Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Hati yang dingin


__ADS_3

Alesse! Ada seorang pria mencarimu!" ujar Andin. "Akhirnya Sandy datang juga!" ujar Alesse kemudian pergi ke depan, ia mendapati Sandy sedang berbincang-bincang dengan Hendra.


"Oh, Alesse! Akhirnya keluar juga! Kau tidak bilang kalau kau punya teman yang mirip dengan Alex, berbadan besar seperti ini," ujar Hendra sambil meraba-raba lengan Sandy.


"Bilang saja ayah iri karena tidak memiliki tubuh seperti itu," ujar Alesse terus terang, ia baru saja membaca isi pikiran Hendra. Tentu saja perkataannya membuat Hendra terpuruk.


"Perkataanmu kejam sekali! Ayah tidak terlalu ingin memiliki tubuh seperti itu kok," ujar Hendra. Andin pun segera menarik suaminya itu sebelum menghancurkan suasana.


Alesse pun duduk di sofa. "Jadi, ada apa?" tanya Alesse. Sandy sempat terdiam sambil terus melihat Alesse dari atas hingga bawah.


"Aku tidak tahu kau bisa terlihat bergaya seperti ini! Kau benar-benar sangat tampan, Alesse! Baru kali ini aku melihatmu memakai celana pendek! Kakimu indah sekali!" ujar Sandy.


"Tentu saja! Kakiku itu sangatlah atletis! Aku menjaganya dengan baik!" ujar Geni dengan sombongnya. Alesse sedikit kesal karena tidak bisa menanggapi perkataannya. Sandy mungkin akan menganggapnya gila karena terlihat berbicara sendiri.


"Jadi ada apa kau ke sini? Tidak mungkin kan, kalau kau datang ke sini hanya untuk mengatakan bahwa kakiku indah," ujar Alesse.


"Yeah, kau selalu bersikap dingin seperti biasanya. Sebenarnya ada yang ingin kuceritakan! Entah kenapa beberapa hari ini aku terus merasa gelisah karena memikirkan Salsha! Aku pasti sudah gila! Aku sampai tidak tahu harus melakukan apa!" ujar Sandy.


"Kau menyukainya," ujar Alesse singkat. "Kau sangat terus terang sekali," ujar Geni.


"Eh? Aku? Menyukai Salsha? Itu tidak mungkin! Kau pasti tahu kan kalau kami saling membenci satu sama lain sejak SMP," ujar Sandy dengan wajah memerah.


"Wah! Wah! Apakah ini masalah cinta? Sebaiknya kau memberikan tips-tips yang bagus untuknya!" ujar Geni. Alesse tetap diam menahan rasa kesalnya.


"Kau menyukai Salsha, Sandy! Aku tahu itu! Salsha juga menyukaimu! Nah, karena kau sudah tahu, masalah kelar bukan?" ujar Alesse, ia tampak tidak ingin berbasa-basi.


"Kejam sekali! Setidaknya kau berikan sesuatu untuk mendukung mereka, Alesse!" desak Geni, ia terus berbicara di sekitar telinganya membuatnya sangat terusik.

__ADS_1


"Argh! Baiklah! Sandy, jika kau memang jantan, akui saja di hadapannya kalau kau menyukainya! Jangan banyak bertele-tele," ujar Alesse.


"Apakah kau gila? Mana mungkin aku akan melakukan hal seperti itu!" ujar Sandy. "Ini masalahmu, Sandy! Aku hanya memberikan saran terbaik sebelum kau menyesal. Sebenarnya aku tidak bisa merasakan hal yang sama sepertimu, menyukai orang lain dan yang berkaitan dengan cinta manusia. Aku hanya menyukai ilmu pengetahuan," ujar Alesse.


Sandy merasa lesu mendengar perkataan Alesse. "Kau sudah jauh-jauh datang ke sini kan? Lebih baik kau turuti apa yang kukatakan daripada pulang tanpa mendapatkan apa-apa dariku. Atau.... kau ingin kusampaikan pada Salsha bahwa kau menyukainya?" tanya Alesse.


"Ja... jangan! Aku akan lebih malu! Seperti pengecut saja!" ujar Sandy. "Kalau begitu utarakan sendiri, jangan membuat pikiranmu gelisah," ujar Alesse.


"Tapi, aku akan lebih malu jika ia tidak menerimanya, mungkin saja ia akan merasa jijik dan benci padaku," ujar Sandy.


"Sudah kubilang kan? Salsha juga menyukaimu, itu tidak mungkin terjadi," ujar Alesse. Ia merasa iba melihat wajah Sandy yang terus gelisah.


"Baiklah! Sebagai bukti, aku akan meminta Sanay untuk menanyakan hal itu," ujar Alesse. "Benarkah? Kau akan melakukan hal itu? Tapi jangan bilang pada Sanay kalau ini adalah permintaanku," ujar Sandy. "Tenang saja, aku tidak sebodoh itu," ujar Alesse.


"Baiklah! Kau harus berjanji!" ujar Sandy. "Tenang saja, aku jarang mengingkari janjiku kok," ujar Alesse. "Ja... jarang? Berarti kau pernah melakukannya? Tidak sekali dua kali?" tanya Sandy.


"Hati-hati saat pulang," ujar Alesse. "Baiklah! Kau memang yang terbaik Alesse!" seru Sandy kemudian berlalu pergi.


Alesse pun masuk ke dalam kamar lalu mulai meletakkan kedua tangannya di pinggang, ia hendak melakukan split.


"Hei, hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Geni. "Aduh! Sayang sekali, kaki indah yang kau banggakan ini tidak lentur sama sekali, bahkan bisa dikatakan kaku. Masih lebih baik kakiku," ujar Alesse.


"Hei, asal kau tahu! Aku membentuk kakiku sebagai atlet bukan penari balet! Itu bisa merusak jemari kakiku!" ujar Geni. "Siapa bilang kaki lentur hanya untuk balet? Kaki yang lentur bisa memberimu keseimbangan yang baik dan pergerakan yang lincah. Sayangnya otot di paha ini sangat berlebihan," ujar Alesse.


"Lah, ngaku saja! kau iri dengan kakiku kan?" tanya Geni. "Untuk apa? Kakiku lebih ideal, tidak banyak tumpukan otot yang tidak perlu," ujar Alesse.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Esok hari tiba, Alesse menatap cermin dengan perasaan kecewa. "Kenapa wajah ini belum berubah juga? Apakah aku akan terus memakai serba merah ini keluar rumah? Akhirnya aku merasakan kesulitan yang dialami Alex! Tapi ini terlalu berlebihan! Ini bukan diriku!" ujar Alesse kesal.


Sandy mengiriminya sebuah pesan agar segera bertanya pada Sanay perihal Salsha. Alesse pun langsung menelpon Sanay.


"Ada apa Alesse? Tumben sekali kau menelpon, biasanya harus kau yang menelponmu," ujar Sanay. "Maaf mengganggu waktumu sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu," ujar Alesse. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau jadi sopan sekali?" tanya Sanay.


"Sudahlah, ada sesuatu yang ingin kutanya! Menurutmu, apakah Salsha menyukai Sandy?" tanya Alesse. "Sandy? Salsha menyukai Sandy? Hmm!" Sanay mencoba berpikir. "Kalau dipikir-pikir, sepertinya iya. Terkadang orang yang saling membenci bisa saling menyukai," ujar Sanay.


"Jadi menurutmu juga begitu? Baiklah, tapi bisakah kau tanyakan itu pada Salsha langsung?" pinta Alesse.


"Tentu saja, sebentar," ujar Sanay kemudian menutup teleponnya. Beberapa menit kemudian, ia menghubungi Alesse kembali.


"Gimana?" tanya Alesse. "Sepertinya ia agak malu setelah kutanya seperti itu, ia juga malu saat mengakuinya. Sebaiknya kau rahasiakan ini, kasihan Salsha," ujar Sanay.


"Maafkan aku, aku harus memberitahu Sandy hal ini juga," ujar Alesse. "Hei! Kau bercanda? Sandy bisa-bisa merundungnya karena dulu ia pernah bertaruh pada Salsha!" ujar Sanay.


"Tenang saja, tidak seperti yang kau pikirkan. Sandy juga menyukai Salsha, ia yang memintaku untuk menanyakan perasaan Salsha. Ia merasa sangat malu dan menyesal tentang taruhannya waktu SMP dulu," ujar Alesse.


"Benarkah begitu? Syukurlah. Kedua teman kita saling menyukai, benar-benar romantis!" ujar Sanay kemudian suasana menjadi senyap seketika.


"Ada apa Sanay? Boleh kututup sekarang?" tanya Alesse. "Tunggu sebentar! Bolehkah aku bertanya?" tanya Sanay. "Boleh, silahkan," ujar Alesse. "Apakah ada seseorang yang kau sukai?" tanya Sanay tiba-tiba. "Tidak ada, sejauh ini belum ada seorang pun yang membuatku terkesan dan penasaran, apalagi menyukainya," ujar Alesse.


"Oh, jadi begitu? Belum ada yang membuatmu penasaran yah? Jadi jika kau tidak penasaran, sudah pasti tidak menyukainya?" tanya Sanay. "Yeah, begitulah. Tapi tidak menyukai bukan berarti aku membencinya. Aku tidak membencimu, ataupun Sandy dan Salsha, aku juga tidak membenci keluargaku," ujar Alesse.


"Jadi intinya tidak ada yang membuatmu penasaran?" tanya Sanay. "Belum ada," ujar Alesse. "Oke, baiklah! Kututup ya!" ujar Sanay. "Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Kenapa bertele-tele sekali?" gumam Alesse keheranan.


"Kau sangat tidak peka sekali! Gadis itu sepertinya menyukaimu," ujar Geni. "Menyukaiku? Tentu saja, aku disukai banyak orang, Sandy menyukaiku, ayah dan ibuku menyukaiku bahkan Alex juga menyukaiku, terus kenapa?" tanya Alesse.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, kuharap kau menjadi orang yang paling bodoh sedunia," ujar Geni sambil menggeleng kepala dengan wajah miris.


__ADS_2