Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Adaptasi Baraq


__ADS_3

Alex sedang pergi ke pasar untuk membeli beberapa hal. Tak lama kemudian pencopet muncul dan mengambil dompet seseorang. Dengan cepat tanggap Alex langsung mengejar pencopet itu.


Sayangnya pencopet itu cukup lihai meskipun harus menghadapi seseorang yang memiliki pengendalian seperti Alex. Ia sampai tidak bisa menggapai tangan pencopet itu karena kegesitannya.


Tak lama kemudian muncullah beberapa orang dari berbagai arah. Ada yang dari atap rumah, gang kecil, bahkan seseorang yang berjalan cepat dengan gerobak untuk menghadang pencopet itu, seolah mereka sudah mempersiapkan semuanya untuk momen itu.


Akhirnya pencopet itu tertangkap dan tak berdaya meskipun sempat melakukan perlawanan terhadap orang-orang itu.


"Yo! Rupanya kau cukup kuat berlari sejauh itu dengan tubuhmu yang besar," sapa salah seorang pada Alex. "Siapa kalian? Terima kasih telah membantuku," ujar Alex.


"Tenang saja, ini adalah pekerjaan kita menjaga keamanan di daerah ini. Meskipun berkelompok seperti ini, kami bukanlah sekumpulan preman yang membentuk gang, kami adalah para elementalist," bisik orang itu pada Alex.


"Kalian elementalist? Akhirnya aku bisa bertemu dengan elementalist selain diriku di sini!" seru Alex sambil menjabat tangan orang itu. "Begitukah? Jika kau adalah elementalist, kenapa aku tidak pernah mendengar apapun tentangmu?" tanya orang itu.


"Yeah, Guardian mengundangku untuk belajar di Amerika, aku tidak lama tinggal di sini," ujar Alex. Orang-orang pun tampak terkesan mendengar perkataannya.


"Hmm? Anggota Guardian. Akan sangat bagus jika kau bergabung dengan kami! Perkenalkan, namaku Andre, pemimpin dari kelompok ini," ujar orang itu.


"Aku Alex, senang bertemu denganmu," ujar Alex. "Jadi, apakah kau akan bergabung dengan kami? Tempat ini tidak terlalu aman lagi hingga dua tahun terakhir," ujar Andre.


"Aku dengan senang hati akan bergabung, namun aku tidak tinggal lama di sini, mungkin sekitar dua pekan lagi aku akan kembali ke Amerika," ujar Alex.


"Tenang saja, kami sudah cukup terbantu jika kau ingin bergabung dan mengisi hari-hari terakhirmu sebelum kembali ke sana. Kupikir kau juga bosan berada di sini," ujar Andre.


"Benar sekali! Jadi, pertama.... apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menangkap pencuri seperti tadi?" tanya Alex penasaran.

__ADS_1


Andre keheranan karena tingkah laku Alex lebih kekanak-kanakan dari pada yang ia kira. Ia tertipu dengan penampilan Alex yang terlihat seperti pria dewasa.


"Bukankah sebelum itu ada hal yang harus kau lakukan?" tanya Andre sambil menunjuk barang belanjaan yang di bawa Alex. "Oh, benar sekali! Aku lupa! Aku akan pulang dahulu!" ujar Alex dengan semangat, ia pun kembali ke rumah untuk memberikan barang belanjaan itu kepada ibunya.


Ia pun kembali ke pasar untuk bertemu dengan Andre dan kawan-kawannya. "Bagaimana? Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya Alex. "Kau sangat bersemangat sekali! Kau tidak bekerja?" tanya Andre. "Eh? Be... bekerja?" Alex kebingungan. ia tidak mengerti maksud Andre.


"Tunggu! Berapa usiamu sekarang?" tanya Andre. "Lima belas tahun," jawab Alex. Seketika orang-orang pun terkejut mendengar jawabannya. "Whoa! Ternyata kau belasan tahun lebih muda dari kami!" ujar Andre.


"Eh? Kalian setua itu? Aku tidak tahu.... la.. lalu. aku harus memanggil kalian apa? Aku merasa tidak nyaman jika hanya memanggil dengan nama," ujar Alex.


"Panggil saja senior. Semua yang ada di sini adalah seniormu," ujar Andre. Ia tampak tersenyum jahat seolah mengetahui kelemahan Alex. Sejak hari itulah mereka memperbudak Alex untuk melakukan berbagai macam hal yang berat. Itu lebih seperti pekerjaan kasar tanpa imbalan sedikitpun.


Meskipun begitu Alex yang polos tidak menaruh curiga sedikitpun pada mereka. Ia melakukannya dengan senang hati, apalagi ia memang sedang bosan berada di rumah.


Beberapa hari telah berlalu, Alesse mendapati Alex pulang dengan baju yang lusuh. "Sepertinya semua bajumu rusak setiap kau pulang ke rumah! Apa yang terjadi?" tanyanya penasaran. Alex hanya menggaruk-garuk kepala.


Keesokan harinya ia terkejut karena mendapati Baraq tidur di sampingnya lagi. "Tidak lagi! Kenapa selalu muncul di hari-hari sibukku?" keluhnya kemudian mendorong tubuh Baraq hingga jatuh ke lantai.


Baraq langsung beranjak dari lantai. "Itu adalah cara yang tidak sopan untuk membangunkan seseorang!" ujarnya kesal. "Maaf jika caraku membangunkanmu membuatmu tersinggung. Kau bukanlah raja di sini," ujar Alesse. Mereka berdua saling tatap dengan rasa penuh benci.


"Entah kenapa aku seperti sedang bercermin, ini menjijikkan," ujar Baraq kemudian pergi ke meja belajar. "Wah! Ada buku baru yang sangat menarik di sini!" serunya sambil mengobrak-abrik buku yang susah payah Alesse rapikan.


"Hei! Itu tempatku!" ujar Alesse. "Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu! Jika kau menyentuh tubuhku sedikit saja, kau akan tersambar petir," ujar Baraq memperingatkan.


"Baiklah! Tempatmu di situ, aku akan pergi ke bawah, ke tempat yang lebih menarik! Kuharap kau tidak berubah pikiran dan menggangguku di sana!" ujar Alesse kesal, ia pun turun ke rubanah dan menutup pintunya dengan keras.

__ADS_1


"Apa-apaan dengan bocah kasar itu? Dia tidak tahu siapa aku?" Baraq berbicara sendiri dengan nada kesal. Tak lama kemudian Alex berlalu melewati kamar. "Hei, kau yang di sana! Bawakan aku segelas air dan makanan! Aku sangatlah lapar!" ujar Baraq.


Alex langsung menurutinya tanpa bertanya. Ia pun datang dengan makanan dan minuman, lalu meletakkannya di samping meja Baraq. "Tumben sekali kau menyuruhku melakukan hal ini, Alesse!" ujar Alex.


"Aku bukanlah kakakmu, jangan salah paham! Aku tidak ingat pernah punya adik bermuka boros sepertimu," ujar Baraq. "Be.. benar sekali, kau tidak mungkin Alesse. Bukankah seharusnya kau berterima kasih? Caramu berbicara kasar sekali!" ujar Alex, ia merasa sedikit kesal.


"Argh! Suaramu berisik sekali! Pergilah, kau mengganggu bacaanku," ujar Baraq, ia mengusir Alex dengan paksa lalu menutup pintu kamar.


Baru setengah hari berada di tempat duduk, ia merasa bosan karena telah menyelesaikan buku-buku yang ada.


"Tubuh ini..... sangat merepotkan! Aku merasa lebih cepat bosan di sini dibandingkan dengan alam bawah sadar," ujarnya kemudian beranjak dari kursi lalu menekan tuas manual sehingga pintu rubanah terbuka.


"Hei, Alesse! Apakah tidak ada buku lain?" tanya Baraq. "Aku terkesan karena kau bisa membuka pintu itu meskipun baru pertama kali mencobanya," ujar Alesse. "Aku adalah orang yang cepat belajar. Aku ingin lebih banyak buku!" ujar Baraq.


"Mengganggu sekali! Pergilah ke tempat ini," ujar Alesse sambil melemparkan selembar peta pada Baraq. "Jika kau tak tahu cara membacanya, pelajarilah di buku, rak paling atas. Buku ketiga, setelah itu terserah kau mau berbuat apa, jangan ganggu aku lagi," tambahnya.


Akhirnya Baraq pun kembali ke atas dan mempelajarinya. Ia dapat memahami peta itu dengan cepat dan segera keluar dari rumah untuk ke tempat tujuannya.


Orang-orang terus menatapnya penuh keheranan. Tentu saja karena pakaiannya yang sangat asing dan mencolok, apalagi warna rambut dan matanya yang cerah.


Ia pun sampai ke tempat tujuan dan itu adalah sebuah perpustakaan. "Selamat datang..... eh? Alesse? Itukah kau? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa! Tapi..... sepertinya banyak hal yang berubah," ujar Irawan terkejut saat melihat penampilan Baraq.


"Kau siapa?" tanya Baraq dengan ekspresi dinginnya membuat Irawan terpuruk. "Apakah sampai segitunya kau melupakanku?" tanya Irawan.


"Jangan salah paham. aku bukanlah orang yang kau kenal. Ngomong-ngomong, buku di sini sangat banyak sekali! Apakah aku boleh tinggal di sini?" tanya Baraq. Cara berbicaranya yang tidak sopan membuat Irawan sedikit kesal.

__ADS_1


"Bukankah kau sedikit..... keterlaluan? Aku tidak tahu selama ini kau tumbuh menjadi anak yang nakal! Bahkan sampai menyemir rambutmu dan.... apakah matamu itu kau warnai juga? Itu tidak terlihat seperti soft lens," ujar Irawan mencoba memeriksa.


"Berani-beraninya kau mencoba menyentuhku?" Baraq tampak sangat emosi hingga warna matanya menyala semakin terang. Ia pun berusaha tenang dan kemudian pergi mencari buku, mengabaikan Irawan yang sedang syok karena tersengat listrik dari tubuhnya.


__ADS_2