
"Hei, mau sampai kapan kau berada di sini? Bukankah hari sudah mulai petang?" tanya Irawan, ia tidak menyangka Baraq bisa bertahan di perpustakaan usang itu seharian lamanya.
"Sampai kapanpun," ujar Baraq. "Apakah kau tidak lapar? Ini sudah lewat jam makan siang loh!" ujar Irawan. "Dan kau tidak mengingatkanku sama sekali tentang hal itu sebelumnya? Kau ingin aku mati kelaparan di tempat ini? Begitukah? Kau diam-diam berniat membunuhku?" tanya Baraq.
"Bu... bukan itu maksudku! Kau tampak tidak ingin diganggu, jadi aku diam saja," ujar Irawan. "Hmm? Kau pikir aku ingin dengar alasanmu? Fakta di sini adalah kau membiarkanku kelaparan. Bahkan aku tidak ingat melarangmu berbicara," ujar Baraq.
"Bukankah kau marah saat aku mencoba menyentuhmu?" tanya Irawan. Baraq pun tetap diam sambil menutup bukunya lalu menatap Irawan agak lama. "Kukira kau bukanlah anak kecil yang perlu diarahkan lagi. Apakah menyentuh dan berbicara adalah hal yang sama? Aku tidak tahu pola pikirmu bisa sesempit itu untuk seseorang yang mengurusi ribuan buku di sini," ujar Baraq.
"Tunggu sebentar! Kenapa cara bicaramu semakin kurang ajar? apakah karena sekarang kau adalah anak SMA?" tanya Irawan.
"Kau mengganti topik pembicaraan? kita belum selesai masalah mengingatkanku untuk makan hari ini! Lihatlah, bahkan hari sudah petang! Sepertinya kau sengaja mengulur waktu untuk membuatku melewatkan jam makan malam," ujar Baraq.
"Kecurigaanmu sangat tidak berdasar! Kau.... benar-benar membuatku kesal! Pergilah sekarang juga jika kau memang tidak ingin kelaparan!" ujar Irawan. "Siapa kau memangnya sampai berani memerintahku?" tanya Baraq, suaranya menggelegar seperti guntur dan itu menggema hingga ke sudut ruangan. Seketika Irawan tak bisa bergerak sama sekali, ia bahkan tidak bisa membuka rahangnya untuk berbicara.
"Aku akan memaafkanmu jika kau pergi membawakan makanan padaku sekarang!" ujar Baraq kemudian melanjutkan bacaannya.
Irawan masih mematung selama beberapa detik hingga akhirnya tubuhnya bisa kembali digerakkan. Saat itu ia masih kebingungan dengan apa yang barusan terjadi.
"Kau tidak akan membawakanku makanan?" tanya Baraq, suaranya begitu mengintimidasi sehingga Irawan langsung mengangguk dan pergi ke luar perpustakaan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia kembali dengan sebungkus makanan. Saat itulah Baraq menutup buku bacaannya, pandangannya teralihkan pada jendela. Irawan juga ikut memeriksa apa yang sebenarnya ia lihat.
Tampak seorang pria dengan pakaian yang lusuh, seperti baru saja mengerjakan banyak pekerjaan kasar. "Pria itu..... beberapa hari ini aku melihatnya selalu dengan penampilan seperti itu. Aku sangat kasihan, sepertinya ia bekerja keras untuk menghidupi anak dan istrinya," ujar Irawan.
"Kau ini bicara apa? Pria itu adalah adik Alesse, bahkan saat ini ia masih tidur dan makan di tempat orang tuanya," ujar Baraq. "Eh? Adik Alesse? Maksudmu kucing kecil yang sering kau bawa ke sini itu? Ia adalah pria itu? Mungkin kau salah lihat! Yang aku maksud adalah seorang pria di sana!" ujar Irawan sambil mencoba menunjukannya dengan telunjuknya.
"Iya, pria itu adalah Alex, ia adalah adik Alesse," ujar Baraq. "Sungguh? Pria besar itu adalah adikmu? Bagaimana mungkin?" tanya Irawan. "Biar kuluruskan di sini? Kenapa kau selalu mengatakan bahwa pria itu adalah adikku?" tanya Baraq, ia mengernyitkan dahi karena sedikit kesal.
"Bu... bukankah kau yang barusan mengatakannya?" tanya Irawan. "Selai bodoh, kau juga tuli rupanya," ujar Baraq. Lagi-lagi Irawan dibuat kesal oleh caranya berbicara. "Oh. pria itu akan datang kemari! Sepertinya ia melihatmu berada di dalam sini," ujarnya.
Seperti yang ia katakan, pria itu benar-benar masuk ke dalam perpustakaan dan menghampiri Baraq. "Bukankah ini sudah malam? Ayo kita pulang dan makan," ujarnya.
Alex hanya bisa menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum ramah. Ia merasa tidak nyaman karena Baraq berbicara tidak sopan pada Irawan.
"Be.. benar sekali paman, aku adalah kucing itu, namaku Alex," ujar Alex. "Wah! Sudah lama sekali tidak bertemu! Kau tampak sangat berbeda sekali! Aku sangat ingat kau menggigit tanganku karena mencoba membelai kepalamu," ujar Irawan sambil tertawa. Alex pun ikut tertawa.
"Wah! Tapi tidak kusangka kau tumbuh secepat itu. Aku sampai tidak percaya bahwa kau adalah adik dari bocah ini," ujar Irawan sambil menunjuk Baraq.
"Ehm, Ma... maaf paman, dia bukan kakakku. Kakakku adalah Alesse," ujar Alex. "Hei, tidak perlu memanggilku paman! Rasanya aneh sekali mendengar panggilan itu dari pria besar sepertimu! Eh? tunggu dulu? Kau bukan adik dari bocah ini? Loh? Kalau dia bukan Alesse? Siapa dia?" tanya Irawan kebingungan.
__ADS_1
"Kau ini... benar-benar sangat lamban!" ujar Baraq sambil menggeleng kepala tidak percaya. "Yang di sana itu namanya Baraq, bukan Alesse, paman! Alesse tidak punya warna mata jingga," ujar Alex.
"Bukankah ini hanyalah cosplay yang sedang tren di kalangan anak muda?" tanya Irawan. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku dan Alesse adalah orang yang berbeda," ujar Baraq, ia pun beranjak dari tempat duduknya.
"Sepertinya aku akan makan di rumah saja. Lalu bungkusan itu, kau saja yang memakannya. Besok aku akan datang ke sini lagi. Kuharap kau membawakan camilan dan minuman yang menyegarkan. Tempat ini terlalu hambar!" ujar Baraq.
"Kau pikir ini adalah kafe dan istana? Ini adalah perpustakaan!" ujar Irawan. "Tempat ini terlalu membosankan dan tidak tertolong lagi! Kupikir itulah mengapa orang-orang enggan masuk ke dalamnya," ujar Baraq kemudian pergi bersama Alex keluar dari perpustakaan.
"Gimana caranya kau tahu tempat ini? Atau mungkin kau memiliki ingatan yang sama seperti Alesse?" tanya Alex. "Alesse yang memberitah........" Baraq tidak bisa melanjutkan jawabannya, ia tidak ingin Alex menyadari bahwa di kamar ada dua orang yang berbeda.
Sesampainya di rumah, Baraq langsung pergi menuju kamar. Alesse sudah menunggu dengan berkacak pinggang. "Kau ini..... benar-benar luar biasa! Tidak ada yang menyuruhmu kembali setelah petang!" ujar Alesse. "Tidak ada yang melarangku juga," ujar Baraq. "Meskipun kularang juga kau tidak akan mematuhinya!" ujar Alesse. "Setidaknya aku akan mendengarkan," ujar Baraq.
"Lihatlah, kau bahkan sudah berniat mengabaikan laranganku!" ujar Alesse kesal. "Sudahlah, tidak perlu marah-marah! Hari ini berjalan mulus seperti biasanya. Kau tidak menggangguku dan aku tidak mengganggumu. Kupikir itu kesepakatan kita di awal," ujar Baraq.
"Tidak! Kau tidak boleh seenaknya keluar dan masuk rumah ini! Jika kau datang saat aku menunjukkan wajahku pada mereka, habislah sudah!" ujar Alesse. "Itu masalahmu, bukan masalahku. Aku tidak peduli apakah mereka tahu rahasia kita, itu tidak berdampak sama sekali. Saranku, jika kau memang begitu ingin merahasiakan hidupmu, pergilah dari rumah ini," ujar Baraq.
"Hmm? Kau pasti menganggap dirimu begitu istimewa! Baiklah, aku tidak peduli apalagi yang akan terjadi. Sebagai gantinya, aku tidak akan berbagi makanan denganmu," ujar Alesse.
"Lancang sekali! Apakah sekarang kau mengancamku?" tanya Baraq. "Ini adalah kesepakatan! Ikuti aturanku atau mati kelaparan. Jika kau ingin mendapatkan makanan dengan mudah, hiduplah sebagai Alesse Jawara! Kau bukan siapa-siapa yang berhak mengatur orang lain di sini. Tidak ada kata lancang dan tidak boleh menunjukkan pengendalianmu. Jika kau melanggar salah satunya, kau tidak akan mendapat makanan!" ujar Alesse. "Cih!" Baraq tampak kesal dan menendang meja belajar.
__ADS_1
"Satu lagi! Tidak ada barang rusak!" Alesse menambahkan kemudian membuka pintu rubanah. "Makanlah, sepertinya kau belum makan malam," ujarnya kemudian turun ke bawah.