
"Alesse, sebenarnya......" Alex memberhentikan perkataannya dengan ekspresi sedikit kecewa. "A.... ada apa?" Kaa menjadi gagap, wajahnya menjadi semakin pucat.
"Sebenarnya..... aku mendapatkan surat undangan dari Guardian untuk kembali melanjutkan pelatihan di organisasi, Aku akan terus seperti ini, setahun pulang dan setahun pergi," ujar Alex.
"Eh? Guardian? Apa itu? Sanay dan anak-anak lainnya tidak pernah menceritakannya padaku!" pikir Kaa dalam hati.
"Tapi tenang saja! Setahun ini tidak lama kok! Aku pasti akan pulang sesegera mungkin!" ujar Alex.
"Kapan kau akan pergi ke sana?" tanya Kaa. "sepekan lagi," ujar Alex. Kaa pun terkejut karena waktunya sangat tepat dengan rencananya untuk pergi ke Abyss bersama tiga anak lainnya.
"Baiklah, selagi di sana, jaga dirimu baik-baik! Untuk sepekan ini, mari bersenang-senang! Jangan sampai membuatmu sedih," ujar Kaa sambil menepuk bahu Alex.
"Hmm! Kalian berdua adalah kakak adik yang manis! Jarang-jarang ibu melihat Alesse bersikap seperti seorang kakak, lebih seperti orang asing biasanya," ujar Hendra. Andin pun menyikut lengannya.
"Bukan apa-apa Alesse! Jangan hiraukan perkataan ayahmu," ujar Andin.
Setelah berbincang-bincang singkat, Kaa pun masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ia langsung pergi ke rubanah dan menyalakan komputer yang ada di sana.
"Sanay? Sanay? Apakah sudah tersambung?" tanya Kaa. "Sudah! Meskipun bukan dari dunia ini, kau cepat sekali mempelajari teknologi di sini! Luar biasa," ujar Sanay terkesan.
Kaa pun langsung menghubungkan beberapa kabel pada laci Probe. Sanay pun langsung memprogramnya.
Beberapa menit kemudian, mata Probe menyala. Ia langsung menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri.
"Sepertinya protokolku telah dilanggar, apakah Alesse sudah pulang?" tanya Probe. "Hmm! Sepertinya kau juga menantikan kepulangan anak itu!" Kaa menyimpulkan.
"Aku tidak menantikannya, aku hanya perlu konfirmasi perintah selanjutnya setelah ia berada di sini," ujar Probe dengan wajah datarnya.
"Dia robot, bukan makhluk hidup," ujar Sanay mengingatkan. "Aku tidak mengerti apa bedanya," ujar Kaa. "Perhatikanlah baik-baik, apakah ia bernafas?" tanya Sanay. Kaa pun mencoba memperhatikan dada Probe. Tidak bergerak sedikit pun.
__ADS_1
"Wah! Benar sekali! Dada logam itu bahkan tak berdetak," ujar Kaa. "Seperti itulah robot, ia hanya buatan manusia, tidak sempurna," ujar Sanay.
"Hmm! Aku sedikit mengerti! Jadi si Probe ini termasuk benda bergerak seperti mobil dan motor?" tanya Kaa.
"Yeah, begitulah,jika tidak ada yang merawatnya, ia akan usang dan rusak," ujar Sanay. Kaa pun mengangguk paham.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepekan akhirnya berlalu, melihat Alex yang sibuk mengemasi barang-barang, Kaa semakin merasa bersalah. "Pada akhirnya pria ini belum bertemu dengan kakak aslinya selama setahun terakhir. Kasihan sekali karena ia harus kembali ke sana," pikir Kaa.
"Alesse! Jaga dirimu baik-baik di rumah! Jaga ayah dan ibu juga, mereka sudah tua. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu untuk menjaga ayah dan ibu. Setelah semua perkara ini selesai, aku pastikan akan terus bersama kalian! Aku tidak akan pergi ke mana-mana!" ujar Alex.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik juga di sana. Oh iya, kalau boleh, bisakah kau berikan ini pada Raya Stephen?" pinta Kaa sambil menyerahkan secarik kertas.
Alex langsung menutupinya. "Hei! Jangan tunjukkan padaku kalau kau menulis surat!" ujar Alex. "Tenang saja, meskipun kau penasaran dan berusaha membacanya, kau tidak akan bisa," ujar Kaa.
"Pokoknya serahkan saja! Tapi jangan bilang kalau ini berasal dariku oke! Jangan bilang kalau yang memberi pesan ini adalah kakakmu," ujar Kaa.
"Heh? Kupikir kau tidak terlalu penasaran tentang Raya Stephen, sepertinya kau banyak berubah," ujar Alex. "Cih! Siapa yang penasaran dengan buaya......." Kaa tampak keceplosan, ia tidak sudi dianggap penasaran pada pria itu.
"Buaya? Dari mana kau tahu julukan itu?" tanya Alex curiga. "Sudahlah! Berikan saja itu padanya, oke? Jangan kasih tahu kalau kakakmu yang menulis hal itu!" pinta Kaa.
"Ba... baiklah, aku akan memberikannya," ujar Alex. Setelah persiapannya selesai, ia langsung berbicara dengan seseorang di ponselnya. Beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya.
"Hei, Paman Roger! Apa kabar?" tanya Alex. "Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan liburanmu setahun ini?" tanya Roger. "Aku merasa tidak pernah libur! Di sini juga aku harus berangkat sekolah," ujar Alex bercanda.
"Syukurlah, kau tidak menjadi mayat yang berdiam diri di dalam kamar," ujar Roger. "Tentu saja tidak! Aku ini selalu penuh semangat loh!" ujar Alex.
Setelah berbasa-basi, ia pun pergi menaiki mobil itu. Hendra dan Andin hanya bisa menatap bagaimana mobil itu semakin lama menjauh dan lenyap dari pandangan mereka.
__ADS_1
"Akhirnya rumah kita kembali sepi. Entah kenapa aku merasa ada yang kutang di antara kita," ujar Andin, ia masih tidak bisa merelakan anaknya pergi begitu saja.
"Tenang saja, kita masih ada Alesse!" ujar Hendra dengan mencubit kedua pipi Kaa. Ia mencoba menghibur Andin.
Kaa pun tampak murung, ia pikir jika mereka tahu bahwa Alesse tidak ada di sini juga akan membuat mereka sangat kesepian dan terpuruk. Ia tidak tega meninggalkan mereka dengan alasan liburan bersama Sandy untuk pergi ke Abyss.
"Kenapa Alesse? Kau juga sedih karena adikmu pergi? Tidak seperti biasanya," ujar Hendra. Sekali lagi Andin menyikut lengan Hendra. "Jangan memperkeruh suasana!" tegurnya.
"A.... ayah, ibu," ujar Kaa. Ia tetap tidak terbiasa memanggil mereka. "Ada apa, Alesse? Jarang sekali kau memanggil kami, apakah ada masalah?" tanya Hendra.
"Se... sebenarnya liburan tahun ini, orang tua Sandy mengajakku pergi liburan bersama," ujar Kaa.
"Heh? Liburan bersama? Kau dan Sandy?" tanya Andin penasaran. "Ia juga mengajak dua anak lainnya, Sanay dan Salsha," ujar Kaa.
"Oh? Sanay? Si gadis yang menarik itu? Sepertinya sudah lama sekali kau tidak pernah mengajaknya ke rumah!" ujar Andin.
"Menarik apanya? Bukankah lebih menarik gadis satunya? Rambut dan matanya yang biru....indah sekali! Ia juga tampak dewasa! Sangat serasi dengan Alesse!" ujar Hendra.
"Serasi omong kosongmu! Jika tertarik, kau saja yang menikah dengannya! Jangan bawa-bawa Alesse!" ujar Andin dengan wajah sebal.
"Aish! Tidak mungkin lah! Hanya kau yang ada di hatiku seorang," ujar Hendra sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Andin.
"Hei, apa yang kau lakukan? Alesse sedang melihat!" ujar Andin dengan wajah memerah. "Tenang saja, dia juga sudah dewasa," ujar Hendra sambil menyudutkan Andin.
"Hei, Alex! Kenap kau kembali?" ujar Andin. "Mana Alex?" Hendra mencoba menengok ke belakang, saat itu juga Andin melarikan diri darinya.
Suasana pun lenggang, Hendra hanya melihat Kaa yang sejak tadi menatapnya keheranan. "Oh? Bukan apa-apa, Alesse! Kau bisa melupakan hal tadi," ujar Hendra kemudian masuk ke dalam kamar.
"Lagi-lagi aku menyaksikan hal yang tidak perlu! Aku harus segera menemukan Alesse sebelum mereka menyadarinya!" ujar Kaa dalam hati.
__ADS_1