
"Ah! Apa ini? Kenapa begitu nikmat? Ah! Apa yang sedang terjadi? Argh! Kenapa tubuhku terasa tegang? Kenapa seperti ini? Aduh! Argh! Aku tidak bisa bergerak! Ini benar-benar aneh! Oh! Tidak! Sepertinya ada sesuatu yang hendak keluar! Jangan!" Suara Alex tampak terdengar berat.
Suara itu terus berulang hingga membuat Alesse kesal. Ia pun terbangun dari tidurnya dan segera keluar kamar. Ia langsung menuju ke kamar Alex, namun kamarnya terkunci.
"Hei, Alex! Apa-apaan kau ini? Kenapa terus mengerang dengan suara keras seperti binatang? Kau mengganggu waktu tidurku!" ujar Alesse kesal.
Setelah mengetok pintu beberapa detik kemudian Alex pun membuka pintu kamar sedikit demi sedikit, ia tampak menengok ke celah sempit dari pintu yang terbuka.
"Apa masalahmu?" Alesse langsung mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar. "Kenapa kau memakai handuk? Lagian kenapa kau telanjang? Kau tidur tanpa pakaian?" tanya Alesse.
"Itu karena sangat panas, aku pun melepaskan celanaku," ujar Alex tampak malu-malu. "Kau seperti kucing yang baru saja memecahkan gelas saja! Apa yang sebenarnya..... loh? Kenapa ada bau pemutih? Dari mana asal bau ini?" Alesse keheranan, ia pun langsung menatap ke langit-langit ruangan.
"Wah! Kau pasti sangat bergairah! Gimana ceritanya itu bisa sampai ke atas sana?" tanya Alesse sambil tertawa terbahak-bahak. "Aku barusan bersin saat bangun tidur dan itu mencapai ke atas sana," ujar Alex sambil mengibaskan ekornya.
"Mana ada yang percaya dengan perkataanmu! Kau mengerang sangat keras sekali hingga tidurku terganggu!" Alesse berubah kesal di akhir kalimatnya.
"Ma... maaf aku tidak bermaksud begitu," ujar Alex. "Kalian berdua! Ada apa? Kenapa Alesse tertawa terbahak-bahak?" tanya Hendra sambil menengok ke pintu kamar. Ia sempat heran karena wajah Alesse tampak kesal karena barusan ia mendengar suara Alesse sedang tertawa.
"Ayah! Kau tidak akan percaya ini! Lihatlah ke...." Belum selesai Alesse berbicara, Alex langsung menutup mulutnya lalu mengunci pintu agar Hendra tidak melihatnya.
"Aku minta maaf karena membuatmu kesal! Tapi jangan beritahu ayah! Kumohon!" pinta Alex.
"Loh kenapa? Ayah pasti akan senang karena Alex kita sudah dewasa! Apalagi setelah melihat itu memancar ke atas sana, ayah pasti akan menyebutnya hebat!" ujar Alesse.
"Hebat jidatmu! Ia sudah membenciku karena tubuh besar ini, hal baru hanya akan membuatnya semakin menjaga jarak dariku!" ujar Alex.
"Baiklah! Aku tidak akan beritahu! Sebaiknya segera kau bersihkan! Itu sangat banyak sekali sampai terus menetes seperti hujan. Menjijikkan sekali," ujar Alesse.
"Kau pernah mengalami hal ini?" tanya Alex. "Tidak, aku tidak tertarik dengan aktivitas seperti itu," ujar Alesse dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Kau sedang menyukai seseorang kah? Siapa yang sedang barusan mimpikan?" tanya Alesse. "Aku tidak tahu! Setiap hari aku terus didatangi banyak wanita! Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba bermimpi seperti itu," ujar Alex.
"Kasihan sekali! Kuharap kau bisa cepat-cepat lulus, dapat pekerjaan, lalu menikah," ujar Alesse.
Suasana di ruang makan pun tampak hening, tidak ada satu orang pun yang berbicara. Sayangnya beberapa menit kemudian Alesse tertawa terbahak-bahak, sepertinya ia terus menahan hal itu saat menatap Alex.
"Ada apa Alesse? Sepertinya hari ini suasana hatimu sedang baik!" ujar Hendra sambil mengusap-usap kepala Alesse.
"Mana mungkinlah! Siapa yang suasana hatinya baik ketika waktu tidurnya terganggu karena ada suara...... " Alex langsung menutup mulut Alesse sebelum selesai berbicara.
"Alesse kumohon!" Wajah Alex tampak seperti pria yang sedang dililit hutang. "Baiklah tidak apa-apa," ujar Alesse kemudian kembali menyantap sarapannya.
"Kenapa suasana hatimu selalu berubah-ubah dengan cepat? padahal tadi barusan tertawa, tapi kenapa tiba-tiba menjadi kesal?" tanya Hendra keheranan.
"Itu wajar yah, mereka berdua pasti sedang dalam masa pubertas, apalagi Alesse sekarang sudah berusia lebih dari 15 tahun," ujar Andin.
Mendengar kata pubertas, tatapan Alesse langsung teralihkan pada Alex. "Apalagi? Apa salahku?" keluh Alex.
"Wah, kalau itu kau tidak bisa menghindarinya! Lihatlah! Mereka semua sudah menunggumu di depan gerbang! Sebaiknya aku segera menjauh darimu sebelum celaka," ujar Alesse kemudian berlari meninggalkannya.
Saat ia berjalan mundur sambil melambaikan tangan ke Alex. Tiba-tiba ia menabrak seorang siswi. "Sepertinya dia adalah siswi aneh yang kemarin, ia tampak tidak tertarik dengan Alex!" Alesse mencoba mendengarkan isi pikiran siswi itu.
"Aneh sekali! Kenapa aku tidak bisa mendengarnya? Padahal aku dapat mendengar isi pikiran orang lain! Kenapa tidak bisa membaca pikirannya?" Alesse keheranan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alesse. Saat siswi itu berdiri, akhirnya, ia pun menyadari bahwa ia lebih pendek darinya.
"Oh? Kukira siapa, ternyata Alesse Jawara! Sepertinya suasana hatimu sedang baik hari ini," ujar siswi. "Apa-apaan dengan semua orang? Kenapa kalian menilai suasana hatiku?" Alesse tampak sebal.
"Bukan apa-apa, kok! Ayo ke kelas," ujar siswi itu sambil merangkul bahunya. "Kita sekelas?" tanya Alesse. "Kejam sekali pertanyaanmu? Aku ini ketua kelasmu loh! Kau tidak kenal aku?" tanya siswi itu.
__ADS_1
"Tidak ada yang aku kenal kecuali Alex di sini," ujar Alesse. "Hei, jangan seperti itu! Kau harus tahu setidaknya semua anak di kelas kita selain kakakmu!" ujar siswi itu.
"Barusan ia menyebut Alex adalah kakakku? Sepertinya tubuh ini membawa banyak kesalahpahaman," pikir Alesse.
"Alesse! Hoi Alesse! Kau dengar aku? Kenapa mengabaikanku? Hei! Dasar Lautan!" Siswi itu mengetuk dahi Alesse.
"Apa yang barusan kau katakan? Dari mana kau mendengar julukan itu?" Alesse tampak terkejut, apalagi karena ia tidak bisa membaca pikiran siswi itu.
"Aku tidak akan memberitahu sebelum kau mau berteman denganku! Gimana? Sepakat?" tanya siswi itu. "Dasar licik! Dia hanya beruntung karena aku tidak bisa membaca pikirannya!" gumam Alesse kesal.
"Baiklah, aku akan berteman denganmu! Tapi ingat! Jangan sebarkan julukan itu kepada siapapun!" ujar Alesse.
"Baiklah anak jenius! Perkenalkan dulu! Namaku Sanay Asty!" ujar siswi itu sambil mengulurkan tangan. "Aku Alesse, kau sudah tahu selebihnya," ujar Alesse kesal kemudian menjabat tangan. Mereka berdua pun masuk ke dalam kelas.
"Sepi sekali! Kau tidak ikut mengerumuni Alex seperti mereka? Baru pertama kalinya aku melihat perempuan yang tidak tertarik dengan Alex," ujar Alesse.
"Loh? Kukira kau adalah orang yang jenius. Kenapa tidak tahu alasannya?" Sanay keheranan. "Jangan-jangan, kau menyukai sesama jenis?" tanya Alesse. "Sepertinya hanya itu yang ada di benakmu," ujar Sanay sebal.
"Aku memang benci bertele-tele, makanya beritahu saja, kenapa?" ujar Alesse. "Sebenarnya banyak orang sepertiku loh! Kami tidak tertarik dengan hal seperti itu, ada hal lain yang membuat kami tertarik. Contohnya adalah membobol sistem keamanan intelejen atau bank internasional," ujar Sanay.
"Dari semua hal, kenapa keu menyebutkan hal itu? Sepertinya kau sangat menggemari komputer! Kebetulan aku juga sedang mempelajarinya. Lalu dari mana kau tahu julukanku?" tanya Alesse.
"Informasi tentangmu sudah banyak yang mencari loh! Para profesor dan dosen tidak akan tinggal diam setelah kau menolak semua tawaran mereka untuk bekerja sama. Mereka akan memaksamu ikut ke proyek mereka!" ujar Sanay.
"Seharusnya mereka tidak bisa menemukanku! Aku sudah membersihkan semua jejakku!" ujar Alesse. "Benar sekali! Mereka bahkan sudah menyerah mencarimu. Tapi mau gimana lagi? Aku terus mencari tahu karena penasaran, jadi aku melanjutkan perjuangan mereka dan berhasil menemukan sebuah nomor ponsel. Saat coba kupanggil, yang menjawab adalah Alex. Dari awal aku tidak yakin otak otot itu adalah seorang jenius, apalagi tubuh Si Dasar Lautan ini lebih kecil darinya. Akhirnya aku mencoba melirik ke arah adiknya dan ternyata lebih cocok," ujar Sanay.
"Adik Alex yah? Sepertinya ada yang salah dengan pernyataanmu itu. Yang benar adalah kakak Alex, aku dua tahun lebih tua darinya," ujar Alesse.
"Be... begitu kah? Berarti usiamu sekarang lima belas tahun? Sepertinya kalian berbanding terbalik," ujar Sanay. "Pertumbuhanku sangat lambat karena koma tujuh tahun yang lalu, sedangkan Alex, karena ia Elementalist, mungkin itu salah satu keistimewaannya," ujar Alesse.
__ADS_1
"Oh, sepertinya kelas sudah mulai ramai! Kita bicara lagi nanti," ujar Sanay. Alesse semakin malas karena berurusan dengannya,namun ia harus mencaritahu bagaimana Sanay mengetahui kehidupannya dan alasan kenapa ia tidak bisa membaca pikirannya.