhirnya ia mengabaikannya begitu saja. Ia jadi teringat pada Alesse yang suka menggantung di lengannya saat tidur.


"Hei! Hei! Kenapa kau melamun?" tanya Tesla sambil melambaikan tangan di wajah Alex. "Oh, tidak ada apa-apa aku hanya teringat pada kakakku," ujar Alex.


"Heh? Sepertinya kau sangat dimanja oleh kakakmu yah? Dari mana asalmu? Terlihat dari pakaianmu, sepertinya kau berasal dari tempat yang jauh!" ujar Tesla.


"Indonesia," jawab Alex. "Indonesia? Indon sia itu....... India? Oh, kau berasal dari India?" tanya Tesla memastikan.


"Bukan! Aku berasal dari Indonesia! Bukan India!" ujar Alex. "Eh? Kukira itu adalah tempat yang sama," ujar Tesla. "Beda, sangat berbeda sekali. Orang-orang Indonesia memiliki wajah khas Asia timur. Sedangkan India lebih dekat dengan bangsa Arab. Mayoritas dari mereka memiliki hidung mancung," ujar Alex.


"Oh begitu? Pantas saja matamu agak sipit, tapi badanmu lumayan besar, dan itu menawan sekali," ujar Tesla tiba-tiba, ia mengatakan hal itu sambil terus menatap wajah Alex lalu tertawa.


"Apaan?" Alex keheranan. "Bukan apa-apa, wajahmu itu mudah sekali merubah suasana," ujar Tesla. Semakin lama Alex semakin malu karena gadis itu terus melihatnya, akhirnya ia mencoba menutupi kepalanya dengan bajunya yang sudah sobek.


Tesla semakin tertawa. "Ayolah! Kenapa disembunyikan? Wajahmu bagus loh!" ujar Tesla sambil menarik-narik kain itu.


"Tidak mau!" ujar Alex. "Hei kalian berdua yang di sana! Jangan bermain-main!" tegur seorang pria dari belakang. Alex terkejut karena pria itu adalah Raya Stephen.


"Tuh kan! Kita kena marah! Ini semua salahmu!" ujar Alex sambil menjaga jarak. Bukannya diam, Tesla menjadi kesal, ia langsung meledek pria yang baru saja menegurnya itu.


"Hei! Kau gila? Dia adalah Raya Stephen loh!" ujar Alex. "Memang apa bagusnya dia? Dia hanyalah mata keranja......" Belum selesai berbicara, pria yang di belakang itu langsung membungkam mulut Tesla.


"Maafkan adikku, sepertinya dia sangat mengganggu, kau bisa mendengarkan penjaga asrama tanpa menghiraukannya," ujar pria itu. "Ba... baik! Bolehkah aku memanggilmu guru? Aku adalah penggemarmu!" ujar Alex.


"Apa? Guru? Tidak perlu! Kau bisa memanggilku dengan namaku saja! Namaku Ray, salam kenal!" ujar pria itu sambil merangkul bahu Alex. "Sa... salam kenal juga! Namaku Alex," ujar Alex. "Tidak perlu sekaku itu!" ujar Ray.


"Tentu saja harus kaku! Kau adalah pria tua, jadi Alex menghormatimu," ujar Tesla. "Aku tidak tua! Lihatlah! Kami berdua sebaya!" ujar Ray.


"Tidak, Alex mengatakan bahwa ia baru berusia tiga belas tahun," ujar Tesla. "Tiga belas tahun? Benarkah? Bibit unggul macam apa ini?" Ray mengguncang-guncang tubuh Alex.

__ADS_1


"Bi.. bibit unggul?" Alex tidak mengerti. "Abaikan saja yang ia katakan," ujar Tesla, ia mengajak Alex kembali ke barisan.


Alex merasa senang, ia tidak menyangka bisa berbicara langsung dengan Ray, idolanya sejak kecil.


__ADS_2