Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
A Shepherd's Slave


__ADS_3

Saat Geni terus melangkah menuju hanparan rumput, orang-orang menatapnya dengan penuh heran. "Ah, benar juga! Pakaianku pasti sangat mencolok! Jawara, bisakah kau berubah menjadi pakaian yang tampak wajar di sini?" tanya Geni.


Tanpa menjawab, Jawara langsung membungkus tubuh Geni dan berubah menjadi pakaian tradisional. "Sikapmu dingin sekali," ujar Geni.


Setelah merasa aman, ia kembali melangkahkan kakinya. Sayangnya orang-orang tak pernah berhenti menatapnya.


"Mereka benar-benar membuatku lelah! Kita istirahat dulu di sekitar sini," ujar Geni kemudian masuk ke dalam gua yang terukir dari bukit kapur.


"Sepertinya ada seseorang di dalam," ujar Jawara. "Tentu saja, dia menggembala kambing-kambing yang di sini. Tidak mungkin kambing-kambing itu ditelantarkan," ujar Geni.


Sayangnya setelah berjam-jam ia duduk di tempat itu, ia tidak mendapati orang yang menggembala kambing tersebut.


"Kenapa ia tak kunjung keluar? Apa yang dia lakukan?" tanya Geni keheranan. "Entahlah, tapi para kambing itu mulai dikejar-kejar rubah," ujar Jawara.


"Argh! Aku tidak ingin terlibat dengan hal ini!" ujar Geni kesal, ia pun masuk semakin ke dalam gua itu.


Ia pun mendapati seseorang yang menutup kepalanya dengan kain lusuh. "Permisi? Permisi? Tuan, kambing-kambingmu diganggu rubah loh," ujar Geni.


Akhirnya orang itu beranjak dari posisi duduknya, namun ia tetap menutupi dirinya dengan kain lusuh itu.


Ia pun langsung keluar dari Gua dan mengendalikan angin kencang untuk melempar rubah-rubah itu ke dalam hutan.


Geni merasa geram karena orang itu terus menghindarinya dan menutupi tubuhnya. "Se... sebaiknya kau pergi dari sini," ujar orang itu. "Walah, seorang pria ternyata. Kenapa kau menutupi dirimu sendiri? pria tidak boleh malu dengan fisiknya loh," ujar Geni.


"Warga desa menyebutku budak terkutuk, mereka ketakutan saat melihat wajahku. Sebaiknya kau juga segera pergi. Jangan sampai melihatku," ujar pria itu.


"Aku tidak keberatan melihatmu loh, buka saja penutup kepalamu itu. Warga desa tidak ada yang melihat," ujar Geni.


Akhirnya pria itu dengan ragu-ragu mulai membuka kain yang menutupi kepalanya, sayangnya masih ada sebuah topeng yang menutup wajah pria itu.


"Kau ini kenapa? Lepaskan saja topeng itu," ujar Geni sambil mencoba melepaskannya, sayangnya di balik topeng itu masih ada satu topeng lagi.


"Kau bercanda?" tanya Geni keheranan. Akhirnya pria itu membuka topeng terakhirnya hingga terlihat wajah yang selama ini ia sembunyikan itu.

__ADS_1


"Gagah sekali! Aku tidak bisa berkata-kata. Ini... albino? Eh... bukan?" Geni tampak bingung. Ia mendapati rambut pria itu berwarna putih perak, bahkan alis, kumis, dan jenggotnya demikian, namun warna kulitnya tidak terlalu pucat untuk disebut sebagai albino.


"Rambut dan matamu sangat membingungkan! Apakah kau adalah lansia?" tanya Geni. Pria itu menggeleng.


"Aku bahkan belum sampai dua puluh tahun," ujar pria itu. "Tidak mungkin! Berarti itu adalah warna rambutmu sejak kau lahir?" tanya Geni.


"Aku tidak tahu, namun sejak kecil warna rambutku sudah seperti ini. Orang-orang menyebutku terkutuk karena warna mataku yang merah tampak mengerikan. Mereka sangat membencinya," ujar pria itu.


"Pantas saja mereka menatapku penuh benci! Lihatlah, mataku juga berwarna merah loh!" ujar Geni sambil menunjukkan matanya. Sayangnya merah yang ia miliki tampak berbeda dengan pria itu. Miliknya tampak merah cerah seperti bara api, sedangkan milik pria itu tampak gelap seperti darah.


"Pokoknya.... kita sama-sama merah," ujar Geni agar pria itu tidak terpuruk. Sayangnya pria itu tidak banyak berbicara, ia lebih memilih menutup wajahnya dengan topeng.


"Tidak perlu ditutup. Wajahmu sangat menawan kok, aku yakin orang-orang di sini sangat iri dengan ketampananmu. Itulah alasan mereka membencimu," ujar Geni.


"Menawan?" Pria itu terdiam sejenak kemudian menatap Geni. "Kau.... Siapa namamu?" tanya pria itu. "Aku? Namaku Geni, dan kau? Siapa namamu?" tanya Geni.


"Yuki," ujar pria itu. Geni tampak tidak percaya. "Untuk pria dengan wajah semaskulin dirimu..... namamu cukup lembut ya! Yuki..... seperti hamparan salju," ujar Geni.


"Buku itu! Kau juga memilikinya?" tanya Geni terkejut. "Aku juga memiliki pertanyaan untukmu. Kau ini siapa? Aku tidak pernah melihat hal yang tidak sesuai dari buku ini, namun hari ini aku justru mengalaminya. Ditulis di buku ini bahwa aku tidak menemui siapapun hari ini, bahkan tidak ada nama Geni," ujar Yuki.


"Kalau kau juga memiliki buku itu..... berarti kau sama sepertiku!" seru Geni, ia menunjukkan buku kusam milik Alesse.


Yuki pun terkejut bukan main, namun belum sempat ia berbicara, buku itu tiba-tiba melahapnya hingga lenyap.


Buku itu pun langsung melayang di udara dan secara perlahan menghampiri Geni. "Hei! Apa yang terjadi di sini? Buku ini mau apa?" Geni kebingungan, pada akhirnya ia sedikit menjauh dari buku itu.


Sayangnya buku itu terus menghampirinya hingga akhirnya masuk ke dalam dadanya. Ia pun merasa merinding saat buku itu tiba-tiba menembus tubuhnya kemudian lenyap tanpa bekas.


"Kupikir buku itu akan menyerangku. Bikin panik saja!" ujar Geni. Saat itu juga ia merasakan kantuk yang amat berat, ia langsung tertidur di tempat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuki tampak kebingungan ia tiba-tiba berpindah dari padang rumput menuju ke sebuah kamar dengan cahaya yang tampak biru redup.

__ADS_1


Aqua dan Baraq sekilas menatapnya sebentar lalu mengabaikannya. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Yuki tidak tahu harus berbuat apa, ia pun duduk di lantai sambil menutup wajahnya dengan topeng. Ia pikir dua orang lainnya tampak enggan melihat wajahnya.


Setelah menunggu hingga berjam-jam, Aqua dan Baraq tak beranjak dari aktivitas masing-masing. Hal itu membuat Yuki bingung harus berbuat apa.


Ia mencoba berdiri untuk menghampiri Aqua, namun mengurungkan niatnya karena Aqua tampak serius menatap jendela. Pada akhirnya ia terduduk di kasur dan terkejut.


Ia tidak menyangka ada kasur seempuk itu. Ia pun mencoba membaringkan diri, namun orang-orang di sekitarnya tidak peduli.


Ia mencoba menghampiri Baraq dan memeriksa apa yang sedang dibaca olehnya. Meskipun sempat diperhatikan oleh Yuki, Baraq tampak tidak peduli, ia terus membaca bukunya.


Akhirnya Yuki mencoba mengambil satu buku. Ia pun terkejut karena bisa membacanya. Akhirnya ia pun mulai menikmati bacaan dari buku itu.


Sayangnya dalam hitungan menit ia langsung bosan dan beralih ke jendela. Aqua sempat meliriknya sebentar lalu kembali mengabaikannya.


Akhirnya Baraq menutup bukunya, suaranya membuat Yuki tiba-tiba menengok ke belakang. "Kau ini apa? Kenapa kau menggunakan topeng di wajahmu?" tanya Baraq.


Yuki bingung hendak menjawab pertanyaan yang mana, ia hanya diam sambil terus berpikir. Ia tidak biasa berinteraksi dengan orang-orang. Apalagi seseorang yang tidak dikenalnya. Selain itu Baraq dan Aqua tampak tidak bersahabat, tidak seperti Geni yang ramah dan mencerahkan.


"Hmm? Kau tuli kah?" tanya Baraq sambil memerhatikan Yuki. Yuki pun menggelengkan kepala. "Lalu... siapa namamu?" tanya Baraq. "Yuki," jawab Yuki, ia pun merasa lega karena akhirnya ia bisa menjawab pertanyaannya.


"Lepaskan saja topeng itu, kau tidak perlu malu," ujar Baraq. Akhirnya Yuki pun mencoba melepaskannya. Ia sempat tidak nyaman dengan warna rambut dan matanya sendiri.


"Kukira ada apa, ternyata biasa saja. Tidak perlu disembunyikan, wajahmu tidak buruk juga. Tapi melihatmu begini membuatku teringat pada Gord. Kalian berdua sangat mirip," ujar Baraq.


Yuki masih terus diam, ia malah kembali memakai topengnya. Ia tidak ingin ekspresi bingungnya dilihat oleh Baraq. "Loh? Kenapa kau tutup lagi?" tanya Baraq.


Yuki tidak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya ia ingin tahu siapa nama anak yang sedang berbicara dengannya ini, namun ia tidak tahu harus merangkai kata seperti apa.


"Hmm, panggil aku Baraq saja. Lalu anak yang menatap jendela itu, panggil saja Aqua. Dia sangatlah membosankan. Kerjaannya hanya menatap jendela jadi lebih baik tidak perlu berurusan dengannya," ujar Baraq.


"Ini dimana?" tanya Yuki. "Aku tidak tahu ini tempat apa. Tapi lakukanlah hal yang ingin kau lakukan, kami tidak peduli asalkan kau tidak mengganggu kami," ujar Baraq kemudian kembali ke kursinya, ia pun membaca buku lagi.

__ADS_1


__ADS_2