Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Alice


__ADS_3

Kaa pun langsung kembali ke Atlane dengan gerbang yang ia buat. Ia pun berjalan sempoyongan karena menghabiskan energinya untuk berkali-kali membuka gerbang ke dunia lain.


Sekarang ia sendiri tidak sadar sedang berada di mana, ia hanya mendapati pohon-pohon yang menjulang tinggi.


"Loh? Bukankah ini seharusnya markas para Elf? Kenapa sepi sekali?" Kaa keheranan. Ia terus berjalan menuju cahaya yang remang-remang di depannya.


Setelah lama melangkah, akhirnya ia tahu kalau di hadapannya adalah sebuah pemukiman, ia langsung singgah pada sebuah kedai.


"Ray? Sedang apa kau di sini?" Kaa keheranan setelah melihat pria yang tidak asing itu duduk sambil merangkul beberapa wanita ras Elf.


"Hei, kawan! Kau terlihat belum cukup umur untuk datang ke tempat seperti ini," ujar Ray, suaranya terdengar kacau.


"Kau mabuk? Di saat-saat seperti ini?" Kaa hanya bisa menggeleng kepala. "Justru karena sangat frustasi, aku ingin minum beberapa gelas dengan hiburan," ujar Ray.


"Benar-benar tidak bermoral! Kenapa wanita-wanita Elf itu ada di sini? Mereka pelacur? Ini perbudakankah?" tanya Kaa.


"Bukan kok, lebih tepatnya mereka dengan senang hati melakukan pekerjaan ini. Bukankah begitu, manis?" tanya Ray sambil membelai telinga salah satu wanita Elf itu.


Kaa benar-benar muak setelah melihatnya, ia hendak pergi dari tempat yang remang-remang itu, namun seorang pria menghadangnya.


"Kenapa ada anak kecil di sini?" tanya pria itu. "Hei, kawan. Sebaiknya jangan berurusan dengannya, meskipun terlihat seperti anak kecil, dia bahkan lebih tua dariku," ujar Ray sambil sedikit tertawa. Kaa sempat kesal karena Ray terdengar sedang mengejeknya.


"Wah, benarkah? Aku lihat anak ini terlalu manis untuk seorang laki-laki, bukankah begitu? Gadis-gadis saat ini tidak mungkin ada yang memiliki kulit selembut dirinya," ujar pria itu sambil berkali-kali mengusap lengan Kaa.


"Sebaiknya kau lepaskan tangan kotormu dariku!" ujar Kaa mulai serius. "Kau mau apa anak muda? Sebaiknya kau ikut aku agar lebih berguna. Jika dijual pasti harganya sangat mahal," ujar pria itu.


Kaa sudah kehilangan kesabaran, sayap megahnya tiba-tiba muncul lalu ia kepakkan di hadapan pria itu hingga terpental sejauh beberapa meter.


"Ray, sebaiknya jangan banyak bermain-main! Sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri? Kau tidak memeriksa apakah mereka mengandung anakmu atau tidak?" tanya Kaa.

__ADS_1


"Bagaimana aku tahu? Aku sendiri bahkan sudah lupa wanita mana saja yang sudah kutiduri," ujar Ray.


"Wah, ternyata tuan adalah hewan buas!" seru seorang wanita Elf sambil membelai dada Ray. "Benarkah? Menurutmu begitu? Perlu kutunjukkan hal itu di ranjang?" tanya Ray. Para wanita itu hanya berteriak kegirangan mendengar godaan Ray. Kaa pun akhirnya pergi keluar kedai.


Saat itulah sebuah rambut panjang berwarna biru terurai di udara. Kaa terpana sejenak, ia pun sadar kalau itu adalah seorang gadis.


"Alice? Itukah kau?" tanya Kaa. "Benar sekali, ini aku," ujar gadis itu tersenyum. Kaa pun menghampirinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi selama ini? Kau tidak menua? Apakah kau juga seorang Chron?" tanya Kaa penasaran.


"Chron? Benar sekali, aku adalah Chron," ujar Alice. "Sepertinya kita tidak banyak bicara, kau hanya memberikanku ide untuk membuat pemukiman di dasar laut lalu pergi begitu saja," ujar Kaa.


"Maaf kalau aku tidak sopan," ujar Alice. Kaa pun mencoba memperhatikannya sekali lagi. "Ternyata kau cukup sopan yah, kukira kau akan terlihat seperti gadis yang banyak bicara. Berapa usiamu sekarang?" tanya Kaa penasaran.


"Seperti yang kau lihat, itu usiaku yang sekarang," ujar Alice. Kaa pun tertawa. "Mana mungkin aku tahu! Chron punya masa jeda dari penuaan pada usia-usia tertentu, contohnya saat berusia tujuh belas tahun, kita akan terlihat sama hingga seratus atau dua ratus tahun ke depan," ujar Kaa.


"Usiaku baru delapan belas tahun," ujar Alice. "Itu tidak mungkin! Dua puluh tahun silam kau juga terlihat seperti ini! usiamu pasti sudah lebih dari tiga puluh tahun!" ujar Kaa.


"Menurutmu, Alesse perempuan atau laki-laki?" tanya Alice. "Tentu saja dia laki-laki! Kenapa kau meragukannya?" tanya Kaa keheranan.


"Itu tidak mungkin! Benarkah ia laki-laki?" Alice masih ragu. "Apa yang membuatmu terus menyangkalnya?" tanya Kaa.


"Hmm! Menurutmu seorang pria mati lalu bereinkarnasi menjadi wanita apakah mungkin?" Alice balik bertanya.


"Kau ini bicara apa? Reinkarnasi? Aku belum pernah menemukan lelucon seperti itu kecuali dia yang mengaku itu benar-benar gila," ujar Kaa.


"Begitu kah? Jadi menurutmu begitu?" tanya Alice, wajahnya tampak kecewa, ia pun langsung menghilang di hadapan Kaa seperti air yang menguap dengan cepat.


"Apa-apaan gadis itu? Langsung menghilang begitu saja! Aku bahkan belum mendapatkan jawabanku," ujar Kaa.

__ADS_1


Ia pun mengabaikan apa yang ia lihat lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ia mencari tempat tinggal yang layak untuk istirahat sejenak.


Setelah beberapa saat merebahkan diri di kasur, ia merasa sangat hampa. Bisa bepergian dengan Alesse dan teman-temannya adalah hal baru baginya. Saat mereka tidak ada, ia juga merasa kesepian.


"Ada apa lagi ini? Apakah aku sedang merasa kehilangan? Aneh sekali! Tidak seperti biasanya!" ujar Kaa.


Ia ingin segera pergi ke Atlane untuk berjumpa dengan Atlas. Hanya ia dan keluarganya yang Kaa miliki.


Akhirnya ia bisa membuka gerbang untuk terakhir kalinya, saat itu juga ia beruntung karena gerbang antar dunia yang ia buka langsung terhubung dengan ruang makan rumah Atlas.


"Aku pulang!" serunya setelah melewati gerbang itu. Ia tidak bisa mempertahankan posisi berdirinya karena energinya sudah terkuras untuk membuka gerbang. Saat itu juga Atlas langsung menahan tubuhnya lalu mengangkatnya ke tempat tidur.


"Ia lebih cocok menjadi anakmu, kenapa memanggilnya dengan sebutan ayah?" tanya Abel keheranan.


"Kau tidak mengerti karena tidak menyaksikannya hidup selama ratusan tahun! Dia ini sudah mengasuh ayah sejak usia lima tahun loh!" ujar Atlas.


"Melihat tubuhnya yang masih remaja itu sangat tidak meyakinkan," ujar Abel. "Ini adalah keistimewaan dari Chron. Mereka bisa hidup ribuan tahun," ujar Atlas.


"Berarti sama seperti ras Elf? Mereka juga berumur panjang kan?" tanya Abel. "Elf hanya hidup selama ratusan tahun saja, paling tua mungkin hanya sampai lima belas abad, itupun kalau ia tidak terjangkit suatu penyakit yang mematikan," ujar Atlas. "Apa bedanya dengan Chron?" tanya Abel.


"Chron hidup selama ribuan tahun, ayah pernah dengar ada yang sampai lima ribu tahun. Mereka yang bisa hidup selama itu karena tidak pernah berurusan dengan manusia. Satu-satunya yang bisa menghentikan usia panjang Chron adalah pembunuhan dan bencana alam. Tidak ada penyakit yang dapat membuat meninggal karena ia kebal penyakit. Mereka akan meninggal setelah memasuki masa tua layaknya manusia, dan itu berbeda-beda untuk tiap Chron. Ada yang sudah mengalami penuaan di usia dua ribu tahun, dan sejauh ini yang paling lama adalah lima ribu tahun," ujar Atlas.


"Kira-kira remaja ini akan hidup selama berapa tahun?" tanya Abel sambil menatap Kaa yang sedang tidur terlelap.


"Dia bukan orang yang berharap bisa hidup lebih lama, mungkin kita semua akan meninggalkannya terlebih dahulu sebelum ia sempat menua," ujar Atlas.


"Entah kenapa terasa sangat menyedihkan," ujar Abel, ia merasa iba dengan keadaan Kaa. "Ini juga salah ayah karena memaksa ikut dengannya. Sebenarnya ia tidak ingin berurusan dengan manusia karena takut kehilangan, namun ayah tetap mengikutinya sejak kecil hingga tumbuh dewasa," ujar Atlas.


"Entah kenapa membicarakan hal ini membuatku teringat pada kakak," ujar Abel.

__ADS_1


"Anne, dia adalah gadis yang kuat dan pemberani, dia sangat mirip dengan ibumu," ujar Atlas murung, ia masih berduka dengan kepergian putri dan istrinya meskipun sudah beberapa tahun berlalu.


__ADS_2