Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Yuki si pemalu


__ADS_3

Beberapa jam telah berlalu, Alesse tak kunjung naik ke atas. Bahkan Aqua tidak peduli lagi dengan kadaan sekitar.


Yuki yang berjam-jam menahan lapar pun kehilangan kesadarannya. Ia mencoba beranjak dari kursi dan memberanikan diri untuk membuka pintu kamar.


Saat itulah Alex terperanjat karena melihat topeng putih tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Ya ampun, Alesse! Kau membuatku terkejut!" ujar Alex.


Yuki diam saja karena tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia mencoba menutup pintu sebelum Alex menyadari keberadaan Aqua yang sedang berdiri di depan jendela.


"Hei, setidaknya katakan sesuatu, Alesse!" ujar Alex. Yuki tetap diam, meskipun Alex berkali-kali mengguncang tubuhnya.


"Aneh sekali! Kau lebih tinggi dari biasanya, namun tidak setinggi Rasya atau Gord!" ujar Alex, akhirnya ia mencoba untuk membuka topeng itu. Sayangnya Yuki menghindar. "Ada apa? Kenapa kau tidak ingin melepaskan topeng itu?" tanya Alex penasaran.


Sekali lagi ia hendak melepaskan topeng itu dari wajahnya. "Ada apa ini, Alesse? Kenapa kau bersikap menggemaskan seperti ini? Tidak seperti dirimu saja!" ujar Alex, ia semakin ingin melepaskan topeng itu. Pada akhirnya mereka berdua berlarian di dalam rumah dan membuat kegaduhan.


"Kenapa jalanmu cepat sekali, Alesse? Ibu bisa marah jika kau menabrak sesuatu dan membuat berantakan!" ujar Alex.


Tak lama kemudian Yuki pun menabrak Hendra yang baru saja keluar dari kamar. "Kenapa kalian berlarian seperti itu? Kalian bukanlah anak kecil!" tegurnya.


Di saat lengah, Hendra pun dapat menyingkap topeng yang melekat pada wajah Yuki. Ia dibuat semakin terkejut dengan wajah yang ada di balik topeng itu. Ia bahkan sempat terperanjat sambil menjaga jarak dari Yuki.


"Kau bukan Alesse?" tanya Alex kemudian menghampirinya. Yuki tampak tidak percaya untuk sekedar menatap mata orang lain, ia segera mengenakan kembali topengnya.


"Kenapa pria besar menutup wajah seperti itu? Tunjukkan saja wajahmu, tidak perlu takut!" ujar Hendra.


"Ada ribut-ribut apa ini? Siapa yang membuat rumah jadi berantakan begini?" tanya Andin, ia tampak sangat kesal. Yuki langsung bersembunyi di balik punggung Hendra, ia tampak gemetaran karena takut kena marah.


Merasa iba dengan kondisinya, akhirnya Hendra pun mulai berbicara. "Yeah, se... sebenarnya aku terburu-buru membawa barang sampai tidak sadar itu akan menjatuhkan banyak barang yang ada di sini," ujar Hendra sambil menggaruk-garuk kepala.

__ADS_1


"Hmm? Begitukah? Sebaiknya segera kau bereskan atau tidak akan ada makan siang untuk hari ini," ujar Andin kemudian kembali ke dapur. Hendra pun menghela nafas lega.


"Kau baik-baik saja?" tanya Hendra pada Yuki. "Kenapa kau melindunginya, ayah?" tanya Alex. "Ia tampak begitu ketakutan. Lagian, bukankah ini salahmu? Kenapa kau membuatnya berlarian di dalam rumah.


"Karena dia diam saja dan tidak mengatakan apapun. Aku jadi penasaran dengan wajahnya," ujar Alex.


"Hmm, anak muda..... namamu siapa?" tanya Hendra. "Yuki," jawab Yuki dengan suara lirih. "Apa? Itu tidak terdengar! Bisa katakan sekali lagi?" tanya Hendra, ia bahkan mencoba mendekatkan telinganya.


"Na...... namaku... Yuki," ujar Yuki, ia berusaha meninggikan suaranya, namun yang terdengar adalah suara berat menggelegar seperti pria paruh baya. Tentu saja reaksi dari Alex dan Hendra semakin aneh terhadapnya, mereka terlalu terkejut karena mengira suara Yuki akan terdengar nyaring seperti saat Alesse berbicara.


"Whoa! Suaranya lebih maskulin daripada Gord dan Rasya," ujar Alex terkesan. "Be... benar sekali! Kau tidak perlu malu untuk berbicara," ujar Hendra sambil memijat bahunya agar anak itu merasa nyaman. Yuki pun mengangguk sambil tersenyum.


"Lepaskan saja topeng itu. Kami tidak bisa melihat senyumanmu secara utuh," ujar Hendra. "Hmm! Warna matanya jernih sekali, mirip albino tapi warna kulitnya masih sama seperti Alesse," ujar Alex. Mereka berdua terus mengamati Yuki layaknya orang yang sedang mengamati berlian mahal.


"Apa yang sedang kalian lakukan? Cepat bereskan barang-barang itu dan makanlah!" ujar Andin.


"Aku juga tidak yakin! Ia terlihat tidak asing saja, tapi tidak terlalu berkesan," ujar Andin. "Haruskah kau mengatakan hal itu di depannya?" tanya Hendra sambil mencoba menutupi telinga Yuki.


"Apa masalahnya? Kupikir ia adalah pria dewasa, ia tidak akan sakit hati meskipun aku berkata demikian kan?" tanya Andin. "Sst! Jangan samakan dia dengan Alesse! Dia sangat berbeda dengan yang lainnya," ujar Hendra.


"Hmm? Begitukah?" Andin mencoba mengamati wajah Yuki. Sayangnya anak itu tidak berani mengangkat pandangannya. arah matanya selalu tertuju ke lantai meskipun Andin mengajaknya berbicara.


Seketika ekspresi dingin Andin berubah menjadi ramah. Ia langsung mengajak Yuki ke dapur. tentu saja Alex dan Hendra mengikutinya.


"Tunggu dulu! Kenapa kalian berdua mengikuti kami ke dapur?" tanya Andin. "Te... tentu saja untuk makan," ujar Hendra. "Kalian berdua tidak akan makan sebelum membereskan kekacauan itu!" ujar Andin dengan ekspresi dinginnya kemudian melanjutkan langkahnya.


"Ibumu menyeramkan sekali," ujar Hendra. "Suasana hatinya sering sekali memburuk seperti itu! Sebenarnya ia kenapa?" tanya Alex.

__ADS_1


"Kau baru menyadarinya? Bahkan sebelum kau lahir pun ia selalu seperti itu setiap bulannya. Kau saja yang jarang berada di rumah jadi tidak tahu!" ujar Hendra.


Di sisi lain, Alesse masih sibuk mengutak-atik Levy. Ia mencoba menyamakan beberapa fitur yang terbuat dari tongkat serba gunanya.


Ia pun teringat saat Rasya dapat mengeluarkan tongkat serba guna dari punggungnya. Ia pun membuka pintu rubanah kemudian berniat meminta Aqua dan Yuki untuk melakukan hal serupa.


Sayangnya saat itu ia hanya melihat Aqua yang sudah terselimuti oleh es. Ada seseorang lagi yang sedang bersamanya. "Kaa?" Alesse mencoba memastikan.


Kaa tampak terkejut karena melihat Alesse di tempat lain. "Tu... tunggu dulu! Apa yang terjadi di sini? Sejak kapan kau bisa menggandakan diri? Ini kemajuan yang sangat dibutuhkan saat ini!" ujar Kaa, ia tampak gelisah dan mengharapkan sesuatu.


"Raut wajahmu itu sangat menggangguku! Bisakah kau tenang dan singkirkan rasa gelisahmu itu? Jangan libatkan orang lain dalam kegelisahanmu!" ujar Alesse.


"Jadi..... kenapa ia membeku di situ? Apakah ia akan baik-baik saja?" tanya Kaa. "Ia selalu seperti itu setiap kali muncul dan itu sangat merepotkan," ujar Alesse.


"Kenapa kau mengeluarkannya jika itu merepotkanmu?" tanya Kaa keheranan. "Asal kau tahu saja! Aku tidak mengharapkan hal ini terjadi! Ia tiba-tiba muncul saat aku tersandung," ujar Alesse.


"Begitukah? Jadi kau belum bisa mengendalikannya?" tanya Kaa, ia sedikit kecewa. "Hei! Dengar ya! Aku tidak pernah berharap mendapatkan kemampuan seperti ini! Pria mesum, penggila perang, pemuda yang hiperaktif, bocah angkuh dengan temperamen yang buruk, si bisu ini, dan si pemalu.... Kenapa semua sifat yang kubenci tiba-tiba jadi melekat pada diriku? Kau pikir ini masuk akal? Kira-kira berapa orang lagi yang akan muncul setelahnya? Apakah aku akan hidup dengan enam orang lainnya setelah ini? Bersama dengan dua makhluk ini saja sudah sangat merepotkan!" ujar Alesse kesal.


"Tenanglah, Alesse! Ini terjadi karena kau belum menguasai kekuatanmu. Jika kau tidak bis amengendalikan mereka, mereka akan menjadi individu lain yang berusaha hidup tidak sesuai dengan jalan pikiranmu! Aku sudah pernah melihat yang seperti itu dan itu sangatlah mengerikan!" ujar Kaa.


"Sebelum itu terjadi, aku akan melakukan ini!" ujar Alesse kemudian mendorong bongkahan es yang menyelimuti Aqua. Saat itulah tubuhnya jatuh membentur lantai dan tercerai berai.


Pada saat yang sama Yuki membuka pintu, ia benar-benar terkejut melihat potongan-potongan tubuh yang berceceran di lantai. Ia segera menutup pintu sebelum orang-orang di luar memerhatikan.


"Membunuh mereka bukanlah sebuah solusi! Kau tidak tahu sekuat apa mereka semua? Kau tidak akan mampu melawan enam elementalist sendirian, mereka mungkin akan pergi ke bumi asal mereka dan itu akan menjadikan mereka lebih kuat dari sebelumnya dan kau tidak punya kendali atas mereka jika dari sekarang tidak melatih kekuatanmu!" ujar Kaa.


"Benar sekali! Aku ingat saat Geni mencoba mengendalikan tubuhku di Nova, ia berhasil dalam sekali coba dan aku hanya bisa melihatnya bertindak dengan tubuhku seolah aku berada di sudut pandang orang ketiga," ujar Alesse.

__ADS_1


"Untuk mengendalikan mereka, kau juga harus memahami cara mengendalikan elemen yang mereka gunakan. Mungkin kita bisa mulai dari mengendalikan Udara. Kurasa pemuda itu yang paling jinak di antara mereka semua," ujar Kaa sambil menunjuk Yuki.


__ADS_2