Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Sisi gelap Alesse.


__ADS_3

Rasya kembali ke kamar dengan wajah yang dipenuhi darah, meskipun begitu ia masih tersenyum seolah menikmatinya. "Kau ini...... benar-benar orang yang mesum! Bisakah kau berhenti bersikap aneh? Lalu kenapa wajahmu dipenuhi luka-luka itu?" tanya Alesse.


"Aku hanya mencoba melucuti pakaian adikmu dan ia memberikanku cakaran kasih sayang," jawab Rasya. "Dih! Orang ini benar-benar parah! Kau yakin akan baik-baik saja membiarkannya berkeliaran di luar?" tanya Geni. "Tentu saja tidak! Hei, Rasya! Perbaiki sikapmu itu, kau menggunakan tubuhku untuk melakukan hal yang tidak senonoh? Apa yang akan Alex pikirkan tentangku mengingat sifat cabulmu itu?" tegur Alesse.


"Baiklah, aku hanya bercanda. Sebenarnya kami hanya mencoba adu kekuatan di lapangan dan...... " Rasya berhenti berbicara karena Alex baru saja berlalu di depan kamar. Pakaiannya tampak robek di sana-sini.


"Itu yang kau sebut adu kekuatan?" tanya Alesse setelah melihat penampilan Alex yang compang-camping. "Mau bagaimana lagi? Kau melarangku untuk menggunakan pengendalianku. Aku tidak bisa menyerang tubuh penuh otot itu. Satu-satunya kelemahan adalah rasa malunya, kupikir dengan sedikit kejahilan kecil itu ia akan lengah," ujar Rasya.


"Kau cukup pintar juga dalam bertarung sebagai orang yang mesum!" ujar Gord terkesan. "Eh? Kau setuju dengan caranya bertarung? Kuharap kau tidak menirunya di kemudian hari. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana para pria berotot ini saling melucuti pakaian saat berperang," ujar Geni.


"Mana mungkin aku berbuat begitu! Kesatria bertarung dengan gagah berani. Bukan dengan cara yang licik dan pengecut. Kau pikir medan perang adalah tempat berolok-olok?" tanya Gord menggurui. Akhirnya Geni terdiam dengan wajah cemberutnya.


"Bukankah harus begitu? Gimana caranya kita menang dalam pertarungan tanpa strategi? Apakah hanya maju ke barisan depan seperti orang bodoh lalu mati konyol? Begitukah yang kau maksud sebagai kesatria yang gagah berani?" tanya Alesse.


"Aku senang sekali karena kau bertanya! Ada garis tipis yang membedakan antara licik dan cerdik dalam pertarungan. Kita tidak membebaskan segala cara untuk memenangkan pertempuran! Kesatria memiliki moral batasan dalam memilih taktik perang," ujar Gord.


"Pada akhirnya kau akan kalah karena memperjuangkan harga dirimu yang terlalu mahal itu. Menurutku, asalkan tidak melibatkan rakyat biasa, semua hal bisa dilakukan sebagai siasat perang, entah menyelinap dan berpura-pura menjadi bidak musuh. Mengadu domba mereka, menguras semua tenaga mereka. Sah saja kita melakukan hal itu, intinya memenangkan pertempuran," ujar Alesse.


"Sepertinya isi kepalamu dipenuhi hal negatif, kau tidak keberatan semua orang membencimu dan takut padamu? Setelah dipikir-pikir, kau memang sangat mirip dengan Baraq. Ia menganggap medan perang sebagai taman bermainnya,," ujar Gord.


"Kau sangat paham sekali tentang hal ini. Pergi ke medan perang pasti sudah menjadi pekerjaanmu sehari-hari," ujar Rasya terkesan. "Yeah, karena pada akhirnya perang itu bukanlah hal yang sepele. Kesalahan besarku adalah baru menyadari hal itu setelah kalah di tangan Baraq. Itu benar-benar mengerikan, orang-orang kami diliputi rasa cemas, dan bahkan pasrah dengan hidup mereka. Tak ada harapan hidup di mata mereka meskipun dada mereka masih berusaha bernafas dan berdetak," ujar Gord.

__ADS_1


"Apakah ia sekuat itu? Kupikir ia hanyalah anak kecil dengan temperamen yang buruk," ujar Geni. "Meskipun terlihat begitu, ia adalah orang yang benar-benar menguasai pengendaliannya. Seolah ia menggunakannya hanya untuk membantai orang secara masal," ujar Gord.


"Aku tidak tahu pengendalian yang kita miliki bisa menjadi hal yang mematikan seperti itu. Yang mampu kulakukan dengan pengendalian apiku saja hanyalah beberapa trik untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Geni.


"Aku pun begitu, aku hanya menggunakan pengendalianku untuk kesenanganku sendiri," ujar Rasya sambil mengeluarkan sebuah biji kecil dari sakunya.


"Benda apa itu?" tanya Gord. "Ini adalah tanaman biasa. Itu akan tumbuh dan menyebarkan aroma di sekitarnya, meningkatkan birahi seseorang yang menghirupnya. Aku tidak sabar menyaksikan pemuda serba putih itu menghirup tanaman ini, mungkin sesuatu yang menarik akan terjadi," ujar Rasya dengan liur yang perlahan keluar dari mulutnya.


"Aku tidak menyangka kau juga terobsesi dengan pria pendiam itu. Sebaiknya jangan macam-macam saat bertemu dengannya. Orang yang diam cenderung melakukan hal yang mengerikan saat ia kesal," ujar Geni, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Yuki akan marah saat Rasya mengusiknya.


"Argh! Aku merasa sangat bosan di sini! Hei, Alesse! Apakah tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan?" tanya Rasya, ia hendak menggaruk-garuk punggungnya, namun merasa ada sesuatu yang mengganjal.


"Sepertinya ada yang bisa kugapai di belakang sini," ujarnya sambil memeriksa apa yang ia dapat. "Hei, Alesse! Bukankah itu tongkat serba guna yang sama dengan milikmu? Kenapa Rasya juga memilikinya?" tanya Gord.


Alesse pun mencoba memeriksanya, namun ia tidak bisa menyentuh tongkat itu. "Tembus? Kenapa bisa begitu?" tanya Gord. "Mungkin itu khusus milik Rasya, hanya ia yang bisa menggunakannya.


Alesse tidak begitu terkejut, ia justru memgambil sebuah gambar dan menunjukannya pada Rasya. "Bisakah kau membayangkan tongkat itu berubah menjadi benda seperti ini? Aku sudah memberikan keterangan bahan-bahan tiap lapisannya juga, kupikir itu akan mudah," ujar Alesse.


Rasya pun menurutinya, seketika tongkat itu berubah menjadi apa yang tertera pada gambar. "Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan! Tapi apa yang hendak kau lakukan dengan kotak ini?" tanya Rasya.


"Berdirilah di atasnya," pinta Alesse. "Seperti ini?" Rasya berdiri di dalam kotak itu. Seketika Alesse menebas leher Rasya hingga putus, membuat darah berceceran di mana-mana. Rasya tidak siap akan hal itu. ia bahkan tidak sempat meregenerasi ataupun memperkuat otot lehernya. Tubuhnya terhuyung-huyung hingga akhirnya jatuh terbaring dalam kotak itu.

__ADS_1


"Tu.... tunggu, Alesse? Ke... kenapa kau melakukan hal itu?" Geni tampak ketakutan melihat kepala Rasya yang putus di hadapannya.


"Kenapa? Bukankah kalian yang bilang sendiri kalau orang ini sangat merepotkan jika dibiarkan berkeliaran begitu saja? Aku tidak bisa membiarkannya mengusik kehidupanku," ujar Alesse sambil melemparkan kepala Rasya ke dalam kotak dengan ekspresi dinginnya.


"Alesse, apakah benar dengan cara seperti ini? Kau bahkan tanpa ragu menebas lehernya! Kau ini siapa sebenarnya?" tanya Gord, ia semakin teringat dengan Baraq saat melihat ekspresi datar Alesse yang begitu mengerikan.


"Secara teknis dia bukanlah manusia, aku hanya menggunakan fakta itu untuk membungkamnya," ujar Alesse. "Ini lebih dari sekedar membungkam! Pikiran negatifmu terlalu mendominasi, Alesse!" ujar Gord mengingatkan.


"Aku tidak peduli apa pendapatmu tentang diriku, aku tidak akan terkena masalah hanya karena membunuh sesuatu yang sebenarnya tidak hidup," ujar Alesse kemudian menutup kotak itu.


Geni terdiam karena masih syok melihat kejadian yang sangat singkat itu. Di sisi lain, Alesse masih dengan tenang melanjutkan aktivitasnya.


Tak lama kemudian darah yang belepotan di wajahnya pun menghilang. kotak tempat mayat Rasya pun ikut menghilang.


"Eh? Apa yang terjadi?" Rasya tiba-tiba muncul di dalam pikiran Alesse. "Rasya? Kau baik-baik saja?" tanya Geni terkejut, ia pikir Rasya akan menghilang selamanya.


"Memangnya apa yang barusan terjadi? Kenapa wajah kalian tampak pucat?" tanya Rasya keheranan. "Kau tidak merasakan apapun? Tidak ada yang sakit?" tanya Gord. "Tidak ada, aku teringat penglihatanku sempat turun ke bawah seolah kepalaku terjatuh ke sana, namun tidak ada hal yang istimewa," ujar Rasya.


"Tentu saja ia tidak akan merasakan sakit, aku memenggalnya saat ia tidak menyadari apa yang akan kulakukan, sehingga tidak ada kontraksi otot di lehernya. Pembahasan ilmiah seperti ini percuma aku jelaskan pada kalian," ujar Alesse.


"Kau sudah tahu hasilnya akan seperti ini?" tanya Geni. "Apakah aku belum memberitahu kalian tentang Aqua? Bahkan ia lebih parah dari ini. Tubuhnya membeku dan aku hendak memindahkannya, namun itu terjatuh dan pecah tercerai-berai," ujar Alesse.

__ADS_1


"Seharusnya kau memberitahu kami lebih awal tentang itu! Kau benar-benar menakutkan!" ujar Geni. "Aku sengaja melakukannya, dan tenang saja! Saat giliran kalian, akan kupastikan itu tidak terasa sakit sama sekali," ujar Alesse. Raut wajah Geni semakin pucat mendengar perkataannya.


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti, apakah ini sesuatu yang menarik?" tanya Rasya. "Sebaiknya kau tidak perlu tahu, ini demi kebaikanmu sendiri," ujar Gord.


__ADS_2