Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Kembali ke antah berantah


__ADS_3

"Sudah lima bulan berlalu! Tidakkah sebaiknya kita bilang kepada Alex apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Salsha. "Benar sekali! Kupikir lebih baik kita minta pihak polisi untuk melakukan pencarian juga," ujar Sandy. "Menurutku itu sudah masuk ranah Guardian untuk mencarinya! Kau ingat betapa mengerikannya para iblis itu?" tanya Salsha.


"Kalau menurutku sih, Alesse baik-baik saja jika berhadapan dengan mereka. Probe sendirian saja sudah cukup untuk menghabisi mereka semua, apalagi Jawara, ia bisa berubah bentuk menjadi apa saja," ujar Sanay.


"Aku juga tidak setuju jika melaporkan kehilangan Alesse! Jika seperti itu, tidak ada tempat lagi untukku, kamar Alesse akan digeledah dan permasalahan menjadi rumit! Keluarga Alesse mungkin akan semakin khawatir! Dulu juga ia pernah menghilang dan membuat kedua orangtuanya tertekan," ujar Probe.


"Bukankah itu salahnya sendiri? Kenapa ia pergi dan membuat orang tuanya tertekan?" tanya Salsha.


"Aku tahu kalau itu adalah salah Alesse, jadi kalian tidak perlu ikut campur masalah ia akan kembali atau tidak. Sebagai teman, kalian cukup diam dan menunggu, jangan membuat keluarganya tertekan lagi," ujar Probe tegas, kali ini ia benar-benar menyatakan pendapatnya.


"Tapi tetap saja kita harus mencari keberadaannya! Kita tidak bisa berpura-pura baik-baik saja setelah ia menghilang dan tidak pernah pulang!" ujar Sanay.


"Kalau itu terserah kalian, jika kalian ingin mencarinya, aku bersedia mengikuti kalian, tapi jika memang tidak ingin, ya sudahlah. Kalian diam saja pun tidak masalah," ujar Probe.


"Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu! Seolah kau tidak peduli padanya!" ujar Sanay. "Bukannya aku tidak peduli, aku hanya menjalankan perintah! Untuk keputusan akan mencarinya atau tidak, itu berada di tangan kalian," ujar Probe.


"Menurutku, sebaiknya kita mencarinya! Kalian setuju kan?" tanya Sanay. Sandy dan Salsha tampak ragu-ragu. Mereka berdua mengalami hal yang mengerikan saat terjebak di antah berantah itu.


"Kalian...... baiklah, tidak usah memaksakan diri. Aku tidak meminta kalian untuk mencarinya kok," ujar Sanay dengan wajah suram.


"Bu... bukan begitu Sanay, menurut kami tempat itu berbahaya! Alesse juga sepertinya tidak meminta untuk mencarinya," ujar Salsha. "Benar sekali Sanay, kita tidak boleh gegabah! Kau juga masih memiliki orang tua yang sedang menunggumu di rumah," ujar Sandy.


"Kalau kalian memang tidak ingin mencarinya, bilang saja! Tidak usah berlagak peduli dan mengkhawatirkanku! Sangat menjijikkan! Aku benci orang yang bertele-tele!" ujar Sanay kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.


Sandy hendak menghentikannya, namun Salsha mencegatnya. "Biarkan dia tenang, semakin kau berbicara, ia akan semakin marah," ujar Salsha.


Sanay pun pulang ke rumah dalam keadaan menangis, ia membuka pintu rumah sedangkan kedua orangtuanya tampak tidak peduli.

__ADS_1


Setelah beberapa jam menatap foto keluarga, ia teringat dengan perkataan Sandy. "Masih ada orang tua yang menungguku di rumah, huh? Omong kosong!" pikirnya.


Ia pun langsung berganti pakaian dan menghubungi Probe. "Ada apa Sanay?" tanya Probe. "Maukah kau menemaniku pergi ke bukit Balai Hitam?" tanya Sanay.


"Boleh-boleh saja. Sudah kubilang kan? Jika kau ingin mencarinya, kau bisa membawaku juga ke sana, aku netral," ujar Probe.


"Baiklah, kita akan bertemu di halte depan sekolah!" ujar Sanay. "Aku akan segera ke sana," ujar Probe.


Akhirnya Sanay langsung keluar rumah selagi orang tuanya tidak peduli padanya. Ia pun bertemu dengan Probe di sana.


"Cepat sekali kau," ujar Sanay. "Jalanku memang berkali-kali lipat lebih cepat dari pada manusia biasa," ujar Probe.


Mereka berdua pun menaiki bus dan sampai di tengah hutan dekat bukit Balai Hitam. "Sepertinya sering sekali anak-anak minta berhenti di sini! Sebenarnya apa yang kalian lakukan di sini?" tanya sopir bus keheranan.


"Bukan apa-apa, kami hanya mencari harta karun," bisik Sanay pada sopir itu. "Anak-anak memang ada-ada saja kelakuannya! Kalau bermain jangan sampai menimbulkan bahaya yah!" Sopir bus mengingatkan. "Baiklah! Sampai jumpa paman!" ujar Sanay sambil melambaikan tangan.


"Idemu lumayan bagus juga!" Suara Sandy terdengar dekat di antara mereka. "Sandy? Salsha! Kalian juga berada di sini?" Sanay terkejut bukan main.


"Kami tidak bisa membiarkan teman kami pergi sendirian! apa gunanya teman jika bergerak sendiri-sendiri?" ujar Sandy kemudian mengikat lengannya dengan lengan Salsha.


Akhirnya Sanay pun mengikat lengannya dengan lengan Salsha dan mereka berjalan sejajar sambil mendaki bukit itu.


"Kira-kira di mana kita berpindah tempat ke antah berantah itu?" tanya Salsha. "Seingatku, saat memutuskan untuk pergi ke sebuah gubuk di antah berantah itu, kami sudah berdiri di tengah-tengah aliran sungai," ujar Sanay.


"Kami juga! Mungkin sebaiknya kita memeriksa sungai itu!" ujar Dandy. Akhirnya mereka berempat mendaki hingga puncak lalu turun untuk menghampiri sungai yang ada di balik bukit.


"Kalau tidak salah ada di sekitar sini!" ujar Sandy sambil menunjuk ke tengah secara acak. "Kau bodoh ya? Apa jangan-jangan kau tidak memperhatikan sungainya saat kau sampai di sini?" tanya Sanay. "Maaf, aku tidak terlalu ingat," ujar Sandy.

__ADS_1


"Lihatlah bekas gundukan yang di sana! Itu terlihat mencurigakan! Kupikir ada di sekitar sana," ujar Sanay.


Mereka pun mendekati bekas gundukan itu dan langit pun berubah gelap secara tiba-tiba. Mereka berempat sudah berada di gubuk kayu.


"Kira-kira siapa yang membangun gubuk seperti ini di antah berantah?" tanya Salsha keheranan sambil mengetuk kayu gubuk itu.


"Yang membuat ini adalah Alesse," jawab Probe. "Bagaimana caranya kau tahu? Kukira kau tidak ikut bersamanya ke sini," ujar Salsha. "Aku menemukan beberapa jejak DNA nya di sini, beberapa helai rambut belum terurai dengan baik," ujar Probe.


"Heh? Kukira untuk mengetahui DNA seseorang memerlukan prosedur yang rumit di laboratorium," ujar Salsha. "Tidak berlaku untukku. Aku bisa memindai benda yang berjarak sekitar seratus meter dariku," ujar Probe.


"Alesse memang benar-benar luar biasa! Jenius itu memang patut dikatakan sebagai orang gila," ujar Sandy.


Mereka berempat pun keluar gubuk dan hanya mendapati padang tandus tak berujung. "Sepertinya sunyi sekali di sini! Todak seperti dulu, saat kita tersesat dan diserang oleh iblis-iblis itu," ujar Sanay.


"Sebaiknya kita waspada! Barangkali mereka tiba-tiba datang menyerang!" ujar Sandy. Mereka berempat pun pergi dari gubuk untuk memastikan sejauh apa ujung dari tempat itu.


"Lihat! Ada yang bercahaya di sana!" seru Salsha. "Sepertinya itu adalah bongkahan es, ada tubuh manusia di dalamnya," ujar Probe.


"Benarkah?" Sanay penasaran, ia segera menghampiri bongkahan es itu. "Sanay! Jangan gegabah! Kita tidak tahu kapan bahaya akan datang!" Sandy mengingatkan. Mereka bertiga pun mengikuti Sanay dan berhenti di depan bongkahan es itu.


"Kenapa es ini bercahaya? Lihatlah! Ada seorang gadis di dalamnya!" seru Sanay. "Seorang gadis terjebak dalam es! Bukankah kita harus menyelamatkannya?" tanya Sandy, ia mencoba menyentuh bongkahan es itu.


"Gimana caranya?" tanya Sanay. "Kita harus melelehkannya! Probe, bisakah ku melakukan hal itu? Kau pasti bisa membakar es itu hingga meleleh kan?" tanya Sandy.


"Jangan! Dia tidak akan selamat meskipun kalian melelehkan es itu," ujar salah seorang anak. Suaranya terdengar tidak asing, membuat mereka berempat langsung menoleh ke belakang.


"Alesse?" ujar Sandy, Salsha, dan Sanay secara serentak.

__ADS_1


__ADS_2