
"Heh? Jadi ini yang kalian maksud benda pusaka? Kenapa? Ini hanyalah teknologi mutakhir dari sebuah alat," ujar Alesse.
"Memang terlihat begitu bagimu, namun benda itu akan mendukung kemampuan yang dimiliki penggunanya, " ujar Zwan.
"Kemampuan yang dimiliki penggunanya? Jadi karena aku bukanlah elementalist, benda ini hanyalah teknologi biasa?" tanya Alesse.
"Begitulah," ujar Zwan. "Baiklah, kalau begitu, Sandy. Coba kau gunakan benda ini," ujar Alesse kemudian memberikan tongkat itu pada Sandy.
"Gimana cara pakainya? Ini hanya tongkat biasa bagiku, tapi mungkin lebih keras dari besi manapun," ujar Sandy.
"Jadi..... memperkuat dari mananya? Tongkat ini tidak bisa dipakai sembarangan loh. Kalau aku boleh menilai, orang yang tidak mengerti teknologi tidak mungkin bisa menggunakan benda ini," ujar Alesse.
"Sandy, jangan-jangan kau ini gagap teknologi?" tanya Sanay. Sandy tampak benci mengakuinya. "Bu.. bukan masalah kok kalau gagap teknologi!" ujar Salsha membela.
"Kalau begitu, Sanay! Coba kau yang menggunakan tongkat ini," pinta Alesse. Saat Sanay mencoba memegangnya, tongkat itu berubah menjadi sebuah kacamata. Orang-orang sempat terkejut karenanya. Sedangkan Sanay langsung mengenakannya tanpa ragu.
"Whoa! Wah! Ini..... Wahahah! Ini sangat luar biasa!" seru Sanay. "Apa yang kau lihat dengan kacamata itu?" tanya Alesse.
"Aku bisa mendeteksi berbagai aliran listrik di sini, bahkan perbedaan besarannya sudah ditentukan oleh warna!" seru Sanay.
"Memangnya apa gunanya hal seperti itu?" tanya Sandy. "Tentu saja sangat berguna! Kebanyakan alat elektronik di bumi kita belum dilengkapi fitur bekerja secara otomatis, hanya ada perintah matikan dan nyalakan. Tapi dengan kemampuan seperti ini, aku bisa menyisipkan skrip perintah lain, seperti matikan dalam lima menit lagi, atau ketika terjadi sesuatu. Bahkan dengan adanya ini aku bisa mengendalikan semua hal yang berhubungan dengan listrik!" ujar Sanay.
"Aku tetap tidak mengerti apa yang kau bicarakan," ujar Sandy. "Kalau begitu, biar kutunjukkan," ujar Sanay, ia mengeluarkan sebuah kilatan listrik dari tangannya lalu mengarahkannya pada Alesse.
"Kau... mau apa?" tanya alesse keheranan. "Maafkan aku, badanmu yang besar tidak ada imut-imutnya, kupikir bisa dijadikan percobaan," ujar Sanay. Saat itulah kilatan listrik tiba-tiba menyelimuti tubuh Alesse.
"Sanay! Tubuhku jadi lemas semua! Apa yang kau lakukan?" tanya Alesse panik, sayangnya Sanay tampak menikmatinya, ia mengangkat jari seolah membuat isyarat. Seketika Alesse melangkah dengan sendirinya meskipun tampak sangat kaku seperti robot.
__ADS_1
"Hei! Hei! Kenapa tubuhku tiba-tiba bergerak sendiri? Apa yang terjadi?" tanya Alesse panik, Sanay baru pertama kali melihat respon Alesse seperti itu, sayangnya yang membuatnya kecewa adalah tubuh Alesse yang sekarang hanyalah pria asing, bukan tubuh kecil yang biasanya sehingga Sanay tidak benar-benar melihat ekspresi aslinya.
"Baiklah, akan kuhentikan. Ini pertama kalinya aku menggerakkan tubuh manusia sehingga masih kasar," ujar Sanay.
Di sisi lain Alesse tampak sangat kelelahan. "Bukankah gadis itu sangat berbahaya? Bagaimana jika ia tiba-tiba mengendalikan tubuhmu saat kau sedang tidur?" tanya Geni.
"Heh, kemampuannya sangat mirip dengan Baraq, ia juga sering mengendalikan tubuhku saat aku mencoba menentangnya. Dia membuatku kalah telak dalam perang karena membuatku menyerang pasukanku sendiri," ujar Gord, ia mengingat masa-masa mengerikan yang menimpanya.
"Jadi pengendalian itu benar-benar mengerikan! Psikopat mana yang berani mengendalikan tubuh manusia?" tanya Geni.
"Psikopat itu adalah kalian semua. Selama beberapa bulan ini aku tak sadarkan diri karena kalian mengendalikan tubuhku kan?" sindir Alesse.
Sanay pun tak berhenti sampai di situ, ia menghampiri Sandy. "Kau mau apa?" tanya Sandy ketakutan, ia tidak ingin tubuhnya dikendalikan seperti itu.
Sanay pun mengaliri punggung Sandy dengan sengatan listrik tipis, membuatnya tampak relaks. "Apa ini? Sangat menenangkan," ujar Sandy, ia merasa nyaman dengan sesuatu yang mengalir di punggungnya.
"Wah! Ini... Benar-benar hebat! Rasa sakit dari lukaku benar-benar menghilang! Aku benar-benar tidak merasakan apapun!" seru Sandy.
"Tentu saja karena terdapat pergerakan aliran listrik yang berbeda, membuat informasi yang disalurkan saraf ke otak terhambat," ujar Alesse. "Be... berarti ini snagat berbahaya dong?" tanya Sandy panik.
"Tenang saja, aku tidka mengganggu sistem kerja sarafnya, aku hanya mengaliri listrik di bagian punggung, aku memastikannya agar tidak menyebar ke seluruh tubuh," ujar Sanay.
"Pengendali listrik memang hebat yah, sesuai dengan keadaan zaman sekarang. Lalu, apa yang terjadi jika aliran listrik ini menyebar ke seluruh tubuh?" tanya Sandy.
"Beberapa katup pembuluh darah mungkin akan terbuka," jawab Alesse. "Buset! Kedengarannya sangat gawat," ujar Sandy. "Tidak begitu berefek sebenarnya, namun itu bisa membuatmu ereksi seharian," ujar Alesse.
"A... apa yang barusan kau bilang? Ke... kenapa kau menyebut kata itu di depan para perempuan dengan ekspresi datarmu?" tanya Sandy, ia tampak sangat malu. "Karena kau bertanya," ujar Alesse dengan ekspresidatarnya, ia merasa tidak bersalah. Seketika Sanay berhenti mengalirkan listrik ke punggung Sandy karena merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Whoa! Kau benar-benar punya mulut yang sangat buruk, Alesse!" ujar Geni sambil menggelengkan kepala sedangkan Gord dan Rasya hanya saling tatap karena tidak mengerti dengan apa yang baru saja dibicarakan.
"Jika tidak boleh mengatakan hal itu dengan ekspresi datar, haruskah aku tersenyum untuk mengatakannya?" tanya Alesse sambil memperagakan senyuman Rasya yang tampak seperti orang mesum, saat itulah Salsha ketakutan.
"Be... benarkah kau Alesse? Entah kenapa kau semakin membuatku takut," ujar Salsha. "Jangan melihatku seperti gadis kecil yang baru saja menatap om-om cabul. Aku hukan orang yang seperti itu," ujar Alesse kemudian kembali memegang kemudinya.
"Oh, ya! Sanay! Bisa kembalikan benda itu?" tanya Alesse. Sanay pun memberikannya pada Alesse, namun seketika kacamata itu berubah menjadi rangkaian bunga mawar.
Orang-orang terdiam dan mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. "Aku tidak memikirkan apapun, tapi kenapa ini berubah menjadi sampah setelah berada di tanganku?" tanya Alesse dalam hati sambil menggenggam rangkaian bunga itu kuat-kuat karena kesal.
"Tidak kusangka itu benar-benar menjadi rangkaian bunga," ujar Rasya. "Jadi ini ulahmu?" tanya Alesse kesal. "Yeah, maaf. Aku hanya berandai-andai untuk menciptakan kejutan. Seperti yang kalian tahu, kegemaranku memang membuat orang-orang terkejut," ujar Rasya.
"Lain kali, kalian semua tidak boleh membayangkan tongkat ini akan menjadi apa!" ujar Alesse.
Ia pun mengembalikan bentuk tongkat itu seperti semula tanpa sepatah katapun di depan teman-temannya, ia kembali memegang kemudinya, membiarkan mereka dipenuhi tanda tanya.
"Awas saja kalau kau benar-benar muncul di depanku, Rasya! Akan kupastikan untuk memukulmu tujuh kali!" ujar Alesse dalam hati dengan rasa kesal, ia tidak menyangka kejadian itu membuat suasana Levy menjadi sangat senyap.
Di sisi lain Geni tampak prihatin, yang ia lihat dari Alesse kini adalah kobaran api yang snagat kecil pada tubuh sebesar itu. Penampakan seperti ini selalu terjadi ketika berbagai ekspresi dikeluarkan oleh Alesse. Ia merasa iba karena ekspresi-ekspresi yang dikeluarkannya itu bukanlah miliknya.
"Alesse, apakah kau punya ekspresi yang bisa kau keluarkan dari dirimu itu?" tanya Geni. "Tentu saja tidak, aku tidak pernah memikirkan hal itu, sangat tidak penting," jawab Alesse.
Geni sudah menduga kalau Alesse tidak menyadari ekspresi apa yang baru saja dikeluarkannya. "Kau barusan bersikap kesal, Alesse! Itu adalah ekspresi, kau harus mengenalnya dan tahu bagaimana cara mengeluarkannya," ujar Geni mulai serius.
"Itu sangat merepotkan, aku enggan melakukan hal yang tidak penting. Kupikir rasa kesal tadi karena kepribadianku dipengaruhi oleh kalian semua,," ujar Alesse.
"Justru itulah yang sangat penting! Ekspresi yang kau tunjukkan selama ini seolah bukan milikmu sendiri. Jiwamu perlahan-lahan terlahap entah kemana. Jika hal ini dibiarkan, mungkin menghilangnya kesadaranmu selama berbulan-bulan akan terjadi lagi, bahkan mungkin lebih lama dari yang engkau pikirkan! Kau harus meyakinkan dirimu sendiri kalau tubuh itu hanyalah milikmu, dan kau tidak dipengaruhi oleh siapapun. Jika kau beralasan bahwa ekspresi yang kau keluarkan bukan milikmu, jika kau tidak berusaha untuk mengeluarkan ekspresimu sendiri, kau akan mati," ujar Geni.
__ADS_1
Sayangnya Alesse tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan olehnya, ia terus lanjut mengemudi meskipun Geni panjang lebar memperingatkannya.