Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Trauma


__ADS_3

Sudah berhari-hari sejak Tesla mengusirnya, Ray pun kembali datang ke rumahnya. Tepat sekali saat itu Tesla sedang berada di depan rumah.


"Siapa suruh kau datang ke sini?" tanya Tesla dengan ekspresi dinginnya. "Maafkan aku Tesla! Aku janji tidak akan melakukan hal mengerikan itu lagi! Aku janji!" ujar Ray, sebenarnya ia tidak masalah jika diusir dari rumah itu, namun ia tidak ingin hubungannya dengan Malfoy hancur hanya karena Tesla yang tidak bisa memaafkannya.


"Kau berjanji? Setelah melakukan tindakan mengerikan tak beralasan itu? Mungkin kau akan mengulanginya lagi, mungkin kau akan membunuhnya setelah berpura-pura mendekatinya!" ujar Tesla.


Ray pun terdiam sejenak, ia tidak bisa menjamin kalau ia tidak akan menyakiti Alex, ia masih belum menemukan jawaban tentang keberadaan Warden. Bahkan saat ini masih ada dugaan bahwa Alex adalah Warden yang ia cari-cari itu.


"Lihatlah tampangmu itu, benar-benar tidak meyakinkan!" ujar Tesla sambil melangkah ke pintu rumah.


"Tunggu Tesla! Kau tidak tahu apa yang sedang kupikirkan! Aku memang tidak bisa menjamin kalau aku tidak akan menyakitinya lagi, tapi kau harus mendengarkan penjelasanku!" ujar Ray.


"Berani-beraninya kau masih menginjakkan kaki di sini setelah mengatakan hal itu! Memangnya Alex salah apa hingga pantas kau bunuh? Apa yang dia lakukan? Apa yang remaja enam belas tahun itu lakukan padamu? Kau benar-benar aneh! Aku tidak butuh penjelasan apa-apa darimu!" ujar Tesla.


"Baiklah, jika aku berjanji tidak akan menyakiti Alex lagi, apakah kau masih tetap membenciku? Aku janji! Ini benar-benar serius! Kau masih tetap membenciku? Kumohon Tesla! Maafkan aku sekali ini saja! Saat itu aku benar-benar kehilangan akal sehatku!" ujar Ray.


"Jangan meminta maaf padaku, minta maaflah pada Alex," ujar Tesla kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Ray pun terdiam dengan perasaan lega. Kali ini ia harus memberanikan diri untuk menemui Alex.


Akhirnya ia memutuskan menemui Alex saat senja tiba. Saat itu Alex sedang melatih otot-otot lengannya dengan berdiri terbalik.


Ray menatap leher Alex yang sudah tak berbentuk itu, ia juga iba padanya. Alex langsung memperbaiki posisinya.


"Oh, Ray! Sejak kapan kau berada di situ?" tanya Alex dengan senyuman polosnya. "Alex, aku minta maaf karena telah melakukan hal mengerikan itu padamu! Saat itu aku benar-benar bingung dan kehilangan kendali," ujar Ray sambil menundukkan kepala.


"Ada apa ini? Angkatlah wajahmu! Kenapa kau meminta maaf?" tanya Alex dengan ekspresi tidak nyaman.

__ADS_1


"Maafkan aku karena telah mencekik lehermu," ujar Ray. "Oh, ini bukan apa-apa, kau biasa membenturkan wajahku ke tanah hingga babak belur, tapi kenapa kau meminta maaf hanya untuk ini?" tanya Alex keheranan.


"Kau tidak bisa membohongiku, Alex! Aku tahu perbedaan dari rasa sakit yang ditimbulkan darinya, aku benar-benar mencekikmu sekuat tenaga," ujar Ray.


"Ini bukan apa-apa kok, nyatanya sampai sekarang aku masih hidup. Luka di leherku juga sudah sembuh, tapi ngomong-ngomong, apa isi dari surat itu? Apakah hal itu benar-benar membuatmu marah? Kalau begitu aku minta maaf, akan kutegur kakakku saat aku pulang nanti," ujar Alex.


"Alex, lehermu tidak baik-baik saja! Biar kukembalikan seperti semula," ujar Ray sambil menghampiri Alex, ia hendak menyentuh lehernya, namun Alex secata spontan menghindar dengan gemetaran.


"Ada apa Alex?" tanya Ray keheranan. "Bu... bukan apa-apa kok, aku baik-baik saja," ujar Alex sambil menahan tangannya yang terus bergetar hebat, sayangnya ia benar-benar tidak mampu melakukannya, ia langsung jatuh bertekuk lutut di hadapan Ray.


"Alex? Alex! Kau baik-baik saja?" tanya Ray sambil memegang bahu Alex. "Jangan menyentuhku!" ujar Alex dengan suara keras, ia tampak seperti orang yang sedang ketakutan. Matanya bahkan tampak merah berkaca-kaca.


"Alex? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau seperti ini?" tanya Ray khawatir. "Bu... bukan apa-apa," jawab Alex dengan rahangnya yang semakin kaku, ia bahkan tidak berani menatap Ray. Tubuhnya semakin gemetaran layaknya orang yang sedang kejang-kejang.


"Kenapa kau seperti ini Alex? Sadarlah!" ujar Ray. Akhirnya ia mengangkat tubuh Alex lalu membawanya ke rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ray pun kembali menatap Alex yang sudah terbaring tenang karena bius yang diberikan dokter. Melihat leher yang tampak hancur itu, Ray pun mulai menggunakan pengendaliannya. Ia mencoba mengembalikan bentuk leher Alex seperti sediakala.


Setelah ia berhasil melakukannya, Alex pun terbangun dan langsung mengambil posisi duduk.


"Maaf, sepertinya aku membuat efek bius di tubuhmu menghilang," ujar Ray. "Di mana ini? Apa yang terjadi padaku?" tanya Alex.


"Sekali lagi aku minta maaf, Alex! Aku tidak tahu kondisimu akan menjadi separah ini, ini semua benar-benar salahku!" ujar Ray, ia benar-benar menyesali perbuatannya. Meskipun ia sudah berkali-kali membunuh manusia, namun baru kali ini ia berniatan membunuh seorang remaja polos, apalagi baru berusia enam belas tahun.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja kok! Aku yang seharusnya meminta maaf karena membuatmu khawatir. Aku terlalu lemah karena baru kali ini aku merasakan seperti apa itu sekarat, benar-benar menakutkan! Tapi aku baik-baik saja se.... loh? Leherku? Leherku sudah kembali normal?" Alex terkejut. Ia meraba-raba lehernya dengan perasaan tidak percaya.


"Lehermu sudah baik-baik saja sekarang, tidak perlu dikhawatirkan lagi," ujar Ray. "Benarkah? Ini luar biasa! Aku harus menunjukkan ini pada Tesla!" seru Alex. "Yakin, kau baik-baik saja?" tanya Ray. "Aku baik-baik saja!" ujar Alex. Akhirnya mereka berdua pun pergi ke rumah Malfoy.


Setelah sampai, Tesla keluar rumah dengan berkacak pinggang. Ia sempat mengerutkan dahi saat melihat Ray merangkul bahu Alex.


"Tesla! Coba lihat ini! Leherku kembali seperti semula!" seru Alex sambil membuka kerah bajunya. "Oh, begitu kah? Luar biasa sekali!" ujar Tesla. "Ini semua berkat Ray dia yang....., loh? Kemana dia?" Alex kebingungan, Ray sudah tidak ada di hadapan mereka berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa kau tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa sepatah kata pun? Sangat tidak sopan!" ujar Kaa. Ia tampak berbaring santai di atas pusaran anginnya.


"Yeah, lebih baik aku tidak mendekati mereka untuk saat ini. Aku masih perlu memberantas sekte-sekte sesat yang membela tindakan Warden. Kudengar beberapa dari mereka melakukan pembantaian terhadap manusia iblis meskipun Warden tidak memimpin mereka," ujar Ray.


"Sepertinya beberapa Chron muda juga ikut terbantai, padahal keberadaan Chron si dunia ini sangatlah sedikit," ujar Kaa.


"Nah, oleh karena itu! Sebaiknya kau berpihak padaku! Kira bisa menghabisi mereka bersama! Bahkan Warden itu sendiri," ujar Ray.


"Aku tidak akan memihakmu, aku punya beberapa orang yang akan menjalankan misi ini, kupikir mereka akan melakukannya karena saat ini masih liburan sekolah mereka," ujar Kaa.


"Berapa tepatnya?" tanya Ray. "Mungkin lima atau enam, yang dua bukanlah manusia," ujar Kaa.


"Lima atau enam? Mana yang benar? Apa maksudmu kalau ada dua yang bukan manusia?" tanya Ray.


" Sebenarnya ada enam! Salah satunya mirip seperti manusia, ia berdarah, bernafas, namun ia tidak hidup. Sedangkan satunya lagi memang bukan manusia, hanya lempengan logam," ujar Kaa.

__ADS_1


"Kau dapat dari mana orang-orang itu? Lalu lempengan logam itu, maksudmu robot?" tanya Ray. "Aku tidak tahu apa namanya, dari empat manusia sungguhan, yang jelas salah satunya adalah manusia iblis sedangkan yang tiga lainnya adalah manusia biasa," ujar Kaa.


__ADS_2