Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Alesse siuman


__ADS_3

Mereka semua tampak kegirangan mendengar penjelasan Alex, bahkan dokter juga tampak senang. Andin dan Hendra pun saling berpelukan sambil berlompat-lompat kegirangan.


"Apa yang kau lakukan?" Suara dingin yang sudah dua tahun tak terdengar itu mulai menggema di telinga mereka.


"Alesse? Akhirnya kau bangun juga!" ujar Hendra, ia dan Andin tampak menangis bahagia.


"Kalian kenapa? Kenapa menangis? Lagian ini di mana?" tanya Alesse. "Ini di rumah sakit, Alesse!" ujar Alex sambil menggenggam tangan Alesse.


"Kau siapa?" tanya Alesse sambil menyingkirkan tangan Alex. "Ini aku! Adikmu!" ujar Alex. Alesse terdiam sebentar mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat. "Ayah, ibu! Orang ini mengaku-ngaku sebagai Alex!" ujar Alesse merasa jijik.


"Itu bukan orang lain Alesse! Itu memang adikmu," ujar Hendra sambil tertawa. "Hih! Tidak mungkin! Tidak mau! Adikku adalah anak yang imut dan berbulu lembut! Mana mungkin remaja berkumis ini adikku!" ujar Alesse kemudian beranjak dari dipannya, sayangnya ia langsung terjatuh karena seluruh tubuhnya masih lemah.


"Ya ampun Alesse! Kau baik-baik saja?" tanya Andin, Hendra pun segera mengangkat anak itu. Alesse pun terdiam sejenak dengan menundukkan wajahnya. "Ayah, ibu, ini sudah berapa tahun?" tanya Alesse.


"Dua tahun, nak. Kau akhirnya bisa bangun fan melihat kami semua!" seru Hendra. "Ehm, begitu yah? Sudah dua tahun yah? Ayah, ibu, maafkan aku karena merepotkan kalian," ujar Alesse, ia masih menundukkan wajahnya. Kenyataan bahwa ia terbangun setelah dua tahun lamanya membuatnya kecewa.


"Tidak apa-apa, Alesse! Yang penting kami bisa lagi berbicara dengan kami, itu lebih dari cukup!" ujar Andin sambil menggenggam tangan Alesse


"Benar sekali anakku! Kau adalah putra ayah yang sangat menggemaskan!" ujar Hendra sambil memeluk Alesse. "Bukankah kebalik? Seharusnya ayah bilang itu kepada Alex dan memeluknya," ujar Alesse.


"Ehm, apakah ayah terlihat akan melakukan hal itu?" tanya Hendra seolah meminta Alesse untuk memperhatikan Alex baik-baik.


"Oh, iya. Benar sekali, ayah tidak mungkin mau memeluk remaja yang sudah memiliki kumis itu," ujar Alesse dengan wajah datarnya.


"Hei, kejam sekali! Aku tidak berkumis!" ujar Alex. "Kau saja yang tidak sadar! Potong saja besok," ujar Hendra. "Jangan, biarkan saja begitu! Alex tampak semakin lucu," ujar Andin.


"Bukankah kalau ia berubah menjadi harimau akan membuatnya imut kembali?" tanya Alesse.


"Dia sudah jarang berubah," ujar Hendra kecewa. Alex hanya bisa tertawa saat mendengarkan candaan itu.


Alesse pun tiba-tiba tersenyum, membuat keluarganya terdiam. "Ada apa?" tanya Alesse keheranan.


"Sepertinya kita bertiga memikirkan hal yang sama!" ujar Hendra. "Benar sekali! Jarang-jarang melihatmu tersenyum hangat seperti ini," ujar Andin.


"Yeah, aku merasa sedikit senang. Ternyata Alex lebih dewasa dari yang aku pikirkan. Aku merasa lega," ujar Alesse.


"Wah! Kakak yang sangat peduli pada adiknya nih!" ujar Hendra sambil mengacak-acak rambut Alesse. Alesse pun tertawa.


Setelah menyelesaikan masa rehabilitasi, ia pun dengan semangat pulang ke rumah. Ia segera mengemasi buku-buku yang ada di mejanya.

__ADS_1


"Ayah, ibu! Di mana tasku?" tanya Alesse. "Oh, tasmu? Ini!" ujar Hendra sambil mengambilkan tas Alesse yang berada di ruang keluarga.


Setelah menerima tas itu, tiba-tiba ekspresi Alesse berubah. "Ayah, ibu, apakah kalian masuk ke kamarku selama dua tahun ini?" tanya Alesse dengan wajah dinginnya.


Hendra langsung menelan ludah. Andin tidak tahu harus menjawab apa. "Mereka sering ke kamarmu loh, kalau dibiarkan bisa kotor dan berdebu," ujar Alex terus terang.


Alesse pun akhirnya hanya bisa pasrah. "Ya sudahlah," ujarnya. Hendra dan Andin menghela nafas lega.


"Tapi, mulai hari ini! Dilarang masuk ke kamarku!" ujar Alesse dengan wajah dinginnya. "Ba... baiklah, kami tidak akan masuk ke kamarmu lagi," ujar Hendra.


"Kau kejam sekali Alesse! Padahal aku ingin tidur denganmu," ujar Alex. "Kalau itu bisa di kamarmu, kau tidak perlu ke kamarku," ujar Alesse.


"Kau tidak menolak untuk tidur dengan Alex?" Hendra terkejut. "Loh kenapa? Sekarang ia tampak lebih besar dan lebar. Mungkin bisa dijadikan bantalan saat ia berubah," ujar Alesse.


"Hei, kejam sekali! Aku bukan barang!" ujar Alex. "Lalu, kau mau pergi ke mana?" tanya Andin. "Ke tempat paman Irawan?" tebak Hendra.


"Dari mana kalian kenal paman Irawan?" tanya Alesse. "Ia sering menjengukmu loh! Kami juga lupa belum memberinya kabar kalau kau sudah siuman. Kami tidak punya nomor teleponnya," ujar Hendra.


"Kalau begitu biar kuberitahu sendiri," ujar Alesse. "Kau masih terlalu lemah loh! Biar kugendong hingga perpustakaan," ujar Alex. "Baiklah, tumpangan gratis apa salahnya menerima," ujar Alesse.


Setelah sampai perpustakaan, ia langsung membuka pintu perpustakaan lalu meletakkan setumpuk buku di hadapan Irawan. Pria itu langsung terkejut bukan main.


"Argh! Kenapa semua orang memperlakukanku seperti anak kecil?" ujar Alesse kesal. "Bukan apa-apa kok, paman hanya senang kau bisa kembali ke sini. Oh, iya! Ini barang-barangmu!" ujar Irawan sambil menyerahkan buku catatan dan ponsel Alesse.


"Wah! Ponsel! Itu punyamu? Dapat dari mana?" tanya Alex penasaran. "Beli lah! Dari mana lagi?" ujar Alesse. "Si... siapa yang membelikanmu? Paman Irawan? Curang! Aku harusnya dibelikan juga!" ujar Alex.


"Untuk apa aku membelikannya ponsel? Dia bukan siapa-siapaku," ujar Irawan. "Cih! Pamana hanya iri karena ponselku lebih bagus kan?" tanya Alesse.


"Tidak kok, paman tidak merasa begitu!" ujar Irawan sambil membuang muka. Alesse tampak sibuk mengutak-atik ponselnya. "Akhirnya sudah bersih! Ini untukmu Alex," ujar Alesse sambil memberikan ponsel itu tanpa pikir panjang.


"Heh? Untukku? Serius?" tanya Alex. "Wah, kenapa kau asal memberikan ponsel layaknya camilan? Bukankah banyak data penting di dalamnya?" tanya Irawan. "Sudah ku simpan semuanya di surel, lagian ponsel itu dari dua tahun yang lalu, aku beruntung karena melewati dua tahun tanpa mengganti ponselku," ujar Alesse.


"Yeah, mungkin kau akan terus mengganti ponselmu tiap bulan untuk mendapatkan produk terbaru," ujar Irawan.


"Tidak juga! Aku mengganti ponselku tiap enam bulan sekali," ujar Alesse. "Aku tidak paham apa yang kau bicarakan, tapi ini luar biasa! Aku punya ponsel!" seru Alex.


"Meskipun terlihat seperti itu, Alex masih tetap anak kecil yah," ujar Irawan.


Saat Alex tampak kegirangan, tiba-tiba ia berubah. Tubuhnya menjadi semakin membesar dengan dada yang membidang. Baju yang ia kenakan pun langsung koyak. Tubuhnya langsung dipenuhi bulu.

__ADS_1


"Hei! Tinggi sekali! Bolehkah aku naik di atasmu?" tanya Alesse. "Boleh! Boleh! Sebagai balasan dari ponsel ini, kau boleh melakukan apapun," ujar Alex. Alesse pun akhirnya memanjat tubuh berbulu itu dan duduk dibahunya seperti seorang anak kecil.


"Wah, kepala ini, membuatku....sangat mengantuk!" ujar Alesse. Ia tidak bisa melepaskan wajahnya dari telinga Alex yang sangat lembut itu.


"Yah, sepertinya ia sudah tidak bisa dihentikan! Maaf paman,hari ini aku akan langsung pulang ke rumah," ujar Alex.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hmm? Apa ini? Kenapa aku mendengar suara dengkuran yang sangat keras?" Alesse mencoba melihat sekitar. Ia sedang berada di atas bulu-bulu harimau. "Loh? Alex? Kenapa aku ada di kamarmu?" Alesse tampak kebingungan, seharusnya ia sedang berada di perpustakaan.


"Kau tertidur saat duduk di bahuku tadi! Kau sangat melekat hingga susah dibangunkan," ujar Alex.


Alesse pun langsung menjauh dari Alex. "Bulu-bulu itu..... sangat berbahaya," ujar Alesse dengan wajah pucat.


"Apanya yang berbahaya? Buluku tidak beracun kok," ujar Alex. "Seharusnya aku sedang membaca buku di perpustakaan sekarang! Tapi karena bulu itu....aku terbangun karena dengkuran keras dan secara tidak sadar telah membuang waktu dua jamku secara percuma," ujar Alesse kemudian keluar kamar.


"Aneh sekali!" ujar Alex. Ia melanjutkan waktu tidurnya.


Alesse pun masuk ke dalam kamarnya dan mencari buku kusam yang selama ini ia baca. Ia pun terkejut karena buku itu menjadi semakin tebal.


"Apa-apaan ini? Aku tidak ingat bukunya menjadi setebal ini!" ujar Alesse keheranan. Ia mencoba membuka halaman awal sampai yang terakhir ia baca, namun tidak ada yang berubah, hanya saja terdapat banyak lembaran baru yang belum pernah ia baca di bagian akhir buku itu.


"Hmm! Sepertinya bertambah seratus halaman lebih," ujar Alesse. Ia pun mencoba membaca sekilas halaman yang baru muncul itu, namun hanya berisi cerita dongeng.


"Cerita ini lebih panjang daripada mitos! Ini seperti dongeng anak-anak! Bahkan aku tidak tahu makna yang tersirat darinya," ujar Alesse. Akhirnya ia pun tertarik untuk membaca semua cerita dongeng itu hingga selesai. Setelah itu ia langsung pergi ke perpustakaan untuk memberitahu Irawan.


"Ada apa Alesse? Kau sepertinya tampak tergesa-gesa datang ke sini," ujar Irawan. "Buku ini.....buku ini menjadi semakin tebal sejak aku tak sadarkan diri selama dua tahun," ujar Alesse.


"Memangnya kenapa kalau semakin tebal? Lagian itu tidak bisa dibaca," ujar Irawan. "Ini bisa dibaca! Lebih anehnya lagi, halaman yang bertambah ini tidak memiliki makna tersirat! Tidak seperti cerita mitos sebelumnya! Pada lembaran baru itu hanya berisi cerita dongeng, seolah mengisahkan kehidupan seseorang," ujar Alesse.


Akhirnya Irawan mencoba memeriksa bagian akhir buku itu. "Wah! Memang benar ini tampak lebih besar dari sebelumnya!" ujar Irawan. Karena tidak bisa membaca, ia hanya memeriksa beberapa sketsa dan menemukan sesuatu yang tidak asing darinya.


Ia mencoba membandingkan sketsa wajah tokoh utama yang ada di buku itu dengan Alesse. Hasilnya, mereka tampak mirip meskipun hanya sebagian saja.


"Satu persatu dari gambar ini tampak mirip denganmu, kecuali satu. Si pria bertubuh kekar ini tidak mirip sama sekali denganmu sedangkan tokoh utama pada lima cerita lainnya sangat mirip denganmu," ujar Irawan.


"Mirip dari mananya? Gimana caranya paman menyamakan wajah orang dengan sketsa? Aneh sekali!" ujar Alesse.


"Yeah, karena paman tidak bisa membacanya, lain kali kau bisa menceritakan isi di dalamnya agar paman tahu. Mungkin paman bisa membantu mencari maknanya," ujar Irawan.

__ADS_1


__ADS_2