
Jawara menggantikan Alesse untuk pergi ke sekolah. Teman-temannya tidak menghiraukannya karena Geni memberikan alasan yang bagus untuk Alesse yang tak kunjung kembali ke tubuhnya.
Teman-teman Alesse tampak tidak terlalu mempermasalahkannya, mereka justru menghampirinya dan banyak berbincang-bincang.
Tak lama kemudian perhatian Jawara tertuju pada jendela luar. Ia masih terdiam sambil menatap sesuatu yang membuat pupil matanya terus bergerak.
Sandy pun merasa heran dengan reaksi anehnya itu. "Ada apa, Jawara? Kau tampak serius sekali," ujar Sandy.
"Seseorang sedang mengawasiku dari kejauhan," jawab Jawara. "Siapa? Kenapa kau diawasi?" tanya Sanay.
"Itu Alesse, aku tidak tahu mengapa ia mengawasiku, namun dilihat dari reaksi saraf otak dan mimik wajahnya, ia tampak sedang memastikan apakah aku adalah Alesse atau bukan," ujar Jawara.
"Kau bicara apa sih? Kenapa Alesse mencoba memastikan apakah dirimu Alesse atau bukan? Bukankah dia Alesse? Dia sudah tahu kalau kau bukan Alesse! Dia yang menyuruhnu berangkat sekolah juga kan?" tanya Salsha.
"Penilaianku tidak pernah salah! Dari yang kulihat, peluang kesalahan dalam pembacaan pikiran ini di bawah angka satu persen! Ia tampak tak menyembunyikan tujuannya datang ke sini. Memang sedikit aneh karena Alesse tidak pernah blak-blakan dan begitu terbuka mengenai motif dari tindakannya, namun yang aku lihat hari ini ia memiliki banyak celah sehingga orang biasa pun bisa menyadarinya," ujar Jawara.
"Orang biasa macam apa yang bisa sadar dengan keberadaannya sejauh itu?" tanya Salsha. "Sepertinya biasa menurut Jawara memiliki standar yang sangat tinggi," ujar Sandy bergurau.
"Tapi ini tetap aneh! Mungkinkah kau membuat kesalahan dengan penilaianmu itu?" tanya Sanay. "Tidak! Aku sudah melakukan penilaianku sebanyak jutaan kali dan hasilnya tetap sama! Alesse yang kulihat hari ini tampak seperti remaja polos dan lugu, sama seperti kalian!" ujar Jawara tegas.
"Kalau menurutmu ada yang aneh dari dirinya, mungkin sebaiknya kita datangi saja! Di mana ia berada?" tanya Sandy.
"Di sebuah cabang pohon yang rindang. Kau pasti tahu pohon mana yang dimaksud," ujar Jawara. Seketika Sandy lamgsung memeriksanya, ia juga dapat melihat sosok yang sedang berdiri menghadap ke arahnya.
Ia pun pergi keluar kelas dengan berlari, bahkan mengabaikan orang-orang yang terus melihatnya dengan wajah heran. Setelah melompat dari gerbang sekolah, ia pun langsung melompat ke salah satu dahan pohon yang rindang itu.
"Apakah dia monyet? kenapa dia bergerak seperti itu?" tanya Sanay. "Hei! Ma... mana mungkin yang seperti itu adalah gerakan monyet!" ujar Salsha membela.
Di sisi lain Sandy sudah berhadapan dengan seseorang yang sembari tadi mengawasi kelas dari kejauhan, sayangnya tatapan anak itu tampak begitu asing.
"Alesse? Apa yang terjadi?" tanya Sandy. "Kau mengenalku?" tanya anak itu singkat. "Alesse? Kau kenapa?" tanya Sandy sekali lagi.
__ADS_1
"Jangan sentuh-sentuh! Orang seperti kalian..... aku tidak tahu apa yang terjadi padaku jika kalian menyentuhku!"ujar anak itu menghindar saat Sandy mencoba memegang bahunya.
"Ada apa ini, Alesse? Apakah kau membenciku?" tanya Sandy. "Benar sekali! Aku membenci kalian semua! Kalian dan pengendalian kalian," ujar anak itu.
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini, Alesse? Apa yang terjadi?" tanya Sandy. "Tidak ada hal khusus, aku hanya penasaran. apa pendapatmu jika kepala kalian terlepas dari tubuh kalian? Kupikir kalian tidak akan bisa mengendalikan elemen yang selama ini kalian kuasai!" ujar anak itu menyeringai lebar lalu mengeluarkan pisau dari balik bajunya.
Sandy benar-benar terkejut, ia tidak menyangka anak itu tiba-tiba menyayat dadanya. Yang lebih membuatnya terkejut adalah luka yang disebabkannya tidak bisa beregenerasi.
Anak itu masih menyeringai lebar, ia hendak memberikan satu tebasan lagi di tenggorokan Sandy, namun kali ini Sandy menahannya.
"Alesse! Ada apa ini? Kenapa kau menjadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Katakanlah padaku!" ujar Sandy.
Anak itu hanya berteriak, wajahnya pun tampak semakin pucat dari biasanya. "Tidak usah sok akrab denganku. Lagi pula aku tidak pernah mengenalmu, aku tidka pernah mengenal kalian semua!" ujar anak itu.
Tak lama kemudian Jawara datang untuk menghadang sebelum anak itu mengayunkan pisaunya ke tenggorokan Sandy.
"Kenapa bongkahan logam ini ikut campur? MINGGIR!" teriak anak itu. Sayanganya tenaga Jawara tak sebanding dengannya.
Setelah cahaya itu lenyap, anak itu menghilang tanpa jejak. "Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Alesse tiba-tiba berbuat seperti itu?" tanya Sandy. "Aku juga kehilangan jejaknya, sepertinya yang baru saja ia gunakan adalah granat E.M.P.," ujar Jawara, akhirnya mereka berdua kembali ke dalam kelas.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Rumah tampak begitu sepi, Andin sedang pergi berbelanja sedangkan Hendra masih sibuk memotong rumput liar yang ada di kebun.
Awalnya ia hendak meminta tolong Gord untuk membantunya memangkas tanaman liar itu, sayangnya tubuh Alesse sudah terlanjur diambil alih oleh Aqua dan sekarang sedang sibuk menatap jendela kamar.
Selagi memotongi rumput dengan gunting besar itu, Hendra merasa tenaganya sangat kurang, ia tidak bisa memangkas sebuah ranting yang keras itu. Akhirnya ia pun mencoba melepas baju dan menarik nafas dalam-dalam.
Seketika tubuhnya ditumbuhi bulu bercorak, ia berubah menyerupai harimau lalu mulai melanjutkan aktivitasnya.
Beberapa menit telah berlalu, ia dikejutkan dengan seorang anak yang tampak berdiri di belakang pintu rumah. Melihat pakaian yang dikenakan anak itu, Hendra langsung menghentikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Alesse? Itulah kau? Kau benar-benar Alesse kan? Bukan yang lain?" tanya Hendra, ia tidak sempat menyembunyikan tubuh besarnya itu karena masih terkejut. Banyak hal yang ingin ia katakan pada anak itu sehingga ia tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Bukannya mendapatkan sambutan hangat, Hendra dibuat bingung dan tidak mengerti. Anak itu tiba-tiba saja mengayunkan pisau ke arahnya, membuat luka di bagian pipinya.
Masih terdiam dan mencoba memahami, Hendra pun sadar kalau luka di wajahnya itu tidak langsung sembuh. "A.... Alesse? Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba melukai ayah?" tanya Hendra, ia tidak menyangka anak itu melukainya tanpa ragu.
"Tutup mulutmu! Setelah semua kehidupan palsu ini. Hanya satu hal yang ingin kulakukan, yaitu membunuh kalian semua! Aku ingin membunuh semua orang yang ada di dunia ini!" teriak anak itu.
Pada akhirnya setelah selama ini yang ia lakukan pada Alesse, Hendra menjadi begitu pasrah. Ia bahkan tidak mencoba waspada pada anak itu, seolah membiarkannya melukainya.
"Pasti banyak hal yang kau benci dariku, Alesse. Mungkin karena merahasiakan hal ini dan beberapa hal kejam lainnya. Kalau begitu, lampiaskanlah amarahmu. tapi jangan lakukan hal seperti ini pada orang lain. Kau boleh melakukannya padaku saja. Aku tahu semua kesalahanku, sepertinya aku memang gagal menjadi seorang ayah," ujar Hendra pasrah.
Anak itu pun hendak mengayunkan pisaunya kembali, namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke tenggorokan Hendra.
Hendra tahu kalau serangan itu sangat mematikan untuknya, apalagi kemampuan regenerasinya tidak berfungsi setelah tersayat oleh pisau itu. Akhirnya ia mencoba memejamkan mata. "Alesse, maafkan ayah," ujarnya sambil tersenyum meskipun dengan perasaan sedih.
Belum sampai pisau itu menyentuh tenggorokan Hendra, sesuatu berhasil menahannya dengan cepat. Hendra sempat penasaran kenapa pisau itu tak kunjung melukainya. Saat membuka mata, ia pun terkejut saat melihat Baraq sedang mencoba menghadang pisau yang dipegang anak itu dengan tongkat petirnya.
"Akhirnya muncul juga yang asli! Pasti aneh kan kita bertatap muka seperti ini? Ngomong-ngomong pakaianmu itu norak sekali! Kau pikir ini zaman apa?" tanya anak itu sambil tersenyum.
"Diam kau! Kalau kau ingin membunuhnya, langkahi mayatku dulu!" ujar Baraq. Ia pun menekan tombol yang ada di tongkat petirnya, membuat sengatan listrik muncul dan mengalir ke pisau yang anak itu pegang.
Seketika anak itu melepaskan pisaunya. "Cih! Awas saja kau! Aku akan kembali lagi apapun yang terjadi!" ujar anak itu kemudian membanting sesuatu ke tanah. Seketika cahaya yang menyilaukan tiba-tiba muncul, membuat Baraq dan Hendra tidak bisa melihat. Akhirnya anak itu pun menghilang entah ke mana.
Bukannya merasa lega, Hendra tampak begitu murung. "Pasti perlakuanku padanya sangatlah kejam hingga ia hendak membunuh seseorang tanpa ragu. Kuharap ia hanya berani melakukan hal itu padaku. Sepertinya kau benar, yang kulakukan selama ini kepadanya sangatlah kejam," ujar Hendra.
"Kau ini bicara apa? Kenapa kau tidak menghindar tadi? Dia bisa saja membunuhmu loh! Kau bodoh kah?" tanya Baraq.
"Aku tidak keberatan jika Alesse membunuhku, aku pantas menerima itu," ujar Hendra. "Dia bukan Alesse," ujar Baraq singkat. "Ti.... tidak mungkin! Itu pasti dia! Dia adalah Alesse! Aku tidak mungkin salah!" ujar Hendra.
"Bodoh! Kau pikir yang sedang kami gunakan ini tubuh siapa? Jangan berpikir untuk merasa lega! Keberadaan anakmu masih tidak diketahui, mungkin ia akan lenyap selamanya, meskipun ada kemungkinan kecil ia akan kembali dengan jiwa tipisnya itu. Jadi, jika kau merasa pantas dibunuh oleh Alesse, jangan mati konyol seperti ini. Aku menyelamatkanmu bukan karena memihakmu, setidaknya kau harus menebus kesalahanmu setelah Alesse kembali atau kau bisa hidup sengsara selamanya sambil memikirkan keberadaan anakmu yang tidak pasti," ujar Baraq dengan ekspresi dinginnya, ia pun berbalik badan untuk kembali ke kamar.
__ADS_1
"Tu.... tunggu! Bila yang tadi itu bukan Alesse, lalu siapa?" tanya Hendra. "Entahlah, yang jelas dia bukan Alesse. Alesse yang kukenal tidak akan melakukan hal itu, ia tahu tindakan yang lebih licik untuk membunuhmu, ia tidak akan memberikan alasannya untuk membunuhmu. Ia mungkin akan membiarkanmu mati dengan penuh tanda tanya," ujar Baraq kemudian kembali ke dalam rumah.